
Menunggu, Semua masih menunggu persalinan secara Caesar Mentari di depan ruang Operasi, Vane di temani Bintang baru tiba. Orang tua itu langsung berhambur memeluk anaknya yang berdiri bak patung dengan penampilan berantakan serta masih terlihat kosong.
""Biru ! Sabar ya !"" Bintang menepuk pelan pundak Biru. Ini pertama kalinya sebagai sepupu serta sahabat dari orok melihat wajah tampan itu bersedih akut.
" Bagaimana dengan Mantu dan kedua cucu Mama, di mana mereka sayang ? mereka baik baik saja kan ?""
Biru masih tak menyahut, dalam pelukan Vane pun, matanya masih lurus lurus ke lampu operasi yang masih menyala.
""Ma !"" Titan menarik lembut Vane dari pelukan Biru. Memeluk istrinya itu seraya menjelaskan keadaan sesungguhnya.
""Kenapa begini ?""keluh Vane, Hatinya sakit perih melihat anaknya yang tengil manja sekarang terlihat seperti orang linglung.
""Senja, Kamu pulang saja... Langit ! Bawa istri mu pulang, tidak baik orang hamil kecapean. Bawa mertua mu juga pulang ! Om akan menunggu di sini.""
""Tidak !""
Rose dan Senja kompak membantah Radja, Mereka menolak pulang. Langit tak bisa berkata apa-apa, Senja sangat keras, dia susah di beri tahu.
""Aku masih mau di sini, jangan mengusir ku Radja."" Sembur Rose. Jum mengusap usap punggung Rose yang duduk di sampingnya, menyuruh Rose untuk sabar dan tenang. Sementara Radja memilih diam kembali.
"Senja, kamu pulang sana.. pikirkan kesehatan bayi mu juga....Atau kamu juga mau menambahkan kesedihan untuk amma jika kamu dan cucu Amma yang masih dalam perut mu, kenapa-kenapa ? pulang sana ! Amma akan tetap di sini menunggu adik mu !""
""Tapi Am---!""
""Pulang !"" Usir Telak Rose.
__ADS_1
""Baiklah !"" Pasrah Senja mengerti.
Akhirnya Langit sedikit bisa bernafas lega, si keras Itik begitu patuh dengan mertuanya. ia pun pergi membawa Senja di rangkulannya.
Hening ! Tak ada yang bersuara cukup lama di lorong itu, Mereka pada sibuk berdoa dalam diamnya masing-masing.
Keheningan itu di buyarkan oleh suara pintu yang baru terbuka, Dr Anita keluar masih lengkap dengan seragam bedahnya, Hanya masker medis yang ia sisi kan di bawah dagunya.
Aduuuh....Dalam hati, Dr Anita meringis....mata tajam semua orang menatapnya penuh harap akan adanya kabar gembira yang di bawahnya.
""Nit ?!"" Akhirnya Biru bersuara, namun suara itu sangat dingin.
"" Kabar baiknya ada dua ? Bukan Twins tapi Triplets, yang aku juga kaget akan hal itu selama dalam cek up rutin Mentari, tidak ada tanda-tanda Triplets..itu kuasa Allah. Triplets mu sudah selamat bernafas Semua, Bi ! Dua boy dan satu girl !"" Jelas Dr Anita.
Rose pun menangis haru, tapi di dadanya masih sesak mempertanyakan keadaan Mentari dalam tangisnya. Entahlah...ia harus senang atau harus sedih.
""Dua kabar buruknya ? Triplets mu sangat kecil kecil, jauh dari berat kata normal ! Mereka sigap ditaruh di inkubator khusus bayi bayi prematur di ruangan NICU agar jauh dari bakteri yang bisa menyebabkan penyakit kuning dan sebagainya. Kabar buruk yang kedua... Karena Mentari dalam komplikasi kehamilan menjalankan operasi, Sempat jantungnya berhenti berdetak, Tetapi Setelah bayi bayi mu di lahirkan, Alhamdulillah jantung itu kembali bekerja, Tapi maaf... Karena kurangnya oksigen di otaknya, Mentari jatuh koma !"" imbuhnya.
Deg....Deg....Deg...
Jantung Biru rasanya bekerja dengan sangat lemah, Mendengar kabar buruk kondisi kesehatan Mentari. Koma ? Petitenya Koma ! Astaghfirullah bagaimana hidupnya kelak kalau Mentari sebagai penerang hidupnya kenapa kenapa. rasanya akan hampa dan hambar.
ini salah ku, ini salah ku. Biru menyalahkan diri sendiri yang tidak bisa menjaga keselamatan Mentari sehingga berakhir begini. Saking kalutnya, Biru sudah meninju ninju tembok sehingga buku buku tangan itu berdarah darah.
Farel dan Satria mencoba menghentikan aksi Biru, Tapi mereka tidak bisa. Bintang yang melihat itu, malah menampar adik sepupunya. dan menarik tubuh Biru ke pelukannya.
__ADS_1
""Bi, aku pun pernah berada di posisi mu sekarang, Dirgan-suamiku pun hidupnya pernah di ujung tanduk. Tapi percayalah...Mentari pasti akan baik baik saja, Istrimu pasti melewati masa-masa komanya, Kamu harus ingat Bi...Kamu sekarang sudah menjadi bapak dari si kembar, kuatkan dirimu demi bayi bayi mu."" Bintang berupaya memberikan pengertian, Tapi ia mengerti itu sangat sulit di jalankan.
""Bintang ! istri ku, Bin ... Mentari, Mentari tega sekali menghukum diriku dengan cara seperti ini. Aku rela di pukuli oleh Mentari asalkan dia tidak tidur lama, aku rela berbuat apapun demi dia Bin, Aku...hiks..hiks...ini salah ku, Bin ! semuanya salah ku !""
Tumpah...Air mata yang di tahan oleh Biru sekarang sudah membanjiri pipinya di dalam pelukan hangat Bintang, tak perduli dengan pemikiran yang lainnya terhadap dirinya yang di anggap laki laki cengeng, Hatinya remuk berkeping-keping sehingga air mata itu tak dapat di tahannya.
""Kamu tidak salah, Biru ! ini sudah jalannya !"" Usap Bintang di punggung Biru.
Rose semakin sesak, Nafasnya tercekik terasa, dia tersenyum getir dengan pipi banjirnya. Sungguh kejam permainan mu, Tuhan ! Tapi apalah daya, kami sebagai umatmu hanya bisa pasrah akan kehendak mu, tapi kalau masih bisa di tawar... berilah kehidupan untuk anak ku, cukup sudah engkau mengambil dua orang terkasih ku. Keluh Rose tak berdaya.
Tidak ada yang tidak menangis, Semua sedih sesak...Jum beranjak pergi tak kuat menahan sesaknya. Sahabat rasa saudaranya terbaring lemah.
""Bi, Semuanya ! kalau kalian ingin melihat bayinya... Datanglah ke ruangan NICU, Tapi maaf... kalian hanya bisa melihatnya dari luar jendela saja dan itu demi kesehatan bayi yang terlahir prematur. dan Mentari sebentar lagi akan kami pindahkan ke ruangan ICU, Permisi !"" Pamit Dr Anita.
Biru tetiba di tuntun paksa oleh Bintang, Yang lain hanya diam dalam kesedihannya.
"" Sus, Bayi yang baru lahir atas nama ibu Mentari, Yang mana bayinya.""
Bintang bertanya ke suster penjaga ruangan NiCU. Dan sang suster pun, membuka gorden agar keluarga bayi bisa melihatnya dari balik kaca bening.
"" Hanya ada tiga bayi di dalam sana, ibu ! Dan itu adalah bayi dari ibu Mentari dan juga atas nama bapak Sagara."" Jelas sang suster, beranjak pergi Setelahnya.
"" Lihat lah bayi bayi mu, Kamu jangan bersedih terlalu lama, mereka ada untuk menjadi penyemangat mu. Mentari pun akan marah jika kamu bersedih dan menyalahkan diri sendiri, apalagi jika kamu tidak mengurus anaknya dengan baik."" Bintang mencoba memicuhkan api semangat hidup Biru yang ia yakini kalau Biru saat ini berada di titik-titik terendah.
Anak anak ku ! Berangsur tangan Biru meraba dinding kaca, hatinya sedikit teduh melihat ketiga bayinya di balik inkubator. Kita akan menunggu Bunda mu, nak ! Doakan kesembuhan Bunda mu agar kelak nanti, kita bisa tersenyum hangat dalam canda tawa bersama ! Amiiin !!! Tes... air mata sedih juga haru menetes tercampur di mata Biru.
__ADS_1