
Arkan menarik Mentari, memaksa sepupunya itu duduk di kursi kebesarannya. ia pun memeriksa luka Mentari yang tadinya di obati asal asalan.
""Kepala mu kenapa, hah ? dan siapa lagi yang membalutnya seperti ini, apa lukanya sudah di bersihkan dulu sebelum di balut, bisa borok tuh luka kalau ada bakteri jahat yang menggerogoti."" Cerewet Arkan sebagai calon dokter, kuliah pun sudah di Angkatan akhir.
""Calon dokter kok, ketus ? bisa kabur ketakutan duluan calon pasiennya, nanti...hihihi !"" Dumel Mentari dalam hati tapi gelaknya pecah saat membayangkan Arkan lari lari mengejar pasiennya yang mau di suntik karena takut dengan kegalakan dokternya, bukan takut suntikannya.
""Cih, malah terkikik lagi ! ada yang lucu kah ?"" Arkan berdecak pinggang, Galak. Tapi Mentari masih terkikik ceria.
""Mentari, Stop tidak ketawanya ? kalau tidak, alkohol ini saya semprotkan masuk kedalam mulut mu, biar bakteri yang membuat kamu geli pada koit."" Ancam Arkan dengan siap alkohol anti pembersih luka di hadapan mulut Mentari.
Mentari langsung Shut up dengan bibir rapat rapat tertutup, takut takut yang di ancamkan Arkan terbukti, Sepupunya ini kan nekat orangnya.
"" Kepala mu kenapa ?"" Kali ini Arkan bertanya lembut seraya memulai mengobati luka Mentari, dalam hati ia sangat menyayangi sepupu ketemu gede ini, hampir khilaf... sudah sempat menaruh rasa suka terhadap Mentari.
Mentari masih rapat rapat menutup bibir mungilnya. Di suruh diam, ya harus diam ! tidak boleh berbicara apalagi terkikik seperti tadi. Mentari kan penurut manis.
""Mentari ?"" Tekan Arkan bertanya. Mentari menggeleng dengan menunjuk bibirnya yang rapat seperti di lem saja.
Astaga, menyebalkan memang anak deso satu ini sejak awal berjumpa pun, Tapi aku suka, namun suka ku salah alamat...euy ! Pusing Arkan.
Arkan memejet hidung Mentari kuat, sekalian biar tidak ada udara yang masuk ke rongga pernapasan, agar bibir rapat itu terbuka mencuri udara.
__ADS_1
""Mmmm..."" Pukul Mentari di tangan Arkan yang masih setia memejet hidungnya. ""Haaa.."" Terpaksa Mentari membuka mulutnya, menghirup udara dengan rakus agar nafasnya kembali normal.
""Syukurin, bengek bengek Lo !"" Arkan tersenyum geli. Menjawil pipi Mentari yang sedang mengumpatinya. Tapi Mentari menepisnya, tidak mau.
""Heran saya, Kenapa mba Zila sebegitu cintanya ke bapak ! padahal orangnya tidak ada lembut lembutnya, tidak ada baik baiknya ! ceh...ceh..ceh.."" Mentari menggeleng konyol. ""padahal mbak Zila cantik, bisa memilih pria yang lebih tampan dan pastinya lebik baik dari pada bapak Arjun Arkanas Batara, bos sekaligus sepupu ketus ku."" Celotehnya menyindir Arkan keras.
""Yaak, anak kecil nakal, jangan sok tahu ya !"" Malas Arkan yang sudah mendengar nama Zila di ungkit, baru juga orangnya di usir tadi, namanya di sebut sebut oleh bibir mungil Mentari. Minta di kecup apa tuh Bibir, Untung ingat dosa yang tidak mau menerkam saudara sendiri, walaupun beda orang tua kan,. tapi punya darah yang sama...dan itu sangat di sayangkan oleh Arkan yang kalah telak oleh Biru.
""Tau lah, Gara gara menyelamatkan Mbak Zila, kepala ku kaya gini. Mbak Zila tuh terlihat prustasi, di jalan depan hampir tertabrak mobil, untung saya sigap menolongnya, kalau tidak kan, bahaya...bapak bisa di hantui karena awalnya bapak sudah membuat mbak Zila kecewa alias sakit hati...""
Arkan terkesiap, mendengar Zila hampir celaka. Ada rasa prihatin di dalam hatinya, tapi bukannya tadi bahkan cuek cuek saja ke Zila, Tapi Mendengar Zila akan kenapa kenapa, ada rasa cemas juga.
""....Bukan maksud menggurui atau ikut campur ya pak ! Tapi kayaknya, mba Zila benar benar mencintai bapak deh, dia sampai memohon ke saya lho, agar saya mau membantunya untuk bisa kembali lagi ke bapak. Sebagai orang baik, ya saya bantu ngomong ke bapak, Tapi itu terserah bapak sih, saya sudah menyampaikan pendapat saya. Ingat lho pak Arkan...Species langka itu tidak boleh di sia sia kan seperti mbak Zila yang cinta mati ke bap----"
Zila bersembunyi di balik pintu, lama lama kupingnya panas juga, Mendengar pembicaraan dua orang yang menyangkut tiga nama di dalamnya, apa lagi pas Mentari mengumpatinya dengan kata Species langka ? purba kala kali ah.
Mentari langsung bangkit dari kursi kebesaran Arkan. "Nah, ini ni tersangkanya yang membuat saya bisa di sini dan telat satu menit, Kan orangnya sudah di depan mata ni, bicarakan sendiri lah masalah cinta cinta berbelit kalian, saya pamit nguli dulu, Assalamualaikum !""
Mampus ! Mentari meninggalkan Arkan dan Zila berduaan di ruangan tertutup. Kan kata Om Radja-nya bisa mengundang setan bersorak ria, alaah... palingan juga setannya Arkan, biarkan saja...Kan mereka sama sama dewasa ini, pasti akan mempertanggung jawabkan perbuatannya tersendiri kalau setannya berhasil menggoda.
""Mentari ? sini kamu.""
__ADS_1
""Aduh....aduh...aduh..""
Mentari meringis, Raisa datang datang entah dari arah mana main Jambak kuncir kudanya, kan pedas serasa di jambak madu saja.
Tangan Raisa berangsur menarik tangan Mentari masuk ke gudang resto yang sepi, Para Staff tidak ada yang melihat tindakan kasar Raisa.
""Eh, Anak Dewa ! Aku peringatkan ke kamu ya ! Pergi dari kota ini atau kamu akan menyesal kalau tak mengindahkan peringatan ku yang tentunya bukan omong kosong doang."" Raisa mencekal rahang Mentari dengan sangat kuat. hingga gadis itu meringis, dan mau menjawab pun susah.
""Aww ! Hiks..""
Tangan kurang ajar Raisa beralih menekan luka kepala Mentari yang tertutup perban.
""Lepas nyonya, Aww !"" Ringis Mentari. Namun tak di hiraukan oleh Raisa. ""Apa salah saya ? dan kenapa Nyonya selalu tidak suka dengan saya ! Saya bahkan tidak pernah mengganggu anda !""
""Kamu memang tak merasa mengganggu saya secara langsung, tapi kehadiran kamu di kota ini membuat saya rugi banyak, Cepat lah pergi jauh dari kota ini, Atau dengan terpaksa saya akan membuat keluarga mu yang ada di kampung menderita, Dan iya...Kaka mu yang bernama Senja itu pun akan mendapat imbasnya dari anak buah saya yang ada di sana, kalau Kamu tidak pergi sekarang juga ! Saya akan menyuruh anak buah saya untuk memperkosanya sampai mati, mau ? Jangan pernah menyepelekan peringatan keras ini karena pilihan ada di tangan mu, hari ini.... terakhir kalinya saya melihat wajah mu, Mengerti"" Ancam Raisa. Mentari mengangguk.
Mentari langsung histeris ketakutan di gudang tanpa ada yang mendengarnya, Ia rela melakukan apa pun demi keselamatan Amma dan Kakanya di kampung. Cita citanya menjadi sarjana, tak apa gagal, ia akan pergi meninggalkan Rantau ini demi Amma dan Kakanya, ia disini bertahan mencari receh hanya karena kedua wanita tercintanya dan demi ketenangan Wanita hebatnya pula maka ia rela game over, pasrah lahir batin. Yang penting keluarganya selamat dari ancaman Raisa yang nampak marah entah sebab apa, Bingungnya.
""Macet lagi,aaaah...damn !"" Kesal Biru memukul setir mobilnya, Mau maju tak bisa mundur ke belakang pun banyak mobil, Macet total.
Biru yang baru sampai dan langsung mengadakan rapat di kantornya, tetiba meninggalkan rapat begitu saja...saat mendapat kabar dari bodyguard yang menjaga Mentari dari jauh tanpa sepengetahuan Petite. mereka memberikan kabar kalau Mentari hampir celaka saat ingin menolong orang di tengah jalan. Si Petite-nya lagi, bandel amat di kasih tumpangan yang ingin menurunkan Mentari pas di depan restoran malah minta di turunkan di pinggir jalan, kan begini jadinya...!
__ADS_1
Vote....š