
Praaaang...
Perdebatan Senja dan Langit juga Mentari, yang ke duanya selalu di sudut kan oleh Senja terhenti saat Gema baru saja masuk setelah mengantar Dr Farel keluar rumah yang baru saja memeriksa keadaan Gemi.
Jum dan semua nya terkejut hebat saat Gema mengamuk sendiri dengan barang barang yang ia lewati di hancurkan semuanya.
""Gema !!!"" Seru Radja di buat stress dengan masalah hari ini. "" apa kamu juga ada masalah hah ? ngamuk tidak jelas begitu, sekalian saja rubuhkan rumah ini. dan kalian bertiga, diam dan jangan berantem terus !"" marahnya ke Senja dan Mentari juga Langit. Sedari tadi Radja mendamaikan Ke-tiganya malah tak di dengarkan sama sekali karena Senja hari ini kehilangan kesabaran yang biasanya tenang menghadapi masalah, Senja marah karena di sini yang menjadi affair nya Langit adalah adiknya sendiri. Bilang lah ia sekarang lagi buntu dan bodoh dalam berpikir. Dan itu karena mata dan hatinya langsung di tusuk akan foto foto intim kedua orang terdekatnya. apalagi foto foto tak senonoh itu adalah nyata bukan editan yang sudah di ceknya
""Papa, Masuk ke kamar Gemi dan intimidasi dia agar membuka mulutnya, siapa ayah dari kandungannya sekarang. Gemi hamil !"" Jelas Gema gusar. Rahangnya mengeras menahan marah, ia gagal menjadi seorang Kaka untuk adiknya.
""HAMIL ?"" kaget Radja dan semuanya. Dan seketika mereka berhambur masuk kedalam kamar Gemi. Bang Sam paling belakang ikutan sedih melihat masalah keluarga besar Mentari.
""Siapa ?""
Gemi yang baru sadar merasa bingung akan banyak orang yang sekarang menatapnya. Apalagi Papanya terlihat menggelutukkan giginya menahan marah. Gemi hanya diam menaikkan satu alisnya ke Jum yang berada di sampingnya. Siapa ? apa maksudnya ?
""Papa bicara apa sih ? Siapa ? apanya ?"" Aneh Gemi.
""Siapa ayah dari anak yang kamu kandung sekarang ?"" Tekan Radja menahan marah, suaranya pun bergetar, anaknya sudah rusak. batinnya.
""Kandung ? A--Aku ha-hamil ?"" Gemi mengumpat kasar di dalam hati saat Jum mengangguk akan pertanyaannya, tangannya di balik selimut mengepal kuat. ini lah yang ia takutkan ternyata terjadi juga.
""Tidak, itu tidak mungkin, aku hanya sakit biasa Pa, Gem, Amma... Semuanya. percayalah, aku hanya masuk angin. Kalian kalau mau bercanda sangat tidak lucu."" Gemi berkelit, Santai menjawab pertanyaan Radja. dan mencoba meyakinkan mata orang di hadapannya.
""Katakan atau---!"" Gema maju, reflek menggeser Jum kasar tanpa sadar. Cuma istri nya ini hanya diam karena mengerti situasi yang Gema sangat marah hari ini.
__ADS_1
""Katakan Gemiiiii !"" Bentak Gema tepat di depan wajah Gemi yang sekarang rahang itu di cengkramnya erat. ""Apa kamu tahu Gemi, aku amat menyayangi mu sebagai adik ku, aku rela mengorbankan hari hari muda ku hanya untuk mengawasi mu dan menjaga mu, Tapi astaga, aku kecolongan..., aku gagal Mi, Sebagai Abang aku begitu buruk yang tak bisa menjaga Adik sendiri, aku sebagai laki-laki tak mau menyentuh perempuan lain di luar sana di saat aku belum menikah karena alasan sesungguhnya adalah kamu, Abang mempunyai seorang adik perempuan, Abang berpikir panjang jika Abang menyakiti hati perempuan di luar sana maka Abang takut. Takut, kalau adik Abang kena karmanya akan perbuatan buruk ku, Tapi walaupun Abang menjaga sikap, Tetap ! Tetap saja Abang di hukum melalui adek yang amat aku sayangi melebihi nyawa ku sendiri, apa kamu lupa kalau kita itu Kembar, kamu sakit maka aku lebih sakit, dari dalam kandungan kita sudah saling berbagi....Jadi katakan siapa yang melakukannya.""
Gemi sampai tergugu gugu dalam tangisnya yang di bentak bentak oleh Gema. Ia adalah adik dan anak yang buruk, batinnya. Suaranya tercekat akan tangisnya di dalam cengkeraman gema di di rahangnya.
""Gema !"" Rose menepis paksa tangan Gema yang bisa saja menyakiti Gemi.
Sekarang Rose lah yang ada di hadapan Anak tirinya.
""Sayang, katakanlah !"" Lembut Rose membujuk. Gemi masih menangis menggeleng geleng. Bang Sam yang sudah tahu bingung harus bersikap apa, Mau mengatakan sesungguhnya takut Gemi marah kepadanya atas sikap lancangnya, entah kenapa ipar Jum membungkam mulutnya rapat-rapat, Satria kudu tanggung jawab, Batin Bang Sam.
Mata itu pun melirik Mentari yang terlihat kosong, sahabatnya yang satu ini menangis dalam diamnya saat mendengar celetukan Senja yang berkata duri ada di mana mana. Penghianat seharusnya tak berada di sini.
""Gemi sayang, Dengar kan Amma...! Jika kamu berpikir kamu bisa merawat anak mu sendiri, Ok ! tak masalah akan hal itu. Tapi sayang, berpikir panjang lah, Anak mu butuh status, apa kamu mau kelak anak mu menderita di katain anak haram hasil pergaulan bebas, Di gunjing oleh orang, hamil di luar nikah itu adalah penderitaan noda di wajah mu Serta sekeluarga sayang, Karena Amma pernah berada di posisi mu, itu sangat sulit namun bedanya...Dewa-Ommu ada di pihak Amma, Bagaimana hidup mu nanti kalau ayah anakmu tidak ada, sangat buruk nak ! Pikirkan masa depan calon anak mu juga.""
Gemi langsung meminta kehangatan dari pelukan Rose, ia masih tersedu sedu di dalam kelembutan Rose.
""Menyakiti ku ?"" Ulang Gema. ia kembali meradang. ""Jelaskan dengan jelas Gemiiiii ! percaya sama aku, aku akan menggeret orang itu kehadapan mu dan membuat pria brengsek itu mempertanggung jawabkan kelakuannya, kalau dia tidak mau maka aku akan membunuh nya tepat di depan mata mu."" Tekad Gema bersungguh sungguh.
Jum reflek memukul kepala Gema yang sekarang marah marah dan dapat plototan horor dari Gema di balas plototan tak kalah tajam dari Jum.
"" Kam---!""
""Aku tidak mau mempunyai suami pembunuh !"" Peringat Jum. Di tanggapi malas oleh Gema dengan mengatur nafasnya agar egonya turun, ia mengerti akan kekhawatiran Jum, mana ada istri yang mau melihat suaminya di dalam penjara.
"" Gemi ! beri tahu papa, siapa orang itu, ini terakhir kalinya papa bersuara, kalau kamu tidak mau jujur maka kamu akan mendapatkan hukumannya !"" Ancam Radja. Tangannya sudah gatal ingin menghajar orang, melampiaskan amarahnya akan masalah berturut turut muncul hari ini.
__ADS_1
Gemi masih membungkam mulutnya, Ia tak ingin berurusan dengan orang yang menghamilinya, itu adalah kesalahan sekali, ia tidak mau melakukan kesalahan kedua kalinya dengan cara di nikahin Satria yang pasti secara terpaksa. apalagi Satria harus masuk ke Keluarga besarnya yang nyata nyatanya telah mencintai Kaka iparnya mungkin sampai saat ini pun. dengan adanya Satria masuk kedalam rumah besarnya, otomatis pasti akan ada masalah siap menghampiri rumah tangga bahagia kembarannya.
""Sudah lah, orangnya sudah pergi meninggalkan kota ini, jadi jangan tanyakan siapa ayah dari anakku, aku siap menanggung malu."" Kekeuhnya.
""Baik, Lihat ini...Kamu akan melihat noda di wajah Papa sekarang sebelum noda mu Membuat papa mati perlahan."" Radja mengancam nyawa nya sendiri, Di hadapan Semuanya, ia menaruh senjata api tepat di pelipisnya. Rose dan semuanya kompak menyuru Radja agar tak macam macam. Padahal, tidak tahu saja, Senjata tersebut sudah habis pelurunya karena tadi Radja sudah menggunakan peluru tersebut saat mengancam Biru dan Langit. Radja melakukan itu agar Gemi si keras ini mengatakan siapa orang itu.
""Satu, dua---!"" Radja menghitung, menjeda dan siap menarik pelatuknya. ""Ti---!""
""SATRIA, orang itu Satria... hiks hiks, ayah anak ku adalah Satria, Puas kalian ? dan pergi semuanya dari kamar ku. aku ingin sendiri."" Suaranya saja mengusir semua orang, tapi tubuh itu reflek bangkit dari kasur dan memeluk Gema begitu erat mencari ketenangan dari kembarannya.
Terkejut, Tentu saja mereka semua kaget mendengar nama itu, Apalagi Jum seketika hatinya tercubit, Bukan karena ia cemburu melainkan ia tidak menyangka Satria-pria yang sempat merajai hatinya mempunyai sikap busuk.
""Sialan, Benar benar minta di kubur."" Marah Gema.
Radja Sampai mengeram terpekik hebat, mantan mahasiswanya telah membalas jasanya dengan cara melemparkan kotoran teramat busuk di wajahnya melalui anak gadisnya. Namun....Ia tidak berniat membunuh orang itu, otaknya masih waras yang tidak mau membuat calon cucunya menjadi yatim Sebelum melihat orang tuanya sendiri.
""Papa akan menjemput dia dan menyuruhnya tanggung jawab."" Jelas Radja.
""Tap--""
""Telak, keputusan papa sudah telak !"" Potong Radja akan penolakan Gemi.
""Tapi, besok... Satria akan melangsungkan pernikahan atas kehendak mamanya, Gema. Kalau ingin membatalkannya, kalian harus berangkat dari sekarang."" Jelas Langit yang sedari tadi diam mendengarkan.
""Tidak akan kubiarkan dia bahagia di atas penderitaan adik ku.""
__ADS_1
Gema beranjak pergi meninggalkan kamar Gemi, masuk ke kamarnya untuk sekedar mengambil paspornya. Jum dari belakang mengikuti langkah Gema, ia ingin ikut, bukan untuk Satria melainkan untuk menjaga suaminya yang amit amit jangan sampai mengamuk di luar batas dan berujung membunuh orang.