RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 56


__ADS_3

Bu Bina mondar-mandir di bagian pintu belakang Ballroom. keder, Siapa yang akan menurunkan masakan kiriman dari restoran yang empat panci super guede plus berisi makanan untuk para tamu, Sangat berat untuk ia angkat dengan kondisi renta...ini harusnya tugas dari si sopir box, tapi karena di perjalanan mengirim panci panci masakan, si sopir dan keneknya mengalami kecelakaan yang lumayan membuat mereka Luka luka di kepala dan harus segera di tangani. Untungnya, Si sopir bisa memaksakan menyopir membawa masakan itu ke Ballroom...jika tidak, hancur sudah repotasi restoran dari pemilik adik dari Radja Batara yakni Tegar Batara di bawa pimpinan Arkanas.


Mentari menghampiri ibu paruh baya yang lembut dalam bertutur kata.


""Kenapa Bu Bina ? ada masalah ? Kok ibu tegang begini, Mana masakannya ? ayo kita hidangkan !"" Cerca Mentari cerewet. ia mencoba menghibur dirinya sendiri agar tidak sedih melihat keluarga harmonis tanpa Amang-nya. Baru kali ini ia cemburu dengan kehidupan keluarga seseorang.


""Itu dia Nak, Masakannya masih di atas mobil, ibu bingung siapa yang akan menurunkannya karena Staff yang ikut andil di Gethring ini wanita semua kecuali pak Arkan, tapi kini pak Arkan pun adalah tamu kita ! Bagaimana dong, Nak ?""


""Biar Mentari aja ya Bu yang turunin.!"" Dengan bangga gadis itu berlari kecil ke mobil box tanpa ia tahu panci Segede apa yang ia akan hadapi.


Sementara Bu Bina setelah melerai yang tak di hiraukan oleh Mentari, melangkah masuk untuk mencari bantuan.


""Amma ! ini panci kok besar amat ya ? tubuh mungil ku pun akan muat jika sedang meringkuk, Nyemplung masuk, di masak tahu rasa kamu Mentari."" Mentari bergidik, ngeri melihat empat panci setinggi pinggangnya . Gadis itu naik ke mobil box bersusah payah menggeser geser kan panci seorang diri tapi tidak bisa bergeser sedikit pun, mau minta tolong siapa ini? Bu Bina tidak mungkin, wong tua itu kan sama saja tenaganya tidak kuat. Nyari rejeki kok gini amat ya, Susah. Mentari mau nangis percuma, tidak ada yang akan perduli di kota orang. Lo Lo, Gue Gue.. itulah slogan sebagian orang di kota keras metropolitan ini.


Di sisi lain....


""Pak Arkan, maaf mengganggu ! tapi ada masalah sedikit tentang penurunan panci berat di atas mobil.!"" Lapor Bu Bina agak berbisik namun Radja yang duduk di sebelah Arkan mendengarnya. Dan setelah menjelaskan keadaan si penanggung jawab sopir, Arkan pun bergegas beranjak dan di susul Radja dan Tegar-ayah Arkan yang ingin membantu.


""Aaaargh...!"" pekik Mentari. ini yang di angkat olehnya kan panci yang tak mau bergerak, Tapi kok tubuhnya yang melayang ke udara. Dan pelakunya adalah Biru, yang datang datang tanpa suara main gendong Mentari dari belakang dan menurunkan gadis itu dari mobil box.


""B-Bos !"" Mentari menekan dadanya yang mau copot kaget yang tiba-tiba mengudara, tadi.


"Iya, Aku...kamu ngapain di sini, eum ? aku cari dari tadi juga, malah asyik sendiri dengan panci panci ini."" Tanya Biru memajukan wajahnya di hadapan Mentari. Mentari memundurkan kepala.


Pria satu ini yang tergila-gila dengan Mentari, mengabaikan acara di ballroom.... Lebih asyik melihat Mentari dari pada menatap dan mendengar orang berjas berkicau membicarakan bisnis masing-masing. Tengilnya.

__ADS_1


""Pergilah Bos Biru ! Saya sedang bekerja, tolong jangan ganggu."" Mentari berusaha naik ke mobil lagi. Namun di tarik kembali oleh Biru.


""Tunggu dulu, maksud mu ? kamu bekerja dengan mengangkat panci raksasa ini ?.""


Mentari mengangguk, sebagai jawaban Biru.


"" Crazy, Sialan bos kamu itu."" Umpatnya ke Arkan. Ia tidak terima my petite di suruh bekerja yang berat berat. Dengan terus mendumel Biru mencopot jasnya, dan di taruhnya di pundak Mentari.


""Bos mau ngapain ?"" Tanya Mentari heran.


""Mau mandi di atas. ya mau mengangkat panci itulah, tunggu di bawah biar aku yang mengerjakan."" Sahut Biru dan berlompat naik ke mobil Box, dengan enteng tanpa ada beban. Biru menurunkan satu panci berisi berat itu.


""Ta---!""


""No ! Mentari, Dia bukan Amang !"" ingatnya dalam hati dan mata itu terus memandang dalam wajah Radja yang sudah berdiri tepat di sampingnya.


""Mentari, kamu apa apaan meminta bantuan ke tamu kita ?."" Semprot Arkan ketus tidak suka melihat Biru yang menjadi penolong si boneka manis.


Sementara Radja dan Tegar memilih membantu Biru menurunkan panci itu yang tinggal satu di atas.


""Sa--saya tidak------?""


""Gue sendiri yang membantu jangan marahin dia, Seharusnya yang jadi bos tuh mikir, masa gadis imut begini di suruh mengangkat beginian, gila !"" Semprot balas Biru setelah kelar semuanya, bahkan ia tak mengindahkan ada orang tua Arkan dan pak Radja, si mantan dosen killer-nya.


""Sudah lah, Sagara...yang penting kan sudah beres..dan terima kasih sudah membantu adik manis ini."" Ucap Radja menengahi, ia tahu sifat Arkan keponakannya dan ia juga tahu sifat kerasnya Biru jika kesal, si mantan mahasiswanya yang selalu membuat onar dulu masalah ketampanan. jika tidak di lerai maka bag big bug akan bersuara. ""Siapa namamu adik manis ?"" Lanjutnya bertanya ke Mentari.

__ADS_1


""Amang.!"" Tatapnya ke Radja. Mentari semakin terhipnotis dengan suara itu, suara pun hampir Sama persis dengan suara Amang nya. Saking terhipnotisnya ia bersuara tak di filter.


Semua pada kaget dengan suara Mentari. Arkan semakin curiga jika ada yang aneh dengan karyawan khusus ini. Tegar menatap wajah gadis ini dalam dalam, hatinya juga terasa aneh, ada ketertarikan untuk ingin mengenalnya.


"" Patite, Jas ku."" Pinta Biru, tidak suka jika Mentari di tatap dalam seperti itu oleh tiga orang berbeda umur... Woy milik Gue, mata di kondisikan, tidak anak, tidak orang tua pada mesum tuh mata, dengan tengil tingkah Biru sengaja maju kehadapan Mentari, memunggungi ketiga orang itu. Lihat dalam dalam noh, punggung gue. begitulah maksud si Sagara tengil. Tanpa takut di semprot oleh si Radja, Rajanya dosen terkiller di masanya sendiri.


""Sagara Biru Sunjaya, Minggir, Mantan dosen mu ini lagi bertanya ke adik itu !""


Nah, Kan. Si mantan dosen killer sudah mulai mengeluarkan suaranya yang membuat bulu kuduk berdiri, Galak. Ini si mantan mahasiswa minta di semprot gerimis alami dari mulut apa ? ia lagi serius ingin mengenal Gadis imut yang berlesung pipi seperti milik Dewa Batara malah di kasih punggung.


Biru menoleh dengan wajah tak berdosanya, datar. Mentari spontan memegang ujung Jas Biru yang baru terpasang kembali, takut dan gugup menyerangnya, Mentari tidak mau mereka semua tahu jika ia anak dari Dewa Batara, ia takut di jahati oleh mereka, pikirnya Amang-nya saja tega di usir dulu, pasti dirinya pun akan di usik karena ia anak dari Amma, menantu yang tak di inginkan. ia masih ingin berkuliah di universitas ternama itu, Sebelum jadi sarjana, ia tidak mau di depak dari kota ini.


""Permisi, saya harus bekerja lagi. !"" Sopan Mentari menunduk dan kabur tanpa memperkenalkan diri dahulu dan itu berhasil membuat orang orang pada aneh, Termasuk Biru yang mengenal cukup baik kesopanan Mentari. Tapi ini...Tumben tumbenan Si Petite-nya berperilaku tak sopan. Tapi bagus sih...biar tahu diri semua, sudah tua juga masih ingin berkenalan dengan daur muda. Milik Sagara, Woy. Dumel Biru pun meninggalkan tempat.


""Arkan, Kirimkan CV lengkap Gadis itu ke email Tulang !"" Titah Radja yang begitu menggebu-gebu ingin tahu tentang gadis itu.


""Buat apa, Tulang ? jangan bilang Tulang Suka pula dengan gadis itu, Arkan tidak setuju."" Tolak Arkan.


Plak


"" Bicaramu, Minta di tenggelamkan di Toba anak muda, kirimkan pula ke email Amang mu ini, Amang juga penasaran !"" Kini Tegar yang bersuara setelah menggeprak kepala anaknya bagian belakang. Dan Si Arkan judes tak bisa berkutik, Tulang dan Amang-nya adalah saingannya juga untuk mendapatkan hati Mentari. Haduh...Macam mana pula ini jika Nan-tulang (Tante) dan Inang (mama) tahu akan kegilaan para suaminya.


Arkan melambaikan tangan di kamera, Mundur !


... Vote dan Bunga bunga 🌹😘...

__ADS_1


__ADS_2