RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 37


__ADS_3

Mentari menopang dagunya, memandangi sisa sayurannya yang belum habis terjual yang entah mau di apakan tuh si sayur mayur, mau di masak sendiri tidak mungkin habis dan itu gara gara mantan Bosnya yang tiba-tiba muncul seperti hantu yang datang tanpa di undang, Merecoki.


""Uda tidak usah sedih."" Enteng Biru, duduk di di kursi teras yang terbuat dari bambu dengan kaki menumpuh salah satu kakinya.


Mentari mendelik malas. ia masih ngambek tidak mau mengeluarkan suaranya sedari tadi di ajak ngomong, bibir itu hanya mengatup mengerucut cemberut.


""Ayo buruan siap siap aku antar ke kampus.!"" Biru tergoda dengan bibir yang lagi manyun manyun itu, jika tidak ada orang lain yang mondar-mandir di depan kontrakan, udah di sosor tuh bibir. Dan Biru juga aneh dengan tetangga kontrakan Mentari sebelah kiri kanan, Mereka pada duduk di teras masing masing dengan mata minta di colok, selalu melirik ke arahnya.


"Petite, ayo buruan siap siap, aku risih di sini.!"" Bisik Biru setelah mendekati Mentari yang duduk dua meter darinya.


Mentari menyirinyit hingga alis itu hampir bertaut, mencari keganjalan dari kerisihan Biru yang kadang nyebelin pakai banget, ia melirik ke sekeliling. Hem...Gila tetangga ku pada minta tissue tuh bibir pada ngences seperti bayi yang akan tumbuh gigi. Batinnya bertambah kesal.


Mentari tanpa berbicara, mendorong pelan punggung Biru masuk kedalam mobil, pokoknya ia akan berpuasa mengeluarkan suaranya hari ini untuk Biru, Biar Bosnya sadar kalau dirinya tidak suka di ganggu kalau lagi mencari nafkah. apa salahnya coba menjadi tukang sayur keliling, yang penting kan halal. apa bosnya malu mempunyai kenalan tukang sayur keliling...pengen nangis Mentari di saat ini tapi di tahannya, inilah dirinya....rantauan miskin yang hanya bisa mencari nafkah dengan modal receh,penghasilan pun receh, harusnya Biru mengerti dengan dirinya yang orang miskin, Biru harus pikir tujuh kali untuk menjadikannya pasangan hidup, Ia dan Biru bagai langit dan bumi, sangat jauh untuk di gapai.


""Apa sih Mentari ?"" Ketus Biru yang dapat dorongan terus dari Mentari.


Mentari membuka pintu mobil di bagian kemudi, memaksa Biru masuk kedalam sekuat tenaga. Namun Biru menahan diri tidak mau masuk, Pria yang sudah dewasa tapi berwajah brownies itu malah bersedakap pinggang, memasang wajah galak.


""Kamu mengusir ku, hah ?""

__ADS_1


Mentari menggeleng, padahal benar ia mau mengusir Biru. ia menciut mendapat wajah galak dari Biru. takut takut malah di cium di tengah jalan.


""Terus ? kenapa aku di paksa masuk kedalam mobil ?"" Biru masih sabar dengan sikap kebisuan Mentari, ia sadar Mentari ngambek kepadanya gara gara di recokin di saat berjualan.


Mentari tak menjawab, baik dari mulut maupun dari pergerakan tubuh, ia hanya terpaku dengan bibir masih mengerucut akut.


""Hah.!"" Biru membuang nafas beratnya di depan wajah Mentari sehingga angin beraroma mint dari nafas mulut Biru menyapu wajah manis Mentari. ""Aku tunggu di mobil, tidak pakai lama.!"" Biru naik kedalam mobil, menutup pintu dengan sangat kencang sampai mengeluarkan suara braak.


Berselang beberapa menit, Mentari sudah siap untuk berangkat ke kampus, mau tidak mau ia menurut di antar oleh Biru. Pertanyaan Mentari dalam hatinya itu. Apa Biru tidak bekerja ? perasaan di waktu menjadi di asisten Biru di jam tujuh si mantan bos masih asyik molor ? kenapa dia sudah berada di kontrakannya di pagi pagi hari.


""Terus saja berpuasa bisu ! Gue hukum mau ?"" Ancam Biru di sela kemudinya.


Sudut bibir Biru terangkat tajam. ""Pulang jam berapa hari ini dari kampus ?.""


Mentari mengedipkan bahu. ""Mana aku tahu !"" Batinnya.


Fine, Biru masih sabar. ""Ingat ucapan aku, jangan dekat dekat dengan Si Langit, Mengerti !"" Suara itu terdengar tajam penuh dengan ancaman. Mentari masih setia dengan ngambeknya.


""Mentari !!!"" Bentak Geram Biru tak dapat respon dari orang yang ada di sampingnya. Biru menekan pedal rem mendadak sehingga decitan ban terdengar ngilu.

__ADS_1


""Aww ish.."" Giliran bersuara, Mentari hanya meringis, dahinya terbentur dengan dasboard mobil, mengelus dahi itu dengan sedikit ringisan, Sakit.


""Aku tidak suka di diemin, Mentari."" Biru tanpa aba aba langsung menerkam bibir mungil itu dengan sedikit paksa karena Mentari menolak menahan dadanya.


Biru suka dengan bibir lembut kenyal itu, di paksanya terbuka dengan cara menggigit kecil bibir Mentari, Terbuka...Tanpa memberi pasokan oksigen untuk Mentari, ia terus mengabsen paksa rongga mulut yang terasa manis di lidahnya. Namun terhenti saat ada air asin yang tak sengaja ikut di rasakannya menyentuh bibirnya.


""Hiks... hiks.."" Mentari menangis, menutup wajah mungil itu dengan kedua telapak tangannya. ""Kenapa sih Bos ? Kenapa anda selalu menghukum aku dengan seperti itu, aku diam karena bos nyebelin yang datang datang merecoki daganganku yang menurut anda sampah mungkin, aku hanya orang miskin yang butuh bekerja untuk melangsungkan hidup di kota besar ini, untuk membayar hutang aku di bos, untuk memberi nafkah Amma ku di kampung, aku hanya orang miskin yang tidak pantas untuk bos, jika anda malu dengan aku yang penjual sayuran ini maka tolong dengan sangat anda tidak usah dekat dekat dengan orang miskin ini, aku masih punya harga diri yang tidak mau menjadi parasit di hidup anda, anda memang mungkin ikhlas, tapi lihatlah di sekeliling kita nantinya, aku yang akan di cap jelek oleh mereka, aku tidak secuek dengan suara suara yang sering mencemooh ku nanti, hatiku sebenarnya sakit dan menciut jika mendengar kata kata pedas dari mereka.""


Mentari beruneg uneg dengan suara terisak tangis. Sungguh ia sangat berterima kasih atas kebaikan dari Biru. tapi ia tidak suka dengan kelakuan Biru yang selalu membuat jantungnya akan copot jika terus mendapat ciuman yang tak terduga, bagi sebagian wanita itu cuma hal biasa tapi baginya itu adalah penghinaan diri untuknya.


""Maaf." Lirih Biru dengan tangan terulur mengelus rambut hitam Mentari yang masih terisak, tapi Mentari menepis langsung tangannya. Biru menyesal dengan kesalahannya, ia tidak bermaksud untuk melukai hati Mentari, ia sadar jika kelakuannya salah yang seenak jidat lebar main menyosor bibir orang yang belum ada hak untuk menyentuh bibir itu.


Gadis itu membuka telapak tangannya dari wajahnya yang masih di banjiri air bening. mengusapnya dengan sangat kasar. ""Apakah di mata anda aku ini wanita murahan ? sehingga aku harus membayar hutang dengan cara seperti tadi, aku merasa seperti wanita murahan jika terus menerus membayar hutang seperti itu, kenapa tidak sekalian saja anda memakan ku biar anda PUAS ! dan maaf mungkin aku lancang dengan perkataan ku.""


Mentari menarik knop mobil, keluar dari mobil Biru. padahal area kampus masih jauh dari tempatnya sekarang.


Biru sendiri tak menyadari Mentari keluar dari mobilnya, ia terpaku mencerna kata kata Mentari. Memakan ? "" Shit...aku bukan pria berjenis buaya, Men___? Hais !"" Biru menoleh ke samping, ia baru menyadari jika Mentari sudah tidak ada di tempat.


Vote dan Bunga bunga šŸŒ¹šŸ˜˜šŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2