RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 156


__ADS_3

Langit terkejut bukan main, Saat menyadari kalau taksi yang di tumpaki Senja berhenti di depan kantor pengadilan. Apa coba yang akan di perbuat si Itik ini di pengadilan jika bukan mau mendaftarkan perceraian ?


Dengan tergesa-gesa, Langit turun dari mobilnya, berlari kearah Senja yang sudah mempijarkan kakinya di koridor.


""Senja ! ayo pulang !""


"Aargh, hey... turunkan !"" Senja terkesiap, Tubuhnya mengudara di pundak seseorang. ""Langit, Gue bukan beras di pikul begini. Turunkan ini tempat umum, atau gue bakalan meneriaki Lo sebagai penculik!"" Ancamnya.


Langit tak menghiraukan ancaman itu, berjalan terus ke parkiran dan mengabaikan beberapa pasang mata yang melihatnya... Bodo amat akan Senja yang memberontak di atas pundaknya. jangan sampai berhasil masuk ke sana.


""Tolooooong !"" Senja benar benar berteriak sekencang kencangnya. Langit mendengus kesal, Si itik apa mau membuat dirinya babak belur oleh massa ? Dan benar saja, Ada lima massa yang menghadang.


""Turunin...turunin wanita itu, penculik kamu ya ?!"" Tukas dari mereka. Siap untuk membantu Senja.


""Cih, dia is---!""


""Ada apa ini ?"" Ujar tegas nan berat seorang polisi lengkap dengan seragamnya. Gional Malik yang baru keluar dari arah gedung.


Langit bernafas lega melihat kedatangan Gion di antara massa yang siap menghajarnya ulah dari si itik ini, menurunkan Senja yang masih meronta.


""Nyebelin !"" Umpat Senja menginjak kaki Langit dengan bibir cemberut mencibik. Langit meringis, tombak Senja begitu runcing.. kakinya sudah seperti ikan di sungai saja.


""Om, Mereka pada menuduh ku sebagai penculik Istri ku sendiri."" Langit langsung meminta pembelaan dari Gion yang notabenenya seorang polisi.


Gion menggeleng geli atas pengakuan Langit. ""Bapak bapak, dia bukan penculik, Mereka itu adalah pasangan suami istri, ini anak dari teman teman saya, Jadi harap bubar...biar saya yang mengurus masalah ini."" Usir Gion begitu sopan. Sejurus kemudian, Lima kepala massa pun bubar dengan sorakan Huuuu.. mencerca Senja yang di anggapnya cuma usil doang.


Gion menatap bergantian dua insan ini. ""Ngit, Kenapa kamu berada di sini ?"" Tanyanya penasaran. Kalau Senja tidak usah di tanya lagi, ia dan Senja juga Meca yang sebagai pengacara Batara, memang sedang membuat janji bersama, masalah surat surat penting peninggalan harta Dewa yang sempat di bekukan.

__ADS_1


""Karena dia ?"" Langit menunjuk lembut ke arah Senja yang masih diam mencibik kan bibir. ""Senja mau mencera---""


""Om, Saya duluan ya...Tante Meca sudah menungguku sedari tadi, Kasian !"" Pamit buru buru Senja memotong ucapan Langit yang entah mau ngapain si Mendung ini membuat rusuh waktu sibuknya bersama Meca.


""Eeeh, kamu tidak boleh masuk !"" Hadang Langit merentangkan tangan.


Gion menggeleng pelan, diam... menjadi penonton yang rasa rasanya ada kesalah pahaman di sini.


""Kenapa ?"" Heran Senja.


""Kerena aku tidak mau di gugat cerai, aku tidak mau kamu pergi meninggalkan ku, aku ingin kamu tetap di sisiku, aku mau kamu mema----!""


Kecerewetan Langit dapat sentilan dari lentik jari Senja tepat di bibir bawah Langit yang menyerocos seperti petasan.


""Idih, otakmu ketinggalan di Jepang kah, eum ? Aku masih punya rasa kasihan untuk kesehatan Papa Chris, tapi itu juga bukan pertanda kalau aku mau memaafkan mu, Tidak akan ku maafkan untuk saat ini, Mengerti ? dan Awas, Aku di tungguin Tante Meca !"" Jelasnya, Lagi lagi menginjak kaki Langit sebagai rasa kekesalannya. Senja pun berlalu terburu buru, bahkan ia berlari kecil masuk ke dalam gedung.


""Hahaha, Chris ! anak mu sudah gila ternyata !""Ledek Gion ke Chris-sahabatnya yang tidak ada di tempat.


""Eh, Om !"" Mimik cengir bodoh itu pun tersirat di wajah tampan Langit. tersadar sudah meninju udara begitu konyol.


...*****...


""Akhirnya sampai rumah !"" Mentari langsung membanting tubuhnya ke atas kasur setalah melakukan perjalanan panjang, tubuh mungilnya terasa remuk semua.


""Aku mau mandi ! apa mau ikut ?"" Goda Biru ikut berbaring di sebelah Mentari.


Mentari menoleh ke sisi kanan, tersenyum lembut ke Suaminya. ""Jangan nakal ! apa kamu tidak ada rasa bosannya kah, eum ?""

__ADS_1


""Kalau masalah satu itu, tidak akan pernah bosan, sayang !"" Godanya membalas senyuman lembut Mentari. Tangan nakal itu pun mengelus perut Mentari dengan otak tak sabar menunggu adanya kehidupan di dalam sana.


Mentari tak membalas godaan itu, tetiba ia mengingat nama Sena.


""Hulk, Sena ? bagaimana keadaannya ?""


Biru menarik tubuhnya langsung, duduk di tepi kasur. moodnya langsung buruk Mendengar nama itu.


"" Beri dia kehidupan, hentikan hukuman mu, aku tidak mau membuat mu menjadi pembunuh...Ku mohon !"" Pintanya, sebagai istri... Mentari tidak mau mendapatkan hukuman karma untuk keluarganya kelak dari sang pencipta, Tuhan saja maha pemaaf, kenapa manusia tidak ?


Biru tak bersuara, ia mengerti hati baik istrinya yang begitu pemaaf, Dulu Mentari memang pernah menyuru Biru untuk jangan memberi ampun ke orang yang sudah menyakiti keluarganya terutama Ammanya. Tapi hati murka itu kembali menjadi hati pemaaf...Toh, Rose saja sudah sembuh, pikirnya...jadi memberi kesempatan hidup untuk Sena tidak ada salahnya bukan ? Biarkan wanita itu bertobat sebelum mendapat panggilan sang pencipta.


Dito, beri obat penawar racun itu untuk Sena... Setelahnya jangan di suntikan kembali racunnya...Ratu saya menginginkan dia hidup... Setelah pulih, kirim dia jauh jauh dari hidup keluarga ku, awasi nanti kemana pun dia akan pergi menjalani sisa hidupnya...beri dia penekanan untuk jangan sampai batang hidungnya itu menampakkan di depan wajah ku walaupun sepuluh meter dari hadapan ku... Jika terlihat maka beri tahu, tidak ada ampun lagi dari ku.


Biru langsung mematikan sepihak panggilan singkat itu. Tubuhnya di peluk lembut Mentari dari belakang, tetiba.


""Terimakasih ! Kamu pria hebat !"" Puji Mentari, merayu agar wajah dan nafas gusar itu kembali tenang.


""Apa pun untuk mu ! asal jangan minta brondong untuk menukar diri ku."" Balas Biru Bercanda. ""Sebagai hukumannya karena ada kata Terima kasih, tadi. Maka kamu harus memandikan bayi besar mu ini !"" Ujarnya kembali nakal, meraup tubuh mungil itu yang sudah menjadi candunya.


""Siapa laksanakan, Bos !"" Cengir ceria Mentari.


...****...


Senja pun sudah sampai kerumah Satria, Bukan untuk tinggal kembali di rumah itu, melainkan hanya mampir untuk pamit dan sekedar mengambil barang-barangnya. Ia memutuskan untuk tidak tinggal di sana lagi... Melainkan akan tinggal di apartemen kosong milik salah satu peninggalan Dewa yang baru tadi di urusnya bersama Meca.


Satria dan Langit yang sedang bertukar cerita di ruang tamu, terkejut saat mata tajam itu menangkap koper yang di bawah Senja. Rupa Rupanya, Hidup Langit akan benar benar di bikin jungkir balik oleh si Itik ini...Senja selalu berulah...Berbanding terbalik sifat Mentari yang sangat penurut manis.

__ADS_1


__ADS_2