RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 87


__ADS_3

Di pagi hari setelah semua orang sepi di kediaman Batara. Raisa mengendap masuk ke dalam ruangan kerja Radja-Suaminya. Semalam ia mendengar pembicaraan antara Radja dan Bima-Mertuanya sedang membahas tentang pembagian harta warisan. Ia ingin memastikan isi warisan tersebut kalau pihak dari keluarga kecil Dewa tidak akan mendapat sepersen pun.


""Sial !"" Darah Raisa mendidih ke ubun ubun, marah. Setelah membaca isi dari kertas yang sudah di sah kan oleh hukum. Ternyata, Pirasat buruknya terjadi. Harusnya Mentari sekeluarga, tidak boleh mendapatkan secuil pun harta dari Batara. Harusnya perusahaan yang bernama RD BATARA Grup kelak akan jatuh ke pihak anak kembarnya Gema dan Gemi. Tapi ini....Kelak saham perusahaan itu akan di bagi dua dari keturunan Radja-Dewa, Yakni untuk Mentari dan Senja-kaka dari Mentari. Damn it, Ia tidak bisa berkutik, karena surat tersebut sudah di sahkan oleh hukum, dan penanggung jawabnya dari ahli hukum tersebut adalah Si Meca Aprilian-Pengacara kepercayaan keluarganya, Si jujur dalam ahli hukum, maka lengkap sudah kekalahannya karena tidak mungkin Meca mau membantunya untuk mengubah surat sah itu. Bagaimana ini ?


Raisa memang tahu, kalau perusahaan atas nama RD adalah hasil pembangunan secara bersama oleh Radja dan Dewa dari Nol, dulu. Tapi, Rasanya ia tidak rela sedikit pun, kalau anak dan istri Dewa menikmatinya, karena ia pikir... selama ini yang memajukan perusahaan adalah Radja-Suaminya setelah Dewa di asingkan. Jadi bagaimana pun caranya, Keturunan Dewa tidak boleh menikmatinya, Hanya anak kembarnya lah yang boleh bertahta di RD BATARA Grup, Tidak boleh ada dua pemegang Saham baik itu Mentari atau kakanya yang bernama Senja yang entah bagaimana rupa ponakannya yang satu itu.


Raisa meninggalkan ruang kerja itu dengan perasaan marah, ia akan menghampiri Mentari dan akan meluapkan kemarahannya ke Anak dari Dewa si mantan tunangan, dulu.


Sementara di tempat lain... Mentari berjalan di pinggir jalan depan restoran tempat kerjanya. Namun langkahnya terhenti saat melihat sosok wanita yang sedang melamun dalam menyebrang jalan.


""Mbaaak, Awas Mbak Zilaaa."" pekik Mentari seraya berlari ke arah Zila, namun Zila tak mendengarnya yang hampir tertabrak mobil yang terlihat tidak stabil dalam kecepatannya.


Duagh.


Nyawa Zila terselamatkan oleh tarikan kebelakang Mentari. Namun si penyelamat itu, Terjatuh keras ke atas aspal dan kepalanya terbentur kuat di ujung trotoar. ""Aww."" Ringis Mentari. Benjol deh Kepalanya, pening yang di rasa saat ini.


""Mentari !"" Mata Zila membelalak, saat sadar dari keterkejutannya, Ia beranjak cepat menghampiri Mentari.


""Mentari ! ****, Kepala mu.."" Zila membantu Mentari untuk duduk di atas trotoar agar aman dari kendaraan. Ia pun memeriksa kepala bagian belakang Mentari yang merembes mengeluarkan darah, Sedikit.

__ADS_1


""Ssshh, Aww."" Ringis Mentari. Zila meraba Kepalanya tepat yang terluka.


""Maaf-Maaf, Ayo saya bantu !""Zila menuntun Mentari menuju masuk ke dalam Resto milik Arkan sepupu Mentari dan juga calon tunangannya. Hati Zila tersentuh dengan perbuatan baik Mentari yang menyelamatkan nyawanya. Di awal berjumpa, Ia awalnya benci sekali dengan gadis yang di tuntunnya ini, Tapi Setelah kejadian tadi, ia seketika menyesal pernah memusuhi Mentari yang pernah mempermalukan Mentari di kampus dengan cara mengatai pelakor dan pernah pula dengan sengaja membuat Mentari tersiram kuah panas di waktu acara Gathering.


""Maaf dan terima kasih banyak Mentari !"" Tulus Zila seraya mengobati luka kepala Mentari. Mereka sekarang duduk di samping gedung restoran tempat Mentari mengendap endap masuk ke resto kalau terlambat datang.


""Terimakasihnya sudah saya kantongi mbak.."" Canda cengir Mentari, Terluka pun masih tersenyum. ingat ! Senyum juga ibadah lho, Kata Amma Mentari ! ""Tapi kata maaf ? Maaf kenapa ya, mbak ?"" Aneh Mentari, Hari Idul Fitri kan masih lama, bukan waktunya Sungkem Sungkeman, Pikirnya tak konek.


Zila sudah mengobati kepala Mentari, Ia pun Duduk di sebelah gadis ini, yang entah sengaja menanyakan ulang Maaf apa ya ? Nyindir kah Mentari ini ? agar ia mengabsen kesalahan yang di buatnya ke dia.


"Maaf soal....atas tidak sopan saya ke kamu, Maaf karena pernah cemburu buta kepadamu Saat Arkan terlihat membela mu dari pada saya di waktu itu dan berakhir saya mengumpati mu dengan kata pelakor. Maaf ! insiden, terkena sayur panas di tangan mu di saat Gethring."" Zila menunduk malu di samping Mentari.


Zila terenyuh, dengan sikap santai Mentari. Luar biasa sekali gadis Rantau ini yang tak menaruh marah apalagi dendam terhadapnya yang notabenenya sudah pernah di jahatinya, Pantas saja Arkan selalu mendamba sepupunya sendiri, Mentari baik sih orangnya.


""Ya sudah mbak, Saya masuk dulu ya ! takut telat hanya lima menit pun, akan di ketusin oleh pacar Mbak.""


Zila mencekal lengan Mentari agar duduk sebentar lagi. ia ingin meminta tolong, agar Arkan tidak jadi memutuskan hubungan pertunangannya, Ia siap merubah kelakuan buruknya saat ini juga. Di beri keselamatan yang Hampir tertabrak mobil serta ketulusan hati Mentari sudah membuka pikiran tobatnya.


""Mentari ! Boleh minta tolong ?""

__ADS_1


Mentari tanpa bertanya apa dulu, sudah manggut manggut polos. pikirnya orang minta tolong kan pasti dalam kesusahan, Naifnya pakai banget.


Zila tersenyum penuh harap. "" Tolongin hubungan saya bersama Arkan yang sekarang ini hampir retak, Arkan tadi sempat bertutur ingin mengakhiri pertunangan kami, Tapi saya tidak mau...saya sangat mencintainya dengan tulus, Mentari !""


""Saya coba ya mbak, Tapi tidak janji lho hasilnya, tahu sendiri Bos ketus itu sifatnya, keras Batu dan ini kan masalah pribadi, jadi saya tidak bisa melakukan banyak." Setuju Mentari. Zila tersenyum lega, memeluk Mentari sekilas. Untungnya Beberapa hari yang lalu, Ia tidak mau di ajak kerjasama oleh Sena-kakanya untuk melukai gadis baik ini, Dan tanpa tahu apa yang menimpa kakanya sekarang yang terlihat kosong dan sering menjerit, dan berperilaku seperti orang gila, akhir akhir ini yang menimpa Sena. Dan sebenarnya itu, tanpa sepengetahuan Zila dan orang lain, Biru lah di balik atas gangguan jiwa yang Sena rasakan saat ini.


Mentari pun masuk terburu-buru meninggalkan Zila yang menaruh penuh harap terhadapnya.


""Pak Arkan !"" Sapa Mentari seraya duduk di hadapan meja kebesaran Arkan.


Arkan menoleh ke jam Dinding, berniat menggoda sepupunya ini yang suka telat masuk kerja.


""Telat satu menit !"" ketus Arkan.


Mentari cemberut, Bos satu ini...di siplinnya pakai banget, Giliran dia yang telat datang tidak ada yang berani mengomeli, dasar...mentang mentang bos, seenak jidat ketus ria... padahal cuma satu menit... Astaghfirullah, Mentari dosa sudah ada niat dalam hati ingin menambahkan garam yang banyak ke dalam makanan Arkanas ini, biar komplit sudah terkena penyakit Sindrom hipertensi akut.


""Satu menit doang marah, saya kan telat karena menyelamatkan pacarnya, hu..."" lirih gerutu Mentari, ia beranjak lagi... masalah membicarakan niat Zila di urungkan dulu.


""Mentari ! Kepala mu kenapa ada perbannya ?""

__ADS_1


__ADS_2