RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 265


__ADS_3

Akhirnya selesai juga. Gumam Biru seraya mengibaskan tangannya yang basah sehabis mencuci piring untuk menggantikan pekerjaan Mentari yang terlihat sakit meringis karena kehamilannya.


Aih... Mentari mana ? Monolog nya sendiri di saat berbalik Mentari sudah tidak ada di kursi kayu. Matanya pun tertuju ke pintu kamar Mentari. berpikir, apakah ia boleh masuk untuk tidur bersama istrinya di hari yang sudah malam ini ?


Masuk tidak masuk tidak. Ucapnya dalam hati canggung, dengan konyol memainkan jari jarinya untuk menghitung.


Masuk dong Biru Bodoh, Tidak akan ada kemajuan jika kamu hanya pasrah melihat keterdiaman Petite mu. Batinnya yang mau meminta maaf dan akan mengajak pulang Mentari.


Ceklek.. Alhamdulillah, tidak di kunci. Senang nya. melirik ke punggung Mentari yang tidur miring membelakangi pintu dimana dirinya berada. Rupanya sudah tidur ?


Mendekat, berjongkok di sisi Mentari yang sudah terpejam lelah, Istrinya selama ini ternyata aktivitas nya melelahkan dalam keadaan hamil anaknya, ia merasa sedih...gara gara tidak mempercayai istrinya malah berujung betataran akan hidup rumah tangga bahagianya bersama Mentari.


Apakah sudah terlambat untuk meminta maaf ? Sedari tadi Mentari hanya diam tak berekspresi apa pun ke dirinya. Bicara tidak, Tersenyum tidak, menangis pun tidak, bahkan ia sebenarnya menunggu Mentari memarahinya. Marah saja tapi ya... jangan di tinggal Atau pun minta pisah, auto ia akan mencak mencak tak terima kalau Mentari minta pisah dengan nya.


""Kenapa kamu belum pulang, hulk ! Anak anak pasti mencari mu, kasihan mereka... Pergilah !""


Astaghfirullah... Biru sampai terloncat duduk ngegelepor kebelakang. Mentari bersuara tetiba dalam mata terpejam membuat nya kaget.


andai kamu tahu Mentari, bukan kamu saja yang pergi, tapi anak anak pun menghukum ku. Batinnya tak mau membuat Mentari bersedih, jadi ia tak mau menceritakan tentang kesedihannya, dan mungkin itu yang terbaik untuk pikiran positif orang hamil.


Mata itu pun terbuka yang mana mungkin bisa tidur di saat ada Biru yang selama ini ia rindukan selain anak anaknya. Yap.. Mentari tak munafik, walau pun Biru pernah mengecewakan nya karena tak mempercayai nya juga karena sudah berprilaku dingin serta kasar di atas ranjang, Tetap.... Hatinya masih menginginkan suaminya yang mungkin sudah mengetahui kebenaran fitnah itu maka nya orang ini ada di hadapannya sekarang. Tapi sedikit memberi peringatan keras boleh dong ? Jadi mari kita mulai sedikit demi sedikit agar suatu saat Hulk nya tak mudah terhasut oleh apapun itu yang bisa merugikan diri sendiri.


""Apa kamu tidak merindukan Triplets Mentari ?""


Sangat ! Sahut Mentari dalam hati. menarik tubuh nya untuk berdiri dan berjalan d


sisi jendela.


""Ayo kita pulang bersama, Mentari !""


Tempat ku sempit di sana, hulk... Penghianat memang harus di asingkan.


""Aku mau hidup tenang, demi---!"" Kembali Mentari menelan ungkapannya yang ingin mengatakan demi janin ku. ia takut mendapat penolakan untuk Janin nya, tak apa dirinya yang mendapat penolakan untuk Biru, asal jangan dia. ""Tunggu dulu ? Kamu sekarang ada di rumah Penghianat lho ! apa kamu tidak jijik akan hal itu ?""


Biru menggeleng geleng sedih yang sekarang berdiri di belakang Mentari. ia salah besar sudah meragukan Istrinya, itulah kesalahan nya yang ia derita nya selama Mentari pergi.

__ADS_1


""Aku sudah mengetahui nya Mentari, aku sudah mengetahui itu bukan salah mu, itu hanya fitnah nya Shanum demi bisa meretakkan hubungan kita."" Jawab Biru membalikkan badan Mentari untuk menghadap nya.


""Tapi aku sudah menghukumnya Mentari, dia patut untuk di hukum."" Lanjutnya.


Mentari Tersenyum kecut.""Eum, bagaimana dengan mu, apakah patut di hukum ? kamu hanya pintar menghukum bukan, tapi tidak tahu rasanya di hukum ! kamu pun sudah menghukum ku dengan mudahnya meragukan kehormatan ku sebagai seorang istri ! itu menyakit kan Hulk ! Harusnya tanpa bukti pun, kamu tak meragukan cinta ku padamu, Biru ! Tapi apa ? kamu berbuat kasar dan dingin kepada ku secepat membalikkan tangan dengan mudahnya."" Mentari membalikkan tangannya di depan mata Biru yang diam menunduk tak menyela, hanya gelengan kecil yang Mentari lihat.


""Ok, sekarang kamu mengetahui kebenarannya, Coba belum ? mungkin kamu tidak akan berada di sini sekarang ! iya kan ?""


Biru diam dengan mata sepat tertahan, Ia membenarkan penuturan tenang Mentari. Benar ! Cintanya kepada Mentari hanya sejengkal saja, dangkal ! Ia begitu mudah terhasut padahal perangai Mentari itu sangat mudah di baca, orang nya tak neko neko yang jika sudah mempunyai kebahagiaan maka tidak akan mau mencari kebahagiaan lain lagi. Dan selama ini, Mentari nya sudah bahagia bersama keluarga kecil mereka sebelum ada fitnah itu. Bodohnya aku !


""Aku justru berterimakasih sedikit ke Shanum, karena dia aku mengetahui bagaimana dangkalnya kepercayaan cinta seorang Sagara."" Mentari mundur selangkah di kala Biru ingin menyentuh tepat perutnya. apakah Biru tau ?


""Mentari, maaf kan aku !!! Jangan menghukum ku sampai aku mati, Aku sungguh Minta maaf, aku menderita akan kepergian mu, Mentari. beri aku satu kesempatan, ku mohon !!!"


Biru terduduk di hadapan Mentari dengan kata maaf begitu pilu terdengar dan menyayat hati Mentari. Dari jauh ia memang sudah memaafkan Biru, Mentari pun melihat dari sisi lain dampaknya Shanum. Pasangan mana yang tidak hareudang melihat gambar orang tersayangnya bersama dengan orang lain dengan posisi sangat intim ? Mungkin ia pun bereaksi marah jika Biru lah di foto itu, Cuma.... perlakuan Biru lah yang membuat nya kecewa, ok...Tak apa ia hanya menyakiti kulit nya, Tapi Biru di sini hampir saja membuat nya kehilangan janinnya jika ia terlambat pergi jauh sampai saat ini.


"" Jangan Seperti ini, Hulk ! aku bukan Tuhan yang patut di sembah, bangun lah dari situ !""


Mentari sedih melihat orang tersayang nya menyembah nya yang tak mau melepaskan lututnya, Biru menahan nya yang ingin mundur mengelak.


Baru saja Mentari mau menyahut, Pintu terbuka tak sengaja oleh kelakuan Bang Sam dan Mile yang mengira Biru tidak mungkin ada di mari lagi , lebih tepatnya sih...Mile terpaksa datang ke mari lagi karena mau mengambil tas lengkap dompet nan kunci mobil nya yang tertinggal di kamar Mentari. Ia kan kabur tadi buru buru akan ulah Bang Sam yang takut kena semprotannya Biru yang terlihat menakutkan di mata lenje Bang Sam.


Bang Sam dan Mile saling senggol senggolan saat Mentari dan Biru menatapnya tak berkedip.


Bang Sam, Mile... Kenapa harus sekarang datang nya ! Kesal Biru yang belum sempat mendengar kata maaf dari mulut istrinya.


""Hehehe, Maaf ya ! Aye cuma mau ngambil ntu !"" Tunjuk Mile ke tasnya yang tergantung di belakang Biru. Keduanya benar benar kagak enak sudah mengganggu momen Biru yang berusaha keras merayu wanita nya.


""Kenapa harus ngambil tas ? apa kalian malam malam begini ingin balik ke Jakarta ?"" Tanya Mentari tidak mengijinkan sahabat nya berkendara jarak jauh di hari sudah malam. ""Nginap lah di sini lagi, ini sudah malam, tidak baik untuk kalian di jalan."" Tawar Mentari.


Bang Sam dan Mile kembali senggol senggolan, mau menerima kagak enak akan adanya Biru, mau menolak kagak enak pun dengan Mentari yang benar adanya ini tidak baik berkendara malam.


Keduanya semakin lirik lirikkan di saat Biru di belakang berdirinya Mentari mengibaskan tangannya sebagai kode agar menolak.


""Jangan takut kode orang yang di belakang ku !"" Ujar Mentari yang melihat kibasan itu dari pantulan kaca di dekat bang Sam.

__ADS_1


Biru jadi terciduk mengancam, cepat cepat ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, berkelit. Bang Sam malah geli melihat kekonyolan Biru yang kicep akan Mentari hanya seorang diri.


""Kagak usah Mentari, kita ada kerjaan pagi pagi jadi malam ini harus menghilang dari sini, benar---!""


""Benaran pakai bohong, begitu ? ya sudah sana pada pergi, tapi jangan sampai ada yang kesini lagi, atau jangan sampai terlihat di depan mata ku lagi, tersandung pun aku akan membuat mata ku buta, pura pura tidak melihat."" Ancam Mentari. Bang Sam dan Mile serba salah dengan Bang Sam menginjak kaki Mile, menyalahkan teman Mentari ini yang ngotot ingin mengambil tasnya yang tertinggal.


Sakit Bang Sam-pah ! Umpat Mile mencubit pinggang Bang Sam.


"" Ck, Mentari sayang... kalau kami nginap, di mana kami akan tidur, lupa apa kalau ini rumah cuma tiga petak, mana kecil lagi ini kamar...kan nggak mungkin di jejal juga. jadi Mile...ayo ambil tas mu kita out."" Ujar Bang Sam berkelit tepat karena ia belum siap dapat kultum dari Biru yang selama ini diam diam Bae menyembunyikan istri tercinta seorang Hulk yang ia pun tahu jikalau Biru dan Senja sudah menyesal akan tuduhannya masing-masing.


Ah, Bukan dari Biru saja, Besok besok ada Senja juga gerombolan nya. congelah kupingnya dapat kultum pedas sana sini. Batinnya harus bersembunyi di ketek Mentari.


Bukan Mile yang maju mengambil tasnya sendiri, melainkan Biru yang mengambilkan nya dengan senang hati biar sahabat istri nya pergi dahulu. ia kan perlu waktu berdua untuk mengambil hati Mentari lagi.


Mentari hanya pasrah, iya juga... tempat nya kan sempit, tidur di lantai kasihan juga, bersama sama pun di kasur tidak mungkin yang biasa sering di lakukan oleh ke-tiga nya. kan ada Biru. Bang Sam bagi Mentari dan Mile itu kan lady yang tidak kebagian jenis kelamin perempuan. jadi tidur bersama tak masalah selama ini.


""Hati hati di jalan, Dan terima kasih akan kasih sayang kalian."" Tulus Mentari tersenyum teduh ke Bang Sam dan Mile. keduanya balas tersenyum. Dengan Bang Sam melirik ke Biru, berani sikit.


""Boss Husband terjeda, Jagain ya... Jangan di apa apain dulu."" Goda Bang Sam dapat tatapan horor langsung dari Biru. melihat itu Auto Bang Sam gerak jalan haluan kiri, tarik Mile menghilang tutup pintu.


Mentari menggeleng geli akan kelucuan sahabatnya itu. Melirik Biru dari cermin yang sekarang pun memperhatikannya.


""Jangan pernah memarahi Bang Sam dan Mile akan persembunyian ku di sini, Harusnya kamu malah berterima kasih karena mereka sudah menjaga ku dan juga menjaga---!""


"" bayi kita yang masih di sini."" Potong Dekap Biru dari belakang dan mengelus perut Mentari dengan sayang. Benar kata Mentari, ia harus berterima kasih ke Sahabat sahabat Mentari termasuk mbok Darmi yang mungkin pernah di buat repot oleh istrinya.


""Eum, jadi sudah tahu...kalau begitu bagus, setidaknya aku tidak mendengar tuduhan untuk janin ku."" Mentari melepaskan dekapan Biru, beranjak ke kasur, berniat istrihat akan tubuhnya yang cepat lelah mungkin karena kehamilannya.


Biru mematung di tempat, Mentari masih menolaknya untuk di sentuh barang sedikit pun. Batinnya mengerti dan perlahan tapi pasti ia akan menggapai Istrinya lagi. Lihat saja nanti, apa pun caranya !


""Kalau mau tidur di sini maka aku akan berbagi kasur yang sayangnya cuma kasur ala kadarnya tidak seperti kasur mu yang empuk itu, itu pun kalau kamu mau, tidak mau maka pergilah ! Jangan lupa tutup pintu jika ingin keluar."" Ujar Mentari Ingin berbagi kasur, cuma berbagi...No aneh aneh !


Di atas kerikil pun gue jabanin asalkan ada kamu di samping ku berbaring. Senang Biru dapat welcome dari Mentari. Tak apa hanya berbagi kasur... sedikit dikit mungkin akan berbagi pelukan hangat...Iya kan ? Tapi Mentari memberi guling di tengah tengah mereka. Ah, cuma Guling ini... Tembok raksasa saja ia akan daki, apalagi cuma Guling sekali sentil langsung hilang tuh pembatas.


""Jaga batasan, aku ingin guling ini masih setia berada di tengah-tengah."" Kode Mentari keras, takut. Bagaimana pun ia harus menjaga janinnya yang takut dapat aneh aneh dari Biru lagi.

__ADS_1


Biru mengangguk pasrah... Menurut manis terlebih dahulu baru di manisin kemudian lagi.


__ADS_2