RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 174


__ADS_3

Rumah Batara kembali sepi, penghuninya sudah sibuk kembali dalam wara wirinya bekerja. Risma dan Bima pun tidak ada, Hanya Rose dan ART yang berada di rumah.


""Ini yang aku tidak sukai, Selalu berujung sendirian di rumah ! Harusnya si dou mblendung tidak bekerja lagi, Tapi ish, mereka malah bertambah giat bekerja dalam keadaan hamil p...Aaahrg"" Gerutu Rose seraya berjalan di lantai licin membuatnya terpeleset, jeritannya mengundang telinga Radja yang hampir membuka handle pintu mobil siap untuk berangkat ke kampus menduduki sebagai pak Rektor Killer. ART pun menghampiri Rose tergesa-gesa yang masih terduduk di lantai meringis kesakitan di bagian bokon*nya yang jatuh terduduk.


""Aduuuh !"" Keluh Rose meringis ingin bangun tapi tidak kuat, Sampai si ART yang sudah tua pun hampir terjatuh karena tarikannya.


""Apa yang terjadi ?!"" Radja terkejut dengan pemandangan di depannya, Menjatuhkan tas kerjanya asal asalan dan meraup tubuh Rose begitu entengnya tanpa beban.


""Argh, Radja ! Apa yang kamu lakukan.. turunkan aku ! ish.. malu tahu, aku bisa jalan sendiri, ini hanya jatuh biasa !"" Cerewet Rose minta di turunkan. Radja hanya mendelik malas. Bisa berjalan ? bangun saja susah !


""Diamlah atau ku telpon kedua anak mu untuk memarahimu..apa kamu mau membuat Mentari dan Senja panik dalam kehamilannya.""


Rose menggeleng cepat, menutup rapat rapat bibirnya di dalam gendongan Radja dengan langkah satu persatu menaiki tangga, Mungkin Ciplakan Dewa ini akan menaruhnya di kamar. Pikirnya. Tapi tunggu.... Tunggu dulu ! Ini suara Jedag jedug suara apa ? Jantung Radja terdengar bergerumuh di telinga Rose dalam posisi tanpa jarak begitu.


""Dja, Kamu dengar tidak ? Suara aneh dari jantung mu, apa kamu punya penyakit jantung seperti Papa mu ?!""


Yaelaah, kagak ngerti ni si mak mak atuh.


""Jantung ku memang bermasalah. Dalam waktu tertentu saat seperti ini "" Sahut Radja penuh maksud.


Rose hanya mengangguk kecil, Tidak mau bertanya lagi...Bukan urusannya, Pikirnya. Tapi.... Saat seperti ini ? Bola mata itupun memandang Radja yang terus berjalan ke arah kamar. Tapi ini kenapa jalannya lemot amat sih ? apa maksudnya si manusia sumatera atu ini ? Aneh pakai banget... !!! Rose hanya bergulat dalam otak kecilnya yang kurang Kepekaan rasa layaknya si lempeng Mentari. Rose itu tidak bisa berteka teki lho...tahu sendiri otaknya bodoh. untung anaknya kagak ada yang niru otak bodohnya. Hanya saja ya itu... Kurang Kepekaannya turun ke Mentari.


""Jalan raya berlika liku ya dja ! Atau lagi macet ? ini kok kagak sampai sampai kamar ya ?"" Sindir Rose ketus.

__ADS_1


""Hah ? Oh... maksudnya..kita belum sampai kamar ? begitu eum? Lagian tubuh kecil begini tapi rasanya satu kintal, Pinggang ku rasanya encok."" Kelit Radja tersenyum tipis. Sejurus ia pun membuka pintu kamar Rose tanpa menurunkan tubuh Mak dua anak itu.


""Yaaaak, Sini kuping mu, Aku jewer.... Nyebelin amat sih ! Dasar....Bilang saja kamu tuh sudah tua, sudah tidak kuat mengangkat beban."" Sembur Rose menarik Telinga Radja kuat.


Reflek Radja menaruh tubuh Rose di kasur dengan kasar karena ulah Rose yang tak terbaca. Namun kereflekan itu membuat Radja tertarik menindihi tubuh Rose tanpa jarak berlangsung beberapa menit. Lagi lagi jantung Radja kembali bergerumuh hebat. Mata tajamnya terhipnotis dengan wajah Rose yang masih terlihat segar dalam usianya.


""Dja, singkirkan tubuh raksasa mu, Adeeeeh....Berat ini ! Dan kalau ada yang melihat bisa salah paham, nanti !"" Rose menoyor jidat Radja kuat sekedar mengingatkan kalau tubuhnya bukanlah kasur.


""Ah..Ma...Maaf ! aku pamit kerja !" Radja tersadar gelagapan... Bangun cepat dari tindihannya. Mungkin ini yang namanya sindrom puber kedua. Tapi kenapa harus kepada jandanya Dewa sih ? Akkkhhh...Mana tuh janda masih cinta pakai banget ke almarhum kembaran gue lagi. Naseeeeb.. Naseeeeb...Macam mana pula kau ini, Dja Dja... bodoh kok di pelihara !!!


...****...


Pertemuan penting sebagai petinggi saham di adakan kembali, tapi sekarang jatuh di kantor pusat milik Sunjaya Group.


Sembilan kepala perusahaan penting hadir mempersentasekan pendapatnya masing-masing. Kemal pun ada di antara mereka. Dan sebagai pemimpin RD, Mentari pun hadir melihat kemajuan sahamnya yang tertanam di dalam perusahaan suaminya yang di komisaris-in mertuanya sendiri.


""Pak Titan "" Mentari mengudarakan tangannya sopan, guna minta perhatian dari mertuanya yang jika di dalam lingkup perusahaan, bukan lagi menjadi mertua tapi kolega bisnis.


""Iya ! ada kendala Nona Batara ?""


Mentari pun mengajukan sedikit idenya dengan singkat dan jelas juga mudah di tangkap oleh para otak otak sukses di ruangan tersebut.


Pendapat demi pendapat saling terlempar satu sama lain dalam waktu tiga jam lamanya, membuat Mentari sedikit tidak enak bergetar dalam duduknya plus cabang si kembar di perutnya meminta nutrisi. Ia memijit pelipisnya sedikit pening menahan lapar. Bibir itu pun terlihat pucat dalam lapis lipstik pink nudenya.

__ADS_1


Biru dan Bara menangkap gerak gerik aneh di wajah Mentari. Mata Biru pun memberi kode ke Titan untuk menyudahi rapat itu. Seakan akan berkata Istriku dalam keadaan tidak baik baik saja.


Setelah menyudahi rapat yang sebenarnya masih sangat panjang, Titan dan Bara masih di tempat di antara Mentari dan Biru.


""Kamu kenapa Petite ?"" Biru mengusap peluh dingin di pelipis Mentari. Titan memberikan air mineral baru untuk menantunya.


""Entahlah, perut ku rasanya keram tetiba, Mungkin karena kelamaan duduk di tambah perih terasa.!"" Keluh Mentari, mengutarakan.


""Bawa kerumah sakit Bi, Aku tidak mau cucu cucu ku dan mantu Papa kenapa-kenapa ! Dan Kamu Mentari, seharusnya Gema saja yang hadir di sini, Ingat sayang...Di perut mu ada kehidupan yang harus di jagah, jangan sampai dari salah satu kalian kenapa kenapa."" Jelas Titan lembut memberi pengertian. ""Kalau mama mu tahu, papa dan suamimu pun kena imbasnya, apalagi kejadian ini terjadi di kantor Papa."" Sambungnya masih dengan nada pengertian lembut.


Bara mencerna setiap penuturan tiga kepala di hadapannya, Shi* !!! Ia menyukai Istri orang yang berbadan dua. Umpatnya dalam hati. Dan dauble shi*, Mertuanya bin Tuan Titan sangat memperlakukan Mentari lembut bukan sekedar Mantu tapi sudah seperti anak sendiri, Beruntung sekali kehidupan orang orang yang ada di hadapannya ini. Mana ada celah untuknya merebut Mentari dari mereka. Tidak ada CELAH !!!


Mentari tersenyum hangat, guna memberi tanda ke dua pria istimewa di hadapannya kalau dirinya dan calon bayinya baik baik saja.


""Gema dan Jum ada urusan di luar kota Pa ! Pikir Tari, dari pada Tari yang menghadiri pertemuan penting di luar kota yang butuh perjalanan berjam jam, lebih baik Tari menghadiri rapat di antara kalian yang jelas jelas aman. Tari tak apa kok, ya cuman itu...Lapar. Karena Lapar si cabang protes di dalam, dan Karena lapar pun aku berkeringat dingin plus pening !""


Penjelasan pungkas Mentari membuat Titan dan Biru menggeleng geli... Hadeeeeh, Bumil satu ini tak bisa jauh jauh dari makanan barang tiga jam pun. geli mereka. Namun terdengar kompak nafas legah berirama dari Titan dan Biru.


""Harusnya Papa menyuguhkan makanan banyak dong di atas meja Meeting agar Istriku dan cucu Papa tidak kelaparan. ini malah cuma di suguhi air mineral doang... pelit amat sih ini perusahaan. aneh !!!"" Ledek Biru seraya mengoperasikan benda pipihnya untuk menyuruh Dito segera membelikan makanan.


"Yaak, Papa yang salah, Puas !"" Malas Titan. ""Nanti rapat selanjutnya akan papa undang chef untuk menjamu kalian, Jadi kesannya tidak ada rapat serius melainkan makan makan bersama."" Imbuhnya agar si anak tengilnya tidak banyak bicara lagi.


""Ide bagus itu !"" Enteng Biru menyahut membuat Titan memutar matanya malas. Mentari sudah terseyum geli dengan tingkah laku anak bapak di depannya.

__ADS_1


Sampai makanan pun datang, Biru langsung menyuapi istrinya penuh sayang di hadapan mata Bara yang sengaja mungkin tidak mau pergi dari ruangan tersebut.


Tidak ada harapan untuk mu Bara... Menyukai istri orang bukan lah tingkah laku yang benar. Aku akan mundur mencari wanita lain. Batinnya sadar, Betapa harmonisnya keluarga kecil di hadapannya.


__ADS_2