RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 151


__ADS_3

Langit Senja menikmati harinya di tepi pantai dan posisi mereka sekarang ini ada di atas laut tenang berombakan kecil, berpijakan jembatan kayu yang di desain seelok mungkin.


Langit memperhatikan punggung Senja yang sedang menikmati keindahan laut dari belakang, Langit sendiri menyenderkan punggungnya di pembatas pagar dari kayu.


Bibir itu tersungging mesterius, ini saatnya untuk menguji cinta Senja, apa kah nyata ? atau kibul kibul saja ?


""Ambilkan Bintang laut untuk ku di bawah sana !"" Suruh Langit menunjuk ke dalam laut entah dalam atau dangkal, ia tidak tahu. Yang ia pikir, Senja tidak bakalan mau, pikirnya karena kaki si itik ini sedang sakit tergilir...mana mungkin bisa bertahan berenang....si itik tak mungkin mempertaruhkan nyawanya bukan demi rencana busuknya.


""Bintang Laut ? Untuk apa ?"" Senja berbalik penuh berhadapan dengan Langit, punggung itu pun bersandar di tepi pagar kayu, di sisi lainnya.


""Bukan apa apa ? karena aku suka ?""


""Benar kah ?"" Senja berbalik ke laut, menunduk kan pandangannya ke bawah air berombak kecil. ""Ini dalam tahu ? nafasku mungkin kuat bertahan sedikit lama di dalam sana, tapi ku pastikan kaki ku yang cedera tergilir akan keram dalam beberapa menit saja."" Jelas Senja ragu akan kakinya yang sedikit terasa sakit akibat keseleo.


""Ya sudah kalau tidak mau, nanti aku bisa cari sendiri tapi di tempat lain, ayo kita balik.!"" Langit beranjak melangkah ingin meninggalkan tempat.


Senja masih tak bergeming... matanya membidik punggung Langit dan air laut bergantian.


Brrryuuk.


Suara itu di buat oleh Senja yang langsung melompat ke dalam air, Langit berbalik...berlari ke tepi di mana posisi Senja tadi berdiri... Sekarang hanya tas kecil Senja yang berada di samping Langit tergeletak begitu saja di sampingnya.


""Senja, kamu menuruti permintaan ku, dasar gadis Bodoh."" deliknya ke air yang masih terlihat agresif ulah pergerakan Senja yang sudah tak terlihat di darat.... sepenuhnya, Senja sekarang lagi menyelam... menghiraukan kakinya yang mungkin saja benar benar akan keram karena dalam keadaan tidak stabil.


Sepuluh menit, Senja masih di dalam sana... Langit menghitungnya dalam pergerakan jam di pergelangan tangan, di sebelahnya sudah ada wanita bayaran untuk melancarkan usahanya.


Lima belas menit, hati Langit sudah mulai tidak tenang. "Shi* , Apa Senja baik baik saja di dalam ? oh, tidak...... jangan jangan kakinya benar benar keram sekarang !"" Langit mencopot kasar mantelnya, berangsur ke tepi, Saat ingin melompat, Laut kembali agresif ulah Senja yang mulai muncul terlihat....nafas Langit terdengar lega, ia kembali datar menepis wajah kecemasannya.


""Aku menemukannya mendung, ini buat mu !"" Teriak Senja di dalam air dengan tangan menangada membawa satu Bintang laut yang di inginkan Langit.

__ADS_1


""Naik lah !"" Ulur tangan Langit. Senja meraihnya.


Basah kuyup, keadaan Senja kali ini. lekuk tubuh indah itu pun terlihat jelas di mata Langit. Dengan cepat, Langit memberikan mantelnya untuk Senja kenakan.


""Terimakasih, dan ini yang kamu minta !"" Senja mengenakan mantel Langit asal asalan tanpa masuk ke dalam tubuhnya. matanya baru menyadari kalau ada wanita Jepang berdiri di belakang Langit. mungkin itu pengunjung ? Pikirnya tak mau pusing.


""Kamu memang hebat itik, Terimakasih....aku akan mengambilnya tapi sebenarnya Bintang Laut ini untuk wanita yang sekarang berdiri di belakangku."" Langit begitu santai, tersenyum manis memberikan Bintang Laut itu ke wanita cantik yang entah siapanya Langit.


Deg...


Jantung Senja berdentam sakit...Langit begitu jahat melukai hatinya terang terangan....Ia bersusah payah di bawah sana, menahan nafasnya di bawah laut dan juga menahan rasa sakit di kakinya, serta sekarang diri nya lagi kedinginan hebat....tapi apa ? Apa si Mendung ini kata ? Buat wanita asing yang ada di belakangnya ? Cih.... Hebat ! Hebat sekali kau Senja ? hebat bodohnya ! Rutuknya kesal. Ia masih terima jika Langit mencacinya dengan kata kata kasar, mengatainya wanita licik pun ia masih terima....tapi kali ini.... Langit benar benar mengudara mematahkan hatinya...ia tidak terima itu, sungguh.... sangat sakit kali ini dengan perbuatan si Mendung.


""Lo----haa !"" Terlalu geram, sampai caci itu tertelan kembali karena sesak di hatinya... cintanya sangat lah membuatnya bodoh juga terlihat hina, Ya hina....mau mau saja di perlakukan seenak jidat oleh Langit. ""Aku menyerah....sungguh, hati ku sudah terlalu perih saat ini... sampai di sini perjuangan ku untuk meyakinkan mu. Terimakasih !"" Mata Senja berair kecewa dan merasakan sakit. ia beranjak pergi cepat meninggalkan Langit yang menatapnya misterius... Tidak, Langit menatapnya penuh binar dengan senyum manis terlukis... entah apa artinya senyuman manis itu...ia tidak perduli.


""Senja ! tunggu !"" Kejar Langit


Senja menulikan telinganya, berlari cepat biar cepat sampai ke hotel.


""Hey, ngapain kamu ?"" Langit yang baru sampai melihat Senja berbenah jadi terkejut.


""Mau pulang dan mengakhiri semuanya !"" Ketus Senja tanpa menoleh.


""Tidak bisa !"" Langit merebut koper Senja, melempar koper itu ke atas Lemari tinggi.


""Mendung !"" kasar Senja mendorong dada Langit.


Bukan hanya koper, Langit juga mengambil paksa Paspor Senja di dalam tas kecil itu, tanpa Paspor... Jangan harap bisa balik.


"" Langit ! apa mau Lo, hah ? bukannya Lo menginginkan gue pergi dari hidup Lo, Gue turuti...Lo bebas !"" Senja berusaha merebut paspor nya, dengan cara meloncat loncat karena si mendung ini menangadakan ke udara setinggi tinggi tangannya yang sedikit mencondong kebelakang Kepalanya. Jarak mereka terkikis sudah, sangat dekat. bahkan tubuh itu saling bersentuhan dalam aksi berebutan.

__ADS_1


""Mau ku.....Aku menginginkan mu, aku juga mencintaimu."" Serang Langit tepat di bibir Senja.


Senja meronta sebisa mungkin....ia ingin terlepas dari pangutan si mendung yang menahan tengkuknya....Ia ingin menabok kepala Langit dengan kuat, sekuat kuatnya. Pernyataan bodoh, Aku juga mencintai mu ? cih.... Setelah mematahkan hatinya barusan, kenapa baru muncul kata manis itu....apa Langit sengaja ingin memporak porandakan hatinya, mengobok-obok hatinya sesuka hati...sial benar pria satu ini.


Senja membalas pangutan Langit, beralibi ! sejurus kemudian ia menggigit kuat bibir Langit.


""Ishk..!"" Ringis Langit memegangi bibirnya..."" Aih, Itik... kamu membuat ku berdarah !""


Plak....


Bukan empati yang di dapat kan Langit, melainkan tamparan keras dari tangan mulus Senja.


""Hati gue lebih sakit dari bibir Lo itu, hati gue lebih sakit dari pipi Lo itu."" pukas Senja kesal dengan mata memancarkan sakit. ""Lo jahat tau nggak, apa maksud Lo hah ? kenapa Lo nyatain kata manis tadi setelah menghancurkan hati ini. Gue benci Lo, Gue benci Lo, Langit...Lo jahat... sangat jahat !"" Senja dengan brutal mencaci Langit dan juga memukuli dada Langit menggebu. Langit sendiri hanya diam... membiarkan Senja memukulinya... membiarkan Senja mengeluarkan kekesalannya...ia sadar sudah salah tidak mempercayai cinta Senja sebelumnya, ia sadar tadi, sudah menghancurkan hati Senja di tepi Laut... bodohnya, dirinya... kenapa baru menyadari kalau Senja begitu tulus mencintainya....Senja rela menyemplung ke laut demi membuat dirinya senang.


""Maaf !"" Hanya kata tulus itu yang lolos dari mulut Langit. "" Tadi aku hanya ingin membuktikan cinta Lo doang ! itu saja.... tidak lebih.""


""Hahaha... hebat !"" Senja tertawa mengejek. ""Bravo atas uji coba Lo tadi, bravo sudah berhasil membuat gue patah ! bagaimana dengan hasilnya...Puas ?""


Setelah tertawa mengejek, Senja berlalu menuju pintu keluar ! Hanya Satu tempat agar Langit tidak menggangunya saat ini....kamar adiknya....si mendung tidak akan berani masuk karena adanya Biru. ia butuh pikiran jernih untuk berpikir.


""Hey Senja...mau kemana ? ini sudah mau malam !"" Langit menahan Senja, memeluk tubuh semampai itu dari belakang.


""Lepas nggak !"" Ketus Senja.


""nggak !" kekeuh Langit.


""Lepas atau tidak ada maaf lagi !"" Ancamnya.


""Ok, Ok....gue kalah..! Tapi marahnya jangan lama-lama, ayolah Senja ! tadi di tepi pantai aku hanya----""

__ADS_1


Senja menginjak kaki Langit, tak menghiraukan penjelasan si Mendung ini, ia ingin tenang terlebih dahulu.


__ADS_2