RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 154


__ADS_3

Malam terakhir hon hon Mentari dan Biru di negara orang, Mereka menikmati indah malam ini dengan saling berbagi kehangatan dan kenikmatan gugusan bintang.


Berbeda di kamar sweet room Langit dan Senja.... Langit kualahan di buat oleh kelakuan Senja yang sedang mabuk berat, mending hanya meracau....ini Si itik meracau plus ber-Action konyol.


""Senja, Stup up, Ok !"" Langit berupaya menghentikan kekonyolan Senja. Istrinya itu meracau halu yang seakan akan menyaring ikan besar menggunakan jala...jalanya di sini adalah seprai putih yang di tarik paksa yang bertengger rapih di kasur, dan ikan besar yang di target Senja adalah tubuh kekar Langit....kini berantakan sudah akan ulah Senja. Senja bagaikan pelaut handal saat ini.


""Hey kalian..!"" Tunjuk Senja ke wajah Langit yang terlihat banyak di matanya, kepala itu seakan bercabang seperti Rahwana. Posisinya kini...Senja berada di atas kasur berdiri dengan seprei putih di tangan, sedangkan Langit berdiri di lantai dengan kacakan pinggang, menatap prustasi akan kelakuan Senja yang luar biasa bikin kacau berantakan. Jangan harap ada adegan hon hon, Langit mendekat saja di hadiah tendangan dari Senja... Tidak mungkin kan, Langit membalas tendangan juga, bagaimana pun, ia mencintai gadis konyol ini.


""Senja, ayo turun...ini sudah malam, besok kita akan pulang, jadi istirahat sekarang juga."" Langit maju satu langkah. membujuk orang yang sedang meracau kehilangan kesadaran jernih.


Hap....Satu langkah itu di hadiahi lemparan jala bin seprei oleh Senja, mengembang sempurna hingga menutupi seluruh tubuh Langit yang berdiri di sisi kasur. ""Hahahaha, ikan Besarnya dapat..!"" Senja dengan sigap membekap tubuh Langit yang tertutup sempurna dari seprei, Langit yang tak melihat apa apa terjatuh ke lantai akibat tubrukan Senja yang brutal. dan si Itik sekarang membekap tubuhnya seperti pegulat smackdown, biar ikannya tidak kabur, pikirnya. ""ABK ayo kita eksekusi ikan besar ini, masukkan kedalam gentong pendingin."" Racaunya yang entah siapa yang di sebut ABK atau anak buah kapal, Hanya senja yang tahu.


Langit meronta di dalam sana. ""Itik, minggir dari tubuh ku, Nafas ku tidak nyaman, aah...kamu benar-benar ya... nyebelin."" Dengus Langit yang susah bergerak karena ribetnya seprei yang berbelit di tubuhnya plus ada Senja yang sekarang duduk di atas perutnya.


""Diam ikan besar ! Sabar sebentar, aku ambil pisau dahulu untuk memutilasi daging mu !""

__ADS_1


Langit membulat kan mata di balik sana. Gila si Itik, mutilasi ? parah deh Ah...""Senja turun, atau kamu akan jatuh !"" Langit bisa saja bangun, tapi ia takut Senja terbentur jatuh ke lantai akibat pergerakan kasarnya...ia tidak mau itu.


""ABK.... Kalian di mana ? ambilkan pisaunya !"" Dengus Senja konyol. Tak ada respon dari kehaluannya, Senja bangkit dari tubuh Langit, ia beranjak sempoyongan ke nakas untuk mengambil sesuatu sebagai pisau untuk mengeksekusi tubuh Langit.


Langit yang merasa tidak di duduki lagi, dengan cepat membuka seprei yang berbelit di tubuhnya. dengan cepat pun, ia membekap tubuh Senja dari belakang.


" Ikan betinanya kena !""Ledek Langit mengunci tubuh Senja mepet ke tembok.


Senja menggeleng kan Kepalanya yang berdenyut denyut. "" Ikan ? mana ikannya...Hey ikan ku terlepas lagi, kamu sih ! Siapa sih kamu hah ? minggir aku i---eh apa kamu ikan besar ku ? kok berubah...Putra duyung kah ? Tampan sekali....Hey, wajah mu mirip dengan si Langit mendung itu."" Senja mengerjap ejapkan matanya, sehingga bulu mata lentik alami itu bermain cantik mengikuti alur Senja.


"Aku memang Langit yang tampan tiada Tara, Aku Suami mu, jadi ayo kita tidur !"" Langit menggendong paksa tubuh Senja yang kembali meronta akibat ucapannya....apa ada yang salah dari ucapannya ? Entah...Si itik memang tidak bisa di tebak... orangnya licin seperti belut.


Langit yang mendengar Hanya bernafas berat, Ia menurunkan tubuh Senja ke atas kasur. Dengan cepat ia menindihi tubuh Senja, agar si itik ini tak bisa berkutik yang masih saja liar seperti belut licin.


""Tidur lah !"" Tekan Langit. Orang mabuk di perintah ini itu tak bakalan nurut. Senja masih tak mau diam dalam bergerak, padahal tubuh semampai itu sudah di ditindihi oleh badan kekar Langit.

__ADS_1


shi*. Umpat Langit, Senja bergerak liar kesana kemari malah membuat hasratnya naik.


""Senja diam tidak ?"" Ancamnya dengan nada mulai naik satu oktaf.


""Huawaaa."" Senja malah menangis mendengar nada bentakan. ""Kamu jahat seperti si mendung itu, Apa kamu tahu, dia itu sangat jahat, sudah mematahkan hati ku, Dia bahkan selalu menghina ku, Hati ku sakit di buatnya...Tapi aku sangat mencintainya...Namun..dia tidak ! Aku harus bagaimana ? ayo katakan ! aku harus bagaimana ?!"" Senja menarik kerah baju Langit untuk lebih mendekat lagi ke wajahnya. Membuat Langit semakin omes kemana mana, Tapi sebisa mungkin, ia tidak mau merusak wanita mabuk ini, Walaupun sudah sah, ia akan bersabar, menunggu persetujuan dari Senja. ""Aku akan pergi dari hidupnya, bagaimana ? ide ku bagus kan ?! Tapi aku tidak bisa ? karena aku menginginkannya. ayo beri masukan mu, duyung !"" Racaunya di hadapan wajah Langit, Sehingga bau alkohol dari mulut Senja berhamburan menerpa wajah tampan Langit.


""Beri dia kesempatan...Dia juga mencintai mu, percaya lah ! Dia begitu karena Mengira...kamu adalah wanita licik yang buruk hati, Tapi dia sudah sadar kok, dia sudah sadar akan cinta mu itu adalah nyata !""Sugestinya. Langit malah kesusahan nafas, Senja yang tadinya hanya mencengkeram kerah bajunya, kini malah memeluk leher itu hingga tenggelam di Curug leher Senja, di bikin guling pula.


Wangi tubuh Senja semakin membuatnya gila, Langit mengecup leher putih itu hingga membekas tanda merah di sana.


"" Shi* "" Umpatnya tersadar...Hampir bibir itu beralih ke gunung Senja yang sudah terlihat belahannya karena baju kecil Mentari yang di kenakan .


"Senja lepaskan , aku pria normal ya....bisa ku makan dirimu tanpa menunggu persetujuan terlebih dahulu." Langit dengan kasar menarik tangan Senja yang bertengger di lehernya. di bawah jeruji kain, sudah ada yang mengeras minta di lepaskan.


Senja sendiri sudah terpejam rapat. ""aaih, tak bertanggung jawab... sudah memancingku malah sudah bernafas teratur."" Gerutunya bangkit menjauh dari tubuh semampai menggoda seksi ini. Langit langsung menutup tubuh Senja rapat rapat sebatas leher agar aman dari mata nakalnya...Bahaya nanti !

__ADS_1


Senja, Wanita pertama yang membuat seorang Langit yang notabenenya pemain handal dalam bercinta, berpuasa bersabar ! Bisa saja Langit menerkam tubuh seksi ini dengan sangat gampang, apalagi sedang mabuk.... Tapi...Ia di sini tak ingin membuat Senja semakin membencinya dan amit amit Senja benar benar akan pergi dari hidupnya.


""Harus berendam air untuk meredakan rasa panas ini."" Sebelum beranjak dari sisi Senja, dengan nakal... Langit mencicipi bibir seksi itu sedikit lamutan. Kapan lagi bisa menyosor tanpa ada perlawanan terlebih dahulu, pikirnya nakal.


__ADS_2