RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 106


__ADS_3

Acara sudah lama selesai, para sanak saudaranya pun sudah pada istirahat terkepar asal asalan lelah berjoget, Tapi kini Biru masih saja di paksa di ajak main catur oleh Radja, Om Mentari itu sengaja menahan Biru agar tidak cepat cepat masuk ke dalam kamar. Rasanya, Radja masih tidak rela kalau gadis ponakannya yang masih terlihat kecil di mata Radja akan di makan oleh anak dari si Sunjaya ini, biarkan dirinya untuk malam ini saja mengerjai si Sagara tengil, hitung hitung sebagai hukuman darinya yang selalu memodusin keluguan ponakannya yang lempeng lurus pipa paralon.


""Om, Ini sudah malam Lho, Mantu mu ini mau istirahat, capek ! Kan kita kita ini besok pagi akan langsung terbang ke kota, apa Om Radja tidak capek apa ?"" Rengek Biru mencoba berkelit padahal otaknya sudah bertraveling ke gugusan awan duniawi, Matanya sudah melirik lirik pintu kamar Mentari.


""Saya belum capek, temani saya dulu untuk main catur sebentar saja, Saya bosan tidak ada yang bisa di ajak ngobrol !"" Kelit Radja dengan seringai jahilnya, ia sibuk menyusun pion pion yang akan di mainkan.


Rose datang, berdiri di belakang Radja.


""Kamu itu kenapa eum ? Ngajak main catur di malam malam begini, Bi.... sudah masuk sana istrihat, Masalah satu ini yang ingin mengobrol, biarkan saja nyamuk yang menemaninya."" Ujar Rose Ketus. Radja tak bisa berkutik jika harus ber-argument dengan Amma satu ini, kalah telak dirinya.


Biru tersenyum jumawa ke arah Radja. "" Terimakasih, Amma ! Saya istrihat dahulu.""


Biru pun beranjak masuk kedalam kamar. Mata Biru menangkap Istri imut nya sedang bermain game di ponsel seraya merebahkan tubuhnya di atas kasur. Mata Biru melirik tubuh mungil istrinya dari ujung kaki sampai ke atas rambut, Baju tidur bermotif Doraemon panjang ternyata terlihat seksi juga di matanya jikalau si Petite yang mengenakannya, kalau orang lain sih...Ogah lirik ia, Tidak ada lagi yang menarik saat ini kecuali Petite-nya. Tapi Biru membiarkan dulu, Waktunya sejenak bersih bersih tubuh dari keringat seharian panjang ini, biar Mentari semakin terbuai dengan maskulin tubuhnya.


Mentari menoleh dengan senyum hangat menyapa Biru. ""Bos ! pakaian gantinya di sini, Saya sudah siapkan !"" Tunjuk Mentari di sisi kasur sebelahnya. Biru mendekat meraih pakaian tersebut.


"Petite, Handuknya mana sayang ?"" Biru membolak-balik kain tersebut namun yang di carinya tidak ada.


""Ck, Bos ! Bos mau ngapain malam malam nyari handuk, mau mandi ?""


Biru mengangguk, tak betah dirinya kalau mau menjelajah kasur dengan keringat kering yang menempel di tubuhnya.


""Yakin ? di sini tuh bukan kota yang airnya bisa hangat tetiba setelah di atur, Di sini kampung bos, airnya langsung dari mata air sumur, dingin ! apalagi malam hari."" Jelas Mentari.


Iya juga ya ? Biru berpikir, Mandi air dingin tengah malam malah akan membuat tubuhnya tersarang flu, lebih parahnya...ia bisa gagal bersatu dengan Mentari malam ini cuma gara gara Flu mendadak...No Gede ! ia tidak mau gagal malam ini juga. Dengan santai Biru melepas semua kain yang menempel di tubuhnya. di hadapan Mentari.


""Aargh."" Mentari yang mendapat tontonan gratis untuk pertama kalinya. Reflek menjerit, menyambar bantal untuk menutupi wajahnya. matanya sudah ternodai melihat senjata milik Suaminya.


Nah....kan ! ponakan gue pasti sudah di makan. menang kau Anak Sunjaya.

__ADS_1


Radja yang masih terjaga, Auto mendengar jeritan sekilas Mentari, Kalau bukan di makan, apa lagi coba ?


Di dalam kamar, Biru sudah duduk di samping Mentari dengan keadaan polos.


""Kenapa Petite ? Malu ? atau.. apa kurang panjang ?""


Mentari mengangguk, mengintip sedikit untuk memastikan pertanyaan Biru, Panjang atau pendek ? ""Panjang Bos !"" Jawab Mentari jujur. Biru tersenyum geli.


Mentari kembali menutup wajahnya yang sudah memanas merah malu, Luar biasa! Ingin kabur takut dosa yang sudah meninggalkan suami di malam pertama, Lebih lebih ada sugesti dari Bintang kalau MP itu sangat sakit seperti di terkam buaya.... Sekarang yang Merinding Mentari...Ia jadi menyesal tadinya di pentas sudah mengumandangkan nyanyian Merinding Ding Ding Ding.


Bagaimana ini ? Biru malah menarik bantal penutup matanya.


""Dengar ya Petite, sayang ku ! Pertama Tama, jangan panggil saya dengan kata Bos lagi..Kerena saya sekarang suami kamu, Panggil Mas atau Abang atau apapun itu yang terdengar mesra. dan----""


""Hulk."" Potong Mentari. Matanya salah fokus selalu menghindar dari pemandangan tengah milik Biru.


""Hulk ? Tokoh hijau itu ?"" Tanya Biru heran dengan panggilan Mentari nantinya yang di anggapnya raksasa hijau.


Biru membuang nafas perlahan, Sabar. Begini nih, nikah dengan wanita lugu lempeng...Jadi harus di sugesti lembut dulu tuh otaknya, supaya berhasil. baru melakukan ritual malam. Jangan sampai malam ini pun akan bertemu Tante Lux... Sudah cukup sudah.


""Sayang, Dengar ya ! Saya minta ijin mu untuk menyatukan darah kita malam ini, apa boleh ?""


Mentari hanya diam.


""Jangan takut akan sek* ! Sek* halal itu indah kok...atas masih dalam kewajaran saja dalam melaksanakannya ! dan itu Justru di wajibkan oleh ajaran sang pencipta ! Di wajibkan agar keturunan sang Rasulullah hadir melalui sepasang manusia dengan catatan halal. Seperti kita sekarang ini, jadi apa kah boleh ?"" Ijin Biru kembali, ia tidak akan melakukannya jikalau Istri polosnya ini masih belum siap.


Mentari semakin menatap dalam manik Biru dengan tatapan nyalang... antara takut dan penasaran. Penasaran dengan kata orang orang yang katanya nikmat itu. Namun takut juga yang mendapat sugesti jahil dari Bintang yang katanya sakit luar biasa seperti di terkam buaya...Nah, pertanyaan Mentari yang belum sempat di tanyakan ke Bintang, apakah Bintang ini pernah merasakan di terkam buaya ?... entah lah !


""Hulk, apakah sakit ? kata kak Bintang, katanya sakit seperti di terkam buaya ?"" Lolos juga pertanyaan itu di mulut polosnya.

__ADS_1


Biru menggeleng geli ternyata ada sugesti jahil rupanya, Awas saja kau sepupu galak !. ""Kalau di terkam buaya ya pasti sudah koid si Kaka ipar mu itu, itu hanya bohong, sayang ! saya akan melakukannya dengan lembut, Janji ! jadi bagaimana ? boleh ?""


Senyuman Biru semakin manis saat mendapati suara Mentari yang boleh melakukannya.


Biru perlahan membuka kancing piama itu. Wajahnya menggelap saat mendapat pemandangan gunung di hadapannya. Cinta dan Nafs* yang sekarang terpancar di matanya sekarang. Cinta tanpa nafs* itu bohong, Biru mengakuinya karena ia tidak munafik...Cinta tanpa nafs* itu hambar dan yakinlah.... Hubungan sepasang halal itu tidak akan harmonis jika hanya cinta tanpa adanya nafs*.


" Bismillahi Allahumma jannibnasy-syaithoona wa jannibis-syaithoona ma rozaqtana""


Setelah berdoa lirih, Biru mengecup dahi sang istri, mesra ""Jangan takut, malam ini kamu cukup nikmati saja, biarkan Suami mu ini yang bekerja.!"" Biru kembali menghujami kecupan demi kecupan untuk memberikan efek ke istrinya.


Benar saja, Mentari tanpa sadar sudah melenguh lirih, saat kecupan Biru sudah menjalar kemana-mana di setiap jengkal tubuhnya.


"Aarg !"" Mentari hampir menjerit namun tertelan, Biru langsung membungkamnya menggunakan bibir, saat pertahanan yang selama ini di jaganya dengan baik di bobol sudah oleh laki laki yang ada di atas tubuhnya sekarang.


Ritme pelan sentuhan Biru membuat Mentari semakin menit semakin terasa berada di atas gugusan awan malam bersama bintang bintang nan bulan menari bersama. Ini kah yang di nama kan surga dunia ! Sensasi luar biasa nikmatnya, tidak ada lagi rasa malu yang di rasakannya... hanya hasrat dan kenikmatan yang menguasainya.


Mentari yakini jika Biru pun merasakan sensasi yang sama di rasanya, saat tanpa sadar Suaminya itu mengerang keras menindihi tubuhnya. Ia dan Biru mencapai puncak bersama sama.


""Alhamdulillahi dzdzi khalaqa minal maa i basyaraa""


Biru berucap lirih seraya berangsur menggeser tubuhnya dari atas tubuh istrinya. Dan malam itu....Lagi, Lagi dan Lagi... mereka mengulangi kenikmatan yang selama ini di tunggu oleh Biru , dan insyaallah mereka di bawah perlindungan sang pencipta karena mereka memulainya dengan doa dan di akhiri dengan doa pun.


""Rose, bikinin saya kopi dong, kuping saya panas tau nggak tidak bisa tidur, gara gara ada bunyi krek krek dari dalam kamar Mentari. bunyi apa sih ?""


Radja mendengus, saat matanya yang hampir terpejam selalu terganggu dengan suara aneh yang sebelumnya beberapa hari ini tinggal di rumah Rose, tidak ada suara itu. Ia malah berjalan ke dapur, menghampiri Rose yang masih berbenah.


"" Tunggu sebentar !"" Rose tidak menjawab pertanyaan Radja. Rose hanya tersenyum geli, tahu persis itu adalah suara yang ditimbulkan dari ranjang lama Mentari yang terbuat dari besi sehingga menimbulkan krek krek jika banyak guncangan.


Kamu sudah menjadi istri sepenuhnya sayang, Amma do'akan kamu selalu bisa memuaskan suami mu.

__ADS_1


🐣🐣🐣 Jangan harap MP Sagara akan detail panas ya guys ! author sengaja tidak mendetail kevulgaran di cerita ini...di sebab kan...Ada pembaca Mak Author alias ponakan author di bawah umur yang ikut serta membaca karya ini...Jadi maaf !!! mengecewakan šŸ™šŸ™šŸ™šŸ™


__ADS_2