
Biru menggeliat pelan dari tidurnya dengan kabin mobil sebagai kamarnya. Sedari malam ia berada di hadapan rumah kontrakan Mentari.
Rasa rasanya di sekucur tubuhnya merasakan kaku semua, Mungkin sebab pertarungan semalam atau mungkin karena posisi tidur di atas mobil kurang nyaman, Bodo amat tentang kondisi tubuhnya, ia hanya mengkhawatirkan Petite-nya.
""Pasti Mentari sudah pulang.?"
Biru turun dari mobilnya, Berniat menyusul Mentari. Tapi langkahnya tertahan. Pintu rumah Mentari masih tergembok rapi.
""Sudah berangkat jualan kali.?""
Lagi lagi Biru mendengus kasar, Gerobak Mentari ada di tempat, Gadis itu di jam segini biasanya kan jualan tapi ini.... Aaargh, Kesalnya mengeram.
""Lo kemana si Mentari ! Lo sudah membuat gue kaya orang gila."" Lirihnya seraya mendail kontak Mentari. Tapi ia kembali menelan kekesalan pahit, Mentari tak merespon panggilannya melainkan operator cerewet yang menyahut.
Bos, jangan lupa pagi ini ada meeting penting bersama klien kita yang dari negara tetangga.
Biru semakin mengeram kesal, ia hanya bisa meninju udara kosong setelah menerima pesan dari sekretarisnya, Sena. Waktunya belakangan ini akan terkuras oleh pekerjaan banyak dan sangat penting di kantor yang tidak bisa di sepelekan demi kemajuan perusahaannya, waktu untuk bertemu Mentari akan banyak terlewat.
Sore hari sudah menyerang penghuni bumi metropolitan. Mentari sudah siap berangkat kuliah tanpa pulang terlebih dahulu ke kontrakannya.
""Lo yakin pipi Bolong akan berangkat kuliah dengan keadaan fisik Lo panas demam ?"" Bang Sam memberikan obat warung khusus penurun demam dari semalam Gadis itu meriang hebat.
Mentari menolaknya menerima obat dari tangan Bang Sam, Gadis itu paling bodoh jika harus menelan pil pil pahit, jika demam sakit, Ammanya di kampung hanya menempelkan ramuan herbal di atas keningnya...dan beberapa jam pasti akan turun tuh panas. tapi kali ini si Amma jauh dari sisinya sekarang jadi biarkan saja kekebalan tubuhnya yang akan melawan sampai dimana akan bertahan dari demam akibat kehujanan semalam.
""Kenapa Lo tidak mau minum obat, Gue takut Lo pingsan di jalan dan berujung di culik di perkosa, bunting, kelar deh hidup Lo."" Bang Sam meringis saat tangan Mentari menyentil bibirnya.
""Lemes benar tuh mulut, Masa doain Mentari dengan perkataan tidak tidak. Ya sudahlah Bang Sam, Mentari berangkat kuliah dulu dan terimah kasih tumpangannya, Assalamualaikum."" Pamit ceria Mentari, ia berniat untuk melupakan kejadian semalam dan menjauhi Biru saja, itu mungkin sudah cukup untuk mengobati rasa kecewaannya.
Kampus...
__ADS_1
Mentari kadang kala menggelang untuk menghilangkan rasa pening di kepalanya, demamnya tidak turun turun...
""Jangan manja dong tubuh, ah."" Mentari berpegangan di dinding luar kelas ingin segera sampai di kelasnya, kuliah pertama akan di mulai lima menit lagi sedangkan dirinya masih berada di lantai bawah tempat kelas senior kedokteran.
""E e eh, Aduh, Hey..." Arkan sigap menangkap tubuh Mentari dari belakang saat gadis itu hampir tergelepar jatuh pingsan ke lantai.
""Waduh...panas benar lagi !"" Dengan entengnya, Arjun Arkanas menggendong tubuh mungil Mentari menujuh ruang kesehatan kampus.
Halo, Tulang...ini Arkan, tolong dong kirimkan petugas kesehatan, di kampus petugasnya pada off semua,.....iya , ada mahasiswi baru yang pingsan.
Setelah menaruh tubuh Mentari dari brankar kesehatan, Arkan langsung menghubungi pamannya selaku ketua yayasan universitas itu.
Arkan menepuk jidatnya, bukannya memberi pertolongan pertama khusus orang pingsan, ini malah memperhatikan wajah Mentari dalam dalam yang terpejam manis.
Arkan berangsur memperlonggar ikat pinggang Mentari dengan kata maaf sebelum bereaksi.
""Saya hanya memberi pertolongan pertama ke mahasiswi manis ini."" Puji Arkan tak sadar.
""Tahu apa anda dengan kesehatan, jangan modus ya !"" Tunjuk Langit.
""Tahu dong pak, saya kan sebagai mahasiswa kedokteran, memperaktekan langsung ilmu saya, dan---!"" Arkan menelan salivanya saat Langit menghentikan penjelasannya, ini kok dosen bisa ada di ruangan kesehatan, apa dosen tampan tapi katanya playboy ini sedang mengincar Mentari, aduuuuh...Arkan mendengus dalam hati, Ia sudah melewati terotiar keamanan sang dosen.
"" Sudah lah, apa anda sudah menelepon dokter ?""Tanya Langit.
Arkan mengangguk. ""Saya sudah menelepon Tula....""Arkan hampir keceplosan menyebut ketua yayasan sebagai pamannya. ""Pak Radja selaku ketua yayasan ini untuk mengirimkan dokter, dan kata pak Radja, beliau akan mengirimkan dokter yang bernama dokter Farel---""
""Farel Taufik Samuel, Beliau teman ku."" Potong Langit. Arkan mengangguk malas, dosen di depannya ini sangat menyebalkan, selalu saja memotong ucapannya.
""Ya udah, Sana belajar lagi dengan giat, biar lulus nanti jadi dokter hebat."" Usir Langit. Arkan ingin sekali menggeprak dosen menyebalkan ini tapi ia masih tahu sopan santun, Ia ingin mengetahui keadaan Mentari lebih lanjut tapi malah di usir. Bravo!
__ADS_1
Setelah kepergian Arkan, Langit terlihat mendail kontak seseorang.
"" Halo Farel, Lo mau ke kampus Logo Almamater kuning kan ? tolong dong belikan satu bubur ayam yang ada di samping pertigaan jalan.""
"".............""
"" Oke, Bro..thanks ya !""
Langit langsung mendail ikon merah setelah mendapat respon baik dari Farel teman semasa kuliahnya dulu.
Sementara Biru terlihat buru buru memarkirkan mobilnya di parkiran kampus setelah mendapat kabar dari Mile tentang keadaan Mentari yang sedang tidak baik. Biru sengaja memberikan kontaknya ke Mile agar memudahkan dirinya mengetahui keadaan Mentari yang sejak semalam di rindukannya.
""Woy Bulu ! Kampret Lo, Njrit !"" Biru langsung menghadiahkan kepalan di wajah tampan Langit saat matanya melihat tangan kurang ajar membelai wajah manis Petite-nya.
""Santai bro, Gue cuman memastikan keadaannya, bagaimana pun Piala Lo ini adalah tanggung jawab gue sebagai dosen di sini.!"" Langit tersenyum sinis. Biru mendengus kesal mendengar kata piala, dirinya sangat lah bodoh yang termakan ajakan tantangan Langit.
""Tenang saja, Gue itu sportif orangnya, dia kan sudah menjadi milik Lo karena gue sudah kalah tadi malam, jadi ucapan Gue bisa Lo pegang !"" Santai Langit berlalu pergi. "" itupun jika Mentari mau mengenal Lo lagi."" imbuhnya membatin yakin jika Mentari tidak akan mau memaafkan Biru.
Ceklek.... Saat Biru ingin meraup tubuh mungil Mentari untuk di bawanya kerumah sakit, Pintu ruangan terbuka dan memperlihatkan Dokter Farel selaku teman kuliahnya dulu seperti layaknya Langit dengan satu menjinjing tas alat kesehatannya dan tangan satunya menjinjing bubur ayam yang sebelumnya di pesan oleh si penelpon yang di prediksinya suara Langit tapi berwujud Sagara Biru Sunjaya. Dokter Farel sudah seperti ojol makanan online.
""Sagara, Wow...Lo ada di sini. ?"" Kaget Dokter Farel. Biru pun kaget dengan adanya teman baiknya dulu. Sedetik kemudian mereka bertos ria ala ala mereka anak kuliahan.
""Lo bertugas di sini ? ya sudah sekarang Lo periksa Gadis ini."" Biru mundur memberikan ruang untuk Farel memeriksa keadaan Mentari.
""Cih, Gue memang kesini untuk tugas ini, Gue di telpon pak Radja, Dosen killer kita dulu..dan tau taunya pasiennya adalah korban Lo, Gadis orang Lo apain bisa seperti ini, nyuk ? Nggak di jaman kuliah sampai saat ini ketampanan Lo membuat wanita Histeris sampai pingsan."" Goda Dokter Farel seraya menggantungkan stetoskopnya di leher bersiap memeriksa kondisi Mentari.
""Mana ada begitu..."" Kilah Biru terkekeh. ""Gadis dulu dulu sih cuman pingsan modus doang tapi gadis manis ini tidak ada akting aktingan, Really ! milik Sagara.!"" Capnya tanpa ragu. Dokter Farel hanya tersenyum manis seraya mendalami pemeriksaan.
Vote...Like... bunga bunga mawar š
__ADS_1