
"CK, Bagaimana gadis ini kagak pingsan, wong isi perutnya saja kosong, sepertinya dari semalam belum terisi. Gila !!!"" Dokter Farel menggelang geleng kan kepala, Anak muda zaman sekarang lebih memilih mengisi Kouta ponsel lanjut berstatus lebay di sosmed dari pada mengingat isi perut sendiri, pikirnya. dan pantas saja tadi ia di suruh Biru bersuara Langit menyuruhnya membeli bubur terlebih dahulu.
""Mungkin gara gara semalam setelah---?"" Biru terdiam, Hampir saja ia keceplosan jika semalam sedang memperebutkan piala berjalan.
""Setelah ?!!"" Dokter Farel penasaran menaikkan satu alisnya, tiba tiba saja Biru menghentikan ucapannya.
""Bukan urusan Lo.!"" Sembur Biru ganas.
"" Etdah, Galak bener sih Lo ?""Dokter Farel menendang kaki Biru. Biru ini jika mode galaknya sedang On memang nyeremin banget.
Tiba tiba terdengar suara lenguhan lemah dari Mentari. Rasa rasanya kepalanya berdentam dentam, Berat dan pusing sekali. Mentari membuka matanya perlahan, ia kaget saat menoleh kesamping ada seorang dokter simpatik yang telah menatapnya seraya tersenyum. Mentari tahu jika laki laki berkharisma ini seorang dokter dari melihat pakain jas khusus di tambah ada stetoskop yang menggantung di leher.
""Ade manis rupanya sudah bangun ! apa ada keluhan hebat yang di rasakan ?"" Tanya Dokter Farel selembut sutera yang membuat Biru ingin menyembur teman kuliahnya dulu, lagi. Jangan bilang setelah Langit mundur ada persaingan baru dari Dokter tampan santun seperti Farel ini.
""Tidak apa apa dok, saya hanya sedikit pu-----Huaaaa."" Mentari terkesiap hebat saat menoleh ke sisi sebelahnya, ada Biru yang sedang bersedekap dada seraya menatapnya yang susah di baca. Aduh amma...Gusti...Rasa rasanya Mentari kepingin pingsan lagi. ia kan lagi menghindar dari Biru sekarang, Tapi.... lihatlah, Si tersangka ada di depan mata dengan jarak begitu dekat.
""Dengar ya gadis Petite ! Jangan coba coba ingin pingsan lagi atau kabur setelah melihat saya, ya ! Kalau itu yang ada di pikiran mu, maka saya akan menyuruh Dokter Farel menyuntik mati kamu, Mau ?!"" Biru melototi geram Mentari setelah Gadis itu melihatnya, wajah manis pucatnya bertambah pias saja. Jangan berani berani untuk kabur lagi. itulah arti dari plototannya.
""Etdah Buset, Lo pikir gue dokter apaan, sehingga mau mau saja menyuntik mati anak orang, Saringan kata kata Lo rupanya sedang bolong longgar ya, atau bagaimana sih ? Cih !!!."" Dokter Farel kali ini meninju lengan berotot Biru. Biru hanya datar. Dan setelah memberikan pengertian kepada Mentari untuk menjaga pola makan dengan benar dan catatan tidak boleh terlalu capek, Dokter Farel berpamitan untuk kembali ke rumah sakit yang sebelumnya meninggalkan pasien dengan perawatnya setelah mendapat telpon khusus dari pak Radja, mantan dosen killer yang sekarang menjabat rektor di Universitas ini.
Mentari tak mau bersuara, Biru meraih plastik yang berisi bubur ayam yang di beli oleh Farel tadi. Setelah membantu Mentari duduk di atas brankar, Biru membuka Styrofoam bubur ayam.
__ADS_1
""Makan ! tadi dengar kan kata dokter, kamu harus makan !"" Titah Biru.
Apalagi ini, Bubur ayam ? Mentari itu tidak suka bubur, ia tidak suka makanan yang bertekstur seperti MP-Asi yang di giling, ada pikiran jijik tersendiri jika melihat makan makanan seperti itu. Mentari malah merasakan mual, ia menggeleng tanda tidak mau makan.
""Kamu tidak mau makan setelah dokter Farel membelikan khusus untuk mu di luar pekerjaannya, hargai sedikit kebaikan dokter Farel. sedikit saja, ayo makan."" Biru tidak suka melihat Mentari jatuh sakit lagi, ia memberikan tatapan intimidasinya supaya Mentari menurut manis, Biru paham jika Mentari marah kepadanya perihal semalam, tapi tolong.... jangan siksa diri sendiri untuk tidak mengisi cacing cacing perut. Berabe nanti.
Setelah mendapat gelengan Mentari lagi, Biru semakin geram tertahan. Makan aja susah benar.
"" Fine, Aku akan memaksamu makan dengan cara ekstrim ku, khusus untuk mu."" Biru memasukkan sesendok penuh bubur kedalam mulutnya, ia kemudian memegang kuat rahang Mentari setelah bubur yang tadinya di dalam mulut di taruh di sendok lagi, Biru memaksa membuka mulut Mentari untuk makan dengan bekas dari mulutnya.
Wajah merah Mentari seketika menjadi menghijau ingin memuntahkan bubur bekas dari Biru, Tapi bagaimana mau Muntah, Si Biru Emosinal ini menahan rahangnya terus, dan mau tidak mau Mentari menelan susah payah bubur itu tanpa di kunyah dahulu, Mata yang tadinya merah karena demam kini malah mengembun gara gara menahan mual.
""Bagaimana cara ku ? apa masih menolak makan dengan cara normal ? apa mau di suapin lagi melalui media mulut ku ?"" Biru tersenyum tipis saat melihat kepala Mentari menggeleng, Otak somplaknya tiba tiba saja memberikan ide konyol perihal cara memaksa orang untuk makan. Namun ia kembali mendengus kesal, Mentari belum juga berniat menyentuh buburnya.
""A---ku bisa makan sendiri.!""
Mentari langsung menyuapkan sesendok penuh kedalam mulutnya dengan cepat cepat tanpa mengunyah ia langsung menelannya, Sampai ia nyaris tersedak.
""Pelan pelan Petite, nikmati tekstur dan rasanya. aku tidak akan meminta makanan mu ! Kata Biru menatap aneh Mentari.
Wajah Mentari kembali menghijau menahan mual yang kembali menyerang saat Biru mengatakan Nikmati teksturnya.
__ADS_1
""Kenapa ? kamu tidak suka bubur, kah ?"" Tanya Biru aneh.
""Ti-tidak.?""
""Kenapa ?""
Mentari mengedipkan bahu. ""Bubur itu seperti makan bayi, teksturnya sangat tidak banget."" Jelas Mentari jijik.
""Oke, Setelah Mendengar titik permasalahan kamu, aku makin berniat untuk memaksamu menghabiskan bubur itu hingga tetes terakhir, Dengar ya Mentari..Hadapi semua masalah mu tanpa ada rasa takut untuk menghindarinya, jika kamu terus menghindar maka masalah itu akan terus mengejarmu kemana pun dirimu akan kabur."" Petua Biru penuh maksud untuk menanamkan jiwa kuat Mentari ""...Dan tanamkan di otak mu, jika bubur ini adalah makanan enak bukan makanan yang entah makanan apa yang ada di pikiran mu itu."" Biru kembali menyuapi Mentari sesendok penuh tapi dengan cara normal tanpa embel-embel memakai media mulut.
Mentari menurut paksa, percuma menolak pun tidak akan berhasil mengalahkan sifat luar biasa menyebalkan Biru. Di kunyah perlahan bubur itu, rasanya.... tidak buruk, Enak ! ia malah menikmati setiap sendok demi sendok yang tadinya merebut sendok bubur itu dari tangan Biru. ia menolak kebaikan Biru setelah kejadian semalam.
""Bagus ! habiskan dan minum obat setelah ini."" Ujar Biru senang melihat tingkah menggemaskan Mentari. Tadi susah untuk makan, eh...ini malah doyan banget.
Apa lagi ini ? Obat ? aduh... Mentari kembali tidak nafsu untuk makan mendengar kata obat, Satu Obat warung dari Bang Sam Sebelum berangkat kuliah di tolaknya, ini malah melihat beberapa lembar obat terletak di meja. membuat wajahnya kembali pias.
Biru menyeringai mendapat gelagat aneh dari Mentari.
""Bagus, coba katakan jika kamu pun tidak bisa minum obat secara normal, Kali ini kamu akan menelan obat dengan cara melalui media mulut ku lagi, bahkan tanpa embel-embel pakai tangan atau pun pakai sendok melainkan kamu akan langsung mengambil dari mulut ku langsung menggunakan mulut mu, Bibir ketemu bibir, Mau.?"" Ancam Biru tersenyum tertahan.
Dengan cepat Mentari mengambil obat itu untuk di sembunyikannya Sebelum cara gila Biru kembali terlaksana. rasanya, ia ingin sekali menutup mulut Biru pakai lakban yang mengumbar Saliva asal asalan masuk kedalam mulutnya.
__ADS_1
""Aku bisa minum obat !"" Bohongnya, padahal dari dulu jika minum pil bukannya masuk tertelan malah kembali muncrat keluar dan kadang kala nyangkut di tenggorokan, pahit. Aduh...sore yang panjang untuk Mentari hari ini. Ingin sekali ia menghilang dari hadapan Biru sekarang...Jin 7 6, Mentari memanggilmu ingin membuat permohonan pertama....
Vote dan like serta Bunga bunga š¹šš