RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 140


__ADS_3

Dokter Farel sudah di tunggu kehadirannya di kediaman Kusuma oleh Langit dan Senja untuk memastikan kesehatan Chris. Chris sendiri berpura-pura terbaring lemah di peraduannya.


""Apa papa mu sudah lama mempunyai penyakit jantung seperti Kakek Bima ? kasian sekali !" Tanya Senja.


""Entah ! Gue baru tahu ! nanti kita lihat Setelah Farel datang memeriksa...Gue aneh dengan masalah ini !""


"Aneh ? maksud Lo...Lo kagak percaya, begitu ?""


Langit mengangguk."eum !""


""Aih, anak durhaka benar Lo, Bukannya prihatin ini malah menganggap Papa berbohong. benar benar ya..."" Senja melempar bantal sofa ke wajah Langit.


Langit reflek menangkisnya. ""Itik...Lo itu belum tahu saja aslinya papa ! Dia itu licik, seperti dirimu.""


""Aih, kok jadi gue, Lo juga sama....Sama liciknya."" Serang balik Senja. ""Gue licik kan demi kebaikan...nah Lo...Lo jahat.!"


""Gue Jahat ?"" Tunjuk Langit ke wajahnya sendiri. Senja mengangguk manis.


""Aih, Mulut Lo kudu di sumpel pake...Pake ini."" Langit menarik tissue di hadapannya beberapa lembar, meremas sehingga menjadi bulatan.


Senja yang melihat itu santai saja, Selama kulitnya belum tersentuh, ia belum bergeming. ""Coba saja lakukan, Gue akan ingkar janji, dan Gue akan berteriak biar papa bangun dan melihat mu menyakiti ku langsung... Ko Lo, Harta milik Lo nanti akan jatuh semua ke nama gue....""


Langit geram tertahan, Si itik benar benar licik selalu nyebelin. "" Gue kagak perduli."" dengan cepat, Langit mengapit kepala Senja di sela lengan di bawa ketiaknya. Senja meronta menutup bibirnya rapat rapat agar Langit tidak bisa memasukkan gumpalan tissue ke sana. Wanita itu hanya meronta memukul dada Langit .


""Haha, ayo teriak !"" Ledek Langit tak bergeming sakit mendapat pukulan di dadanya oleh tangan Senja. Senja menggeleng....jika ia berteriak maka Langit dengan mudah menyumpel mulutnya.


""Ampun nggak ?""


Senja menggeleng keras kepala. Langit semakin kuat mengapit kepala Senja yang masih sok Sokan mau melawan.


""Ampun nggak ?"" Tanya Langit menekan hidung Senja agar wanita yang menutup mulutnya itu tidak bisa bernafas.


Senja benar benar keras kepala tak mau mengalah. ia kembali menggeleng.


""Baik...nikmati saja detik detik kesusahan bernafas... Kalau sudah di alam sana, sampai kan salam gue ke mama dan juga ke Amang Lo.""


""Haaa, Huu..Haa...""


Langit langsung memberi hadiah tissue ke mulut Senja saat Wanita itu membuka mulutnya untuk mencuri oksigen yang hampir tercekik di leher.


Senja melepeh tissue yang sudah basah terkena liurnya. "" Mendung sialan...Ni pembalasan gue !""


Setelah terlepas dari apitan Langit, Senja menggi---ah Mengisap leher Langit seperti drakula sehingga meninggalkan tanda kissmark di leher putih itu.

__ADS_1


""Yaaaak !"" Langit kesal, mendorong Senja menjauh dari tubuhnya sehingga wanita itu jatuh tertidur di sofa. Ia mengusap lehernya yang baru saja di beri tanda oleh Senja. ""Ah, pasti merah ?"" usapnya terus di leher. ia pun mematuk kesal lehernya Setelah berlari ke cermin yang ada di ruangan itu.


""Hahahaha, Sangat ! masih beruntung gue tak menggigitnya."" Ledek Senja tergelak meledek. Langit terus mengusap lehernya dengan sangat kesal berharap tanda itu hilang.


""Lo Nyebelin tahu nggak....Kudu di sumpel pakai bom tuh mulut baru nyaho tak berkutik."" Balas Langit mendekat ke tubuh Senja yang masih terlentang di sofa dengan tangan sekarang menarik koran yang sudah di gumpalkan ingin kembali menyumpel mulut Senja.


""Pa---!""


Senja berniat berteriak tapi dengan cepat Langit membekap mulut itu, tak sadar sudah menindihi tubuh Senja.


Farel yang baru datang melihat pemandangan itu dari belakang, ia mengira Langit sedang menyerang bibir Senja menggunakan bibir pula.


""Ehem..!"" Dehem Farel. Langit dan Senja terkesiap, mendorong dada Langit untuk turun dari tubuhnya. ""Kayaknya gue ngeganggu deh."" Farel hendak berbalik dengan senyum geli di bibirnya.


""Rel...Lo balik gue bidik punggung Lo pakai vas !"" Ancam Langit.


Senja menarik vas bunga cepat . ""Lo yang harus di ketuk pakai ini." Ketuknya pelan di kepala Langit dan ngebirit cepat ke arah Farel.


""Itikkkk.."" Dengus Langit, ia akan punya penyakit kaku leher jikalau terus bersama Senja.


""Ayo Dokter Farel, jangan hiraukan dia , kita ke kamar Papa !"" Sopan Senja mempersilahkan Farel untuk mengikuti langkahnya.


Langit pun ikut membuntut langkah Senja dan Farel menuju kamar Chris, ia penasaran... apa kah papanya itu benar adanya punya penyakit jantung.


""Rel, Satria sudah menjelaskan semuanya kan ?"" Bisik tetangga sedang berlangsung.


""Eum...Ini sangat bertantangan dengan sumpah ku sebagai dokter ketika pelantikan."" Dengus Farel pun berbisik.


""Demi teman mu Rel, nanti Om kasih bonus jika rencana om berhasil."" Suap Chris mengimingi. ""Sebutin saja, mau apa ? mobil ? Moge ? asalkan jangan minta jodoh, Om kagak sanggup kalau itu.""


""Ck, Om...bukan masalah itu, Kalau Langit sampai tahu alibi kita bagaimana, Gue bakalan babak belur oleh Langit."" Takutnya.


""Tenang saja... kalau ketahuan, Om yang akan bertanggung jawab !""


Bisik bisik itu terhenti saat Langit dan Senja mendekat dengan tatapan selidik.


""Rel, Bagaimana... Papa sehat kan ?"" Tanya Langit.


Farel menghembuskan nafasnya terlebih dahulu sebelum menjawab, memasang wajah sedihnya. ""Papa Lo butuh penanganan lebih lanjut, Jangan sampai mendapat tekanan apapun, Takut takut respon jantungnya tidak kuat."" Jelas Farel berbohong. dalam hatinya ia mendengus kesal.... Dulu Biru yang menekannya untuk berbohong gegara gegar otak bohongan. Sekarang...Chris pun sama... menyuruhnya berakting demi kepentingan pribadi... Ya Tuhan, apa salah Dan dosaku sehingga hidup di antara orang orang konyol seperti mereka ini. Prustasi Farel.


Senja dan Langit saling beradu pandang sekilas.


Chris tersenyum geli di dalam hati.

__ADS_1


"Yakin ?"" Langit masih menyelidik tak percaya.


""Eum, ini hasilnya..."" Dari rumah sakit, Farel sudah membawa tesk medis kecil pendeteksi kesehatan jantung, hasil dari pasien lain demi menyempurnakan Akting mereka, apalagi harus mengibuli Langit tuh kudu lengkap Sempurna.


Senja meraih alat tersebut, Langit pun mengikis jarak ke Senja untuk melihat hasil teks dari kesehatan papanya.


""Pfuuu, kenapa begini sih ?"" Keluh Langit prustasi melirik Chris yang memasang wajah sayu.


""Mendung bagaimana ? Apakah gue harus melanjutkan niat awal kita kesini ?"" Bisik Senja.


""Gue lempar Lo ke gunung Fuji kalau Lo membuat jantung papa gue kumat."" Ketus Langit berbisik.


""Ck,Terus bagaimana ? Lo kan ngebet banget pengen kita pisah cepat cepat !"" Senja menginjak kuat kaki Langit. dengan santai ia tak memindahkan kakinya terlalu senang bertengger di sana.


"" Sakit itik, Singkirkan kaki Lo, enak banget tuh kaki, gue potong tahu rasa.""


""eum, potong kalau berani, tapi sebelum itu kaki Lo yang lebih dulu di amputasi ulah dari haig heels gue.""


Demi menahan ringisan dan terlepas dari Senja di hadapan Chris dan Farel. Langit sengaja merangkul pinggang Senja namun tangan itu mencubit pinggang Senja.


""Aww."" Pekik Senja. Chris menoleh begitu pun Farel yang bersiap siap membereskan peralatan medisnya.


""Ada apa Senja ?"" Tanya Chris.


""Tidak pa ! Senja hanya di gigit semut kayanya."" Kelit Senja. Langit tersenyum jumawa.


""Ok, Gue pamit ya ! ingat....Om Chris tidak boleh mendapat tekanan walaupun hanya sedikit. dan Obat Om Chris sudah saya resepkan, kalian tebus saja ke apotek."" Jelas Farel.


Langit ingin mengantar Farel keluar tapi dokter itu tidak mengijinkannya. Farel menyuruhnya di tempat saja.


""Jangan bicara dahulu tentang perpisahan, gue bantai Lo nanti kalau mulut Lo terpeleset."" Bisik Ancam Langit.


""Dasar mendung !"" Dengus Senja. memasang senyumnya ke Chris.


""Ayo katakan ? Tadi kalian ingin menyampaikan apa ?"" Tanya Chris penasaran, berbasa basi.


""Kita malam ini izin tidur di sini...iya... hanya itu yang kami ingin sampaikan."" Kelit Langit Terpaksa menunda niat awalnya. ""Iya kan It----Senja.""


""Iya pa ! Apa Boleh ?"" Timpal Senja pun berkelit.


"" Tentu, emang ini rumah kalian kok....rumah kalian bersama cucu cucu Papa nanti...Ah, tidak sabar dengan kehadiran mereka... Semoga jantung ini masih kuat agar bisa melihat kehadiran mereka."" Angan Chris. dalam hatinya ia bersorak Yes... Double yes, bahkan Triple yes. Anak mantunya mengurungkan niat buruk di telinga Chris, Yaaa... walaupun dalam keterpaksaan.


Anak ! Cih, Bagaimana mau dapat anak, Gue saja tak melirik tubuh itik licik ini, Ogah masuk dalam perangkap kelicikan si itik ini.

__ADS_1


Langit pergi begitu saja membawa resep yang di perintahkan Farel. Senja hanya melirik punggung itu. Jangan mengkhayal Senja...Buang cinta Lo itu jauh jauh.... tahan sakit hatimu..demi papa !


__ADS_2