
Kelompok ayam sayur yakni, Mentari, Tia, Azmi, Mile, Dio, Galang dan juga Zidan berdiri di tengah tengah lapangan di bawa sinar matahari dengan tangan memberi hormat kehadapan sang bendera pusaka. Mereka di hukum oleh senior yang bernama Arkan setelah berdebat dengan Mentari dengan alasan resume seorang Mentari di kerjakan oleh orang, Memang betul adanya jika mantan Bosnya yang membantunya jadi ia ikhlas menerima hukumannya. Mentari sih santai saja di terkam sinar matahari. terik matahari sudah bersahabat dengannya semasa jadi pengembala di kampung, tapi lihatlah teman temannya, kasihan pada meringis mengeluh.
""Maafin Mentari ya teman teman, Gara gara kesalahan ku kalian jadi di hukum juga."" Mentari tak enak hati.
""Santai, tidak masalah Mentari, namanya juga Nasabah eh musibah, Gue sih tidak apa-apa di hukum yang penting ada si Eneng geulis Tia ini yang menemani Aa Galang berjemur."" Galang yang sepertinya suka dengan si seksi Tia mulai modus modus busuk omongannya.
""Waaah, ogah gue nemenin pemulung jelek kaya Lo."" cibir Tia ketus. Galang hanya menanggapi dengan tersenyum manis, kalau cinta sudah menyerang walaupun di ocehin serasa terdengar di puji puji tuh perasaan.
""Kalau gue sih tidak masalah juga di hukum, secara kan tu tugas seharusnya di emban bersama, tapi kita malah melimpahkan itu ke Lo. Namun masalahnya di wajah gue ini Lo habis di derma med pasti wajah gue sudah seperti ikan asin yang di jemur di bawa teriknya matahari, gosong, tinggal nungguin lalat aja deh untuk di keruminin nih muka."" Azmi meringis ringis perih dengan keadaan wajahnya yang memerah di bawa sinar matahari.
""hahaha, Azmi ! walaupun Lo mau di operasi plastik, luluran, atau treatment kecantikan apapun, tetap saja tuh penampilan tuh begitu begitu saja, kecuali Lo sedot lemak tuh baru deh berubah, Cantik.!"" Zidan yang sudah seperti kucing dan anjing meledek lemak Azmi yang tukang makan. Azmi kesal tertahan, ia sudah siap menggeprak kepala Zidan namun teringat dirinya di hukum maka tertahan sudah.
""Hais, kalian tuh pada lebay deh, lihatlah betis Mile, pasti balapan deh gedenya sama paha aye.!""
Dio tersenyum geli mendengar keluh kesahnya si Mile anak juragan kontrakan tempatnya mengontrak ""Mile jodoh Abang Dio, mau di gendong ?"" Dio meledek dengan keluhan tak masuk akal dari Mile, iya kali betis berubah gede cuma berdiri dua jam di bawah tiang bendera.
""Gue tendang Lo bang dari kontrakan aye."" Kesal Mile mengancam. Dio tertawa kecil, Mile memang ceplas-ceplos berbicara, tapi ia lucu saja mendengarnya.
Mentari yang mendengar kata kontrakan Seketika bersemangat, namun semangat itu runtuh sudah, orang ngontrak kan kudu ada uang mukanya, sedangkan ia kan tidak punya modal awal mana mau Mile mengijinkannya. tapi tidak ada salahnya kan untuk melakukan nego lebih awal.
""Mil, kamar kontrakan kamu masih ada pintu kosong tidak.""
__ADS_1
Mata teman temannya langsung melirik Mentari yang sedang bertanya serius ke Mile.
""ada ? mau ? kalau nggak ada yang kosong pun , aye usahakan deh, biar aye usir tuh penghuni goib yang menempati pintu merah putih."" Mile tersenyum geli melihat wajah pias dari Dio. Dio yang menempati kamar itu jadi getar getir sendiri, Benaran tidak ya, dirinya di usir.
""Gue cium Lo Mile kalau Lo berani ngusir gue deh ah."" Ancam Dio.
Mile tersenyum geli. ""Becanda bang."" Ujarnya.
""Tapi Mil, apa boleh aku bayarnya di akhir bulan, aku tidak punya uang muka."" Ujar Mentari ragu ragu, Sebenarnya ia tidak enak jika harus merepotkan Mile tapi kalau ia tidak memberanikan diri, sehabis pulang kuliah ia akan keder sendiri mau pulang ke mana.
""Tak apa, ntar gue bantu ngomong ke nyak aye yah, nyak aye baik kok.!""
Akhirnya, Mentari tersenyum teduh, ia bersyukur dalam hati, ketika ada kesusahan menimpanya pasti ada saja orang baik di sekitarnya.
""anjrit Lo, Arkan. ! Lo tadi ngomong apa hah, ke MABA baru, Bibir Lo yang lemes itu kudu di kasih lipstik, seenak jidat Lo anjrit jelek jelekin Gue di depan MABA, MABA itu tidak tahu menahu tentang gue, jikalau pun gue ada hubungan antara dia dan Gue, Lo seharusnya tidak berhak untuk mencemooh apalagi sampai mengusir dia dari negaranya sendiri. Gue sih tidak masalah Lo hukum dia karena mungkin dia memang salah, tapi masalah pribadi jangan Lo bawa dalam Kampus yang memanfaatkan kata panitia, panitia ****** lo." Sadewa murka, ia tidak terima dengan mulut lemes Arkan sewaktu memarahi Mentari. ia dan Arkan saling adu jotos tak ada yang mau mengalah.
Arkan menepis tendangan Sadewa dan berusaha membalas tonjokan yang jatuh pas di rahangnya, Tidak ada yang berani memisahkan mereka.
""Kampret Lo, Sadewa. penjahat kelamin ! Gue benci dengan tingkah Lo yang sok sokan di kampus ini, pergi aja Lo ! Lo harusnya tidur ngangkang aja di tempat tidur bersama wanita wanita Lo yang murahan itu, Lo nggak pantas untuk cari ilmu di sini.""
""Hahaha, kenapa Lo sewot dengan tingkah Gue njrit, Apa karena Winda di waktu itu milih gue jadi teman enak enak di ranjang , Makanya Lo sampai saat ini masih PMS, Dan jangan muna Lo jadi cowok, siapa sih yang tidak mau jika di umpenin oleh paha mulus dari mereka, kecuali paha adik Lo si putri, Gue ogah kalau wanitanya seperti dia yang murahan pasti sudah longgar karena kebanyakan gonta ganti pria lain.""
__ADS_1
""Anjin* ! Tai ! Kampret.!"" Arkan bertambah murka, ia kembali menyerang Sadewa yang sempat terhempas ke koridor kampus.
woiiii panggilin dosen woiiii, hanya ada teriakan seperti itu tapi semuanya hanya asyik menonton FTV siaran langsung tidak ada yang bergeming memanggil dosen.
""Mentari, lihat tuh ! kamu hebat lho sudah membuat duo senior keren seperti mereka saling berjabat jotosan. Hebat ! Hebat !"" Zidan masih sempat sempatnya menggoda Mentari dengan toelan di lengan Mentari memakai tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih hormat patuh di bawa sinar matahari jam 12 siang.
Mentari melirik dengan ekor matanya ke Zidan dengan mata menyipit silau.
""Apa yang Mentari lakuin, Zid ? Hebat ? perasaan sedari tadi kita bertujuh ada di bawa bendera dengan patuh hormat."" Polos Mentari heran.
"Aneh Lo mah, Tar ! Giliran pasal pasal berikut penjamahannya otak Lo langsung Connect, Eh giliran masalah kepekaan dan perasaan, sensor Lo langsung mati automatically, parah euy.!"" Zidan menepuk jidatnya jengah. Heran dengan kepolosan Mentari.
""Kepekaan itu ada dua arti homonim, antara Kepekaan kimia dan nomina. Kepekaan kimia yang berarti peka; mudah bergerak seperti neraca, timbangan dan sebagainya. Sedangkan kepekaan dalam ilmu nomina, berarti kesanggupan beraksi dalam suatu keadaan, menurut kamu aku termasuk kepekaan yang mana ?"" Mentari masih kekeuh minta penjelasan ke Zidan.
"" Masyaalloh, Nyesal gue ngomong masalah beginian ke Lo, Mentari.! serah Lo dah ah, mau ngomong apa, Lama lama gue ngeri jika berinteraksi dengan Lo, Otak Lo itu sepertinya dari kloningan WIKIPEDIA."" Zidan rasa rasanya ingin melambaikan tangan ke kamera.
""WIKIPEDIA adalah-------!""
""Stooop.! Lo bikin kepala gue semakin lumpeyengan yang sudah terkena panasnya Mentari. Ampun ! Ampun ! Ampun !"" Zidan membuat pergerakan sungkem sejenak dan kembali lagi berhormat ria di hadapan bendera.
"" Hahahaha.." Lima jenis tawa berbeda mengiringi wajah keputus asaan Zidan di buat oleh Mentari. Sementara yang di tertawa kan memasang wajah datarnya kembali.
__ADS_1
"" Kamu semakin menarik perhatian gadis polos, lihatlah semuanya gara gara membela Lo, Sadewa yang cuek bebek dengan perkelahian seketika menggebu-gebu menghajar Arkan."" Langit yang berdiri beberapa meter dari tempat Mentari hanya mau menonton tanpa ingin membela siapa pun saat ini. ia hanya asyik memperhatikan Mentari.
Like, komen, Vote dan Bunga bunga š¹š¹š¹