RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 129


__ADS_3

Obat herbal yang di konsumsi Amma kamu termasuk herbal dari tumbuhan ganas yang langkah, hanya tanah tertentu yang memiliki tumbuhan itu, medis belum punya penawarnya , kami team medis hanya bisa membantu mencegah penyebarannya agar tidak menjalar ke saraf inti kehidupan beliau.


Penjelasan Dokter Farel selalu terngiang di otak Senja sampai malam begini. Senja tidak bisa tidur...Ia memikirkan jalan keluar untuk mencari cara bagaimana Ammanya bisa sembuh seperti sedia kala.


Di balkon kamar, Senja meneliti intens serbuk bubuk herbal yang menjadi penyebab Rose sakit, ia menghirup aroma yang menyengat tajam dari tumbuhan langka itu. ""Hu, baunya tajam juga ! Amma kok doyan ya ?"" Lirihnya. Tak lupa ia juga meneliti pembungkusnya yang hanya tertulis dalam latin Cina.


Senja berpikir, apakah Herbal bisa di lawan dengan herbal pula ? Entahlah...tapi di otak pintar Senja dalam hal tetumbuhan menyarankan ide tersebut.... berhasil tidaknya hanya sang pencipta lah yang maha mengetahui, Senja hanya berusaha sebisa mungkin untuk membuat Ammanya sembuh. biarkan Sang kuasa yang menjawab usahanya.


Senja tersenyum lega penuh harapan, Semoga saja ia bisa membuat racikan herbal pula untuk melawan penyakit Ammanya... tapi Nafasnya terdengar putus asa...ia tidak bisa membaca tulisan latin dari negara panda ini, jangankan berharap ada bahasa negaranya, ingredient nya saja tidak ada sama sekali. Sedangkan kalau ingin membuat obat penyembuh apapun itu, kita harusnya mengetahui inti permasalahannya bukan ?


""Huh, bagaimana dong, dasar Senja bodoh... Begini nih orang desa yang tidak punya keahlian dalam bahasa negara lain."" Dumelnya seraya berjalan mencari suami yang menyebalkan di mata untuk di mintai bantuan. Siapa tahu si Langit mendung bisa menterjemahkan tulisan yang riweh di otak Senja.


Senja tak menemukan keberadaan Langit di dalam kamar, ia berpikir kalau Suaminya itu berada di kamar Satria, Sebelum menemui kedua pria itu, Senja memasuki kamar mandi berniat mencuci wajahnya dulu agar tidak mengantuk saat beragumen dengan Langit nanti.


""La----Men !"" Senja memejamkan matanya, bibirnya keluh tak bersuara, ia menemukan Langit sedang asyik berendam di Bathtub, hanya kaca bening berembun yang membatasinya, dada polos kekar itu sudah terekam di mata Senja. ""Aih, bodoh !"" Malu Senja sendiri, padahal Langit belum menyadari keberadaannya.


""Ayo Senja, keluar bodoh !"" Gumamnya tidak mau melihat burung terbang punya Langit, lagi.


Senja berbalik badan menghadap ke pintu keluar yang kira kira hanya lima langkah saja, tapi kok rasa rasanya, Lima langkah itu bagaikan Lima meter di kaki Senja dengan langkah pelannya.


Braaak...


Haduuu, pakai bersuara sih. Dengusnya saat lengannya tak sengaja menyenggol sesuatu di atas wastafel sampai terjatuh


""Itik, woy... berhenti di tempat atau...""Langit menyeringai jahil, matanya menangkap Senja yang lagi ketahuan mengintipnya mandi.


Senja mematung seketika, ia bisa saja pergi tak menurut, tapi mengingat ia butuh bantuan Langit, hal tentang bahasa Cinta eh Cina, ia pun menurut manis.


""Sini mendekat !"" Jahil Langit. Senja menggeleng geleng cepat.

__ADS_1


""Mendekat dan bawakan handuk itu, atau sekarang juga gue bangkit dari bathtub dan mata lu akan bintilan sudah melihat sosok menyeramkan dari tubuh gue."" Goda Langit.


Senja melirik ke gantungan handuk. ""Baiklah, tapi diam di tempat ya...awas jangan sampai bergerak dari sana !"" Ancamnya, berjalan ke bathtub Setelah handuk di tangan.


""Eum.!"" Seringai Langit.


""Nih, Ambillah ! saya keluar, dan iya...satu lagi..saya sedang membutuhkan pertolongan mu, penting.!"" Senja melayangkan handuk, namun Langit tak juga menggapainya.


""Penting ?"" Langit semakin jumawa ingin mengerjai Itik ini, apalagi mood itik lagi membutuhkan bantuan, katanya.


Senja mengangguk, dan berbalik badan.


""Tunggu dulu !" Cegah Langit. Senja kembali berbalik kearahnya. ""Apakah sangat penting ?"" Tanyanya memastikan.


""Iya...jadi buruan mandinya, aneh kamu tahu nggak.... malam malam masih bermain air, apa tidak takut terkena tulang keropos, masih muda tapi punya penyakit encok. Nantinya" Ledeknya memulai nada ketus.


""Sebelum apa ?" Nada Senja merendah, kali ini saja, demi niatnya untuk kesembuhan Amma, ia akan menurut manis di hadapan Langit.


""Sebelum Lo memijit kepala gue, maksud gue, memijat menggunakan shampo alias mengkramas rambut kepala gue yang lagi sakit ini."" Pintanya dengan benar adanya kalau kepalanya lagi minta di manjain.


""Hah ? Gue mengkra---- eum, baiklah !"" Senja sempat bernada tinggi ketus lagi, tapi otaknya kembali menyuruhnya mengalah demi Amma.


Dahi Langit sempat menyerinyit. Tumben manis ! Herannya. Tapi ia tak perduli, yang penting dapat pelayanan salon gratis...tapi enak enggaknya pijatan Senja... entah... Langit akan membuktikannya sebentar lagi.


Senja sudah memulai membasahi tangannya dengan sedikit air sebelum menumpahkan shampoo ke tangan lembutnya.


""Yang enak ya ! kalau nggak enak, gue nggak akan mau ngebantu Lo yang katanya penting itu."" Songong Langit. Senja tak menjawab, memulai tugasnya dengan penuh kesungguhan. Dan itu malah membuat Langit kembali heran akan sikap Senja yang manis tak menjawab ketengilannya.


Mata Langit terpejam menikmati sensasi pijatan di kapala hasil dari Senja. ia tanpa sadar tersenyum manis. Ternyata tidak hanya cantik parasnya saja, tapi pelayanannya pun memuaskan. Pujinya tak sadar dalam hati, sejurus kemudian ia menggeleng menepis pujiannya dan membuka matanya.

__ADS_1


""Ah, sudah lah... pijitan Lo kagak enak !"" Bohongnya langsung bangkit dari Bathtub berniat membersihkan tubuhnya dengan air bersih di bawah Shower.


""Aaarg."" Senja tetiba menjerit dan menutup matanya cepat sebelum melihat tubuh polos orang gila di depannya ini.


""Jangan buka mata, bahaya !"" Goda Langit geli, Senja tidak tahu saja kalau Langit sebenarnya dari tadi memakai celana pendek di bawa bathtub yang penuh dengan busa aromaterapi.


""Aah, Dasar gila !"" Umpat jerit Senja masih memejamkan matanya, seraya merabah rabahkan tangannya ingin pergi dari ruangan yang tiba-tiba tidak ada udara.


Hahahaha, Puas ! gue kerjain. Langit sendiri sudah asyik di bawah percikan air shower, memunggungi Senja yang meraba ingin mencari pintu keluar.


""Hais, mana sih pintunya."" Senja kekeuh tak membuka mata, berniat berjalan ke pintu, Tapi langkah gelapnya menuju kearah Langit yang masih asyik dengan aktifitasnya memunggungi.


bleees...


Braaak...


Tanpa tahu, Senja menginjak lantai licin basah percikan dari air shower, ia terpeleset ke arah punggung Langit yang sedang mandi. Sehingga tubuhnya dan tubuh Langit menempel karena Senja Reflek membuka mata dan reflek pula memeluk Langit dari belakang agar ia tak jatuh ke lantai yang basah.


Jantung mereka kompak jedag jedug dalam posisi intim diamnya masing-masing, Langit berbalik menghadap ke tubuh Senja yang sudah basah juga karena ulah dari shower yang masih mengalir.


Tersadar, Senja gugup di posisi sejengkal jarak dari Langit. sebenarnya Senja ingin kabur karena sangat malu sekarang ini, tapi entah kenapa kakinya malah menghianatinya tak mau bergerak.


""Apa Itik ini sedang merayu sekarang, eum !"" ejek Langit. Senja tersadar seratus persen, ia berbalik melangkah tapi Langit malah menariknya dan menyerang langsung bibirnya dengan kasar dan secara paksa karena Senja sekarang meronta memukuli dada Langit yang begitu kuat memangutnya.


""Mmmph."" Senja terus menerus memukul dada Langit sebisa mungkin, bukan hanya air bibir Langit yang membasahinya melainkan air dari atas membuatnya seakan kehabisan nafas.


"phfuu."" Nafas Langit memburu setelah pangutannya terlepas yang lumayan lama, seakan kehabisan nafas.""Itu hukumannya karena mencoba marayuku."" Hinanya meningkalkan Senja yang terpaku dalam basah kuyupnya.


Tidak Senja, Jaga batasan hatimu... jangan sampai kamu jatuh dalam permainan awal mu, bukan kamu yang harusnya jatuh cinta...tapi dia. Senja dalam diamnya, memegangi dadanya yang terasa aneh, Ada rasa aneh yang timbul di hatinya. Damn... Apa aku ada rasa ke mendung ? Tidak... Tidak... Tidak..Bodoh kau ini.!

__ADS_1


__ADS_2