RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 150


__ADS_3

Aku mau keluar sebentar, jangan kemana-mana, apa kau dengar Mentari !


Peringatan itu terucap tiga jam yang lalu dari mulut tegas Biru ke Mentari, meningkalkan si Petite di kamar hotel sendirian....Jadi, Di sinilah Mentari, Di kamar dengan wajah sangat tertekuk marah, kesal, kecewa campur aduk.


""Cih, Hulk sudah berubah..! Marahnya berlarut larut, dia pergi begitu lama dan sangat tega meninggalkan ku sendiri dengan rasa kebosanan...mending aku balik, kerja dapat duit !"" Gerutu Mentari. beranjak ke lemari dan mengeluarkan koper.


""Pasti dia lagi senang, mencuci mata di luar sana, melihat wanita Jepang yang bening bening sampai dia melupakan kalau ada wanita yang sudah kering di sini.""Tuduhnya dengan asal asalan, Mentari memasukkan baju bajunya satu persatu. ""Aku akan pergi, biar dia bebas di sini !"" Kesalnya menutup kopernya, padahal waktu honeymoonnya sangatlah masih lama.


Mentari berjalan ke arah pintu, pas dengan adanya suara bel berbunyi.


Gadis berperangai imut itupun membuka tergesa gesa. itu pasti Biru, tebaknya. Namun salah.... Hanya seorang bell captain boy hotel.


Sang Bell boy menunduk sopan seraya menyapa.


Mentari membalas sopan dengan senyum tipisnya. Ia pun bertanya...ada apa sampai petugas hotel datang ke kamarnya.


Betapa terkejutnya, saat sang bell boy memberi tahukan jikalau Sang Suami sedang dalam keadaan tidak baik baik saja di kamar hotel lainnya.... Pertanyaan Mentari, Si Sagara sedang apa di Sweet Room lainnya ? apakah bersama dengan wanita lain, Terus ketahuan oleh pria sang wanitanya, Lalu..Oh No, berantem dan berujung Suaminya lah yang kalah...Hati Mentari menjerit perih deg degan terasa sesak walau hanya memikirkan saja.


Sesampai di depan pintu, Mentari membuka cepat pintu tersebut.. Gelap, matanya hanya mendapatkan kegelapan.


"" Hu---Biru !"" Panggilnya dengan rasa campur aduk penuh pertanyaan. Suaminya sedang apa di kamar ini, apa sebegitu marahnya kah si Sagara ini sampai ingin pisah kamar.


Tak ada sahutan. "" Biru ! Kamu di mana ? Jangan bermain main, nggak lucu, tau nggak ! Aku benar-benar marah ya...aku pergi, aku ingin balik tak mau lagi ada di sini, kamu ja----""


"" Mata mu adalah cermin diri ku, Tanpa adanya matamu, penglihatan ku buta !"" Ada suara tapi tak nampak orangnya, Mentari tahu... itu suara milik suaminya. Mentari terpaku seketika dari langkahnya yang sudah memegang knop pintu. ia pun berbalik lagi dan mengerlyatkan matanya ke ruangan yang sangat lah gelap.


""Nafasku tak berarti tanpa adanya nafas mu !"" Lampu kecil menyala di pojok ruangan, namun Mentari masih tak bisa melihat suaminya. masih terlihat gelap.


""Jantung ku akan berhenti berdetak, jika pemiliknya Yakni dirimu tak lagi di samping ku.""


Tap, Satu langkah yang Mentari dengar bergerak ke arahnya.


""Hari ku akan hampa tanpa adanya hari mu.""


Dua langka terdengar.


""Bibir ku akan terlukis indah jika melihat mu tersenyum bahagia, Dan akan terulas perih jika senyum mu pudar.""

__ADS_1


Mentari tersenyum manis, Mendengar kata kata manis Suaminya membuatnya tersipu malu. Satu langkah kembali terdengar di pendengarannya.


""Hati ku hancur melihat mu menangis...Maaf, maaf, dan maaf."" Tulus Biru yang sudah membuat istrinya bersedih dalam rencananya.


Suara itu semakin dekat. Mentari berjalan pelan ke arah suara. "" Hati ku beku tanpa ada nama Sagara di sana !"" Balas Mentari menggoda. "Deruh nafas ku akan sesak terasa tanpa adanya dirimu, udaraku....! Muncullah, aku ingin memukul mu sekarang.""


Biru tersenyum manis di balik kegelapan. menyalakan lilin birthday cake ukuran kecil berbentuk hati.


Seketika mata Mentari tertuju ke arah cahaya lilin itu, yang hanya dua langkah dari tempatnya. Wajah tampan Suaminya pun sudah terlihat di balik cahaya lilin.


""Happy birthday my wife !"" Ucap Biru melangkah dua langkah ke hadapan Mentari.


""Kamu mere---!"" Mentari tak bisa berkata-kata lagi, tersenyum manis dengan air mata haru menetes.... seketika ia jadi menyesal sudah berpikiran buruk tentang Suaminya ini. Ternyata suaminya punya rencana ini...sungguh, sangat manis.


""Eum, berdoa dan tiup lilinnya sayang !"" Biru mengusap air mata haru istrinya menggunakan tangan kirinya yang bebas dari cake.


""Berdoa bersama dan tiup pun bersama !"" Ujar Mentari.


""Ok !""


Panjang kan umur suamiku karena kebahagiaan ku ada bersamanya.


Beri kehidupan panjang untuk istri ku, karena hidup ku ada bersamanya.


Mereka berdoa tanpa membuat janji terlebih dahulu akan isi masing-masing doanya tapi bermakna Sama !


Mata itupun kompak terbuka, melirik satu sama lain. "" Tiup sayang ! Kode Biru untuk bersama. Namun...."" Eits, tunggu dulu."" Cegah Biru menarik kembali kuenya.


""Apa ?"" Mentari menaikkan satu alisnya.


""Doa mu apa sayang !"" Goda Biru kepo.


""Hais, rahasia...kamu ?""


""Punya anak banyak dan balik dari sini harus dapat !"" Kelit Biru berbohong. Mentari hanya tersenyum. Dapat ? Lotre kali ah...


Saat lilin sudah di tiup bersama, suasana jadi gelap kembali. Namun semenit kemudian, Lampu terang menyala dan beriringan adanya pemain musik biola dengan dawai begitu romantis. Mentari semakin di buat Speechless tersipu oleh suaminya yang sangat romantis. di tambah ada dua kursi dengan meja terisi makanan tersusun cantik dengan adanya bunga bunga indah menghiasi. Sweet room pun sudah di hias begitu cantik.

__ADS_1


""Mau berdansa !"" Julur tangan Biru. Mentari menggapainya dengan gerakan anggun.


""Terimakasih untuk semuanya, dan maafkan aku ya----!""


Cup


""Jangan pernah ada kata Terima kasih di antara kita, karena kita adalah satu, Mengerti sayang !"" Kecup Biru di bibir Mentari untuk memotong ucapan Mentari yang terdengar mengganggu di pendengaran Biru.


""Aku mencintaimu, sangat !"" Balas kecup Mentari dalam dansa anggun itu.


""Eum, aku tahu... Tetap lah jadi Petite ku yang manis menggemaskan sampai tua pun !""


""Hahaha, kamu Lucu Tuan Sagara, Mana ada orang manis di saat usia tua...yang akan ada hanya kulit keriput di mana mana !"" Geli Mentari. Biru tersenyum geli menimpali.


Dansa berlangsung cukup lama dengan posisi sangat dekat dan Mesra, mata itu tak saling berpaling, selalu bersibobrok dalam... masing masing menghipnotis satu sama lain, Memuja...! di mata mereka benar adanya begitu banyak cinta terpancar.... Biarkan masalah kapan pun dan apapun yang akan datang menguji cinta halal mereka. Yang jelas... Mereka akan menghadapinya bersama sama dengan saling menjaga kepercayaan masing-masing.


""Aku punya satu lagi hadiah untuk mu.!"" Biru merenggangkan pegangannya. Mengkode pemain Biola untuk pergi meninggalkan mereka berdua saja.


Sang pemain biola pun pamit dengan gerakan sopan.


Biru menuntun lembut Mentari ke arah meja yang sudah di hias Cantik. Biru duduk di kursi dan menarik Mentari untuk duduk di pangkuannya.


Mentari selalu manis, diam menurut menunggu hadiah apa yang di maksud suaminya.


""Hohoho, ini kah yang di maksud hadiah."" Ujar Mentari protes. Biru malah mengendus aroma lehernya dan dengan santai sudah memberi tanda di sana.


""Aih, iya aku lupa...itu karena dirimu selalu membuat ku khilaf minta di makan."" nakal Biru mesum, Tangannya berangsur memasang kan kalung berlian cantik di leher Mentari dengan liontin tertulis Sagara.


""Sagara ?"" baca Mentari di liontin itu.


""Eum, apa tidak suka ?""


""Sangat, bahkan sangat suka. selain di hatiku tertulis ada nama mu, Sekarang di leherku pun ada si Sagara suami ku yang paling hebat ini."" Rayu Mentari menjawil ujung hidung Biru. Si lempeng makin lama sudah pintar merayu, karena dapat pembelajaran tiap hari dari Suaminya sendiri yang pintar merayu manis. ""Terimakasih banyak !""


""Ck, selalu berterima kasih, kamu harus di hukum !"" Biru dengan lembut, menyerang bibir Mentari yang sudah menjadi candunya sebelum mereka halal pun... apalagi sudah halal, semakin candu lah dirinya.... siapa yang akan protes...sini si Sagara mau ngeberi.


Dan terjadi lah adegan menari di atas gugusan bintang bintang terbang di langit ketujuh. untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


__ADS_2