RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 48


__ADS_3

Mentari berlarian ke arah pinggir jalan raya untuk mengejar angkot yang akan mengantarkannya ke restoran nikmat rasa milik Arkanas Kaka senior ketus di kampus dan di luar menjadi bos ketus.


Pagi ini Mentari kesiangan perihal semalam tubuhnya drop lagi, mungkin kecapean..Dini hari bangun untuk membeli sayur mayur dan pagi pagi buta harus berkeliling untuk menjajakannya, Setiap hari ! Jam delapan pagi lanjut bekerja di restoran, Sore hari otw ke kampus untuk memberi makan akademis otaknya.


dan pagi ini sudah menunjukkan pukul setengah delapan, Sementara dirinya masih di pinggir jalan belum mendapatkan angkot dan nafasnya masih ngos-ngosan demi mengejar waktu agar tidak telat masuk bekerja di masa masa training-nya...ini tuh gara gara gerobak sayurannya yang macet rusak di jalan pas lagi berjualan dan terpaksa Mentari bersusah mati matian mendorong sampai rumah petaknya, terlambat sampai rumah !....Jadi anak Rantau miskin memang sangat menyedihkan, tapi Mentari tak pernah mengeluh dan menyerah demi kelangsungan hidup dirinya dan kelangsungan hidup Amma di kampung.


""Aargh." Reflek Mentari berbalik dan langsung memukul tangan orang yang menariknya, tanpa melihat dulu siapa si tersangka. Sagara Biru Sunjaya. ""Lepaskan tangan saya, Sa--Saya sedang buru buru, hampir telat masuk kerja."" Mentari berupaya untuk melepas cekalan Biru. tapi tidak bisa.


""Makanya aku antar ya, petite. biar kamu tidak telat, Hari ini aku akan menjadi sopir mu, mau ya?!"" Pinta Biru lembut dengan tatapan memelas. Biru tidak memaksa Mentari untuk memaafkannya sekarang, ia ingin berniat mengambil hati dan perhatian Mentari secara perlahan tapi pasti.


""Kenapa anda ada di sini, Tuan ? Ah, lupakan pertanyaan bodohku, ini kan tempat umum, jadi anda bebas berada di sini, dan terima kasih atas tawarannya, Tuan.!"" Tukas Dingin Mentari, ia masih ngambek. Bukan apa apa pula, ia tidak mau menerima tawaran orang secara Cuma cuma kali ini, takut nanti ada apa apanya, Old tricks.


""Aku di sini sengaja hanya karena kamu, Petite. ayo ikut aku, aku akan mengantarmu kemana pun, kapanpun."" Biru masih membujuk dengan ekspresi wajah selembut salju, Ia masih punya kesabaran banyak, tapi lama-lama pasti akan punah juga.


""Maaf... Tidak usah repot-repot, Tuan. Dan Tolong jangan perlakukan saya se-spesial begini, seakan akan saya gadis lemah dan cengeng yang tidak bisa menghadapi dunia, dan tolong satu lagi, jangan pernah ganggu saya lagi, kapan pun saya tidak sudi menjadi barang taruhan, kalian. Cari saja Piala yang berbobot yang dengan senang hati menerimanya, Permisi."" Kata kata Mentari membuat Biru tertohok kecewa dengan dirinya sendiri, Ternyata lidah tak bertulangnya sangat lah tajam menusuk hati gadis manis yang tadinya tidak pernah bersikap dingin, seketika menjadi dingin, sedingin dinginnya. Menyesal yang tidak bisa menjaga ucapannya.


Mentari tidak bisa lama-lama berbicara yang membuang tenaga dan waktunya saja yang memang sudah pasti terlambat masuk kerja. Ia menghentakkan cekalan Biru dari tangannya, berlari menghampiri angkot yang baru saja berhenti.


Biru tidak mau menyerah, ia mengekori Mentari naik dalam angkot, meninggalkan mobilnya di pinggir jalan....pak polisi, Biru minta di tilang !

__ADS_1


Di atas angkot, Biru duduk di samping Mentari dengan posisi yang sangat dempet... begitu lah angkot, sesak ! dan Biru senang akan hal itu yang bisa modus dekat dekat dengan Mentari yang hanya diam menganggap dirinya tidak ada oleh gadis di sampingnya. Namun Biru mendesah kesal, Saat semua mata laki laki penghuni angkot meneliti dalam dalam Petite-nya. Dengan mata tajamnya, Biru melototi semua mata para Adam seakan akan siap untuk menguliti satu persatu dari mereka... Sadis kata Afgan. Plototan itu berhasil mengintimidasi para Adam dan kompak pada membuang mata mesum-nya.


Ckiit...Duahg...


Pak sopir me-rem mendadak, saat ada pengguna jalan main nyebrang. Dengan sigap, Biru menarik tengkuk Mentari masuk kedalam dekapan dada-nya. tidak mau mendengar atau melihat Mentari mengeluh sakit terbentur seperti penumpang lain.


""Aww.."" Pekik para penumpang termasuk Biru.


Mentari menarik kepalanya di dada Biru. Dengan rasa kepedulian, Mentari memeriksa kepala bagian belakang Biru.


" Bos.?"" Tanpa sadar sebutan ke Biru pun tidak dingin lagi. Gadis itu meniup niup kepala Biru seraya mengelus lembut yang sebelumnya menarik kepala Biru menunduk di hadapan dadanya, berniat untuk memeriksa. ""Masih sakit ?"" Tanyanya khawatir.


""Neng, hati hati lho, Si Aa-nya takut terkena gagar otak, Tidak ada luka di luar tapi luka di dalam !"" Penumpang laki laki yang tadinya di plototi Biru, Menimpali menggoda. ia pikir mereka adalah suami istri yang melihat perlakuan Biru yang begitu posesif, menjaga Mentari dari para mata nakal maupun dari sakit fisik.


""Gagar otak ?"" Mentari termakan godaan, langsung panik memandang wajah Biru begitu sayu dan lembut...Hem..Si Abang, Gadis polos kok di goda... ibarat kata, Mentari tuh tidak bisa membedakan kucing garong dengan kucing manis.


""Kita kerumah sakit yang Bos, Tapi aduh...saya... saya kan mau kerja, Bagaimana dong? mana sudah jam delapan kurang lima menit lagi."" Mentari menggenggam tangan Biru sekilas untuk melihat jam tangan mewah di pergelangan tangan Biru. Biru tersenyum geli. ""Bos, kerumah sakit sendiri saja ya ?"" Panik Mentari menggebu-gebu.


Biru menggeleng tidak mau. "" Aku maunya di temenin kamu, Petite. kamu harus tanggung jawab lho, kan aku sakit karena menyelamatkan kepala mu."" Acting On. Dalam hati, Biru bersorak gembira ria serta berterima kasih ke penumpang yang menimpal menggoda.

__ADS_1


Mentari diam cemberut, ia harus masuk kerja atau di pecat taruhannya, masa baru Training sudah minta ijin. Masalah besar !


""Pulang kerja saja temenin aku periksa ke dokter, bagaimana. ?"" Nego Biru.


Mentari menggeleng dengan wajah masih cemberut. ""Aku harus Kuliah ?""


Biru melupakan jika Petite-nya selain gila mencari nafkah, Mentari pun gila mengasih otaknya makan akademis sampai tidak memperdulikan dirinya yang begitu tergila-gila ingin segera menikahi gadis polos yang masih labil.


""Pulang kuliah aku akan menjemputmu, tidak boleh nolak ! kamu harus temenin aku untuk periksa ke dokter, ya ! tanggung jawab !"" Paksa Biru dengan wajah di buat sesayu mungkin untuk meyakinkan Mentari. Jalan ke rumah sakit pun tak masalah baginya yang penting Biru mendapat kesempatan berdua dengan Mentari yang masih marah kepadanya.


""Baiklah, aku mau !"" Demi rasa terima kasih atas pertolongan Biru, Mentari memilih menyampingkan rasa kecewaannya.


""Asyik, berduaan...dokter Farel, aku datang membawa gagar otak bohongan."" Dalam hati, Biru berdisko ria.


Angkot pun berhenti atas kode dari Mentari, Dengan cepat Biru mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah untuk membayar seisi penumpang yang tadinya di plototi galak.


Penumpang senang, Abang sopir angkot lebih senang....


Sering sering gagar otak ya, Pak....Doa para penumpang.

__ADS_1


Jejaknya dong... Vote dan bunga bunga harum... secangkir kopi pun boleh šŸ˜€


__ADS_2