
Pagi pun menyapa penghuni rumah sakit, sinar pagi itu sudah menyelonong masuk di cela ruangan rawat Radja...di sana sudah ada sahabat sekaligus relasinya singgah sebelum mengantor masing masing. Yakni Kemal, Vero, Gion, Chris Kusuma-Papa dari Langit, Tegar sebagai adik dan Titan pun datang lagi setelah semalam berkunjung, Titan masih penasaran kenapa Radja bisa senekat itu menolong Gadis pujaan hati anaknya.
""Gue nggak nyangka, Dja. Di antara kita kita semua, Lo duluan yang terkena sindrom puber kedua, walaupun itu wajar dari sebagian proses orang yang terkena. Tapi ya... kira kira saja dong, jangan sampai kebablasan. ingat Ja, Lo itu udah punya bini dan anak, kembar lagi."" Si Casanova tobat--Kemal mulai menguliahi Radja.
"" Cabe-nya Cantik tidak, Dja ?"" Kini Vero yang bersuara, Ia tidak menyangka kalau si Radja Batara yang terkenal dingin di luaran sana bisa tergoda dengan wanita.
""Di mana mana, Cabe ya Cantik, beg* ! kalau tidak cantik ya tidak akan laku !"" Gion melempar kulit jeruk ke kemeja Besannya-Vero. Membuat Vero meringis, kotor bodoh, Gue pecat jadi besan, mau ?
""Cantik tuh relatif, Bro. Walaupun cantiknya pas Pas-an, tapi pelayanannya, hot... klepek klepek lah sebagai laki normal, Nagih. Makanya Radja tidak rela jika Cabe-nya terluka, Radja lebih mengorbankan dirinya terluka dari pada tidak akan mendapat pelayanan kesehatan tu si jagung bakar." Timpal Chris menunjuk kejantanan Radja. Dengan cekikikan geli di akhirnya.
Tegar dan Titan tak ikut bersuara, Titan sendiri akan pasti malu jika Mentari, Gadis dari pujaan hati anaknya benar benar menjadi pelakor cilik. Mudah mudahan hanya salah paham. Batinnya berharap.
Sementara Tegar, hatinya tidak beralibi kalau Kaka pertamanya berbuat gila dengan gadis itu. Gadis itu memang enak di pandang mata, tapi pandangannya di sini bukan hal berbau hasrat birahi. apakah kakanya itu pun sama dengannya, menganggap jika gadis itu hanya sebagai anak istimewa yang mengingatkannya dengan Dewa Batara yang entah di mana sekarang.
""Kalian tuh kenapa sih ? datang datang bukannya prihatin, bawa buah atau apa kek, ini malah dapat tuduhan tak berdasar. Gila Lo semua !" Semprot Radja ketus.
""Sorry bro, bukannya menuduh, kami hanya ingin memastikan apa benar yang di katakan oleh Bini Lo, itu ! Raisa bercerita sampai nangis nangis Lho ke Yola !"" Jelas Kemal.
""Eum...Betul itu, Tapi jika di lihat dari mata biasa sih, pasti Lo ada apa apanya kan, Secara Lo merelakan punggung lo sakit demi dia."" Vero memberikan sepotong apel ke Radja yang sudah di kupas oleh Titan yang hanya menyimak, padahal lidahnya pun sudah gatal untuk mengintimidasi Radja jika Benar Radja adalah rekan Mentari, ia takut kalau Biru akan mengamuk seperti Singa lapar.
Radja melempar buah itu kembali ke Vero. Kena lagi kemeja putihnya. Bayar administrasi di rumah sakit gue pakai ginjal... rupiah tak berlaku khusus Lo.Radja.
""Dengar ya pada, pasang telinga baik baik, Gue itu cuma nolongin gadis imut itu dengan reflek tidak ada embel embel apapun pyuuuuur ikhlas. sebagai yang mempunyai hati baik yang kudu wajib nolongin orang yang akan celaka. coba kalau gue tak menolong dia, Mungkin gadis itu yang akan terbaring lemah di sini. paham !"" Intonasi Radja semakin ngegas.
__ADS_1
Mereka semua mengangguk angguk kepala bodoh, seakan tidak percaya dengan kejujuran Radja lontarkan. Maling ngaku penjara milik Gion penuh..para pemirsa.
Radja pun sudah menyerah dengan tuduhan mereka, sampai rahangnya akan lepas pun, Mungkin para sahabatnya ini tidak akan berhenti menuduhnya. Jadi biarkan saja mereka berceloteh...ntar juga akan berhenti sendiri kalau sudah pegal dan berbusa tuh mulut.
Ketukan pintu menyedrah perhatian mereka semua. Masuklah Mentari dan Biru. Membuat Kemal, Vero, Gion, dan Tegar juga Chris nampak terkejut, dengan adanya Biru yang di kenal baik dari mereka, Titan si biasa saja karena ia sudah tahu sebelumnya. Sejurus kemudian mereka kompak menatap Titan yang adem adem tenang tak berekspresi.
Mentari jangan di tanya, setelah melihat isi ruangan ada Titan, seakan kakinya ingin mundur lagi dari niatnya yang ingin menjenguk sekaligus ingin mengucapkan terimakasih untuk penolongnya. Tapi tidak sopan juga kalau sudah masuk main pergi lagi tanpa kata.
Biru nampak datar ada para Om Omnya dan papa nya pada ngumpul.
""Eh, ada Kamu ! sini mendekat, Saya ingin melihat dari dekat keadaan mu, apakah ada yang terluka setelah kejadian semalam, eum ?."" Radja mengkode Vero agar minggir menjauh dari sampingnya, dan membiarkan Mentari yang duduk di sampingnya.
Mentari melangkah dengan pandangan tertunduk seakan di bawa sana lebih asyik di lihat dari pada wajah wajah berkharisma para pria paruh baya tapi masih tampan ini. aduh Gusti....Mata orang orang kok seakan ingin mengulitinya...Amang, Amma... Jangan buat lidah Mentari kepleset lagi.
""Sa--saya tidak apa apa, Tuan ! Anda sendiri bagaimana keadaannya ? apakah sakit ? sebelah mana ?"" Mentari nampak oleng lagi, ia mulai berhalu jika yang terbaring di brankar adalah Amang-nya, Bukan Tulangnya. ""Terimakasih banyak atas pertolongan anda yang mau mengorbankan diri."" Lanjut Mentari cepat setelah membuang rasa halunya. ia tidak ingin berlama lama di ruangan yang seakan tidak mempunyai oksigen.
""Mentari, Tul---Tuan !"" Sahut Mentari hampir keceplosan lagi.
""Oh dek Mentari ! Saya akan menerima tanda kasih mu kalau kamu ingin menerima undangan makan malam bersama keluarga saya setelah saya sembuh ! mau ya ?"" Radja benar benar damai hati jika melihat Mentari, beban selama bertahun-tahun memikirkan keadaan dewa seakan lebur jika gadis yang mempunyai kemiripan dengan Dewa ini berada di hadapannya. Makanya ia ingin membuat alasan agar bisa terus bertemu dengan Mentari.
Tegar nampak setuju dengan kekonyolan kakanya, ia pun meyakini jika kakanya punya pemikiran yang sama dengannya.
""Yaaaak...apa apaan itu, Modus amat si pak mantan dosen ini, Terima kasih saja pakai kudu menerima tawaran makan malam, tidak.. tidak !."" Biru tidak terima, yang di tanya siapa yang menjawab nolak siapa.
__ADS_1
""Eh, Boy ! Cabe-nya Radja apanya kamu sayang ? kok kamu yang kebakaran jenggot."" Goda Kemal, di sini ia mencium cium aroma posesif akut, aneh saja seorang Sagara sampai segitunya.
""Cabe, Cabe...! Mentari itu gadis ku, om ! enak saja di katain Cabe !"" Ketus Biru galak.
Vero, Kemal dan Gion spontan tersenyum geli ke arah Biru dan Titan yang bisu, bergantian. Calon mantu ternyata. begitulah kira kira senyum godaannya.
""Emang arti Cabe itu sesungguhnya apa sih ? Saya dari semalam memikirkan kata itu setelah di labrak oleh Na---eh, Istri pak Radja !...."" Radja nampak mengepalkan tangan mendengar jika istrinya tidak bersikap dewasa ""....Beliau ngatain saya Cabe cabean dengan nada emosi marah, kok bisa mimiknya seram begitu ? padahal arti Cabe yang di lontarkan Bos Biru ke saya itu positif yang artinya Saya itu tekun, pintar, rajin, tak pantang menyerah, penyayang Amma di kampung , dan kata Bos Biru yang paling penting itu saya adalah cabe-nya beliau ! terus Bos Biru juga kenapa ketus begitu mendengar saya di katain cabe, kan artinya positif kan ?"" Polos Lempeng On.
Biru membisu, tak bisa berkata apa-apa dengan pertanyaan polos Mentari kali ini, takut salah lagi dalam mengartikan sisi cabe positifnya. Kebongkarkan !!!
Senyum geli tujuh orang terdengar saling menahan, mendengar pernyataan Mentari yang begitu polos menggemaskan, percaya saja dengan pengartian Biru...adeeeeh, Titan saja benar benar tidak tahan untuk tidak tersenyum seraya menoyor keras jidat Biru. turun dari mana sih sifat aneh Biru...ya....dari Vanessa Malik, Gadis manja yang dulu nguber nguber cintanya.
""Cabe itu artinya----?""
""Pokoknya artinya cabe itu kamu adalah milik ku. TITIK !"" Potong cepat Biru saat Vero bersuara. dan suara ketawa kembali terdengar dengan kompak.
""Ayo kita pulang, jangan lama-lama di sini, aku gerah dan akan ngantor setelah ini."" Biru tidak mau berlama-lama, takut banyak kemodusannya yang terbongkar dari mulut kepolosan Mentari.
""Eh, Sagara ! Sebagai tanda terima kasih Mentari ke saya, pokoknya dia harus datang kerumah makan malam bersama, dan kamu sebagai bekas mahasiswa saya harus mau mengantarnya kerumah, atau tidak aku tembak otak mu itu.""
Biru tak menyahut perkataan Radja, ia terus menarik lembut Mentari ke arah pintu, padahal gadis itu belum puas atas jawaban yang di terima.
"" Dosen killer, maksudnya apa sih, pakai ngundang Mentari kerumahnya.... jangan bilang mau melamar milikku untuk putra mu-Gema di hadapan ku, ogah....gue bogem tuh si kembar Gema sampai wajah toba-nya hancur jika kenyataannya seperti itu. Dumel Biru di sepanjang jalan koridor, ia tidak memperhatikan Mentari yang berjalan ngos ngosan menyamahi langkah panjangnya.
__ADS_1
""Aargh....Capek Ah.!"" Mentari menghentakan tangannya, Terlepas ! Gadis itu duduk langsung di bangku tunggu koridor dengan bibir mengerucut. "" Nyebelin !"" Batinnya.
Jejak Vote ikhlas š