RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 143


__ADS_3

Hitachi Siaside ...


Menara Eiffel...


Hitachi... No lain lain.


Eiffel...


Pertengkaran Bidikan tempat untuk Hon Hon terdengar sengit semalam ... Mentari ingin melihat suasana romantis menara Eiffel di malam hari... Sementara Senja kekeuh ingin pergi ke Hitachi Tokyo Jepang yang sangat terkenal akan keindahan taman bunga bunga yang bermacam macam jenis yang sengaja di tanam di tanah yang memiliki kurang lebih lahan 200 hektar luasnya.


Dan di sinilah mereka, di atas pesawat terbang yang bertujuan ke Jepang Tokyo setelah perdebatan Senja lah yang menang.


Senja tidak lah berharap akan bisa hon hon bersama Langit, Tapi perjalanan ini membuatnya bersemangat karena akan pergi ke tempat yang akan memperdalam ilmu penelitian parfumnya terhadap jenis bunga bunga yang tidak pernah di sentuh atau pun di lihat secara langsung olehnya.... Selain penasaran akan keindahan Sakura yang bermekaran hanya di waktu tertentu, Senja pun ingin melihat langsung keindahan Lavender khusus, Tiger Lily, Tulip world, Bakung, Nemophilia dan buaaanyak jenis lain hanya tumbuh di sana dengan luas bukan kaleng kaleng dalam satu jenis bunga.


""Aduh...Mendung, Tolongin gue dong !"" Senja mulai berkeringat dingin, Wong deso naik pesawat berujung mabok perjalanan.


Langit menoleh yang duduk di sebelahnya. Kabin yang ada di sebelah mereka adalah kabin yang di duduki Mentari dan Biru, jadi pergerakan Langit dan Senja dalam keketusan tidak bisa berlangsung karena adanya pasangan itu.


""Eum, ada apa ?"" Rasa rasanya Langit ada kecurigaan yang berujung menggoda pernapasan jijiknya...


Hoek.


Nah kan, mulai...si itik ini main buang kotoran di depan hidungnya. Senja munta munta !


""Aduh itik ke toilet dong !"" Protes Langit mengeluh, Untung si itik membawa kresek hitam untuk memadai isi perutnya. ini yang kedua kalinya terulang saat dulu naik pesawat dari kampung itik menuju kota, kala itu.

__ADS_1


""Nggak ku---Hoek !"" Senja kembali munta. dan si Mendung mengambil jarak dari Senja.


Mentari menoleh dari kabinnya, Cuma ia tidak bisa beranjak karena ada bayi besarnya yang rebahan terpejam di bahunya dengan tangan kekar Biru memeluk perutnya layaknya di bikin guling oleh si Sagara ini.


""Hus, Kaka ipar..! Daeng ku kenapa ?"" Tanya Mentari dari duduknya.


Langit yang mendengar suara Mentari menoleh yang tadinya membuang matanya ke jendela.


""Mabuk perjalanan !"" Sahut Langit mulai berakting prihatin, dengan cara memijat tengkuk Senja yang masih setia menunduk di hadapan kresek hitam.


""Owh, kasihan...Suruh tidur dan beri minyak angin di area perut, pernapasan dan juga tengkuk nya, Ni... tangkap !"" Mentari melempar minyak angin berbotol kecil ke Langit. pria itu sigap menangkap tepat sasaran yang hampir mengenai kepala Senja.


""Hu, Sangat tidak nyaman !"" Senja terduduk lemas dengan mata terpejam sadar seraya kepala di senderkan ke badan kursi yang di dudukinya.


Langit mengatur menurunkan kursi milik Senja agar si itik ini nyaman dalam rebahan, Senja tak protes dalam terkulainya.


"Tari, Tolongin Daeng... Tolong pijat pelipis ku, rasanya sangat pusing."" Ringis Senja meminta tolong ke orang yang sekarang terpejam menikmati perjalanan dengan posisi mesra bersama suami tercintanya.


Langit reflek membantu Senja yang masih terpejam lemas, Ia memijit pelipis itu dengan rasa pelan agar tidak terlalu menyakiti kulit lembut Senja.


Di perhatikan wajah itu dalam dalam dengan hati berbeda...bukan hati batu yang biasanya ia pancarkan, tapi pandangan kelembutan....sisi lembut yang hanya secuil di dalam sana. entah kenapa tiba-tiba keluar dari dirinya....Sisi lembut ini biasanya terpancar ke orang tersayangnya saja. Apakah Langit sekarang sudah luluh ? atau hanya berkedok ? Hanya Langit yang tahu.


"" Aku benci sikap terselubung mu, Senja. Aku benci kepura puraan mu yang katanya kamu mencintai ku, Aku benci sisi licikmu yang ingin menang dengan cara ingin mematahkan hati ku dengan cara rendah mu. Apakah ini karma ku yang dulu sering memainkan hati seorang perempuan...Haha...Lucu, hati ku takluk ke wanita licik seperti mu. Wanita yang tidak tulus... wanita yang rela melakukan apapun demi kemenangan. sebisa mungkin, aku nggak bakalan jatuh ke perangkap kelicikan mu, walaupun seribu kata pengakuan cinta pun yang kamu lontarkan untuk mematahkan benteng pertahanan ku yang sebenarnya aku pun menyadari jikalau hati ini tertarik ke kamu itik. aku tidak akan percaya... tidak akan jatuh ke lubang kelicikan mu.""


Ya.... Langit menyadari rasanya ke Senja... Tapi...di sisi itu, ia membentengi hatinya dengan batu tinggi kokoh yang bertumpuk setinggi tingginya agar kelicikan Senja dalam berakting mencintainya tidak bisa di rubuhkan oleh itik semampai ini. Secara tidak di ketahui Langit bodoh ini pun...Bodoh karena tidak bisa melihat mata kejujuran Senja dan mana yang namanya mata Kaleng Kong Guan berisikan kerupuk bin kibul. Tapi....Bukan salah Langit pula seutuhnya, Karena Si itik ini memang tidak bisa kebaca oleh siapapun.... Lihat saja wajahnya...wajah naif lugu tapi beeeeh, cerdik kelicikannya sangat ulung, Tidak cocok dengan perangai cantik itu, harusnya Senja itu mempunyai wajah sangar seram seperti Mak lampir baru memandai sifat cerdik kelicikannya.

__ADS_1


""Uh..!"" Senja melenguh, Membuka mata sayunya. Ia menangkap samar Langit sedang menatapnya dengan tatapan prihatin manis. ""Ya ampun, kok gue ngigo ya ? manis sekali !"" cengir Senja begitu manis.


Langit tersadar, mensentil kening Senja sedikit keras.


""Aih, awan mimpi gue meletus."" Konyol Senja menggoda.


Kesempatan kedua untuk Langit....Senja berniat akan melebur kan hati batu itu dengan perasaan cintanya....Senja berharap ia bisa meyakinkan Langit di dalam perjalanan ini jikalau ia bersungguh sungguh akan perasaan cintanya ke mendung ini....Senja akan merendah hati kali ini saja, ia akan bersikap manis untuk memanfaatkan waktu hon hon... apalah itu, siapa tahu aja.... Langit ini jatuh pula di hatinya...Tapi waktu ini saja, Senja mencobanya lagi....Tapi kalau Langit masih merendahkannya dengan sangat hina...maaf maaf saja....Senja akan mundur Alon Alon...Senja bukanlah wanita bodoh yang mau terus menerus mengemis cinta, sudah mengemis di hina ke titik rendah pun.... rasanya akan perih tak berluka, amit amit telor kodok, Sorry good bye sampai kapanpun, sampai nangis darah pun, Senja tidak akan mau mengenal orang seperti itu lagi. itulah Senja.... Egonya sangaaaaat tinggi keturunan telak dari BATARA yang mempunyai ego tinggi layaknya Dewa yang akan kuat pendiriannya sampai mati pun, Amang-nya itu kekeuh akan pendiriannya yang selalu memihak bin memilih Rose dari pada kembali ke Keluarganya semasa akhir hidupnya. dan di sini....sifat aslinya sebelas dua belas oleh Dewa.


""Mendung !"" Senja duduk bersila di kursi bisnis pesawat yang lumayan nyaman. menghadap lurus lurus ke Langit. Langit menoleh dengan satu alis terangkat. "" Setalah hon hon, Rencana punya anak berapa ?"" Goda Senja tersenyum lebar.


""Hah ?"" Langit mengucek ucek daun telinganya, Siapa tahu di sana ada kotoran yang banyak sehingga salah dengar.


""Mau punya anak berapa ?"" ulang Senja kembali tersenyum, tapi kali ini menertawakan mimik Langit yang bodoh konyol.


""Segini nih...Lima !"" Langit mengudara kan ke-lima jarinya di hadapan wajah Senja. Sejurus ia menoyor wajah Senja selebar telepaknya.


"""Hahaha, Lucu !"" Senja bukanya marah, malah tergelak geli membuat Langit heran akan sikap humor Senja yang tetiba..."" Benar susah di tebak...itik kau sangat ulung, Gue kualahan."" Lanjutnya membatin.


Senja masih tergelak kecil seraya beranjak ke toilet untuk menyegarkan wajahhya, namun setelah jauh, Senja malah berbelok ke sisi Mentari, dengan jahil...Memencet hidung adiknya yang terpulas mesra bersama Biru, Setelahnya....dengan cepat berlari kecil ke arah toilet.


Mentari terperanjat sadar, Linglung..."" Hulk, kamu jahat sekali.!"" Tuduhnya ke Biru dan langsung menarik bahunya yang di tenggeri Biru dalam peraduan pejamnya. membuat kepala Biru terjatuh ke kursi.


""Apanya ?"" Heran Biru dengan wajah bantalnya yang tak tahu apa-apa. Mentari diam, memunggungi Biru, seketika matanya melirik ke kabin Senja yang kosong.


Eum, pasti si Daeng...awas saja kau... Ia pun melihat Langit yang tersenyum geli akan kelakuan Senja ke Mentari.

__ADS_1


""Tidak, Tadi hanya mimpi setengah buruk...ayo kita tidur lagi."" Manja Mentari yang langsung merebahkan kepalanya ke dada Biru yang masih LingLung bermimik bodoh tanpa sadar. dan itu pun membuat Langit semakin geli melihat wajah Biru yang tak biasanya.


__ADS_2