
Nenek, Kakek...
Ketiga anak Mentari Biru terpekik setelah turun dari mobil orang tuanya.
Weekend ini Biru memberi kabar ke Rose kalau Keluarga kecilnya akan berkunjung ke rumah Batara. Membuat Rose cemas dan Bingung. Sesuai perjanjian kan sebelum Mentari ingat semua akan memorinya, Biru di larang membawa Mentari ke Batara. Tapi Biru malah mengumpulkan sahabat Mentari juga Senja yang sekarang tinggal di kediaman Kusuma datang berkumpul. Ada apa ini ?
""Hai, cucu cucu Nenek !"" Kaki Rose di ganduli tiga bocah kesayangannya.
""Kembal !"" Dari dalam, muncul Petir yang sudah dari tadi menunggu kedatangan ke-tiga Sepupunya. ""Ayo main !"" Tariknya ke tangan bocah cantik di antara mereka. dan kedua kembaran Pelangi mengikuti langkah Petir yang menarik Pelangi, masuk. Meninggalkan Ayah Bundanya bersama Rose dan Radja yang terlihat aneh di mata Mentari.
""Kalian tidak ada yang kangen sama Tari hmmm ?"" Mentari menaik turunkan alisnya, jenaka.
""Amang kangen !"" Radja memperagakan tos hidung ala ala milik Dewa. Membuat Mentari menyerinyit namun mengerti dan menerima Tia hangat itu. Biru yang tak suka akan kecupan hangat di dahi istrinya dari Radja ini.
""Amang ? Sejak kapan Om berubah Amang, Hahaha !""
Biru terkikik tertahan, meledek Radja.
""Sebentar lagi."" Ketus Radja dengan sahutan Ambigunya.
Biru hanya manggut-manggut seakan akan menantang. Ku nanti saat itu !!!
""Bi !"" Rose bingung di sini yang melihat kedekatan anak mantunya terlihat mesra, terlihat Mentari sudah tidak ada ketakutan lagi untuk Biru.
""Kita bicara santai di dalam."" Putus Biru di angguki Rose dan Radja. Mentari sendiri sudah beranjak duluan masuk.
Suasana rumah besar Batara begitu ramai, Biru pun sudah mengumumkan kalau istrinya sudah sembuh dari amnesianya, dan itu membuat semua orang berucap syukur.
Ada Jum dan Bang Sam juga yang bermain bersama si kembar cilik. Bang Sam di buat boneka oleh Pelangi yang bermain make up make up-an, Wajah Bang Sam sudah cemong di buat dari tangan cilik pelangi dan gara gara kelakuan bocah cilik itu, Semuanya tertawa termasuk Biru yang sudah lama tak tertawa lepas. Bang Sam dalam hati ingin sekali menolak keras tapi apa lah daya hatinya tak tega melihat binar mata Pelangi.
""Ante muay ! Kita kebelakang yuk..Topan mau jadi nakmuay dari ante !""
Penuturan Topan membuat di ruangan itu jadi hening, masih kecil ingin mengenal bela diri yang terbilang keras.
Gemi menatap Mentari dan Biru, meminta persetujuan.
""Topan sayang, Emang Topan tahu apa itu muay Thai ? "" Mentari bersuara, ia bingung harus menjelaskan apa ke umur masih bocah ini. belajar masalah bela diri di umur tiga tahun sangat tidak masuk akal, pikirnya sangat ajaib bocah ini.
""Tahu !"" Datar Topan. ""Topan ingin melindungi Pelangi dan Badai serta Bunda juga."" Lanjutnya dengan lenje bocahnya.
__ADS_1
Mentari tertegun hangat akan sikap perduli sayang anak sulungnya, Entah seperti apa si Topan kalau sudah besar, masih kecil saja sudah mau bertanggung jawab atas Keluarganya.
""Pergi lah !"" Final Biru yang tidak mau mematahkan semangat anaknya.
""Hole !"" Pelangi yang malah antusias, sebenarnya si Triplets menunggu saat ini. mereka sudah kompak Sebelum nya.
""Ayo !" Badai langsung menerjang punggung Gemi, minta di gendong.
""Ahh, kalian anak anak monster !"" Dengus Gemi beranjak melirik tajam Biru saat berkata
monster. Biru malah tersenyum manis akan umpatan Gemi.
"Petil pun mau, Ma !"" ijin petir ke Senja dan di iyakan Senja juga Langit secara bersama.
""Aaahh, Akhirnya gue bebas !"" Lega bang Sam yang sudah tak berbentuk wajah cantiknya.
""Hahahaha."" Dan semua kepala yang masih berada di sana tertawa geli. Bang Sam mencibik cantik.
""Boss Biru, mana tanggung jawab mu, Di lapin dong sayang." Goda Bang Sam memberanikan diri.
""Pakai pisau, mau !"" Mentari menjawab garang. Tak terima dirinya kalau Suaminya sampai berbelok menjadi seperti Bang Sam yang mempunyai penyimpangan seksual.
Mampus ! Bang Sam kabur ngeberit ke kamar mandi khusus tamu, Ia lupa kalau Sahabatnya itu kalau menyangkut Biru bisa menjadi monster juga.
""Mentari, Senja ?!""
Dan kedua kepala yang di sebut namanya kompak menengok yang duduk di samping suaminya masing-masing.
Radja jadi Nervous sendiri, di ijinkan nggak ya?. Batinnya. Kalau Gema dan Gemi ia sudah mendapat restu. menunggu persetujuan dari anak-anak Rose ini yang membuatnya Sar sir Sur. Apalagi ke Senja yang sifatnya susah di baca.
Ya Tuhan, Jangan biarkan hamba mu ini menjadi duda lapuk karatan. Doanya penuh harap.
""Apa Amma ?!" Alis Senja terangkat satu, penasaran. melihat Ammanya malah terlihat gugup, lihat saja jari jemari Ammanya sudah bermain di ujung bajunya.
""Hmmm---Itu, Anu---!""
Biru dan Langit sebagai menantu ikutan penasaran, Ini Mertua anggun kenapa lagi, dari gelagatnya sangat aneh.
""Amma mau Ee ? Tinggal kebelakang aja ! atau lapar, ya makan ! Kalau mau buang gas, ya sana nyari udara luar."" Mentari mencandai, lagian melihat wajah Ammanya yang sedikit dikit memucat dan kadang ngeblush sangat persis sedang menahan hasrat kebelakang.
__ADS_1
""Hust !"" Bekap Lembut Biru di mulut Mentari yang terdengar songong .
Bang Sam yang baru datang pun dengan siulan genitnya tetiba berhenti saat suasana jadi hening terlihat, persis mengheningkan cipta saja, kurang nyanyian pahlawan Nasional saja, Apa perlu nih Bang Sam bernyanyi ?
""Hidup lah Indonesia raya.""
""Aih, Diam !"" Injak Jum di kaki Bang Sam yang baru duduk di sampingnya. Gema sedari tadi mencuri pandang ke Sekretarisnya ini. Di luar kantor, Jum sangat menjaga jarak dengan dirinya. Dan Gema tidak suka itu. Sedari tadi pun Jum tak ada sapa sopannya ke dirinya yang notabenenya adalah Bosnya. Awas kau Jum !!!
""Amma ma--mau---!""
""Amma kalian sudah Om Lamar !"" Potong Radja. Menunggu Rose berucap sangat lama.
Uhuk uhuk uhuk
Mentari tersedak kue kering yang di kunyah pelan, Senja menyemburkan air teh ke wajah Langit yang tidak sengaja. Amma dan Om rasa Amang-nya, Apa ? berniat menjalin hubungan ? Kompak adik Kaka itu saling pandang, berkedip Tiga kali dengan cepat dan itu adalah kode kompak jahil yang sadari kecil sudah menjadi kode keras mereka.
""Ehem, Maaf ya mendung !"" Lirih Senja baru sadar kalau ia tidak sengaja memberi semburan mbah dukun. ia pun cuek akan pengakuan Radja.
""Tak apa !"" Sahut Langit mengerti. Senja pun menyibukkan diri membersihkan wajah Suaminya. Padahal suaranya sangat di Nanti nanti oleh Rose dan Radja.
Dan lihat juga Si Lempeng... Mentari ikut ikutan sibuk tak jelas, yang malah memainkan layar pintarnya.
""Petite ?!"" Lerai Biru akan sikap gaje istrinya. Ia kasihan juga dengan wajah Radja yang minta sedekah, memelas.
Langit pun menegur lirih Senja agar bersuara akan keinginan Radja dan Rose.
Astaga naga buntung... Dari lagat adik Kaka ini, Gue di tolak telak...hiks. Batin Radja ingin nangis bombai sambil joget koplo saja setelah penolakan ini, untuk sekedar menghibur diri.
""Kalau kalian keberatan maka tak apa ? Amma akan menurut."" Pasrah Rose. Nyess deh hati Radja.
""Setuju !""
""Sah !""
Senja mengijinkan, dan di sahkan oleh Mentari dengan jahil mereka tertawa senang.
""Aaaah, benarkah ? Om tidak salah dengar kan ? Oh Tuhan... Ponakan ku memang terbaik."" Radja sudah histeris senang, saking senangnya ia tak sadar sudah meninju udara dua kali.
""Astaga... kelakuan orang tua, Sangat lupa diri !!! ""
__ADS_1
Hahahaha...
Rose malu ke ubun ubun, Radja bodo amat akan ledekan dari Mantu tengilnya, Biru. Dan bodo amat akan tawa yang sudah pecah menertawakan dirinya, Yang penting ia dan Rose sudah mendapatkan lampu hijau. Ah, Rasanya tak sabar..