RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 74


__ADS_3

Mentari sudah selesai mencangkol kan tasnya di punggung, menarik knop pintu kontrakan bersiap memulai rutinitasnya pergi bekerja di restoran.


Namun alangkah terkejutnya saat sudah membuka pintu lebar-lebar....Ada adik Amang-nya, Tegar. membawa pasukan berbadan kurus namun terlihat berotot, jika di lihat lihat dari seragam orang orang tersebut adalah kelompok kuli bangunan lengkap dengan helm anti reruntuhan.


Aduh Mak Jang. Ada apa lagi ini ? masalah kah ? perasaan Mentari jadi tegang dag dig dug... Jangan Bilang rumah tempat kontrakannya mau di gusur...Mau tinggal di mana kah dirinya ? Nyari kontrakan di kota kan Susah susah gampang... terus kalau pindah di kontrakan ini, ia mau jualan sayuran pakai gerobak siapa coba ? Gerobak sayur itu kan hasil minjam di orang tua Mile.


""Pak Tegar ? ada perlu apa ya pak, pagi pagi sudah ada di rumah saya ?""


Mentari bertanya pun di kacangin oleh Tegar. Om-nya itu menerobos Masuk begitu saja di susul oleh para gerombolan orang orang kurus berotot, sampai Mentari sedikit terhempas mepet ke daun pintu.


""Ayo mulai bekerja semuanya ! Saya mau rumah ini di renovasi sebagus mungkin, yang sudah tidak layak, Ganti saja semua materialnya. Ayo..! separuh ikut saya untuk melihat kerusakan yang ada di dalam kamar.""


Lagi lagi Tegar masih mengabaikan Mentari yang menghalangi jalannya dengan merentangkan tangan agar dirinya tidak sampai masuk kedalam kamar. Bahkan dengan santai tanpa beban, Tegar mengangkat bagian kedua ketiak Mentari untuk memindahkan tubuh Ponakannya itu yang berdiri di tengah pintu kamar. Seketika Mentari melayang sejenak ulah Om-nya. Tegar pun masuk ke dalam kamar.


""Lihat itu, plafon yang rayapan nan melambai lambai di rubuhkan saja, Saya tidak mau ponakan saya bangun di pagi hari sudah tidur bersama reruntuhan plafon sialan itu. Tapi perbaikan nya bertahap ya, biar bisa di tempati separuh, di rehap separuh."" Tegar masih saja memerintah ini itu.


Braak...Braak...Braak...


Mata Mentari membulat sempurna saat bagian jendela dan pintu sudah mulai di robohkan, kini rumah kontrakannya seperti habis terkena badai topan, hancur ! Aduh....benar banar Mak Jang. Ini bisa gawat, ia bisa di sate oleh nyak Titin dan Babe Rojali sebagai pemilik rumah kontrakan asli.


""Bapak, kenapa sih ? Rumah saya di aduk aduk kaya kobokan, hancur kan ? Saya salah apa sama bapak ? atau Amang saya punya salah apa gitu ? Tolong di maafkan kesalahan kesalahan Amang saya yang sudah meninggal dunia biar beliau tenang di sana pak ! atau Amang saya punya hutang semasa hidupnya ? kalau seperti itu, tolong beri saya waktu untuk menyicilnya, saya akan ganti tapi tolong suruh mereka mereka menghentikan aksi menghancurkan rumah saya !""


Suara Mentari begitu putus asa, lemas ! Lahir batin, ia akan mengganti kesalahan Amang-nya ke Tegar yang penting orang tuanya itu tenang di alam lain.


Tegar menaikkan satu alisnya, menatap dalam dalam wajah ponakannya yang begitu adem di lihat mata lama lama. Pantas saja Arkan begitu kecewa saat mengetahui Mentari adalah saudara sepupunya, Manis tapi Tidak bisa di pacarin sih ?

__ADS_1


"" Lesungnya sangat mirip punya kak Dewa !"" Gumam Tegar.


"" Kamu anak kak Dewa kan ?""


Mentari mengangguk takzim.


"" kalau begitu saya bukan bapak bin orang lain bagimu melainkan Om-mu, karena saya adik Amang-mu kita punya darah yang sama, jadi panggil saya Om ! Mengerti Mentari ?""


Tegar menyentil gemas jidat Mentari yang mengangguk saja dengan polos, sangat berbeda di waktu pertama datang ke rumahnya saat menjabarkan kekecewaannya terhadap keluarga Batara.


""Om cuma ingin merehap rumah Mentari, Saya takut jika Om datang kesini, Ponakannya Om ini sudah gepeng menyatuh runtuhan rumah sialan yang tidak layak huni ini ! Lagian kalau om paksa kamu tinggal satu rumah dengan Kami, kamu sudah menolaknya kan ?""


Mentari mengangguk cepat...Ia tidak mau merepotkan orang walaupun itu keluar besarnya sendiri, ia masih asing dengan mereka semua.


""Om kasih satu unit apartemen milik kak Dewa saja kamu menolak...apa lagi Om yang ngasih, pasti kamu pun akan menolak kan ?""


""Makanya itu saya berniat membuat kan rumah layak huni untuk ponakan Om, Paham Mentari ?."" Setelah jidat yang tadi di sentil gemas, sekarang Tegar menunjuk nunjuk gemas pipi bolong Mentari.


""Paham Om, Tapi sepertinya yang tidak paham di sini itu, Om Tegar !""


""Benarkah ? apa itu yang Om tidak pahami ?""


"" Rumah ini itu bukan milik pribadi saya, melainkan rumah Babe Rojali, saya cuma mengontrak ! Dengan di rehabnya rumah ini sampai sebagus mungkin yang senang ya...pak Rojali, bukan saya ! Dan kalau sudah bagus terus Pak Rojali tidak mau mengontrakan rumahnya ke saya, bagaimana coba ? Yang rugi kan Om.""


""Hahaha...Kamu itu lugu amat si sayang, Dengar ya...Om Tegar mu ini sudah membeli rumah ini semalam bersama Kak Radja hanya buat untuk mu, dan Om Radja mu semalam juga berhasil memaksa Rojali si mata duitan itu untuk mengembalikan sewa rumah selama satu tahun kedapan yang di bayar muka oleh anak si Sunjaya yang tengil itu. Kami itu pengusaha sayang... seorang pengusaha itu pintar Tambah tambahan dan perkalian, Kami hanya agak sedikit tidak senang yang namanya pembagian apalagi pengurangan. Hehehe..!""

__ADS_1


Kali ini Tegar begitu gemas ke wajah polos ponakannya sampai menjawil sedikit keras pipi mulus Mentari.


Mentari nampak tidak setuju kali ini, ia menggeleng tidak mau, ia tidak mau menerima kebaikan orang sekaligus pun itu saudara kandung Dewa-amangnya, ia tidak biasa juga menerima pemberian orang begitu gampangnya, Takut takut nanti ada apa apanya...Dunia keras yang di alami dalam hidupnya mengajarkan dirinya jika tidak ada yang gratis di dunia ini, Mungkin mereka memang tidak meminta imbalan sekarang, Tapi Nanti ia bisa saja di suruh membayarnya ? siapa yang tahu ? iya kan ?


""Maaf Om, saya tidak bisa menerima sepersen pun kebaikan dari kalian, orang tua saya mengajarkan untuk tidak menerima apapun itu secara cuma cuma atau gratis, dan jujur saja..saya tidak bisa mengganti biaya rehab rumah ini.""


Tegar tersenyum miris, ponakannya memang lugu polos luar biasa sampai tawaran enak darinya di tolak telak, Orang Tuanya benar benar mendidik Mentari dengan keras dan benar... sampai hidup sebatang kara pun di rantau ini mengajarkan kepada ponakannya untuk lebih baik menaburi dari pada menadai. Tapi Mentari, Ponakannya ini melupakan satu ajaran... yakni..tak selamanya di dunia ini harus membayar untuk mendapatkan Cinta dan kasih sayang.


Tegar berpikir keras agar tidak kalah telak dari ponakan lempeng nan polos ini, Bisa di geplak oleh Si Radja jika Mentari menolak keras untuk tinggal di rumah yang sudah di beli khusus buat Mentari.


""Begini saja...! kalau Mentari tidak mau numpang dengan katanya yang cuma cuma, Bagaimana kalau anggap saja saya mengontrakan rumah ini ke kamu. Dan sebagai saya pemilik rumah kontrakan ini, berarti saya kan wajib merehap semua ini dan biayanya tentu saja dari Om mu ini sebagai sang pemilik. Bagaimana ? deal ya ?""


"" Wokelah...deal "" Mentari pun tersenyum manis, membuat Tegar bernafas lega yang terhindar dari smackdown dari Radja.


""Ayo ! Om antar kamu ke tempat kerja mu !"" Tawar Tegar yang tahu Mentari pasti akan di omelin kalau telat oleh Arkan si profesional jika bekerja, anak ketus nya itu tidak pandang bulu dalam hal kerja.


""Ah...itu ! tidak perlu om, nanti saya malah mere----!""


Tegar memaksa Mentari untuk masuk ke mobilnya, Tidak ada kata tolak dalam hal hanya mengantar saja.... jangan bilang Mentari akan memberinya ongkos pula...ampun Dj jika itu terjadi.


""Mentari !"" Panggil Biru yang baru datang ingin menjemput Mentari. Biru pun turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa.


Mentari ingin keluar dari mobil Tegar, ingin menghampiri Biru, tapi dengan cepat Tegar mengunci otomatis pintu mobilnya agar ponakannya di antar olehnya, bukan Biru. Tegar begitu geli terbahak-bahak Setelah Mendengar cerita kalah telak Radja semalam, di buat oleh anak Sunjaya yang kadang kadang Tengil itu.


Hahaha...Sorry anak Sunjaya, Gue bukan kak Radja yang bisa kalah telak dari mu, Gue menang bocah....

__ADS_1


"" Yakk, Gue telat ah..."" Dengus kasar Biru meninju kesal udara kosong.


__ADS_2