
Pagi pun tiba, Mentari sudah menimah nimah keputusannya dengan matang untuk hari ini yang akan Pergi jauh dari Biru dan juga dari keluarganya, entah sampai kapan dan entah akan berakhir bagaimana dengan hubungan nya, Nanti. Biarkan saja hubungan Biru dan dirinya mengalir seperti aliran sungai pada umumnya, hanyut terus atau bertepi dan bertuah kembali. Entahlah ?
Matanya pura pura terpejam di kala Biru mengeliat pelan di sebelah terbaring nya tidur. Rasanya ia ingin memeluk erat tubuh itu dengan penuh kehangatan dan dengan aduan aduan manjanya seperti dulu dulu. Rasanya pun, ia ingin meneriaki Biru, memohon agar menerima dirinya pada sedia kalanya, agar ia tidak jadi pergi. Rasanya...ia ingin menangis seduh sedan di dada bidang suaminya. Ah...itu hanya rasanya, Karena orang yang di sampingnya yang sudah tersadar dari tidur itu membangun tembok kokoh yang tak bisa di hancurkan oleh tangan lembut nya.
Lihatlah lah, Tembok nya begitu dingin, tidak ada lagi sentuhan fisik seinci kuku pun di antara mereka saat Hulk-nya ini tersadar dari mabuknya. Mana kiss morning itu ? tidak ada ! Biru langsung beranjak menuju kamar mandi tanpa lirikan sudut mata pun, ia dianggap bantal guling kah ?
Come on Mentari, Hari terakhir mu gunakan untuk bersama anak anak mu. Batinnya beranjak ke kamar ke-tiga bocah bocah tersayangnya. Mentari memang tidak ada niatan untuk membawa anak anaknya baik dari salah satu dari mereka. Si Triplets adalah haknya Biru, Walau pun ia yang melahirkannya tapi Biru yang berperan penuh di kehidupan masa masa sulit anak anaknya di saat ia koma dalam beberapa tahun.
Berat... memang berat ! Tapi ia tidak mau egois dengan hal itu. lagi pula ia cemas membawa anak kembarnya, takut di luaran sana ia tidak mampu mengurus segala sesuatu keperluan anak anaknya yang akan memulai hidup nya dari nol, sangat Nol karena ia akan keluar dari kehidupan semua orang dengan Tanpa membawa satu persen dari kekayaan suaminya maupun kekayaan peninggalan Amang-nya, ia akan pergi Baik dari keluarga Biru maupun dari keluarga besarnya sendiri.
Penghianat seharusnya tidak berada di sini. itulah sindiran Senja yang selalu terngiang di kuping nya. Walaupun demikian salah besar. Tapi di mata mereka semua, ia adalah Penghianat. Penghianat !!!! Camkan itu, Nama tengah nya sudah terpatri kata pedas itu.
""Seseorang akan terasa di hargai jika orang itu sudah tidak ada di sisi kita, maka pergilah Mentari, pergi bukan untuk menyerah atau menjadi pengecut, Tapi Pergi untuk membuka mata orang orang yang meragukan mu."" Itulah sugesti Bang Sam selama perjalanan pulang dari rumah Anita, dan sepanjang jalan itu pun Mentari menangis di pundak Bang Sam, bersender di bahu sahabat rasa saudaranya yang satu satu nya orang yang mempercayai nya sampai saat ini.
Mentari sudah selesai mengurus semua anak anak nya dari membangunkan nya sampai memandikan nya dan sekarang semua nya sudah rapih dan pada wangi. Ah.... pasti ia akan rindu dengan aroma khas bocah bocah ini. Asem sedap lehernya yang selalu akan ia rindukan dari ke-tiga anaknya terutama Badai yang paling manja dari yang lainnya.
""Oh ya Sayang ! Bunda mau ijin nih ke kalian, Bunda ingin Pergi bekerja tapi butuh hari hari panjang baru bisa Bunda kembali. apa kalian mengijinkan Bunda ? "" Ijin Mentari sedikit berbohong tapi tak sepenuhnya, Karena ia memang akan bekerja untuk kelangsungan hidupnya, tapi entah kerja apa itu ? ia belum memikirkannya.
Ketiga bocah itu saling tatap satu sama lain. kompak mereka menggeleng. menolak.
__ADS_1
Sudah ku duga, Batin Mentari. Tapi ia tetap harus membujuk. ia bisa saja pergi begitu saja tanpa ijin, Tapi ia tidak mau di benci ketiga anaknya yang main pergi meninggalkannya. jadi ia harus pintar pintar membuat Alasan masuk akal.
""Kenapa harus kerja ? apa ayah tidak memberi Bunda uang ?"" Sambar Topan. Mentari kembali menelan alasan nya yang hampir keluar. Astaga... anaknya malah berpikiran jauh. Mentari melupakan IQ si sulung yang susah di bohongi dengan alasan tak bermutu dan tak masuk di akal.
""Bial Adai ngomong ke Ayah, agal Bunda di beli uang !"" Timpal Badai.
""Pelangi saja, sekalang !"" Gebu Pelangi ingin beranjak menemui Biru, kalau Perlu Pelangi akan menarik langsung di dompet Ayah nya untuk Bundanya.
""ishhh, mau kemana ?"" Tarik Mentari di baju belakang Pelangi, membawa tubuh kecil itu ke atas pangkuannya yang duduk di pinggir kasur dengan anak anaknya di sekelilingnya. ""Bukan masalah uang sayang. Anggap saja kita dalam misi."" Bujuk rayunya.
""Misi ? apa ?"" Selidik Topan.
Berpikir Mentari, Topan susah di bujuk dan di kelabui. Batinnya. Kalau si sulung sudah dapat di taklukkan maka ke-dua ante antenya ini ikutan menurut. Pikirnya mudah. Tapi sangat susah mengelabui anak anak pintar nya.
""Misi kita adalah rindu rindu-an."" Ceplos Mentari buntu, otak Ensiklopedia nya kalah telak jika di hadapkan ke tiga ensiklopedia di hadapannya. Satu lawan tiga... kalah aku ! keluhnya.
""Pergilah Nda ! Topan mengijinkan."" Setuju Topan yang sebenarnya punya rencana sendiri untuk menghukum ayahnya yang sekarang sudah tahu penuh apa permasalahan Bundanya saat tidak sengaja mendengar pembicaraan Rose dan Radja, semalam. Kata Nenek kakeknya itu. Bundanya dalam di musuhin orang orang hanya karena kesalah pahaman. Tubuhnya memang masih kecil, tapi otaknya lah yang besar di sini, jadi ia mengerti situasi, ia akan memperjuangkan hak Bundanya lagi di mata Ayah nya juga di mata Tante Senjanya.
Mentari serasa tak percaya ini, ia menatap dalam wajah Topan yang kembali mengangguk.
__ADS_1
""Tapi seling telpon Adai ya Nda !"" Pinta Badai yang sudah di sugesti oleh Topan semalam penuh.
""Pasti kami kangen Nda !"" Sedih Pelangi sama saja sudah di bujuk rayu Topan untuk selalu menuruti keinginan Bundanya, apa pun itu.
Astaganaga... Mentari meringis pelan dengan sekilas menutup wajahnya menggunakan satu tangan nya, prustasi. Anak anaknya ini memusingkan, tadi saja ia berpikir keras ini itu memberi Alasan agar pada mengerti. Tapi saat dirinya berucap asal asalan, begitu mudahnya di setujui. Tapi ah... bagus lah, setidaknya ia bisa tenang di luaran sana yang sudah mendapat ijin dari anak-anak nya dan poinnya ia tidak akan di benci oleh anak anak ini suatu kelak nanti yang akan pergi hari ini yang tak pasti ia akan kembali atau pergi selamanya.
""Bunda menyayangi kalian ! sini semuanya !"" Peluk Mentari di ketiga bocah nya sekaligus. pasti ia akan merindukan pelukan dan canda tawa Tripletsnya.
...****...
Hari semakin siang, Biru di buat datang secara terpaksa oleh Senja ke hotel yang di owner-in bersama dengan adanya Langit di satu ruangan bersama pun. Ia tidak suka situasi ini, melihat wajah Langit Rasa rasanya ia ingin meledak, boom.
""Katakan, ada apa kalian menyuruh ku kesini, apa sudah ada bukti kuat membuang nama tengah Penghianat ini ?"" Liriknya ke Langit dan Langit hanya menahan gemeletuk giginya agar tak terpancing emosi yang sudah berjanji ke Senja agar tak membuat masalah yang bisa di dengar ke karyawan atas ketidak harmonisan antara mereka. Biru tak bisa lama lama, ia bisa menghancurkan ruangan Nata jika Banteng di pertemukan Banteng di satu kandang.
""Sabar lah Biru, Aku dan Senja hampir menemukan titik dari permasalahan kalian yang sialnya aku ikutan pusing, dan berujung percasanovaan ku Hiatus sudah beberapa malam."" Nata malah memelasi aibnya. Senja dan ke-dua pria Lainnya hanya memutar matanya malas akan keluhan Nata tentang aibnya yang di umbarnya tanpa malu.
""Dan dalam beberapa kali aku putar bolak balik Cctv hotel di lantai khusus kita. Ternyata oh Ternyata, aku dan kita di kelabui semua nya oleh retasan seseorang yang berhasil menembus pengamanan milik Nata tamvan ini." Narsis Nata membuka laptopnya yang sudah sepenuhnya mengembalikan data yang hilang beberapa menit di lorong tersebut dengan sedikit susah memutar otaknya di per IT-an dan berakhir muncul semua video sesungguhnya di lorong itu.
Dan semua mata di hadapan Nata pada membola Seperti akan keluar dari wadahnya ketika melihat Mentari di bekap sampai pingsan dan hilang Masuk ke kamar hotel milik Senja Langit khusus pemilik hotel.
__ADS_1
Aaarg, Sial....aku salah besar ke padamu Mentari. Maki Biru dalam hatinya akan dirinya sendiri.
Langit hanya tersungging ejek melirik sinis ke Biru, dan Senja....diam mematung seperti biasa, perangainya tenang tak terbaca. tapi entah di dalam sana.