
Sepuluh menit yang lalu, Mentari sudah di jemput oleh Biru-Si Suami idaman.
Lima menit kemudian, Daeng Senja pun sudah di susul oleh suami ter-manlynya-Langit.
Asyieeek, Bapak berpeci juga pak Radja di pon pon Amma Amma Syantiiek di rumah, Double asyeekk, Si Bapak berpeci tidak memberi tahukan kondisinya ini ke Amma Anna.
Alhamdulillah, Orang orang pada pergi semuanya, Jum memang pingsan, tapi itu pun cuma sebentar saja, palingan juga sepuluh menitan, Tapi otak somplaknya ini yang menyuruhnya untuk berpura pura pingsan berkepanjangan sekitaran satu jam setengah, mata terpejam tapi kupingnya berdengung sana sini mendengar kan orang orang di ruangan ini berbicara.
Bukan untuk membuat Bapaknya dan kerabatnya khawatir, Ia cuma tidak mau di tanya sekarang ini, apakah dirinya siap untuk menerima Pak bos trenggiling sebagai pengganti Satria....Jujur lho, Hati Jum itu bukan papan board hitam di kelas SD ntu yang menulis nama pakai kapur tulis, hapus seketika bersih... Walaupun somplak, tapi ia juga punya hati perasa.... Biarkan waktu yang menjawab saja, siapa jodohnya ? dan inilah alasan Jum yang tidak mau merasakan jatuh cinta kalau putus kedubraaaak Jatuh.....sakitnya tuh di sini.
Mungkin menulis nama di dalam hatinya Hiatus dulu kali ya, sampai kapan ? Entah...sesembuhnya sendiri ajalah. Jum tidak lah menyalahkan Satria, mungkin takdir saja yang tidak berpihak kepada hubungan mereka berdua.
Sudah tidak ada orang kan ya, Di ruangan ini, Trenggiling juga tidak ada, suaranya kan sedari banyak orang tidak terdengar sepatah katapun. Batinnya.
So....mari kita buka perlahan mata ini, intip intip syantiiek.
""Eeehh...Kadal bernyanyi , singa dugem."" Kaget Jum mengumpat asal. Si trenggiling ada di mari rupanya, begitu dekat malah di hadapan wajahnya, cuma satu setengah jengkal saja, pemirsa. Ahhh, Ia melupakan satu hal, Gema kan irit bicara, jadi sedari tadi para orang berbicara, mungkin si trenggiling ini hanya mendengar kan seksama saja.
"" Kadalnya kamu, Woman ! uda pura-puranya ?""
Eeet dah...Si Bos tahu aja sih !
""adududuh, Kepala saya kok mules ya eh pusing maksudnya."" Jum mau pura pura pingsan lagi, matanya pun perlahan mau menutup santai.
Gema yang melihat itu, Tersenyum geli. Kok ia bisa gila dengan wanita berperilaku bodoh seperti woman atu ini. Dasar hati Ogeb...di luaran sana serta banyak karyawannya yang terang terangan menginginkannya, tapi dari satu mereka tidak ada yang merespon hati serta adik nya di bawa sana. Lihatlah si adik di bawa, melihat bibir seksi sedekit berisi itu saja sudah on menginginkan Jum.
""Ya, pingsan lah sepuas hati mu, Tapi jangan salah kan saya jikalau kamu mendapati tubuh mu berada di bawah tindihan saya, woman !"" Ancam Gema berbisik di telinga Jum.
""KYAAAA."" Mata Jum kembali terbuka, menjerit di hadapan wajah Gema, setelahnya reflek menoyor jidat bosnya. "" Aih, karyawan biadab kamu Jum."" Batinnya tersadar, tangannya sudah berani kurang ajar menoyor jidat bos trenggiling..."" Aaahh, biarin aja, wonge mesu* sih !"" Lanjutnya mengumpati dalam hati.
__ADS_1
""BERISIK... sudah lah, detik ini tahan dulu sandiwaranya, kita masih punya banyak waktu membicarakan hal pribadi, bangun dari situ, dan kembali bekerja, ini masih jam kantor, dan aaah, jangan komat kamitin saya dalam hati...Jam delapan malam pun ada tugas untuk mu, temani saya menghadiri undangan salah satu klien kita, no penolakan apa lagi tipu daya, kalau ada sandiwara busuk, besok pun saya bisa menarik mu naik ke pelaminan dan setiap tahunnya saya akan membuat mu mblendung, Mengerti ?""
Si Anying.... Giliran berbicara panjang lebar, penuh dengan ancaman, Lo pikir gue kucing apa, tiap tahun lahirin anak, Dasar trenggiling... Kasian amat nanti Wanita yang akan jadi bini seorang Gema, Jadi pabrik anak.
Jum dengan cepat, beranjak dari sofa yang sedari tadi di peradukan tubuhnya yang pingsan setengah pura pura. pergi dari hadapan trenggiling ini adalah pilihan lebih tepat sekarang, Jum lagi malas beragumen. melow hati.
""Jum !"" Panggil Gema. Jum pun berbalik penuh yang akan menarik knop pintu.
""Apa ?"" Ketusnya.
""Itu, tutup terlebih dahulu."" Tunjuk Gema di kancing kemeja Jum yang tidak sengaja terbuka.
Jum menunduk ke arah tunjuk Gema, Matanya membola sejurus melototkan mata ke Gema seraya berteriak. ""Mesuuuuuum."" Kesalnya malu, belahan bongkahannya sudah terekspos.
...*****...
""Anna, Rahmat....Apa benar yang di katakan Bang Radja, Kalau Gema melamar Jum di hadapan mu."" Rose antusias, Sekarang ke-dua orang tua Jum masih bertamu di rumahnya.
Radja baru terlihat bergabung, duduk di sebelah istrinya, Rose melirik sekilas dan tanpa suara memberikan kopi ke hadapan duduknya Radja.
""Pak Radja, Anda kan tahu, bagaimana keluarga saya, kami hanya petani di kampung, apa Bapak tidak menyesal kalau anda mempunyai besan seperti kami jikalau Jum mau, tahu sendiri kan pak Radja, kalau kami di sini saja numpang di apartemen milik Mentari."" Pak Rahmat tentu saja takut, Kalau Radja pun mempermasalahkan kasta seperti Mama Satria yang sudah melabraknya. Kalau dari sisi Rose, orang tua Jum ini sudah tahu perangainya, Baik....!
""Hahaha, anda itu berbicara apa si pak ? Kalau saya sih terserah anak anak, Yang penting mereka bahagia, harta bisa di cari bersama toh pak !"" Sahut Radja kalem, Setelahnya menyeruput kopi buatan istri tercintanya.
Dan bincang bincang hangat terdengar santai itu pun berlangsung lama, Radja dan Rose tidak ke rumah sakit untuk menjaga Bima dan Risma karena di sana ada Tegar yang bergilir.
......*****......
""Sini !""
__ADS_1
Mentari di tarik duduk langsung oleh Biru yang baru saja selesai mandi dengan baju tidur sudah membalutnya, hanya rambut basahnya saja yang masih tertutup handuk.
""Ad--eh, aduh.""
Desis Mentari, rambutnya yang di balut handuk tetiba handuk itu ditarik oleh Biru. Matanya memicing ke wajah Biru.
""Apa ? aku hanya ingin m membantu mengeringkan rambut mu....Kamu tidak boleh minta jatah malam ini, aku lagi dapet."" Biru mencandai, senyum nakal pun terlukis di balik punggung Mentari seraya tangannya terus menggosok rambut Mentari menggunakan handuk.
""Hulk, Tadi Gema meminta bantuan ku untuk kembali membantunya di RD,, bagaimana pun katanya aku ada separuh hak di sana, minta pendapat mu.""
Biru langsung menghentikan pergerakan tangannya di rambut Mentari. bernafas berat, ia lebih suka Mentari di rumah saja, atau mengekori dirinya dalam bekerja sekalipun.
""Terserah !""
""Hulk, kok Terserah sih ? aku kan meminta izin mu, di ijinkan syukur, tidak pun tak masalah bagiku, ijin mu adalah surga ku dan keselamatan ku." Tutur serius Mentari. Seraya menjatuhkan kebelakang kepala basahnya di dada Biru.
""Aku tidak mengijinkan."" Egois Biru yang tak mau istrinya masuk ke dunia bisnis lagi, posesifnya kambuh akut kalau mengingat para pengusaha di luaran sana memandang Istrinya yang sedang mempertasekan pekerjaannya, tapi mata para laki laki lapar itu malah memperhatikan lekuk tubuh Petitenya, Ogah ogahan die.
""Ya sudah !"" Singkat Mentari.
""Marah ?""
""Mana ada ! Aku hanya mau mengingat kan mu, Kalau aku hanya milik mu, Sampai kapan pun dan sekeren pria mana pun di luaran sana mendekati ku, Aku tidak akan tergoda.""
Biru terdiam, mencerna perkataan Mentari yang terdengar dalam... Apakah istrinya ini marah ?
""Maaf !""
""Hey, apanya yang harus di maafkan, Hulk ! aku akan menuruti mu, apa pun itu keputusan mu. Ah, sudah lah... ayo ke kamar Triplets, kita bermain bersama !"" Tarik Mentari di tangan Suaminya yang sangat Berat karena si Sagara ini malah menariknya sampai terduduk ke sofa kembali.
__ADS_1
""Aku hanya takut kehilanganmu, itu saja !"" Biru mengira Mentari marah.
""Hahaha, kamu berbicara apa Sagara...aku ada untukmu. ayo sayang, kita main bersama Triplets."" Ceria Mentari yang sebenarnya sangat menghargai keputusan Biru yang tidak mengijinkan dirinya kembali aktif di perusahaan. Terima Naseeeeb Bae lah punya suami posesif. Batinnya maka akan aman sentosa.