
Pagi masih buta, Mentari melangkahkan kakinya dengan gontai menuju ke kampus yang aslinya sangat lah jauh untuk di tempuh hanya menggunakan pijaran kaki. tidak ada lagi tempat untuk di tuju saat ini selain kampus itu.
""Tinggal di mana ya, nanti ?"" Bingung Mentari yang tidak punya sanak saudara di kota metropolitan itu. ""Terus kerja di mana sekarang ? tidak mungkin aku jadi OG lagi kan bersama bang Sam, bisa bisa tuan besar marah lagi jika aku masih di area Apartemen itu."" Mentari berbalik, menatap nanar dari kejauhan gedung apartemen yang beberapa menit ditinggalnya.
Mentari menghembuskan nafas beratnya, kembali berjalan menuju ke arah kampus, ia harus berada di kampus sebelum matahari merangkak tinggi.
""Mentari.?"" Bang Sam dari ke jahuan melihat teman sesama rantauan, ia berlari cepat menghampiri Mentari dengan tumpukan koran di tangannya.
""Mentari hey, sedang apa sayang, ini masih pagi buta lho, mau ke pasar ? tumben ? bukannya biasa di super------!"" Kecerewetan Bang Sam terhenti saat melihat tas lusu yang di jinjing oleh gadis rantau itu.
""Kamu di usir ?"" Selidik Bang Sam.
""Hay bang Sam, mau antar koran ya.?"" Mentari tersenyum ceria, ia tidak menjawab pertanyaan bang Sam. menjawab jika di usir malah akan membuatnya sedih. toh... Tanpa hidup di dekat Biru pun ia masih bisa bernafas, ia masih punya anggota tubuh fit untuk berusaha menaklukkan ibu kota yang terkenal kejam, dirinya di ajarkan Amma untuk tidak bergantung pada orang. Be smart in life, itulah slogannya.
""Mau kemana ? kamu di usir?"" Tanya bang Sam lagi.
""Hehehe."" Mentari cengengesan bak orang bodoh. ""Mentari mau ke kampus bang."" Elaknya lagi namun tak sepenuhnya bohong, sebab tujuannya memang ke kampus.
Bang Sam menarik rambut Mentari sedikit kuat, sekilas. ""Eh...pipi bolong ! Walaupun Gue tidak pernah ngampus, tapi gue tahu kalau Kampus tidak ada yang buka di hari masih ngumpet. Lo mau bertemu dedemit kampus jam segini ? Gue tahu Lo lagi kesusahan sekarang."" Omel Bang Sam.
""Eum, emang ! tapi Mentari tidak apa apa kok, ya sudah ya bang Sam aku buru buru ke kampus takut telat, kan aku naik aspal ke sananya."" Mentari buru buru pergi, takut takut bang Sam masih cerewet saja dan ujung ujungnya ia juga takut jika bang Sam menawarkan job lempar koran lagi, ia tidak mau berhubungan dengan Apartemen yang di tinggali mantan Bosnya. brabe jika tuan Titan tahu.
__ADS_1
""Astaga anak itu mau tinggal di mana coba.!"" Gerutu Bang Sam. ""Mentariiiiiiii kalau butuh bantuan, Lo datang ke kontrakan gue saja ya ? gue siap bantuin Lo."" Bang Sam berteriak hingga suara lakinya ngebas. Mentari hanya berbalik dengan tangan mengisyaratkan oke dengan pipi tersenyum bolong.
Sampai di kampus, sebagian MABA sudah ada yang terlihat, Sementara Mentari baru sampai dengan nafas tersengal-sengal, mendudukkan dirinya di taman kampus, ia langsung tiduran di atas kursi panjang saking capeknya setelah berjalan sekitar dua jam tanpa henti.
""Huh, capek. mana lapar lagi.!"" keluh Mentari dengan mata terpejam di atas kursi taman panjang.
""Ini ambil.!""
Mentari terkesiap sampai ia ingin terjatuh di atas kursi.
""Kak Sadewa Abi Kusuma."" Ujarnya dengan sangat lengkap. Mentari menelan ludahnya melihat sebungkus roti yang di sodorkan oleh Sadewa. kruk...kruk..kruk.. itulah bahasa Inggris perut Mentari.
Mentari tak mau mengambil makanan milik orang, itu pasti sarapan Sadewa, mana mau ia merepotkan orang.
""Tidak kak terimah kasih, biar Mentari beli sendiri di kantin.""Bohongnya wong ia tidak punya uang, untung kuliahnya beasiswaan jadi ia masih bisa lanjut. ""Tapi ngomong ngomong kalau ada sutradara lewat emang kenapa kak ? apa kaka artis ? tapi kok Mentari tidak pernah ya melihat kaka di tv Jum di kampung, atau jangan-jangan akunya saja yang kurang nonton TV. atau Kaka cuma pemain numpang lewat ?"" Mentari menganggap serius candaan Sadewa.
Apa dia kata ? pemain numpang lewat ? Figuran dong ! Hemm... Gadis polos tidak bisa di beri candaan bisa panjang urusannya. Sadewa hanya terkekeh garing dengan keseriusan Mentari.
""Lupakan masalah sutradara dan Figuran, wajah tampan ku tidak pantas untuk kerjaan itu."" Malas Sadewa yang di anggap Figuran saja. ia bisa jadi artis Hollywood jika ia mau... Sombongnya. ""Ayo ambil roti ini."" tawarnya lagi.
Mentari menggeleng tidak mau. "Ya sudah ya kak, aku ke kelompok ku dulu mau ngumpulin tugas."" Mentari beranjak menarik tasnya kemana mana. meninggalkan Sadewa yang sedang melongo, dirinya di kacangin.
__ADS_1
Bel sudah menuntun MABA untuk menyuruh apel di lapangan. semua sudah pada berbaris di setiap kelompok masing-masing dengan tiap ketua berdiri paling depan.
Mentari celingukan ke ketua kelompok yang lainnya, Cowok semua yang jadi ketua, dia sendiri sebagai cewek yang memimpin kelompok. kemarin ia sudah menolak tapi kelompoknya memaksa, yawis lah no problem untuknya.
""Ayam sayur, mana ?"" Mentari mengangkat tangannya ke udara saat kelompoknya di sebut oleh salah satu seniornya dengan suara berat marah, mampus... apa kah salah satu dari mereka ada yang melakukan kesalahan dalam tugasnya.
""Iya kak, saya ketua dari ayam sayur."" Sahut Mentari menatap mata seniornya yang terkenal mulut pedas dengan takut takut.
""Oh, kamu.. tanyain ke kelompok mu, Siapa yang mengerjakan resume ini."" Mentari memicing ke HVS yang sebenarnya kertas tersebut adalah tugasnya.
""Itu milik saya, kak. Saya yang mengerjakannya."" Sahut Mentari.
Kak Senior yang bernama Arkan itu tersenyum meledek. ""Ck, aku tahu bukan kamu yang mengerjakannya, ayo jujur siapa, apa Sadewa ? tadi saja saya melihat kamu ada di taman, ngobrol berduaan dengan sangat akrab, kamu apanya Sadewa ? pacarnya ? atau partner ranjangnya ?."" Para MABA dan senior lain yang mendengarnya pada menaruh perhatian penuh kepada Arkan dan Mentari, Arkan dan Sadewa terkenal saling tidak suka sehingga orang yang berada di dekat Sadewa di anggapnya sama, sampah. ""Cih, lihat lah diri mu, kamu itu masih kecil tapi mau maunya menjadi budak nafsu dari Sadewa itu, pergi saja Lo jauh jauh dari negara ini, Negara ini bukan milik orang seperti dirimu. sampah masyarakat saja ! "" Ocehnya panjang lebar.
Apa lagi ini ? masalah lagi yang Mentari tidak pahami. ia sudah pusing dengan hidupnya sendiri malah di tambah masalah lagi yang tidak jelas. sampah? dirinya di cap sampai ? cih menyebalkan ! perlu di kasih pemanasan otak biar orang ganteng tapi tukang menye menye ini sedikit mempunyai otak jernih.
""Stooop..."" Bentak Mentari dengan tatapan sinisnya. ""aku akui, separuh dari tugas ku bukan aku yang mengerjakan tapi bos ku."" Arkan salah tangkap lagi dengan kata 'bos'. ""dan aku siap di hukum dengan itu, tapi asal Kaka tahu saja, anda tidak berhak untuk mengusir warga asli dari RI sendiri, siapa anda ? presiden kah ? UU no 3 tahun 1946 tentang KNI dan UU no 2 di tahun 1958 tentang Penyelesaian kewarganegaraan RI, semua Poin-poinnya mengindikasikan di sana tersendiri bahwa saya adalah warga negara setempat, itu Valid, dan anda tidak di bisa mengusir orang seperti nyamuk. Prok.!"" Mentari menepuk kedua tangannya seperti sedang mematikan nyamuk di telapaknya. dan itu berhasil membuat mata memandang kagum ke arahnya. ""Lihatlah sekarang, Sampah ini sedang mengobrol dengan anda, berarti kita sama sama sampah. dan satu lagi, aku bukan seperti yang anda tuduhkan yang seenak jidat mau mau saja di ajak yang namanya partner ranjang.!!!"" Mentari sangat menggebu-gebu dalam berucap.
Arkan menatap geram ke Mentari, ia di telanjangi di depan umum dengan kata kata Valid-nya. Gotcha, umpatnya ke diri sendiri. Cih, anak ingusan mempermalukannya. Harus di hukum.!!!
Tinggalkan jejak jempol Vote dan bunga bunga agar author lebih semangat ššš
__ADS_1