
Duagh...
Kaki dan mata berair Mentari tidak fokus dalam berlari sehingga tidak sengaja menubruk orang di parkiran rumah sakit.
Mentari terjatuh dengan lutut tercium oleh aspal sehingga membuatnya terluka di inci kulitnya.
""Aww, bisa tidak ha--- Sella ?""
Saat Mentari mendongak melihat ke orang yang di tabraknya, Mentari Terkejut....ada sekretarisnya di area rumah sakit di tengah malam begini dengan penampilan berbeda. Serba hitam.
""Ah, Ibu Mentari..Ma---!""
""Petite.""
Biru pun datang dan langsung berjongkok di tempat jatuhnya Mentari. Seketika sang sekretaris menjadi gugup dan membuang mukanya agar tidak bersibobrok dengan Biru.
""Maaf...Saya permisi bu, sedang buru buru !""
Suara itu....? Biru Terkejut, mendongak ke orang yang sudah membalikkan badannya terburu buru.
""Sena ?"" Ujarnya memastikan. Suara itu mirip Sena, persis sekali...postur tubuh itu pun akan sama dengan Sena di mata Biru walaupun terlihat dari belakang. penampilannya berubah yang dari seksi menjadi serba tertutup rapat dengan pakaian serba hitam. Aneh di mata jeli Biru.
Wanita yang di panggil oleh Biru seketika mematung di tempat sejenak dengan seringai tipisnya, berbalik dengan sedikit rasa cemas. Cemas... Jangan Sampai ia di kenali oleh Biru dalam waktu secepat ini.
Ya.....Biru memang tidak salah, Suara dan postur tubuh itu memang Sena...tapi di lihat dari wajahnya....Bukan Sena melainkan wajah orang lain.
Salam rindu Biru sayang....ya, gue memang Sena ! Mantan sekretaris Lo, mantan penghuni rumah sakit jiwa karena ulah Lo, ulah suruhan Lo dan itu demi Mentari...Gue datang untuk membuat kekacauan di hidup kalian terutama Lo, Mentari ! dan ini belum seberapa, lihat saja pembalasan gue Nanti, bermain dalam situasi kucing kucingan ini, menyenangkan....hahaha.
""Itu bukan Sena tapi Sella, sekretaris baru di kantor ku.!"" Ketus Mentari menipis tangan Biru yang akan membantunya berdiri. Perasaan sedang kacau malah si Sagara ini menyebut nama orang yang Mentari tidak suka akan nama orang itu. ""Awas ! tinggalkan saya sendiri !" Dingin Mentari menepis tangan Biru yang ada di kulit bahunya, sedikit cemburu... Kenapa Suaminya ini tetiba mengingat nama wanita itu di waktu mood-nya lagi sedih.
""Tap---!""
__ADS_1
""Taksi !""
Mentari memotong ucapan Biru dengan memanggil taksi yang sedang lewat dari arah lobby utama rumah sakit.
""Petite... Petite, mau kemana ? hey... jangan pergi ! Kalau kamu mau pergi biarkan saya mendampingi mu, Buka pintu, Petite."
Biru mencegah tangan Mentari sedikit kuat, agar istrinya tidak pergi dengan hati kalut juga kacau. ia ingin naik ke kabin taksi tapi dengan kasar Mentari mendorongnya dan langsung mengunci pintu taksi.
Maaf kan saya, Hulk ! Saya ingin sendiri dulu, tamparan Daeng tidak lah seberapa sakit, tapi... Hatiku lah yang sakit....ini semua salahku, salahku yang tidak bertindak cepat datang untuk menyelamatkan Amma...Ini salah ku...anak tidak berguna, hiks.hiks..saya tidak becus dan tidak berguna menjadi seorang anak.
Mentari kembali menangis di dalam kabin taksi, Ia menyalahkan dirinya sendiri atas musibah yang menimpa Rose.
Biru membiarkan Mentari pergi saat ini, palingan juga balik ke apartemen, pikirnya yakin. Saat mata dan tubuhnya berbalik, mencari orang yang di curigai sebagai Sena, sudah tidak ada di tempat.
""Saya yakin, itu pasti Sena !"" lirihnya curiga. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan mendail nomer Dito.
""Halo Dit, Kerahkan anak buah kita untuk segera mengecek kondisi Sena di RSJ, Dan cari juga orang yang bermain main dengan nyawa mertua saya, sekarang juga...dan segera kabarin saya kalau hasilnya sudah ada, Mengerti ?""
"" Siap laksanakan Bos ! Saya akan memberikan kabar secepatnya.""
...*****...
Di lorong rumah sakit...
""Om Radja, pulang lah pada istrihat... bawah mereka semua terutama kakek dan nenek. biarkan saya sendiri di sini menjaga Amma."" Usir Senja ke semuanya. Saat ini, ia tidak bisa mempercayai satu orang pun di antara mereka. ia yakini salah satu dari Batara ada yang tidak suka kehadiran Amma-nya di sana.
Radja dan lainnya saling pandang, Bima mengangguk... menyetujui Ucapan Senja.
""Baiklah, Om akan pulang...beri kabar apapun itu jika kamu membutuhkan sesuatu."" Usap Radja di rambut ponakannya. setelahnya, ia pun menggiring semua keluarganya untuk mengikuti langkahnya.
""Pergilah !""
__ADS_1
Sekarang suara tegas dingin itu mengusir Langit juga Satria yang masih setia berdiri di tempat. Senja beranjak menjauh dari dua pria tersebut, duduk di pojok lorong dengan posisi memeluk kedua lututnya. Tidak ada air mata yang keluar, ia mencoba kuat.... padahal di dalam hatinya, ia begitu hancur, sangat lah hancur.
Amma, ku mohon... cepat lah sembuh, Amma harus sembuh demi anak anak mu, dan Mentari, maafkan daeng, tangan ini sudah memukul mu. Senja kembali membentur kan tangannya ke lantai di sisi duduknya dengan kuat. Bayangan saat menampar pipi imut itu seakan menari di otaknya.
""Bodoh !"" Langit geram sendiri melihat sok kuat Senja, Apalagi melihat tangan lembut itu kembali di lukainya sendiri.
Langit mencekal kedua tangan Senja setelah duduk di sebelah itik ini.
""Lepas Langit, dan pergi lah."" Malas Senja untuk beragumen alot saat ini bersama Langit.
Langit tak bergeming, ia kasihan melihat itik ini dalam kesendiriannya.
""Menangis lah !"" Suruh Langit lembut. ""Menangis kadang kala membuat kita terasa legah, menangis bukan berarti cengeng melainkan sampah hati yang harus di buang agar tidak menggunung di hati.""
Entah kenapa, di hati Langit ada rasa sakit tersendiri melihat itik hancur dalam diamnya. Bukan kah ia harusnya senang ? melihat Senja menderita ? Tidak.... Langit tidak senang akan hal ini, Luka Senja ini sangat lah di pahami hatinya, ia pernah di posisi ini.... Terancam akan kehilangan mama adalah penderitaan mendalam bagi Langit. Ia masih beruntung akan adanya Chris-papanya. Tapi Senja....? Hanya Rose yang ia miliki tidak ada lagi orang tua lainnya.
Senja sadar, sudah menyenderkan kepalanya di bahu Langit, ia mulai meneteskan air matanya tanpa suara isak sedikit pun, hanya tetesan yang berbicara lama di raut wajah Senja sekarang ini. Benar kata Langit, menangis saat ini adalah hal tepat untuk mencoba membuang sesak di dada walaupun ia yakin kalau menangis tidak merubah segalanya. tidak membuat Ammanya seketika sembuh, tapi setidak-tidaknya ada kelegahan walaupun hanya secuil.
""Seharusnya kamu tidak menampar Mentari !"" Tiba tiba Langit mengeluarkan suaranya. membuat Senja terpukul dalam diamnya. "" Tidak ada anak yang tega meracuni orang tuanya sendiri !"" Sindirnya akan kebodohan Senja yang melukai Mentari dengan tuduhannya.
Senja menarik kepalanya dari senderan bahu Langit. Ia menatap dingin wajah tampan si mendung ini.
""Benar, saya memang bodoh dan pergi lah kalau hanya ingin mengejek."" Usirnya dengan mata memerah berkaca kaca. ""Saya memang menyesal sudah memukul adik saya sendiri untuk pertama kalinya dengan rasa emosi. Saya biasanya hanya memukul dia dalam godaan saja, tapi kali ini....Hiks...Sa-Saya... !"" Senja lagi lagi reflek menghantam kan tangan halusnya ke tembok sampai memar memerah.
""Senja !"" Bentak Langit dengan reflek memeluk tubuh sedih itu.
Senja memukul mukul dada Langit dengan sangat kuat, ia butuh melampiaskan kekesalannya, Langit sendiri pasrah dengan pukulan Senja...dari pada tangan lembut itu terhantam ke tembok keras mendingan dadanya saja yang menjadi Samsaknya Senja. pikirnya rela.
Tante Raisa....Bidikan yang Tante sarankan sangat mengena.... Sekarang satu tepukan...Tiga lalat terkena langsung. Maaf Tante Rose, kita memang tidak punya masalah, tapi ini...demi kerja sama ku dengan Tante Raisa yang tidak bisa bertindak karena masih di dalam penjara...saya di sini di untungkan untuk menghancurkan anakmu, Mentari dan juga menantu mu, Biru.
""Siapa di sana ?""
__ADS_1
Satria yang duduk di kursi tunggu depan pintu ruangan Rose tidak sengaja melihat bayangan di belokan koridor, ia menyadari... bayangan itu tidak pergi atau berpindah dari tempatnya. Satria berlari kebelokan lorong, tapi tidak menemukan satu orang pun di situasi tengah malam begini.
aih, Salah lihatlah kah diriku ? Efek ngantuk kali ya ? gumamnya seraya memijit pangkal hidungnya.