RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 120


__ADS_3

Drrrt..Drrrt...


Mentari menghentikan langkahnya saat smartphonenya berbunyi, menaruh rantang asal asalan di lorong yang tersambung ke tempat produksi perusahaan Biru.


""Amma"" Gumamnya. Seraya menggeser ikon hijau.


""Assalamualaikum, Amma !""


" wa'alaikum salam, sayang. Sibuk tidak ?""


""Tidak, buat Amma Tari tidak pernah sibuk ! apa Amma perlu sesuatu ?""


""Eum, Obat herbal yang kamu kirimkan beberapa hari kemarin sudah habis sayang, tolong kirimkan lagi ya, nak ?""


Mentari menyerinyit kan dahinya, Obat herbal ? Perasaan ia tidak pernah membeli dan juga mengirimkan ke Ammanya. Apa kakanya kali ya.. Kakanya kan lebih tahu komposisi obat pereda sesak nafas Ammanya yang kadang kala kumat. Dan kadang kakanya pula jago membuat sendiri obat herbal dari tumbuhan.


""Tapi Amma, Tari ti---!""


Praaang...


Belum sempat Mentari menjelaskan ke Rose masalah obat, Ia di tarik oleh seseorang agar terhindar dari jatuhnya APAR yang tepat di sampingnya berdiri. Bahu Mentari terpental ke dinding karena yang menariknya begitu kuat.


""Aww."" pekiknya sakit, Ia pun melirik siapa yang begitu kuat menariknya dan apa penyebabnya. ""Pak Langit ? kok di sini ?"" Mentari terkejut melihat Langit dan juga APAR sudah di lantai pas di posisinya tadi. ""Terimakasih pak !""


Ya.... Langit yang menarik tubuh mungil itu, ia terpaksa datang oleh Senja dengan alasan pikirannya tidak tenang, Tadinya...Senja sendiri yang akan mau menghampiri adiknya, tapi punggungnya terasa sakit walau sekedar berjalan saja. Langit sendiri tidak mengiayakan atau pun menolak perintah kekeuh Senja. Tapi di dalam hatinya, masih ada secuil rasa arti berterima kasih karena si itik sudah mau menolongnya dari runtuhan kardus berisi kan berat. Langit pun tahu posisi Mentari dari penyampaian Dito yang bertemu di luar gedung.


Langit mengangguk. ""Saya ke---""


""Langit, Sialan...!""

__ADS_1


Bugh...Bugh..Bugh...


Biru yang melihat tangan istrinya masih di genggaman Langit, Langsung meradang cemburu, apalagi orang itu Langit, musuhnya....musuh yang selalu merebut gebetannya di masa remaja dulu, Jangan bilang sekarang pun akan merebut istrinya, mimpi saja. Tanpa tahu akan permasalahannya...ia Iangsung memberikan bogemannya di wajah Langit.


Mentari dan Langit terkejut, Langit sendiri sampai jatuh ke lantai karena serangan Biru tetiba.


"Hulk.." Mentari langsung bergerak ingin menghentikan Biru. Namun dirinya malah terhempas kuat. entah....sadar atau tidak...Biru menghempaskan tubuhnya sehingga bahu yang terpental tadi kembali berbenturan ke tembok.


""Sialan !"" Biru kembali meradang di kala Langit hanya tersenyum santai dengan sedikit darah di sudut bibir itu. Seakan mengejeknya.


Nyesal gue nolongin Istri Lo. Kesal Langit tak melawan. Harusnya kan ia membiarkan Mentari Terluka, tapi entah kenapa, hati kecilnya menggerakkan kakinya dengan reflek saat tetiba melihat baut APAR copot tak masuk akal dan di sampingnya ada Mentari yang lagi bercengkrama di telpon .. Bagaimana pun Mentari ini pernah merajai hatinya dan Sekarang... Mentari adalah adik iparnya... Bodoh kau Langit, Senja tidak penting...jadi kamu kenapa berada di sini dan mendapatkan kejadian ini..Bodoh. Rutuknya kesal ke diri sendiri.


Langit berdiri dengan senyum masih terlihat mengejek Biru. ""Kalau punya istri tuh di jaga dan di perhatikan keselamatannya. "" Ejeknya ke Biru.


Biru kembali tersulut. Apa maksud Si Langit bertutur demikian. Apakah selama ini ia tidak becus menjaga Petite-nya. Keselamatannya ?


""Cih, Apa maksud mu, ulat ! harusnya Lo yang harus jaga sikap tidak seenaknya main pegang istri orang, dan kenapa Lo bisa ada di sini, perusahaan gue?."" Mata Biru sangat lah memancarkan amarah, Ia tidak suka sama sekali kulit istrinya di sentuh oleh pria manapun yang bermaksud jahat, apalagi pria ini adalah Langit. Ia kembali berniat memberikan bogemannya tepat di perut Langit yang hanya berdiri santai. Namun naas, Mentari yang mencoba menghalangi suami dan Kaka iparnya berkelahi dengan cara menyela masuk di tengah tengah mereka, terkena tonjokan Biru tepat di bagian perut.


""Mentari, bangun sayang !"" Raupnya ke paha dengan hati seakan remuk dengan kelakuan bodohnya sendiri.


""Bawa ke rumah sakit Beg* !"" Geram Langit akan keleletan Biru. ia tidak berani menyentuh kulit lembut itu.... karena ia tahu, Biru tidak akan mengijinkannya.


Kepergian Biru dengan Mentari yang berada di gendong, juga Langit yang mengekor...ada seseorang yang menyeringai jahat di balik pintu darurat.


Masih permulaan, kalian akan ku buat seperti boneka, yang selalu mendapat ketegangan sesuai keinginan ku.


...****...


Senja memaksakan datang ke rumah sakit di antar oleh Satria saat menerima kabar dari Langit kalau Mentari masuk kerumah sakit.

__ADS_1


""Mana Mentari, Bi ?"" Ketus Senja bertanya dengan tatapan dinginnya, ia sudah tahu kalau adiknya terkena pukulan Biru hingga pingsan.


Biru hanya menunduk dengan tangan pun terluka. Ya...Biru terluka karena ia merasa bersalah sudah memukul istrinya sendiri. dengan itu, Biru melukai tangannya sendiri dengan sengaja meninju ninju tembok toilet rumah sakit dan terakhir meninju cermin yang berada di wastafel toilet.


""Astaga, tangan mu juga kenapa, mau jadi jagoan kah ?"" Kesal Senja melihat tangan Biru meneteskan darah sampai kering sendiri. Suster yang melihat tadinya, menawarkan pengobatan di tolaknya dengan sekali bentakan.


""Tidak apa kak ! Biarkan begini, ini belum seberapa dibandingkan perbuatan ku tadi.""Tolaknya saat Senja ingin mengobati dengan bantuan suster.


""Jangan menolak atau kaka ipar mu ini akan bertambah marah kepada mu, dan Mentari juga akan sangat tidak suka melihat ini, bodoh.!" Omel Senja. Biru pun menurut untuk di obati oleh suster yang di hentikan oleh Senja, hanya karena mendengar alasan Senja kalau Mentari akan marah jikalau melihatnya terluka.


tangan ini memang harusnya terluka Kaka ipar... Dasar suami tidak becus, benar kata Langit...gue nggak becus menjaga istri sendiri sampai tangan ini pula yang menyakiti, bodoh...kau Sagara. Makinya sendiri dalam hati.


Mata Senja beralih ke Satria dan Langit yang jauh dari posisinya. Bukan Satria yang menjadi sasaran mata marah Senja melainkan Langit.


""Mendung."" Geret Senja ke tangan Langit tetiba ke pojok sepi.


Satria sendiri memilih mendekati Biru...Biru juga adalah temannya.


""Apa sih, itik !"" Sentaknya kasar, agar tangan kuat Senja lepas dari lengannya. ""Ish, Lo membuat lengan ku terluka."" Protes Langit akan ketidak sengajaan kuku lentik Senja menancap saat mendapat sentakan tangan Langit.


Senja hanya melirik lengan Langit, tak perduli.


""Lo kan, yang membuat masalah ini. Lo jahat amat si, Gue kan cuma minta tolong ke Lo agar Lo memantau kondisi Mentari."" Ocehnya, menuduh Langit dan juga menyalahkan Langit seperti Biru, Tadi. Keterkaitan Batin Senja ke Mentari memang sangat kuat...bukan hanya kali ini... melainkan dulu di kampung pun jikalau hatinya tidak tenang pasti akan ada hal buruk yang akan terjadi.


""Lo nyebelin itik, seperti Biru... Harusnya Lo itu nikahnya dengan Biru...sama sama nyebelinnya."" dongkol Langit. Senja reflek menampar Langit.


Langit yang di pojokan dari tadi oleh dua orang menjadi sangat kesal, ia pergi begitu saja meninggalkan Senja yang masih mengoceh kepadanya. *Gue benci si tuasi begini.


Aaargh, harusnya gue nggak percaya sedikit pun ke Lo dengan cara menyuruh memantau keadaan adik Gue...Gue benci Lo, Langit. dan aww, punggung sialan, pakai sakit segala lagi*.

__ADS_1


Senja menyentak kan kakinya kesal seraya menghampiri Biru dan juga dokter yang baru keluar dari ruangan pemeriksaan Mentari.


Praak, Dua kali tepukan...empat orang terluka satu sama lain. Hebat sekali ! Lagi lagi ada seringai jahat yang menonton tanpa mereka sadari.


__ADS_2