
Ting ting Ting
Hening..... Suasana sarapan di pagi hari Biru dan Mentari hanya ada suara dentingan sendok dan piring yang sesekali beradu menemani, tidak ada canda atau pun kemesraan seperti biasanya.
Biru meneliti wajah istrinya yang hanya diam murung, bahkan nasi goreng buatan dirinya hanya di aduk sesekali.
Uhuk uhuk uhuk
Biru sengaja berpura pura tersedak agar mendapat perhatian Mentari yang sedang melamun.
""Ini, minumlah...dan hati hati setiap menelan makanan.""
Mentari memang bersuara tapi suara itu terlalu datar, membuat Biru bernafas gusar.
""Mentari, Saya akan menemukan orang itu, saya berjanji.""
""Buktikan lah, saya ingin melihat bagaimana rupa orang itu yang berani bermain main dengan nyawa Amma ku, Beri orang itu hukuman baik itu Batara sekali pun.""
Biru Speechless , Mentari yang pemaaf dan baik hati sekarang terlihat berubah dingin dan penuh kemarahan tersirat di mata sedih itu, biasanya istrinya ini tidak tega mendengar orang akan di hukum walaupun salah, apalagi dia juga menyebut nama Batara yang biasanya di lindungi walaupun sudah menindas. Tapi wajar saja pikirnya, orang itu sudah menusukkan belati di sisi sensitif istrinya, Rose bagi Mentari adalah segalanya.
Drrrt..
Tanda pesan di ponsel Biru terlihat berkedip menyadarkan kegusarannya dengan sikap dingin Mentari. ia melirik layarnya dan seketika cepat membuka pesan tersebut saat tahu pesan itu dari Dito.
Dari laporan rumah sakit, Sena di rujuk atas permintaan keluarganya berobat ke Cina bos. Masalah obat herbal itu, benar adanya adalah obat penggerogot tubuh secara perlahan khusus terbuat dari negara Cina. kami masih mendalami kasus Amma. Mohon pengertiannya.
Kamu ke Cina sekarang, Cari tahu kepastian masalah Sena dan juga cari tempat pembuatan herbal ilegal itu. Hancur kan usahanya.
...****...
Senja dan Mentari di pagi hari sudah berkeliaran di rumah sakit. Adik Kaka itu bersibobrok mata tidak sengaja bertemu di lobby utama rumah sakit.
Mentari mempercepat langkahnya menuju ruangan Rose, Senja mengejar adiknya ingin meminta maaf atas perbuatannya semalam.
""Tari ! Tari, hey tunggu !""
Mentari menulikan telinganya, ia tidak mau mendengar kata kata apapun pagi ini yang membuat hatinya sakit. Di tuduh meracuni Amma sendiri sangat lah menggores hatinya.
""Daeng min--!""
__ADS_1
""Saya buru buru, Habis ini BANYAK urusan kantor yang berbelit minta di urus."" Dingin Mentari.
Senja mematung di tempat, melirik Biru sekilas.
""Dari semalam, dia berubah Kaka ipar."" Jelas Biru sedih, menepuk pundak Senja sesaat dan mengikuti langkah Mentari yang sudah berbelok tak terlihat di makan lorong.
""Sabar daeng !"" Bang Sam yang bersama Senja menenangkan Bosnya dengan cara merangkul Senja.
Senja tersenyum getir. ""Kaka bodoh !"" Rutuknya menyesal.
...****...
Sekretaris Mentari yang di kenal nama sebagai Sella, di pagi hari sebelum berangkat kerja, menyempatkan diri ke kantor polisi untuk melihat dan berbagi kabar menyenangkan ke Raisa, sekutunya.
""Hahaha, Hari yang indah Tante."" Tawa kecil Sella begitu merdu terdengar bahagia.
""Cih, Ceritakan Sena...!"" Ketus Raisa tidak sabaran, kabar apa yang di bawakan oleh Sena berubah wajah dan nama sebagai Sella di hadapannya ini.
""SELLA bukan Sena, ingat itu, saya tidak mau ada orang yang mendengar nama itu tertuju ke Saya. Paham Tante !"" Tekan Sella.
""Ya..!"" malas Raisa. ""Ceritakan !"" pintanya kembali.
""Kau memang terbaik, hahaha. Harusnya kamu menjadi anakku, bukan Gema dan Gemi yang memihak kepada orang orang sialan itu."" Tukas Raisa.
Sella menyeringai tipis. "" Waktunya bermain di kantor Batara Tante, Sekarang giliran anak kembar mu, Gema dan Mentari. buuss, Cekcok !"" Senyuman Licik begitu tajam terlukis di bibir Sella. Sena memang berniat menjauh kan orang orang dari Mentari dan di saat sudah titiknya, baru giliran Mentari yang di hancurkan oleh dirinya. Seringainya Licik.
""Lakukan lah, tapi jangan sentuh kulit anak kembar ku, Kamu hanya perlu melukai keluarga Dewa saja, bila perlu bunuh saja Rose beserta anak anak sialan itu, apa lagi Mentari...gara gara dia saya berada di penjara." Seringai jahat Raisa di Timpali tawa senang Sella.
""Tunggu sebentar lagi, kita akan menang !"" Yakin Sena dengan rencananya yang sudah matang di otak jahatnya.
...*****...
Mentari berjalan menulusuri lorong lantai menuju ruangan kebesaran Gema dengan laporan keuangan di tangan, Sella tersenyum licik di belakangnya.
Pertunjukan di mulai.. Sedikit demi sedikit, Lo semakin tersiksa dengan masalah yang ku buat tapi yang harus menanggungnya Lo, Mentari.
Braaak...
Mentari masuk langsung membanting laporan keuangan ke meja Gema. Sepupunya itu terkesiap dapat perlakuan tidak sopan dari Mentari.
__ADS_1
""Apa maksud semuanya ini, Gema ?!"" Mentari terlihat menahan geram. "" Kamu menggelapkan dana perusahaan dengan membuat laporan keuangan palsu."" Tuduhnya. Gema langsung mengecek file tersebut tanpa mengeluarkan suaranya terlebih dahulu.
""Damn, Saya tidak tahu masalah ini, kamu menuduh ku Mentari, hah ?"" Belanya. ""ini bukan laporan yang saya buat, lihat lah..."" Gema menunjuk tanda tangan siapa yang tertera. ""Ini itu di bawah tanggung jawab mu, Tapi kamu malah menuduh ku, jangan main-main dengan dana perusahaan ya....!"" Serang balik Gema melempar berkas itu ke tubuh Mentari dengan kasar, Gema tidak terima di tuduh.
Mentari memicing, ia tidak pernah menaruh tanda tangan apa pun masalah laporan keuangan. bagian ini adalah kerjaannya Gema, bukan dirinya. Tapi kenapa malah menyerangnya.
""Tap---! Hais kenapa bisa ?"" Herannya. ""Sella ? apa kamu pernah meminta tanda tangan ku tentang laporan ini ?"" Selidiknya ke Sella.
""Jangan mencari kambing hitam Mentari ! jelas jelas pengeluaran sebesar ini adalah tanggung jawab mu, di situ sudah jelas !"" Selah Gema. Sella bernafas lega terhindar dari jawaban dadakan Bohongnya. ""Kamu bukan orang bodoh kan ? mana mungkin kamu menandatangani surat kuasa tanpa di baca dahulu...dan masalahnya, kamu kemanain uang sebanyak ini hah ?"" Bentak Gema marah.
""Diam ! Saya tidak pernah makan sedikit pun uang perusahaan."" Mentari menggeprak meja. ""Ok, kalau tanda tangan ini milik saya, siapa yang membuat laporannya, kamu kan ? jadi harusnya siapa yang salah ?"" Serang Mentari kembali.
Gema melotot marah, perseteruan saling menuduh semakin bernada indah di telinga Sella.
Gue suka ini, kalian berdua memang bodoh.
""Gema !""
Bugh...
Biru yang masih cemas dengan kesehatan Mentari yang kembali demam semalaman, datang kekantor istrinya. Tapi dengan kaget, ia di suguhkan pemandangan tidak mengenakan. Istrinya hampir di tampar oleh Gema. Dengan cepat ia menangkis tangan kasar Gema dan langsung menghadiahkan bogemannya di wajah Gema.
""Berani Lo pukul istri gue, mati Lo !"" Biru kembali menaruh bogemannya.
""STOOOOOP !"" Cegah Mentari membalikan meja Gema dengan brutal dan marah. Gema dan Biru yang hampir saling adu jotos terperanjat kaget dengan kemarahan Mentari yang begitu kasar dan kuat membalikkan meja berat begitu mudah. Sena berkedok operasi plastik berubah Sella pun tak menyangka Mentari seseram ini.
""Hulk, jangan ikut campur !"" Bentaknya ke Biru. "" Dan kamu Gema, sekali lagi saya menekankan kalau saya tidak pernah sedikitpun memakan uang perusahaan, tapi kalau kamu masih kekeuh dengan tuduhan mu, dan menyuruh saya mengembalikan dana yang entah terpakai kemana ? Saya akan menggantinya...pakai uang pribadi saya."" Mentari melotot kan mata ke arah Sella yang tertangkap basah tersenyum tipis dari matanya. ia curiga akan sekretarisnya tetiba.
""Dan kamu Sella, Kamu saya pecat ! bisa bisanya tersenyum di saat melihat kegaduhan ini."" Tukasnya tanpa rasa sopan meneriaki Sella. hati nuraninya sudah hilang tak berkemanusiaan... Kemarahan memuncak menguasai dirinya.
""Di pecat Bu ! Tapi---!"" Sella alias Sena mengumpat dalam hati. Ia belum selesai bermain di kantor ini, tapi kenapa malah di pecat. Sella mengejar langkah Mentari yang sudah meninggalkan ruangan Gema yang hancur akan ulah tangan halus Mentari.
Biru dan Gema masih shock melihat kelakuan Mentari. terpaku terdiam lama.
""Satu kata lagi yang keluar dari mulut mu, saya akan melampiaskan kemarahan saya ke kamu saat ini, pergilah bereskan barang barang mu, saya tidak butuh sekretaris sekarang....Semua orang di mata saya sekarang adalah monster berwajah baik... tidak ada yang bisa saya percaya kali ini. satu pun termasuk keluarga ku sendiri.""
Di dalam hatinya, Mentari sebenarnya sedang menangis Sendu, pikirannya Saat ini hanya sibuk dengan kesembuhan Rose dan sedang mencari pelaku yang tersangkut kasus Amma-nya. ia bodo amat dengan kerjaan ataupun uang yang gelap entah kemana.
Kamu harus membayar tentang penghinaan ini Mentari...kerja tidaknya saya di sini, tapi ku pastikan....kamu akan terus tertekan akan permainan kucing ku tanpa kalian sadari.
__ADS_1