
Senja balik kerumah sakit di antar Vero dari Lab dengan penampilan agak berantakan. Chris dan Mentari mendekat.
""Ayo daeng, buruan ! Tolongin Amma ! Tari tidak mau kehilangan Amma seperti Amang....!"" Takut Mentari dengan suara bergetar, cemas.
Senja memeluk sekilas adiknya, sekedar menenangkan tapi jujur...ia pun takut dan tak rela. ""kita harus berdoa, hanya sang kuasa lah yang akan membantu saat ini !""
""Senja ! Langit mana ?"" Tanya Crhis. Tadi, Kata Satria Anaknya itu pergi bersama Senja. Tapi ini...kenapa menantunya malah datang bersama relasinya-Vero.
""Lang---Maaf Pa ! Senja masuk dulu, buru buru... Nanti kita bicara, penting !"" Senja mengesampingkan urusan pribadinya, ia lebih mementingkan keadaan Rose saat ini dan ia juga tidak tahu di mana si Mendung itu...
Tidak ada lagi yang mencegah Senja untuk masuk keruangan Rose, Radja sebagai Tulang nya hanya diam berdoa.
Satu jam penyuntikan penawar yang di suntikan Farel ke dalam selang infus Rose. Tapi tidak ada tanda tanda akan adanya kemajuan, Tubuh Rose masih kritis sedia kala.
Di luar ruangan, Vero dan Titan sudah pergi terlebih dahulu karena adanya urusan penting.
Tersisa Satria, Bang Sam , Jum, Chris dan Radja beserta Bima, Risma dan juga Vane pun datang setelah mendapat kabar buruk ini. Langit pun ada, baru sampai, tapi pria itu duduk menyendiri jauh dari semuanya.
Senja dan Mentari keluar dari ruangan dengan wajah terlipat lesu. Mentari mendudukkan dirinya dengan lemah di kursi tunggu, dengan air mata tertahan di pelupuk.
""Bagaimana ? berhasil ?"" Tanya Radja ke Mentari.
""Amma sudah sadar kah ?"" Timpal Jum.
""Mentari ?"" Ujar Bang Sam meminta wanita itu untuk bersuara.
Yang lain diam, menunggu jawaban Mentari.
__ADS_1
Mentari menggeleng lemah. ""Tidak ada kemajuan !"" Sedih Mentari dengan mata berkaca-kaca. Hatinya terasa perih sekarang. Vane mendekat dan langsung mendekap tubuh menantunya itu.
""Sabar sayang."" Lembut Vane mengelus punggung Mentari naik turun.
Radja mengumpat dalam hati, seraya mengelus wajahnya prustasi. kenapa harus Rose, Raisa...! Tidak ada kata maaf lagi untuk mu. Batin Radja yang sudah mengetahui semuanya dari penjelasan Biru. Walaupun kau adalah ibu dari anak anakku, tapi penambahan hukum akan berfirman untuk mu. Geramnya ke Raisa.
Sementara Senja, Wanita itu berjalan menjauh entah akan kemana dengan tatapan kosong.
Harapan adik Kaka itu pupus sudah. Eksperimen Senja dan Vero sia sia ! Hancur sudah rasa kepercayaan Senja akan dirinya sendiri. Ia gagal....gagal total. beri keajaiban mu, Tuhan ! Pasrah Senja.
""Ngit, Sana !"" Chris membisiki Langit untuk menemani kesedihan Senja yang sudah tidak terlihat di mata. Satria sedari tadi mengikuti Senja. Pria itu takut jika rasa keputus asaan Senja menimbulkan dampak ke diri wanita itu sendiri. Apalagi tadi Satria melihat mata kosong Senja yang berjalan tanpa menoleh ke siapa siapa. ia khawatir sebagai teman.
Langit tanpa bersuara beranjak pergi meninggalkan Chris untuk mengikuti Senja.
Di sudut rumah sakit yang sepi di lalui orang, Senja berdiri sendiri, menyenderkan seluruh punggungnya di tembok bercat putih, menangadakan wajahhya yang sengaja di pejamkan agar air mata itu tidak tumpah.
""Anak Bodoh... Bodoh... Bodoh ! Anak yang tidak bisa berbakti kepada orang tua, Anak tak berguna...Aku gagal...Gagal menyelamatkan Amma....Hiks ! kenapa begini ? inikah takdir mu Tuhan ? Sangat menyakitkan."" Senja bergumam seraya membentur bentur kan pelan Kepalanya dalam senderannya di tembok. Mata dan wajah itu masih menangada ke atas tak berhenti dengan terus menerus membentur kan Kepalanya dengan gerakan pelan.
Senja membuka matanya yang memerah berkaca. ""Sat !"" Suara itu sangat lirih parau.
""Menangis lah, jangan di tahan kesedihan itu.""
""Hiks..hiks, gue gagal Sat, usaha gue gagal total ! Amma tidak menandakan adanya perubahan. Gue jadi anak kagak bisa menolong orang tua sendiri."" Senja mengadu tangis pilu di dalam pelukan Satria. Ia butuh orang untuk mengadu rasa kesedihannya.
Langit dari kejauhan tidak jadi mendekat melihat pemandangan itu, tangan Satria begitu lembut mengelus rambut Senja dalam dekapan itu, ia kembali kesal... entah kenapa.... Cih, inikah cinta yang Lo sebut itu ? Seenak jidat memeluk Pria lain begitu santai . Dumelnya kesal akan sikap murahan Senja di matanya. Lo memang kagak bisa di percaya Senja.... Hebat...pendrama ulung. Langit memilih pergi ke arah Lain.
Di sisi lain.... Mentari pun pergi menyendiri, istri dari Biru itu butuh ketenangan dari suara orang orang. Mentari memilih menyepi menaiki anak tangga yang terhubung oleh roof top gedung rumah sakit.
__ADS_1
Mata Langit yang tidak sengaja melihat langkah Mentari memasuki pintu terhubung ke roof top menjadi parno.
Mentari ? Mau apa dia kesana ? apa jangan-jangan....? Pikir negatif Langit mengira Mentari prustasi dan akan melompat dari gedung berlantai empat. Shi* nggak bisa di biarin. Langit berlari menaiki tangga. Nafasnya terdengar lega saat tubuh mungil itu tertangkap hanya berdiri mematung di tengah tengah roof top yang lumayan luas.
""Aaaargh, Saya benci...benci.... benci dalam situasi ini....Ya Tuhan, apakah luka kehilangan orang tua akan kembali menganga. Tidak cukup kah hanya Amang saja yang engkau Panggil. Amaaaaang... Jangan ambil Amma ku, ku mohon.... Biarkan Amma menemani Tari dan Daeng di sini....Am----Hiks, Hiks... Jangan Ambil Amma ku !"" Racau itu sangat terdengar pilu... sangat sakit dan sangat tersirat tidak ada kerelaan untuk kehilangan orang tua untuk kedua kalinya.
Mentari kini sudah berlutut di lantai bersemen dengan air mata kembali menetes....Kata orang kehilangan itu wajar, Semua orang akan mendapat panggilan dari sang kuasa...dan benar adanya seperti itu... Mentari menyadari itu....Tapi, Kenapa ? Kenapa di saat diri sendiri yang mengalami terasa sakit dan perih.... musibah memang sangat menyedihkan...Luar biasa !
""Hiks...Biru, hanya kamulah yang menjadi harapan bagi kami, tolong kembali dan bawa penawar itu, Ku mohon...cepat lah kembali."" Harapan Mentari ke Biru sangat besar, Satu satunya hanya Biru harapannya saat ini yang entah bagaimana hasil usaha suaminya di luar sana, Apakah berhasil menemukan penawarnya atau tidak.
""Men---!""
""Jangan mendekat, dan jangan berani beraninya berniat mengambil kesempatan kesedihan Mentari untuk melihat rasa empati Lu ke dia. Pergilah.... punya istri sendiri kan ? Kenapa Lo sibuk di sini ? Sementara...Senja sama halnya dengan Mentari, sedang bersedih... apa Lo berniat berbelok jahat ingin mengadu rasa kepercayaan adik kaka itu.""
Suara sapaan Langit ke Mentari dari pintu roof top tertelan sudah saat suara dingin itu terdengar tajam penuh penyendiran di belakang tubuhnya. Tanpa berbalik ke belakang pun, Langit tahu siapa pemilik suara itu ? Suara Sagara Biru Sunjaya !
Langit tersenyum miring, berbalik berhadapan dengan tubuh Biru dengan decakan pinggangnya. "Tenang saja, Gue nggak ada maksud tertentu, tadi, Gue kira istri Lo itu akan terjun bebas dari lantai empat ini, Gue di sini karena gue khawatir ke Lo... Khawatir jikalau Lo akan menjadi duda keren."" Balas ejek Langit. Pria itu melangkah melewati tubuh Biru yang berdiri di ambang pintu.
""Eum, Duda keren ! Kayaknya...Titel itu yang akan menerpamu sebentar lagi.""
Langit sejenak berhenti dari langkahnya, melirik punggung Biru yang hampir berbelok ke arah Mentari dengan tatapan heran ! Apakah Biru tahu semuanya ? Tentang pernikahan bodohnya bersama Senja ? Kok Bisa?
""Duda ? Terdengar buruk dengan titel itu..no problem ! Dari pada bertahan dalam kepalsuan."" Batinnya tak ada harapan akan berlama lama untuk bersama dengan Senja.
Dari belakang Mentari ....Biru berjongkok, Menaruh tangan lebarnya di pundak Mentari yang masih berlutut dengan tangis begitu pilu.
""Pergi dari sini, siapa pun itu...ku mohon biarkan saya sendiri...Hiks...Hiks pergi !"" Sarkas Mentari yang belum tahu siapa yang di usirnya.
__ADS_1
""Sayang, apakah Hulk mu ini pun tidak berhak untuk di sini, eum ?!""
Vote...Vote...Vote....Vote...š¤š