RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 43


__ADS_3

Mentari semakin dalam untuk melangkah, tatapan lapar dari mata keranjang para pengunjung dan petarung Ostia seakan menelanjanginya. iiiiih...jijik, demi apa ? Mentari sangat mual dan risih lumpeyengan saat bau tembakau, alkohol serta bau keringat seakan menyatuh menyerang pengendusannya.


Bos manjanya lagi apa sih di tempat seperti ini ? pak dosennya salah mengasih info tidak ya ? aduh...rasa rasanya Mentari ingin berbalik arah lagi saat mata demi mata para pria menelitinya dari atas sampai kebawah terus menerus.! aah... tidak, Ia harus masuk lagi untuk melangkah, Jika bosnya kenapa kenapa di dalam bagaimana ? Mentari memutuskan berjalan lebih masuk lagi dan menulikan telinganya mendengar satu demi satu suara yang sudah modus modus menggodanya dengan uang hasil taruhan pada di kibaskan ke hadapan wajah masing-masing....Lo pada pikir Mentari mata duitan apa ? Mentari bukan mata duitan tapi mata polos lempeng, itu duit Lo mau Lo makan dan sobek pun Mentari tak mungkin akan melirik.


Ahai...ini dia, Mata elang Langit sudah melihat sosok Mentari yang celingukan di samping ring, waktunya melancarkan peredaran emosi, kita lihat berhasil kah dirinya ? Liciknya yang masih tergelepar di atas ring.


""Sagara !"" Langit sengaja bertoa memanggil nama Biru yang aslinya Biru pun masih ada di hadapannya siap siap turun dari arena petarung bebas. Mentari Mendengar nama bosnya di panggil seketika memfokuskan matanya melihat kedalam area ring.


Biru mendelik malas. ""Apa ?"" ketusnya.


Langit terkekeh dengan decihan mengeluarkan ludahnya yang sudah bercampur aduk dengan darah segar, terluka. ""Selamat ya bro, Lo sudah menang ? Gue akan menepati kesepakatan pertarungan ini, Pialanya yakni Mentari adalah milik Lo, tapi jika piala kemenangan Lo sudah tidak terpakai atau Lo sudah bosan memakainya, Gue siap menikmati piala bekas Lo itu."" Langit semakin meninggi kan suaranya agar Mentari Mendengar setiap penuturan tak manusiawi itu.


Mentari terasa sedang di cambuk hatinya, Mendengar penuturan Langit. Tanpa sadar air matanya menetes, hati dan mata sangatlah reflek berekspresi untuk menggambarkan keadaan tubuh. Hatinya sakit dan hancur, matanya yang berbicara dengan keadaan luka dalam hatinya. Dirinya Piala ? Jika bosen maka dirinya akan digilir ke orang atau ke pemilik barunya, apakah duo orang dewasa di atas ring itu menganggapnya barang yang jika sudah bosen maka siap siap saja dirinya untuk di buang seperti sampah. tega sekali mereka, mentang mentang ia orang miskin, maka dengan senang hati mereka mencapnya adalah piala bergilir.


Mentari masih terpaku di tempat, ia ingin tahu si pemenang akan mengeluarkan penuturan apa untuk menjawab si petanya. Masih berharap jika Bos-nya adalah orang baik.


""Hahaha, Lo harus berdoa di setiap pertengahan malam agar gue bosan, itu pun jika gue bosan, kalau gue masih betah maka Lo harus menunggu sampai tua. tapi tenang saja, kalau rasanya sudah hambar maka gue akan kasih ke Lo, Berdoa oke!"" Malas Biru menjawab asal asalan, dadanya yang sakit terkena pukulan seakan membuatnya seperti orang bodoh tak ber filter dalam berucap.

__ADS_1


"Gotcha Lo, Biru.." Batin Langit tersenyum devil, rencananya berhasil, penuturannya sangat pas menembak dua mangsa. Langit memiringkan wajahnya melihat ekspresi Mentari, ia melihat gadis manis itu sedang menyeka air matanya. ia kalah, dan Biru pun harus kalah.


Mentari bertambah sesak, bos yang di pujanya ternyata bukanlah orang baik yang selama ini ia nilainya, Tidak ada yang tulus tanpa embel-embel di kota keras metropolitan ini. Mulai dari sekarang ia harus menjauh dari mantan Bosnya itu sebelum terlambat. itu lebih baik untuk dirinya di kota besar ini, tidak ada yang tulus.... tidak ada yang tulus... tidak ada yang tulus menerima orang miskin di antara orang tajir seperti mereka, Mentari menanamkan kata kata itu dalam otak polos dan hati yang tadinya sudah menerima Biru sebagai orang spesial di hatinya, tapi belum juga tercipta dalam hubungan hangat seketika rasa itu sudah hancur berkeping keping.


""Mbak, Nyari siapa ? apa anda nyasar, ini bukan tempat berakting untuk menangis, tapi tempat ini adalah kandang singa, mbak pulang saja ya mumpung masih utuh.!"" Satria yang melihat Mentari menjadi mata incaran si onta nyasar petarung dari timur merasa kasian dan memaksa Mentari pergi yang tadinya Gadis itu terpaku merasakan kecewa berat kepada Biru.


""Iya, mas ! aku nyasar, permisi.!"" pamit Mentari ingin beranjak pergi Namun tangannya di cekal oleh seseorang, dan orang itu adalah Si Onta petarung bebas dari negeri Onta.


""Aah..Lepas. !"" hentak Mentari di tangan orang itu. namun tenaganya tidak bisa melawan, Si Onta timur malah semakin menatapnya dengan tatapan lapar akan kemanisan wajah wanita di depannya itu.


""Bung, jangan ya ! gadis ini katanya nyasar, jangan di apa apakan.!"" Satria berupa membantu sebisanya, tapi Si Onta tak menggubris perkataannya. Hem...berdoa saja mbak, agar masih utuh keluar dari sini. batinnya.


Biru yang mendengar suara gadis yang tidak asing seketika menoleh ke luar ring. Shit.. Umpatnya, Si Onta minta di remukin tuh tangan. Kenapa Mentari berada di kandang singa kelaparan sih ? Bodoh.. Umpatnya. Biru secepat kilat turun dari ring.


""Sialan, lepasin tangan kotor Lo di kulit gadis milik gue.!"" Biru menendang kejantanan si Onta kampret itu, dan berhasil membuat si Onta tergelepar sekali tendangan telak dari Biru. Mampus tuh...si pabrik pembuat anak menjadi loyo kesakitan.


Satria seketika mengerti jika gadis manis di hadapannya yang sedang menangis ini adalah piala antara pertarungan Biru dan Langit. Satria melihat api kemarahan di mata Biru tertuju ke Onta yang sedang kesakitan memegang jeniornya yang tersembunyi di balik celana.

__ADS_1


"" Mati Lo, Anjrit. beraninya tangan ini memegang milik seorang Sagara.""Murka Biru yang sudah siap ingin melenyapkan nyawa si Onta.


Mentari berteriak takut, para penonton Ostia mengelilingi pertunjukan menegangkan itu. Satria yang tidak mau melihat temannya berakhir di penjara seketika menahan Biru dengan mendorong kuat tubuh Biru yang sedang mencekik leher si Onta. Si Langit di atas ring menikmati pertunjukan film secara langsung dengan senyum menang menghiasi bibirnya.


""Sudah bro, ingat hukum yang berlaku, bisa di tuntut Lo oleh raja Onta timur kalau Lo sampai membunuh WNA pendatang ini."" Ucap Satria sebisa mungkin menghalang tubuh Biru yang masih seperti ingin membunuh Si Onta.


""Lo kan sudah menang nih melawan Langit ! Lebih baik Lo bawah pulang piala Lo dari pada tatapan nakal makin banyak menyerbunya."" Imbuh Satria agar Biru berhenti dari niat ekstrimnya. Namun kata katanya semakin membuat Mentari kecewa.


Mentari kembali tertampar mendengar dirinya di anggap piala dari mulut orang yang tak berfilter, ia menerobos bundaran orang penonton yang berbadan bebal semua. Lari dari jangkauan Biru saat ini adalah pilihan terbaik.


""Bodoh, kampret Lo, Sat !"" Biru merutuki Satria atas mulut lemes itu, ia belum menyadari jika perkataannya pun sudah di dengar oleh Mentari sedari tadi.


""Mentari.!"" Kejar Biru berharap Mentari masih bisa di jangkau. Ia berharap kalau Mentari tidak tersinggung oleh kata kata dari Satria, pintanya tak sadar.


Langit di atas ring semakin menikmati pemandangan ketegangan di hadapannya. Berhasil.... Gumamnya tersenyum licik untuk yang kesekian kalinya.


Vote dan bunga bunga...ah😁🌹😘

__ADS_1


__ADS_2