
Gema dan Gemi sedang asyik berolahraga bersama di pekarangan kediaman Batara padahal hari sudah sore.
Kegiatan si kembar terganggu dengan adanya kurir di luar pagar. Gema mendekat, Sementara Gemi hanya sibuk dengan olahraga bela dirinya dengan sarung tinju di tangan.
""Paket buat siapa pak ?"" Tanya Gema ke Kurir.
""Atas nama Rose dari.... Mentari."" Sahut sang kurir seraya membaca nama di kotak tersebut.
""Oh, biar saya saja yang terima, saya ponakannya.!""
Gema pun beranjak masuk mencari Rose yang biasanya ada di dapur memasak makan malam, jam segini, bersama Risma.
""Amma, ada paket !"" Julur Gema ke hadapan Rose. Rose menggapainya dengan senyum hangat."" Terimakasih kembar.""
Gema mengangguk dengan senyum manisnya ""Sama sama, saya keluar lagi ya...mau melanjutkan latihan."" pamit Gema. di angguki oleh Rose.
""Dari siapa Rose ?"" Risma penasaran akan paket tersebut.
""Ini dari Mentari, Obat herbal untuk pereda sesak nafas."" jelas Rose yakin tanpa curiga sedikitpun.
""Owh."" Respon Risma tak banyak tanya lagi.
...****...
Senja masuk kedalam kamar dengan wajah lelah dan juga ada rasa nyeri akan di punggungnya, ia memang belum sempat mengobatinya.
""Bagus deh, si Mendung tidak ada.""
Senja duduk di meja riasnya, ia membuka kemeja dan menurunkannya setengah tubuh dengan obat salep di depan mata, ia ingin mengobati lukanya sendiri.
Saat Senja sudah buka bukaan setengah punggung, Langit keluar dari arah kamar mandi dengan hanya menggunakan lilitan handuk di pinggang. Langit menegang melihat punggung putih Senja yang memar keunguan dari belakang dan juga melihat si gunung kembar terbalut kain kaca mata dari pantulan cermin.
""Aaarg."" Reflek Senja menjerit saat mendapati Langit dengan mata nakal itu melirik tubuhnya. Cepat cepat ia menarik bajunya ke atas dan merapihkan tanpa mengobatinya. ""Apa liat liat ?"" Galaknya.
Tanpa menjawab, Langit dengan kasar menarik tangan Senja dan menghempaskan tubuh semampai itu ke atas kasur. Senja jatuh terlentang. Ingin segera bangkit tapi Langit sudah menahan tubuhnya.
""Langit mendung !"" Marahnya akan aksi Langit yang tetiba kasar.
""Diam."" Langit menyobek paksa baju yang di kenakan Senja dengan sekali tarikan bagian belakang.
""Aarg, sialan ! apa yang ingin Lo lakuin."" Ronta Senja.
__ADS_1
Langit hanya diam dengan tangan satunya menahan pergerakan Senja.
""Mau ngebunuh Lo.!"" Malas Langit. Namun pergerakannya malah membuka obat salep menggunakan mulutnya karena Senja masih liar tak mau diam meronta dengan itu tangannya sibuk menjinakkan. bagaimana pun luka itu ada karena dirinya yang di selamat kan oleh Senja.
""Diam atau... gue tekan punggung Lo ini."" Ancamnya seraya memulai mengobati punggung Senja.
Senja sendiri mulai tenang dan sedikit meringis karena Langit entah sengaja atau tidak, terlalu kasar mengolesi salepnya.
""His..Bisa pelan nggak sih, Kasar amat !"" Cibirnya dengan wajah di tenggelamkan ke bantal.
""Cengeng ! dan dengar baik baik, gue ngobatin ini bukan karena gue perduli ke Lo, melainkan gue tahu diri." Balas cibir Langit.
""Gue juga ogah di perhatikan oleh orang yang hanya bisa bermain dari belakang."" Senja masih Kekeuh akan kejadian hari ini adalah ulah Langit.
""Terserah, Lo mau nuduh gue dengan otak bodoh Lo itu, gue kagak perduli."" Balas Langit cuek.
Senja tak cerewet lagi, wanita itu memejamkan matanya dalam denyut sakit di punggungnya.
Langit sudah selesai, melepaskan tangannya dari inci kulit Senja. Ia menyerinyit saat tidak ada pergerakan dari Senja.
""Tidur apa pingsan ?"" Lirihnya penasaran. Seraya kesisi dekat kepala Senja.
""Itik...tik.."" Langit ingin membalikkan badan Senja yang di rasa rasanya sedang tidak baik. Namun tangannya langsung di cekram dari si itik ini.
Saat tangan Langit hampir menyentuhnya, Senja langsung mencengkeram sekilas tangan Langit tanpa berniat untuk menghadap ke Langit, ia malu dengan penampilannya yang jika bangun atau berbalik maka... terekspos sudah kedua gunungnya yang hanya berbalut kain dalam doang.
""Kagak Level gue dengan tubuh Lo itu."" Hina Langit. Senja geram di hina tanpa melihat ke arah Langit, tangannya kembali Ingin memukul Langit tapi tanpa sadar Senja menarik handuk Langit sampai terlepas sehingga tubuh Langit terlihat polos sepenuhnya.
Senja belum sadar akan kelakuannya. Tangan lentiknya masih setia menggenggam handuk yang tak bertuan lagi.
""Aarg, Itiiiiik... handuk gue balikin."" Kaget malu Langit menarik kembali handuk itu tapi tenaga itik lumayan kuat.
Senja menyerinyit dalam persembunyian wajahnya di dalam bantal, mendongak sedikit ke tangannya yang memegang handuk. ""Terlepas ? Aaarg, mendung...Burung Lo terbang. iiiiih....Seram amat !"" kagetnya.
Senja spontan melepaskan handuk yang masih di tarik kuat Langit saat melihat penampakan berbulu, ia bergidik seram dan kembali menyembunyikan wajahnya di balik bantal yang sudah memerah malu.
Langit sendiri terpental ke lantai ulah Senja yang tetiba melepaskan handuk saat dirinya menarik kuat kain sialan itu yang tidak bisa berkempromi. Handuk dan Senja nyebelin. Langit pun merasa malu dan berlalu masuk ke ruangan ganti.
Senja yang merasa sudah tidak adanya Langit yang sedang memberi tontonan gratis.... mengintip.
Huu, Bentuknya seram amat...Apa sepanjang itu ? Tanyanya penasaran akan senjata itu.
__ADS_1
...****...
Mentari duduk di balkon kamarnya, melihat pemandangan malam seraya menunggu Biru yang sedang bersih bersih.
Mentari tanpa sengaja mendapati bintang jatuh, ia memejamkan mata dan berdoa akan harapannya. Semoga kami selalu berada di dalam lindungan mu, Tuhan. doanya yang sedikit ada rasa aneh di hatinya.
""Sayang.!"" Biru datang datang memeluk tubuh mungil istrinya dari belakang. memberikan kehangatan tersendiri bagi Mentari. ""Di luar dingin, kamu baru sembuh dari demam, ayo kita masuk.""
Biru yang hampir melepaskan pelukannya dari perut Mentari. di tahan langsung oleh Mentari untuk tetap memeluknya saja.
""Jangan di lepas, Saya nyaman akan posisi ini."" Ujar Mentari, memejamkan matanya untuk menikmati pelukan Suaminya.
Tentu Saja Biru tidak menolak. ia semakin mempererat pelukannya di perut Mentari dan sesekali tangan nakalnya mengelus perut Mentari yang rata tak ada apa apa.""Kenapa ?""
""Diamlah sesaat ! Saya membutuhkan ketenangan... Hatiku terasa aneh dan sakit tak menentu malam ini. Entah ada apa ?"" Mentari menjawab tak sedikit pun membuka matanya, ia terpejam sadar di dalam sandaran dada bidang Biru.
Hening beberapa menit....Mereka sibuk dalam pikiran masing-masing. Mentari sibuk bertanya ada apa sehingga hatinya tidak tenang. Sementara Biru seketika sibuk atas kejadian di lorong. Siapa yang berani meretas keamanannya dan apa maunya orang itu... apakah itu Langit ? atau orang Lain ? siapa yang di incarnya.... Mentari kah ? Atau dirinya ? entahlah... yang penting Biru sekarang sedang dalam kewaspadaan.
Obat herbal ? Mentari kembali mengingat ucapan Ammanya ketika di telpon saat kejadian di lorong.
""Hulk, awas ! saya akan menelpon Daeng dulu.""
Biru terkejut akan pergerakan Mentari yang berlarian masuk meningkalkan dirinya di balkon.
Hais, tadi sendiri meminta diam tak bergerak..tapi....? ada apa ya ?
Biru menatap aneh Mentari, istrinya bolak balik seperti setrika dengan layar di dekat daun telinga.
""Ada apa sih, Petite ? kenapa terlihat pucat begitu, masih demam kah ?"" Heran Biru.
""Saya tidak demam, cuma ada yang ganjil di hati."" ucapnya ke Biru. ""Ini Daeng kemana lagi ? kenapa tidak di angat sih ?"" Ocehnya sendiri ke layar.
""Apa butuh bantuan sayang ?"" Tawar Biru belum mengerti ada apa.
""Eum, kita kerumah Batara, perasaan saya tidak enak tertuju ke Amma !""
""Malam malam begini ?"" Heran Biru lagi.
""Ya.... kalau tidak mau, biarkan saya naik taksi saja.""
Mentari bergegas keluar kamar meningkalkan Biru yang masih terasa aneh akan wajah tidak tenang istrinya.
__ADS_1
Reflek Biru saat tersadar menyambar jaket kulitnya dan juga menyambar kunci mobilnya.
""Petite, tunggu !""