
Beberapa menit yang lalu, sebab masih demam, Mentari kembali memejamkan matanya untuk beristirahat sekalian modus agar Biru pergi dari ruangan kesehatan Kampus, pinginnya. Tapi setelah membuka mata... Hem.. Mentari hanya menarik nafas dalam-dalam, Biru masih setia menunggu... tidak bosan apa nunggu orang yang modus tidur doang.
Mentari menarik tubuhnya untuk duduk dari brankar kesehatan. Separuh kesehatannya sudah puli, lebih tepatnya mendingan.
""Anda mau ngapain di sini ? apa mau kuliah, juga ?..."" Mentari menjeda, sudah mulai menatap dingin mantan bosnya ini yang tadinya tidak pernah berani. ""...atau mau adu kekuatan dan memperebutkan piala berjalan, di sini bukan tempatnya !!! dan sedikit saran, kalau memperebutkan piala itu yang berbobot, jangan Gadis miskin yang akan di permainkan, Setelah hambar maka akan di buang, seperti debu tinggal di tiup... pfuuu..Kasian kan si piala itu, sudah miskin, harga diri pun di injak injak, Habis!"" Sindir Mentari keras dengan tatapan dinginnya. Hati sakit dan Kecewa menyerangnya.
Sebelum menjawab, Biru menarik nafas panjang dan membuangnya dengan perlahan, Mentari benar benar marah kepadanya melihat ekspresi dingin yang baru di lihatnya dari sosok manis ini di tambah kata katanya yang menampar hati, So! Kepala panas harus di banjur dengan kepala dingin...panas ketemu panas...pasti terkobar.
""Kamu salah paham petite, itu... itu hanya omongan kosong doang, tidak real..."" Biru berpikir sejenak, Cara apa yang bisa membuat Mentari percaya, Susah susah gampang meyakinkan orang naif, pintar dalam akademis, hancur dalam Kepekaan. Buktinya saja, Mentari masih meragukannya sampai saat ini setelah memberikan semua perhatian dan waktu berharganya. Biru meninggalkan pertemuan penting kali ini hanya demi Mentari seorang, Gadis manis polos yang sudah memporak porandakan hatinya, dan satu lagi yang Mentari tidak tahu dan jangan sampai Mentari tahu, jika uang kuliahnya di tanggung oleh dirinya...bukan beasiswa real... Yayasan universitas ternama ini tidak mengadakan beasiswa sepenuhnya.
Mentari beringsut turun dari brankar, percuma juga mendengar penjelasan dari Biru yang terlihat berpikir keras... entah apa yang di pikirkan oleh Biru...bodo amat, yang jelas terdengar, itu bukan omong kosong, ia mendengar langsung suara yang mengecewakan hati untuk di ingat.
""Mentari, Mau kemana ?"" Cegah Biru di tangan Mentari. ""Aku bahkan belum menjelaskannya, kamu main pergi saja.!""
""Tidak ada yang perlu di jelaskan, Tuan! tidak penting bagi anda dan bagi saya, kan ! kita hanya orang asing, Mantan Bos dan kacung saja, We don't have a special relationship, Paham !!!"" Mentari pergi setelah berucap dingin, meningkalkan Biru yang terpaku.
Tuan ? Panggilannya sangat dingin... Orang asing ? Bos dan kacung, Saja? Tidak mempunyai hubungan khusus? Biru mencerna Semuanya... apakah ini sanksi dari omongan tak berfilternya, Semalam ? Baiklah.... biarkan Mentari pergi menenangkan pikiran riwehnya, dulu. Jika secara halus tidak membuat Mentari peka, Cara ektrim pun jadi...Biru tidak suka bekerja tanpa hasil.... Lihat dan tunggu saja Petite, kamu akan menjadi milikku, lambat atau cepat.. Seringainya.
...******...
Mentari memasuki restoran bercap Nikmat rasa, bukan untuk makan lho ya, Kocek Mentari hanya sanggup untuk sebungkus nasi uduk saja bukan untuk makanan berbintang lima.. Mentari berniat ingin melamar pekerjaan paruh waktu sebagai waiters...Di luar pagar gedung terpangpang jelas.... Ada Lowongan.
""Masuk.!"" Suara dari dalam ruangan terdengar memberi titah untuk Mentari masuk setelah mengetuk pintu yang bertuliskan maneger.
__ADS_1
""Mentari.""
""Kak Arkan ?""
Sontak mereka terkesiap dengan saling tunjuk, reflek.
Arkan berdiri dari kebesarannya. ""Ngapain di sini, MABA ?"" Tanyanya Datar.
""Kaka sendiri, ngapain ? Mentari mau, melamar !" Ucap Mentari tidak lengkap.
""Ini restoran keluarga gue, dan menegernya gue."" Jelasnya. "" Apa Lo mau Melamar Gue.?"" Arkan pura pura bodoh, ia tahu maksud Mentari. Menjahili sedikit tak masalah kan. mumpung gadis ini berada di Zonanya.
""Hah..? Aku mau melamar pekerjaan, kak ! bukan melamar tanda kutip itu, apalagi melamar orang seperti Kaka yang ketus. Gadis lain pun harus berpikir tujuh kali "" Ceplos Mentari polos. Harusnya kan.. orang melamar kerjaan di hadapan meneger tuh, sedikit basa basi dan bertingkah Manis, tapi Gadis rantau ini terlalu blak blakan menilai si maneger ketus.
""Atas dasar apa ka--- Anda menolak memperkerjakan saya, apa kah karena masalah pribadi ? bahkan anda belum melihat CV saya. kalau masalah pribadi maka anda sangatlah tidak pantas untuk menjadi maneger di sini. tak ber-profesional"" Semprot Mentari.
""Lo-----."" Kesal Arkan tertahan, ada ketukan keras dari luar dan langsung terbuka saja tanpa di persilahkan masuk. Arkan melototi sang Staff yang main menyelonong saja.
"" maaf pak Arkan, mengganggu, di luar tamu sangat banyak, tapi waiters kita sangatlah kurang, kami keteteran apalagi ada pelanggan yang tidak sabaran untuk segera di layani."" Lapor salah satu staff dan langsung beranjak pergi untuk membantu keadaan di luar.
Arkan memandangi Mentari yang membelakanginya, ingin beranjak pergi. Ini gadis lempeng manis seperti jalangkung, Datang tak di undang, pulang main pulang saja tanpa permisi. Untung manis kalau tidak Arkan akan pingsan tak kuat... melambaikan tangan.
""Mau kemana ?"" Arkan masih ketus padahal ia sangat membutuhkan karyawan.
__ADS_1
""Pulang, mau apalagi...di sini kan tidak diterima dengan garis merah masalah pribadi."" Sahut Mentari. ""Permisi.!"" Mentari kembali memunggungi Arkan.
""Eeh, tunggu.!"" Tahan Arkan di bahu Mentari. Mentari kembali memutar tubuhnya.
""Eum.!"" Sahutnya dengan alis terangkat.
""Kamu pakai baju ini."" Arkan meraih baju waiters di atas meja.
""Untuk ?"" Mentari masih saja tidak peka. membuat Arkan garuk kepala, Mentari kepekaannya ampun deh..Nol gede, tadi kan gadis ini mendengar Staff berkeluh ria butuh waiters, dan baju waiters sudah di tangan Mentari. apa lagi kalau bukan di terima....Arkan jadi ragu untuk menerima Mentari, takut takut Gadis polos ini, menukar sana sini pesanan meja.
""Kamu di terima, Mentari.!"" Malas Arkan.
Mentari tersenyum manis girang dan ceria. ""Segampang itu ? CV ku apa tidak di lihat dulu ?"" Mentari melayang kan map coklat ke Arkan.
""Tidak perlu..."" Arkan menyambut map, menaruh pelan ke atas meja. ""...Tapi bisa kerja kan ?
Mentari mengangguk. ""Bisa !"" Senyumnya memperlihatkan pipi bolongannya.
Arkan tanpa sadar mencolok pipi itu dan langsung gelagapan setelah sadar sudah menyentuh pipi Mentari.
""Apa ada serangga di pipi saya ka---pak ketu--Arkan !"" Reflek Mentari melirik pipinya yang sampai lebaran tiga kali bang Toyib tak pulang pulang pun tidak akan terlihat kecuali berkaca. Sangat menggemaskan di mata Arkan.
""Ti--- Ada, iya ada, dan cepat lah berganti pakaian, Gu---Saya akan menyusul mu di pantry untuk briefing menjelaskan pekerjaan mu."" Usir lembut Arkan yang sempat tergagap. Untung gadis manis lempeng polos pintar akademis ini tidak peka atas kereflekan tangannya tadi, malu dong kalau ketahuan jika diam diam menyukai wajah manis itu, dirinya sadar jika sudah punya kekasih, tapi apa salah jika ia mendambakan kemanisan wajah itu.... Arkan berniat menjadi Pebinor, Saudara saudara.
__ADS_1
Vote dan bunga bunga š¹š¹š