RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 201


__ADS_3

Seperti biasa, Setelah ngantor...Biru memborong ketiga anaknya juga Mentari untuk berjalan jalan. Bibir itu tak henti-hentinya tersenyum manis dan sesekali matanya melirik kesebelahnya, ada Mentari yang sedang menikmati es krim bersama Pelangi. Badai di jaga Topan bermain plosotan. Hari hari bahagia ini lah yang ia nanti Selama Mentari koma.


""Nda, Yah...Pelangi pelgi main ya.""


Setelah eskrimnya habis, Pelangi turun di kursi dan menghampiri kedua kembarannya meninggalkan Mentari dan Biru yang duduk bersebelahan.


Suasana jadi canggung untuk Mentari yang di tinggal berdua bersama Biru dalam duduknya itu, matanya sibuk mengawasi Triplets yang tak jauh di depan sana.


""Sa--saya ke anak anak ya pak !"" Mentari gugup sedikit takut di beri tatapan tak berkedip dari Biru.


""Jangan ke sana, Temani saya di sini, tugas mu juga kan ada di saya !""


""Tap--!""


""Saya merindukan Bundanya anak anak ! Jadi tetaplah di sini !"" Lembut Biru menatap lurus ke tiga anaknya, Ia membuang tatapan matanya agar Mentari tak risih.


""Kenapa anda tidak menikah saja pak, Kenapa begitu setia menunggu orang sakit sekian lamanya, Ish..Pasti Bundanya anak anak begitu cantik ya sehingga anda tidak bisa move on.""


Mata elang Biru kembali menatap wajah polos Mentari. Kalau saya menikah lagi, kamu apa kabar wanita lempeng ? Biru menoyor jidat Mentari, keras. membuat Mentari meringis dan mencibikkan bibirnya.


""Ya... Sangat cantik, sehingga wanita manapun tak bisa meluluhkan hati saya, bukan cuma sekedar cantiknya saja, melainkan di setiap inci tubuhnya adalah kehidupan ku, Jika dia tak bernafas lagi maka saya pun sampai saat ini tidak akan bernafas juga, itulah arti cinta kami berdua, tapi kalau kamu mau menjadi istri saya, dengan senang hati kayaknya deh."" Kedip Biru dengan godaannya.


Tak sadar, Reflek tangan Mentari menggenggam tangan Biru, Mata elang Biru yang terlihat menyimpan sesuatu berhasil menghipnotisnya. Darahnya tetiba berdesir hangat di dalam sana mendengar penuturan Biru, Ah.... beruntung sekali bundanya anak anak yang mendapat cinta begitu besar dari suaminya ini. Batinnya, Tapi apa dia kata ? jika kamu mau menjadi istri saya maka dengan senang hati !!! Cih, dasar....ia kan masih kecil.


Baru sebentar Biru menikmati genggaman tangan tulus Mentari, Wanitanya ini tersadar akan jeritan Badai.


""BADAI !""


Biru dan Mentari segera beranjak cepat, ada satu wanita yang berdiri dekat Badai yang terlihat di mata Mentari.

__ADS_1


""Apa yang kamu perbuat ke Anak saya !"" Suara Mentari tetiba naik oktaf, melihat Badai ketakutan akan wanita cantik ini. Di raupnya tubuh kecil itu kedalam pelukannya.


Biru sendiri jadi kaget akan kegalakan Mentari, walaupun sedang lupa ingatan tapi melihat anaknya menangis di lukai orang lain, maka tetap saja ada ikatan erat dalam batin itu yang siap menjadi pelindung anak anaknya, Biru akan diam kali ini, Ingin melihat seberapa marahnya Mentari jika anak anaknya di usik oleh orang lain, padahal ia sudah tak sabar ingin memberi pelajaran wanita ini yang berani membuat anaknya terluka di depan matanya sendiri.


""Ah, A-aku tidak sengaja menyenggol dia, Bi ! Sumpah, Sayang Topan.... Maafkan Tante ya !""


Shanum salah sasaran, ia sebenarnya ingin membalas Topan, Tapi Badai yang terkena senggolannya sehingga terjatuh keras di bagian persendian, Jika orang lain yang melihat Topan dan Badai secara sekilas, maka mereka tidak akan bisa membedakannya, sangat mirip..Hanya tahi lalat saja yang membedakan mereka, Topan memiliki tahi lalat di dagu, Sementara Badai memiliki tahi lalat tepat di tindikan hidung sebelah kiri.


Biru masih diam, hanya mata tajamnya yang berbicara ke arah Shanum.


""Sengaja tidak sengaja, anda sudah melukainya, Nona !"" Dingin Mentari memberi tatapan tak sukanya.


""Dia sengaja, Nda !"" Topan malah manas manasin, turun dari plosotan begitu santainya.


""Ya, Nda !"" Pelangi sama saja, Ingin Membuat Bundanya marah ke Badut ondel-ondel yang di juluki mereka, ia pun menyusul Topan turun dengan seluncurannya.


""Ayo anak anak, kita pergi sayang."" Lanjutnya lagi dengan suara sedia kalanya, Lembut. beranjak pergi begitu saja dengan menggendong Badai.


""Bagaimana Shanum ? Jangan pernah terlihat di mata mereka, kata Istri saya. Jadi sebagai suami yang baik..maka saya akan mengabulkannya, mulai hari ini...Kamu tidak menjadi ambasador perusahaan saya lagi...Tapi jika kamu melanggar dan masih nekad melakukan sesuatu yang aneh aneh, maka hukumannya akan fatal bagi mu, MENGERTI LADIES !!!""


Seketika Shanum bergetar akan peringatan dingin Biru yang sangat tajam masuk keindranya. Tanpa sadar...ia menganggukkan kepalanya begitu saja tanpa ada bantahan kata satu pun.


...****...


Perjalanan pulang, Mentari tetiba berkeringat dingin di sebelah kemudi Biru setelah melihat dari jalanan sebelah kiri, ada wanita hamil tua yang hendak menyeberang.


Anak anak berada di kabin belakang yang tertidur pulas di kursi itu yang sudah di modif khusus oleh Biru agar anak anaknya selalu nyaman dalam setiap perjalanan, Tadinya.... Sebagai orang tua tunggal dalam tiga tahun ini, ia harus pintar pintar dalam mengurus segala kenyamanan si kembar. ia tidak mungkin menggendong seraya menyetir tiga sekaligus bukan. Jadi mobil di kabin belakang sudah seperti kamar bergerak untuk si kembar.


""Ada apa Mentari ? Kamu tidak enak badan ?!"

__ADS_1


Biru mendapat gelagat aneh dari pergerakan Mentari, pelipis itu malah berkeringat di dalam mobil yang berAC.


Mentari tak menjawab, Matanya Hanya lurus lurus kedapan, namun tatapan itu kosong. Tangannya bergetar hebat dengan wajah itu tetiba memucat, tetiba bermimik takut.


""HULK, NGEREEEM !!! JANGAN BANTING SETIR !!!""


Mentari terpikik bergetar hebat, ia melindungi perutnya yang sebenarnya tak ada guncangan apa pun. Mata itu pun terpejam takut seraya air matanya pun terjatuh begitu deras.


""Mentari !""


Biru panik di buatnya, Ia menurut menginjak pedal remnya yang sebenarnya tidak ada apa apa di hadapan sana yang harus di hindari. menepikan mobilnya.


HULK ? Biru baru tersadar akan sapaan sayang itu yang sudah lama tak di dengarnya dari mulut Mentari. Hulk...Hulk...Hulk, Apa Mentari-nya sudah mengingatnya.


""Hiks..hiks, Perut ku, anak anak ku !"" Mentari masih terpejam takut seraya menangis dengan tangan itu mendekap perutnya yang rata.


Biru melepas seat beltnya, memegangi kedua bahu Mentari dengan sedikit guncangan, agar Mentari tersadar dalam histerisnya.


""Mentari, hey ! Mentari sadar lah, tidak ada apa apa, buka matamu !"" Paniknya masih mengguncang kedua bahu itu.


""Hiks, Hulk...Hiks..hiks, Perutku, anak anak kita ! Pe-perut ku, di ma-mana ? anak anak ku...hiks hiks.""


Mentari menangis pilu, ia ingat kejadian kecelakaan malam itu, yang membuatnya terluka, Wanita hamil tua dan perjalanan ini seakan Membuatnya Dejavu, Semakin histeris saja dirinya saat menyadari kalau perutnya sudah tidak dalam keadaan hamil lagi, di mana perutnya yang buncit seperti sapi itu, Bingungnya.


""Mentari, Petite...kamu sudah ingat sayang ?!""


Dengan tangis haru, Biru mendekap erat tubuh Mentari yang masih sesunggukan dalam mencari keberadaan isi perutnya yang sudah rata. Menciumi wajah itu tak ada henti-hentinya, ia senang luar biasa, Mentari nya sudah sembuh dan mengingatnya.


""LEPASSSS, HULK !!! PERUT KU, TWINS KU HILANG !!!""

__ADS_1


__ADS_2