
"" Saya bukan pengecut atau pecundang""
Tekad Radja sudah bulat untuk menyampaikan isi hatinya secara terang-terangan ke Rose, Semakin di pendam dan semakin di tepis rasa itu, semakin pula merelung ke seisi inci tubuhnya.
Biarkan rasa itu terungkap, di terima wasyukurillah, kagak di terima innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Musibah diri itu namanya. Tapi kalau penolakan yang di terima, tak apa...toh, Rasanya lega ini, Lega karena perasaan itu tersampaikan, Lega karena pecundang itu tak mendarah daging di tubuhnya, ia tahu... kalau Rose begitu setia hati hanya untuk Almarhum Dewa. Jadi sudah di pastikan rejection yang akan berdengung dengung di kuping. But, just enjoy life ! Ye kan ?
""Rose !""
Rose mendongak ke belakang sejenak ke ciplakan Dewa, kembali lagi dengan kesibukannya di taman tepat di area swimming pool. Tangannya memegang gunting rumput. ia memang senang berjibaku dengan namanya tumbuhan-tumbuhan. ""Apa Dja ? Apa butuh sesuatu ? Kopi kah ?""
Aku butuh dirimu...
""Aku ingin bicara !""
""Bicara saja, Tak ada yang larang kok.""
Cekrek Cekrek...
Radja meringis ini, Rose sedang menggunting tanaman, takut takut saat ia menyampaikan niatnya yang terpendam... Gunting itu malah menyerang tubuhnya karena kekagetan Rose.
""Kenapa masih diam ? katanya mau bicara ?"" Rose memutar tubuhnya penuh ke Radja, tanaman satu sudah rapi, tinggal tanaman di sebelah Radja. dan sekarang ia berdiri tepat di samping Radja, membuat pria itu dag dig dug takut karena gunting rumputnya begitu dekat di tubuh bagian tengahnya dengan Rose yang menunduk separuh badan untuk posisi pas merapikan tanaman dekat kolam renang.
""Tapiiii, Setelah pembicaraan ini selesai, Aku berharap dan meminta... hubungan kita sebagai keluarga tidak renggang ya Rose ! Anggap saja tidak pernah ada pembicaraan ini atau penolakan ini."" Batinnya di akhir. Radja sudah bersiap menerima segala konsekwensinya. Apa pun itu. Yes Or No.
""Apa sih ? Jangan bikin penasaran deh !"" Air muka Rose jadi serius ini, mendengar clue aneh dari Radja. Tidak Renggang ? apakah ada kesalahan di sini ? Penasaran jadinya. "" Cepat katakan, jangan berbelit sampai ada kata Renggang di sini.""
Nah kan, Sudah keluar tuh nada nada kagak enak intronya, Radja malah gusar jadinya. Bambank eh Bimbang.
__ADS_1
""Roseeee !""
Eummmm... Pengganggu, Mamanya kenapa tetiba manggil sih ? Tidak tahu apa kalau anaknya akan melakukan pengakuan yang berbulan bulan terpendam.
""Aku akan kesini lagi setelah menghampiri Mama Risma.""
""Eum, aku tunggu !""
Rose pun berjalan masuk ke pintu masuk terhubung ke dapur langsung di mana Risma memanggilnya, Sementara Radja pun meninggalkan tempat karena tetiba ada penelpon yang penting untuk segera di terima, ia berjalan ke sisi taman berlawanan dengan jalannya Rose. karena di area kolam ada percikan air mancur yang menggangu untuk menerima panggilan telepon.
Hanya sepuluh menit, Rose kembali lagi ke area kolam renang dengan dua cangkir kopi di tangan, mengobrol dengan minuman hangat di pinggir kolam renang ide yang bagus, pikirnya.
""Aih, Radja ke mana ? Sudah ke kampus lagi kah ? Katanya mau ngobrol, Yaelaah...Teman ngobrol kabur semua, Dou mblendung siang siang begini pada nguntit lakinya, Kembar pada sibuk kerja, Papa Bima dan Mama Risma ijin cek up. Nas----!""
Praaang...Bugh !
"" Hmmmpp !"" Dalam hati Rose, ia berteriak minta tolong, Namun... Mulutnya ia tutup rapat-rapat di dalam air, kakinya bergerak asal kesana kemari, namun apalah daya... Pergerakannya yang tidak bisa berenang malah semakin membuat dirinya tenggelam saja. Gelap sudah !!!
Radja di buat budek dengan pembicaraan serius di telponnya di sisi jauh dari kolam renang, ia sebenarnya mendengar suara gerumuh air, namun samar samar..ia pikir itu mungkin ART yang sedang membersihkan kolam.
Pembicaraan selesai di telpon, Radja pun berjalan ke arah kolam renang, Matanya memicing ke gelas di tepi kolam yang berserakan di lantai. Sejurus kemudian bola mata itu memutar ke dalam kolam.
Degh...
""Ro-Roseee !""
Pekik Radja menjatuhkan sembarangan layar beningnya di tangan dan segera nyemplung masuk ke dalam air, Hatinya takut luar biasa melihat Rose tenggelam.
__ADS_1
Dengan cepat, ia membawa tubuh tak sadarkan diri itu naik ke tepi kolam.
""Rose !""
Radja menekan nekan dada Rose guna untuk memberi pertolongan pertama. Namun Rose tidak bergeming sama sekali.
"" Maaf, aku harus melakukannya !"" Setelah minta ijin, dengan hati takut takut, Ia memberikan nafas buatannya ke Rose. wanita itu masih saja tak bergeming, Radja kembali menekan dada Rose. Dan Kembali lagi memberikan nafas buatannya.
Uhuk uhuk uhuk.
Alhamdulillah...
Mata Rose membulat, Saat menyadari tadi Radja menolongnya dengan cara frontal. Bibir ketemu Bibir ? Aduuuh...Bibir bekas Dewa yang masih di jagahnya terhapus sudah oleh bibirnya Radja.
""Rose, Shi*...kamu membuat jantung ku mati sesaat !""
Sekonyong-konyong nya, Radja mendekap tubuhnya, Rose Dejavu...Awal bertemu Dewa dulu sangat persis insiden ini, namun bedanya...ia tenggelamnya di sungai ketika itu, Dan entah dari mana orang kota seperti Dewa ada di pelataran dekat sungai itu. Kenapa begini ? Apa artinya ini ?
"Kamu kenapa bisa tenggelam eum ? Jangan membuat ku mati karena penderitaan hati ku yang terpendam selama ini. Jangan mati dulu sebelum kamu tahu kalau mantan Kaka ipar mu ini sangat mendamba dan mencintai mu.""
Degh...Mendamba ? mencintai mu ? Rose speechless di dalam dekapan Radja.
""Apa kamu tahu Rose, Dari beberapa bulan lalu lamanya, perasaan ku begitu menggebu-gebu terhadap mu, aku sudah pernah menepisnya saat mengetahui kalau hatimu masih setia kapan pun untuk Dewa-adikku. Tapi semakin aku menepis rasa itu, semakin menggunung saja di dalam sana. Jadi apa aku salah dengan perasaan ku ? Terserah dengan keputusan mu tentang rasa ku ini, aku tahu kamu pasti menolak ku, Aku sadar itu...Tapi kan setidaknya rasa yang terpendam terkuak sudah. Yang aku ingin dengar sekarang adalah suara penolakan mu agar rasa di hatiku untukmu berangsur menghilang, itulah obat mujarab untuk membuang rasa suka ku terhadap mu, rasa cinta ku akan menghilang sendirinya saat sudah mendengar penolakan.""
Rose bingung harus menyikapi pernyataan Radja yang menggebu ini, Tapi ia tidak mungkin bertopeng hanya sekedar menenangkan hati Kaka iparnya ini.
Setelah terlepas dari dekapan Radja. Rose menangkup satu tangan Radja..Ini masalah serius ! Masalah hati adalah juaranya masalah sesungguhnya di dunia fana ini.
__ADS_1
Sebelum menjawab, Rose menghitung dalam hati, satu sampai sepuluh...