
Kepergian Jum dan Gema. Satria dapat tatapan horor dari Mentari,Senja juga Bang Sam sekaligus, ketiganya rasa rasanya ingin sekali menguliti Satria.
Biru dan Langit yang melihat itu menjadi kasihan juga dengan Satria. siap siap dapat ceramah Lo Sat ? Batin mereka.
""Sat...maaf maaf, aja nih ya Sebelumnya. bukan maksud gue ikut campur dalam urusan pribadi Lo dan Jum, Tapi gue gatal sumpah ! Ingin mengatakan... Kalau Lo jadi laki kudu ada pendirian dong, Jangan PHP in Jum yang sudah gue anggap adek kaya Mentari di hidup gue... Lo pan uda dewasa tuh, bisa berdiri tanpa ketek Mama Lo itu, jadi tegas dikit napa, di sini gue nggak nyuruh Lo untuk menjadi anak pembangkang bin durhaka, Tapi setidaknya keinginan hati kudu Lo perjuangkan dong, ya itu pun lau Lo serius ke Jum, Lo telat dikit...ada adik tiri bin sepupu gue yang siap menikung lurus Lo.""
Table tetiba hening, saat Senja mengeluarkan suaranya. Satria yang jadi bahan topik jadi Gegana.
"" lau gue laki normal ma, Uda dari dulu tuh gue nikung Lo Sat. Secara Jum itu asyik orangnya, suasana akan hidup jika ada bocah somplak ntu."" Timpal Bang Sam.
""Saya sih tak banyak cakap ya Abang, cuma mau kata...siap siap aja gigit jari, Gema aslinya suka dengan Jum, Tapi masih menganggap Lo aja makanya diam begitu, tapi kalau dia sampai tahu, Lo ada affair rumit...di pastikan... pergerakan Gema itu seperti kilat, tak banyak omong tapi langsung zig zag pergerakan."" Pungkas Mentari, santai. Satria semakin prustasi di buat ke-tiga orang di hadapannya ini, yang benar adanya. ia jadi bingung harus bagaimana sekarang, otaknya buntu parah. antara Mamanya dan Jum ?
Sementara di posisi Jum, Gema membawa sekretaris itu masuk ke dalam kantor khusus ruangan meeting yang sepi, kan kata woman ini mau meeting, Gema hanya membeli ucapan njeplak woman ini...Jadi, yuk ayuuuk kita meeting.
""Pak, kita mau ngapain di sini ?""
"" Meeting !"" Kalem Gema menjawab, membuka kancing jasnya agar nyaman dalam duduknya.
""Sama ?""
""Kamu."" irit Gema.
Tatapan mata Gema Membuat Jum Merinding, Takut. padahal biasanya ia tak ada gentarnya.
""Hehehe, Pak...Tadi cuma becanda kok, pisss.""Jum tercengir kuda dengan dua jari ia bentuk V.
""Tapi saya serius ! duduk lah...!"" Lirik Gema ke kursi meeting sebelahnya. Hati Jum getar getir ini....Rasa rasanya ia pun ingin mengunyah mentah mentah Wajah datar Bossnya.
""Tentang ?"" Penasaran Jum.
__ADS_1
""Katakan, ada apa sebenarnya ? apa Satria menyakiti mu, eum ?""
Etdah.... Suaranya lembut benar, Jum serasa mau mimisan mendengar kelembutan suara Bossnya.
""Kalau cuma bahas tentang pribadi di sini sih, kagak pantas ya pak ! Jadi boleh dong saya tidak menjawab anda."" Jum tak berani menatap mata hitam pekat dalam Gema yang sedalam lautan, takut takut kelelep.
""Kalau sedang berbicara tuh, tatap lawan bicara woman. Jendela dan wajah saya sepertinya enakan wajah saya untuk di pandang.""
Gema memegang lembut rahang Jum untuk membalikkan wajah itu ke matanya.
Jendela lebih sedap di mata dari pada wajah datar bapak.
""Lepas pa---!""
Ceklek...
Selamat gue !!!
Menyadari Radja yang membuka pintu ruangan, Gema terdiam, melepaskan cepat tangannya dari rahang Jum.
"" Bocah kaku, Untung pak Rahmat tak melihat tangan kurang ajar Kamu, Gema."" Batin Radja.
Pak Rahmat-Bapak Jum baru masuk setelah Radja membuka pintu lebar-lebar. Jum yang melihat ada Bapaknya jadi getar getir...ada apa gerangan, Sehingga Bapak berpeci ini datang ke tempat ngulinya.
""Bapak, kenapa bisa berada di sini, bersama pak Radja. apa ada masalah ?""
Jum beranjak cepat, menjauh dari Gema, dengan sengaja ia sedikit menginjak ujung sepatu Gema, dan berpura-pura agak begoo.
Tapi se...Kenapa si Bapak sayang memancarkan mata merahnya, Jum paham betul tanda tanda ada sesuatu yang tidak baik terjadi yang di alami bapaknya.... Ammanya ? apa Amma baik baik saja ?
__ADS_1
""Amma mana pak ?"" Cemas Jum.
""Amma mu ada di rumah pak Radja, Kamu kenapa tidak bilang kalau mama Satria tidak memberi mu restu hah ? Beliau barusan menghampiri bapak dan mencaci Bapak serta Amma mu di apartemen, beliau bilang Bapak tidak becus mengurus mu, kamu di katain perebut calon suami orang, ada apa sebenarnya ini Jum ? Apa kamu mau merasakan gagang sapu lagi seperti dulu dulu yang selama ini Bapak terapkan kalau kamu nakal, begitu hah ?"" Oceh Geram Pak Rahmat, didikannya memang ajaib kasarnya, makanya Jum sangat takut ke bapak bersarung peci ini. Tegas dan kejam.
Gema serta Radja sampai speechless mendengar kata kata pak Rahmat, Kejam benar hukumannya, Gema merasa iba ke Jum, dan ternyata ini permasalahannya toh, makanya Jum tadi berkelit di hadapan Satria menggunakan dirinya. Bagus benar si woman ini...Lari dari masalah rupa rupanya pemirsa.
"" Bapak sholeh..., itu tidak benar, anak mu ini masih di jalan didikan mu kok, demi Allah... Jum Tidak merebut calon orang, ya itu...cumaaa, Jum tidak tahu kalau Bang Satria sudah punya calon... bukan salah Jum dong Bapak, tapi kalau Bapak mau menghukum Jum, tak apa kok, di sini pun tak jadi masalah, nah...itu sapu di ujung tembok belakang bapak, Jum pun kangen di pukul bapak, sudah lama kan bapak tidak menghadiahi paha, betis serta kaki Jum dengan sapu sampai tercetak darah di sana. ayo lakukan....Tapi walaupun saya minta di hukum, saya tidak membenarkan tuduhan mereka lho bapak sayang.""
Jum menunjuk sapu yang mungkin tertinggal milik OB, Tubuhnya ia rileks kan agar tidak kaget akan hukuman bapaknya yang hot hot asyik membahana di kulitnya, wajah jahil somplaknya masih ada di tempatnya, tapi jujur...di dalam sana hatinya hancur mendapat kabar hinaan tertuju ke bapaknya, ah...rasa rasanya Jum Ingin menabok mulut pedas mama Satria...Hinalah dirinya, tapi jangan hina si bapak dan Amma tersayangnya. Jum tidak terima akan hal itu.
Jum sudah terbiasa sedari kecil akan hukuman itu jika ia badung. Tapi sumpah demi Allah, ia begitu menghormati dan menyayangi bapaknya ini yang kuerenn abis di matanya, Setiap orang tua punya cara sendiri bukan untuk memberi pelajaran anaknya agar kapok, dan Jum tak apa dirinya di hukum, toh.. setelah di hukum si bapak berpeci ini akan memeluknya sayang seraya berkata maaf kan Bapak ya nak, demi masa depan mu agar kamu tidak melakukan kesalahan sama lagi dan berpikir dulu sebelum bertindak.
""Jangan begitu lah, Bung !"" Radja yang mendengar hukuman yang terdengar ekstrim itu segera menarik sapu tersebut sebelum di raih oleh Pak Rahmat.
Gema ? tentu saja ia tak terima akan hal itu, cepat cepat ia menarik Jum untuk berlindung di belakang tubuh tingginya. Jum dari belakang mengumpati Gema dengan kepalan tonjokannya. Si bos trenggiling, Bapak ku punya otak Ogeb, beliau tidak mungkin menghajar anaknya di hadapan orang lain, nanti bisa viral kan bahaya, si bapak berpeci bisa bisa kena pasal penganiayaan anak. Ogah gue...gitu gitu bapak gue. Batinnya yang sebenarnya Jum tadi mendramatisir keterpurukannya di hadapan si Bapak.
""Nah, mumpung...""
Ceklek...
Gema menjeda ucapannya, Senja dan Mentari masuk pula di ruangan meeting room ini. Ayo meeting penting di mari, lebih penting dari proyek triliunan Boss, Gema akan Zig zag, menikung tajam Satria yang banci lemot.
""Mumpung Pak Rahmat ada di sini, Papa juga dan saksinya Mentari juga kak Senja, Saya...Gema Ananda Batara, dengan bersungguh sungguh Serta murni tidak mempunyai riwayat hidup punya pacar di luaran sana bin bukan PHP atau bukan Pemberi Harapan Palsu, ingin MELAMAR anak bapak, saya bersedia menggantikan pengecut Satria menjadi imam yang baik untuk anak Bapak !!!"" Tegas Gema dengan suara tak ada keraguan.
Mampus kamu Abang Satria !!! Batin Mentari, Baru tadi di resto berucap Zig zag, Kaka sepupunya ini sudah main gentleman. Bravo !!!
Proook... proook....Proook. Senja pun di dalam sana bertepuk ria akan perangai saudara tirinya ini, Tak banyak cincong omong kosong, sekali berbicara...Berat sekintal setiap Ucapannya.
Jum, apa kabar di belakang punggung Gema ? saking shock nya ia sampai ngetubruk pingsan terjatuh menabrak punggung lebar Gema.
__ADS_1
JUUUUUM...!!!!