
Cakap cakap hangat masih berlangsung di rumah Batara. Mentari dan Senja bahkan semuanya tak kalah heboh menggoda Rose dan Radja. Radja yang dapat godaan bersikap santai saja, Tapi Rose yang sudah memerah sedari tadi, seperti anak perawan saja yang baru akan merasakan pernikahan.
""Amma ! ting ting ting."" Songong Mentari mengedipkan mata jenaka menggoda, Seraya beranjak ke sisi Rose untuk duduk sehingga ia di apit oleh Rose juga Risma. Rose mencubit pinggang anaknya. dan di balas pelukan manja dari Mentari.
""Jangan nakal, Tari."" Risma melerai dengan tepukan lembut di paha cucunya. ""Kalau mau menggoda, Noh...Radja sana ! Sedari tadi cuek cuek saja di lempari godaan."" Lanjutnya mendelik lurus ke Radja yang duduk di bar mini.
Itu tugas ku.. Batin Senja berjalan cantik menghampiri duduknya Radja.
""Om or Amang !"" Ujar Senja mengambil duduk di kursi kecil unik dua jarak kursi lainnya dari tempat Radja.
""Amang, dong !"" Lantang Radja. Senja manggut-manggut kecil.
""Ok, Amang ! Jadi kapan rencananya."" Ujar Senja serius, Di sini ia sekarang berperan sebagai keluarga mempelai wanita yang akan mengintrogasi calon suami Ammanya.
""Besok pun boleh."" Santai Radja dengan mata lurus lurus jauh menatap Rose yang juga menatapnya akan sahutan santainya.
Langit Biru di susul Mentari mengikis jarak, Topik seru, Batin mereka. Sementara yang lain masih duduk tak bergeming setia mendengar cakap cakap serius tapi di dominasi santai.
""Sebagai keluarga mempelai wanita, saya tidak setuju !"" Senja sudah formal dalam berucap ini, Membuat Radja mengalihkan pandangan penuh ke calon anaknya. Tapi ada Langit yang duduk di dekat Senja jadi ia tidak bisa melihat penuh mimik Ponakannya.
""Sebagai syarat pernikahan, Boleh dong memakai adat, saya tidak mau pernikahan hanya di kantor KUA saja yang jabat tangan, lalu SAH SAH saja tuh si koor menyahut. Tidak enak tahu."" Lanjutnya lagi. Langit tersindir jadinya.
""Astaga itik, Kamu yang mau kan di waktu itu dan kamu juga yang tidak mau membuat resepsi pernikahan."" Cibik Langit bernostalgia akan pernikahannya di waktu itu yang di bilang Sangaaaaat terpaksa tapi sekarang sangaaaaat ngebet.
""Aih, diam lah Mendung, Kenapa kamu yang menyahut."" Cubitnya di otot lengan Langit.
Hihihi, Radja Mentari dan Biru terkikik dalam hati. Kenapa dua orang di hadapannya yang saling lempar tatapan tajamnya.
"" So, what do you want ?"" Sela Radja serius.
""Sok planet lah, Saya tak mengerti ini ah."" Bohong Senja. "" Tapi mau ku, Om eh Amang mengikuti adat layaknya seperti pernikahan Mentari di waktu itu, adat kelahiran Amma."" Senja berupaya membuat Rose akan mendapat hak istimewa di pernikahan keduanya yang tidak di dapatkan Rose bersama Dewa. Yang katanya banyak cobaan di kala itu.
__ADS_1
""Ide bagus !"" Timpal Mentari antusias akan ide kakanya.
""Siapa takut !"" Deal Radja.
""Lamaran kampanye."" Biru tersenyum mengejek, Radja termakan persyaratannya dulu di waktu mengerjai Sagara ini, dan sialnya lagi, Radja kalah telak....si Sagara berhasil menggemparkan warga kampung.
""Mahar mewah !"" Timpal Mentari akan godaan Suaminya.
Bagus Petite ! Batin Biru.
""Pesta meriah !!!""Timpal Langit pun ingin membuat Radja heboh, kerepotan.
Saaolahhh, Macam mana pula ini, Massa mana yang akan kau bawa Dja, untuk membuat lamaran kampanye, Malu lah kau Abang, kalau kalah lagi dari Sagara. Prustasi Radja dalam hati, Mahar dan pesta mewah ia sanggup penuh. Tapi dalam merekrut massa banyak dari mana coba. Tidak mungkin dong ngajak satu komplek perumahan besar ini, Tahu Sendiri orang berjas semua yang tak punya waktu. apalagi di komplek mewah itu seperti Lo Lo, gue gue. Cuek bebek akan permasalahan tetangga.
Ahhaaai, Ia kan punya mahasiswa mahasiswi, Sehari mengosongkan universitas tak masalah dong...Ok, Fun game, Sagara.
""Siapa takut, Kampanye akan berlangsung demi kamu, Rose.!"" Sanggup Radja. Rose tersenyum kecil di tempat duduknya, Senja yang kebetulan melirik Ammanya jadi bersyukur, Ternyata Ammanya mau membuka hati juga dari sekian lamanya menjanda.
""Bagus, Berarti Amma hari ini ikut saya pulang, Amma saya pingit."" Final Senja bersungguh sungguh akan membawa Rose tinggal di kediaman Kusuma.
"" Kok gitu ! Tidak boleh !!!"" Radja menolak keras. di pingit....Enak saja, ngopi tanpa adanya senyuman Rose di pagi hari itu, pahit rasanya walaupun gula setengah kilo di dalam cangkir kopi tak kan manis deh, percayalah... Cinta itu lebih manis dari gula.
Hahahaha, Dan bukannya di respon ucapan, semua malah tertawa kecuali Rose yang benar benar bungkam, nano nano tuh di dalam hati yang ia rasakan.
""Yaelah Om, Rasain sendiri akan karma dari Sagara...Di pingit tuh rasanya begini, Om...!"" Biru mencekik Lembut lehernya sendiri, dan dengan muka jahilnya, lidahnya menjulur serta matanya melotot seperti korban gantung diri kehabisan nafas. ""Oksigen rasanya tercemar Om."" Sambungnya dengan wajah konyolnya.
Radja melengos dengan wajah masamnya. ini ke empat anak mantu sangat kompak membuat dirinya tercekik. Sungkem gue. Dengusnya kalah telak.
Pembicaraan serius berlanjut, hari penting Radja dan Rose akan memulai lamaran resmi sudah di kantongi oleh mereka yakni tiga Minggu dari sekarang. Dan itu artinya Tiga Minggu lebih, Rose meninggalkan kediaman Batara dan tinggal bersama Senja di kediaman Chris.
"" Ada dangdutan kan ?"" Bang Sam angkat bicara di antusiasi Jum yang somplaknya akan merencanakan berduet bebek bebek goel.
__ADS_1
""Tidak ada !"" Mata semuanya melirik Rose yang menolak. ""Pengajian, kalian butuh siraman qolbu."" Sindir Rose akan rencana rencana aneh dari anak anak mantunya yang akan merencanakan lamaran kampanye, ia tidak setuju itu, ia juga tidak terlalu setuju jika nanti ada pernikahan mewah.
""Amm---!""
""Pengajian, titik. dan tidak ada lamaran yang katanya seperti lamaran Mentari dari Biru. Dan tidak ada dangdutan, paham anak anak ?!"" Rose beranjak pergi setelah memotong ucapan Senja, Meninggalkan wajah wajah yang ternganga melongo, ia akan berkemas dan benar kata Senja.... Berpisah dahulu bersama Radja adalah pilihan tepat. itulah adatnya.
""Saya juga permisi, People. ada kerjaan.. masalah kantor. Jadi kamu, Woman !"" Tunjuk Gema ke Jum. "" Ayo ikut, Penting !"" Gema beranjak tanpa menunggu suara Jum.
""Aku. Hais...ini kan hari Minggu, dasar Bos garang ! Ah.. Mentari, kapan kamu ngantor lagi ? aku lebih suka menjadi babu mu dari pada babu si Gema ketus." Dengus Jum dalam hati.
""Permisi semuanya !"" Pamitnya menyusul Gema.
""Jum ! Jaga hati."" Ledek Bang Sam berteriak. di hadiahi delikan selidik dari Langit juga yang lainnya.
""Aduh, Bapak ! kerjaan apa yang penting di hari libur ini."" Jum mencoba menyamai langkah Gema yang sekarang berada di pelataran depan rumah besar ini. tebak Jum, Gema akan pergi mengendarai mobil karena ada kunci yang di pegang oleh Gema.
""Ada klien yang mengadakan meeting dadakan, dan itu harusnya kamu yang tahu jadwal ku kan, Tapi sebagai sekretaris ini malah tidak tahu. bodoh" Gema menjawab dingin tanpa berhenti dari langkah panjangnya.
""Bodoh ?"" Gumam Jum tidak terima. Ia mengumpati Gema dengan kepalan tangannya yang membuat pergerakan seperti ingin menonjok Gema dari belakang.
Bugh...
""Hehehe, maaf pak !"" Jum ketahuan, Karena Gema tetiba berhenti dan berbalik, Bahkan tonjokan itu yang tak ada efeknya untuk Gema, mengenai dada bidang itu.
""Tangan ini kurang ajar juga ya, woman !"" Cengkram Gema di tangan Jum.
""Aduduh. ""Ringis Jum. ""Yaelah pak, kalau tangan ku patah bagaimana nasib anak rantau ini, cacat nantinya dong, lebih parahnya, orang cacat ini tidak ada yang naksir lagi.""
Somplak Jum tak ada takut takutnya padahal wajah datar Gema begitu seram, tak ada mimik apa pun, seperti tembok.
""Saya mau !"" Wajah itu masih saja datar. tanpa melepas cekramannya.
__ADS_1
""Hahahha, Bapak bisa aja bercandanya, ayo pak kita ke KUA."" Canda Jum main nyamplak saja.
"" OH, JADI BEGITU...INI KAH ALASANNYA JUM, KAMU TERUS MENOLAK KU ?!!""