
Satu bulan berlalu, Kediaman Batara sedang melakukan pengajian yang menghadirkan anak yatim-piatu dari panti asuhan Bunda kasih dalam rangka mendoakan kesembuhan Bima dan Risma yang masih saja tak ada kemajuan.
Pihak keluarga pun ikut serta termasuk Bang Sam dan para mantu Batara.
Pengajian usai begitu teratur seperti ekspektasi mereka, dan para anak yatim piatu sedang berbaris untuk berpamitan ke pemilik rumah dengan oleh oleh tangan sebagai hadiah kecil dari Rose yang sudah di siapkan.
""Eh, kenapa menangis ? siapa nama mu ?""
Topan, menyapa anak panti manis yang mengantri paling belakang, dari sudut mata Topan, anak seusianya ini lah yang paling kecil dari anak panti lainnya.
""Aku di belakang sendili, aku takut ! Nanti aku di tinggal oleh meleka !"" Cemasnya mengadu seraya terus maju sedikit demi sedikit sesuai teman di depannya bergerak.
""Siapa nama mu !"" Ujar Topan kembali.
""Gelhana."" sahutnya seraya mengusap cairan yang keluar dari hidungnya.
""Oh, Gelhana ! Kam--!""
""Bukan Gelhana tapi Gelhana !"" Cadelnya protes yang sebenarnya Gerhana.
"" Iya Gelhana, Jangan menangis ya, sini...Aku bantu kamu untuk mengantri paling depan.""
Topan yang biasanya cuek dengan keadaan yang menyangkut urusan orang, entah kenapa malah iba melihat anak panti paling kecil di antara teman-temannya menangis dalam diam, Di tariknya tangan mungil itu maju ke barisan paling depan tepat di hadapan Rose dan Radja yang sedari tadi membagikan oleh oleh dan amplop untuk para anak anak.
""Nenek, Kakek ! Topan minta satu paket oleh olehnya boleh ? Buat Gelhana !""
Anak kecil yang di panggil salah oleh Topan malah menatap tak suka ke Topan karena namanya di buat aneh untuk di dengar, Padahal ish, ia sendiri yang salah mengutarakan karena kecadelannya.
""Nana saja !"" Protesnya. Topan hanya diam tak mengerti, Nana saja ?
""Ambil lah Topan...dan segera selesai kan urusan mu boy...Kasian antriannya berhenti."" Lembut Rose menjelaskan karena Topan menghadang jalan antrian anak yatim-piatu yang akan maju.
""Ni, ini buat kamu...Dan segera naik ke bus agar kamu tidak di tinggal.""
Dan anak kecil yang bernama Gerhana pun, meraih barang tersebut dengan senyum manis merekah. ""Telima kasih ya !"" Riangnya pergi dengan cara berlari kecil seraya tersenyum bahagia. Topan pun tersenyum melihat tingkah anak kecil yang mungkin seusianya.
Dari sudut ruangan, ke-dua adik kembarnya memperhatikan Kaka Sulungnya yang tumben tumbenan kagak dingin ke orang lain.
""Dai, Topan baik ya !"" Ujar Pelangi. di angguki Badai.
""Namanya aja yang cangal, hati mah sepelti ekim."" Cadel Badai mengejek Topan yang tak mungkin di dengar oleh kakanya tersebut.
__ADS_1
""Aku aduin ah.."" Goda Pelangi berlari ke arah Topan.
""Eh, jangan !"" Kejar Badai cepat.
Acara pun usai dengan lancar, meninggalkan hanya para keluarga inti saja di dalam ruang tengah untuk sekedar merilekskan tubuh.
""Mentari, tolong ambilkan air putih ya !"" Biru mentitah lembut seraya bercanda bersama Pelangi yang ada di hadapannya.
""Eum, Sebentar !""
Mentari bangkit tanpa berhati hati, Membuat kakinya tersandung akan karpet berbulu, dan untungnya ada Langit yang menangkap pinggang itu yang kebetulan berlalu.
""Hati hati !"" Ujar Langit melepaskan tangannya dan berlalu cepat menghampiri Senja, karena ada Tatapan tajam dari Biru yang dirinya tidak sengaja menyentuh kulit Mentari.
""Petite, Masih tahu cara berjalan yang benar kan sayang ?"" Biru bangkit, Mentari yang di tanya seperti sindiran pedas hanya diam. ""Duduk lah, aku akan mengambil sendiri air yang aku pesan."" Lanjutnya. melangkah tapi baru dua langkah pendeknya, Biru berhenti karena ada ART yang memanggilnya dengan amplop coklat yang di layangkan.
""Buat aku ?"" Tanya Biru heran karena ini bukan alamat sesungguhnya untuk menerima paket apa pun. Sang ART mengangguk dengan tunjuk tangan ke nama yang tertera di atas Amplop.
""Oh, Ya sudah... Terima kasih ya !""
Rasa haus yang sedari tadi di tahannya seketika menguap hilang saat melihat isi amplop tersebut, beberapa foto tak senonoh Mentari dan Langit membuat darahnya mendidih siap membara meledak tanpa berpikir jernih lagi.
Aaargh. Jeritan berirama saat Biru tetiba memukul Langit yang melongo tak mengerti apa apa.
Anak anak Segera di bawah pergi oleh para pengasuhnya atas perintah Rose. Rose tak mau cucu cucu nya melihat orang tuanya bertengkar.
""Gemi !"" Gema reflek berhenti dari Langkahnya yang ingin memisahkan dua banteng yang sedang mengamuk. Ia lebih memilih membantu kembarannya yang sedang di papah Jum yang hampir oleng karena tubuh Gemi sangat berat untuk ukuran kekuatan Jum. di bawahnya tubuh Gemi masuk ke kamar di ikuti Jum yang akan membantu Gema menyadarkan Gemi dari pingsannya.
Bugh bugh bugh
Walaupun Langit tak tahu permasalahannya apa ? Ia sebisa mungkin menghindar dan sebisa mungkin membalas perlakuan Biru yang tetiba ngajak ribut.
Senja hanya diam tenang, Membiarkan mereka bertengkar, pikirnya pasti ada sesuatu yang membuat Biru marah sampai tidak bisa menahan emosinya. Tapi apa kesalahan suaminya. Beranjak, ke amplop coklat yang tadinya di jatuhkan Biru asal asalan.
Mentari, sedari tadi ingin maju memisahkan tapi maju mundur karena Rose dan Anna yang menahannya, mereka tak mau Mentari terkena pukulan.
Dor Dor Dor.
Bang Sam sampai mengumpat kasar saat tetiba ada suara tembakan akan ulah Radja yang muak melihat pertengkaran di dalam rumahnya, baru tadi mengadakan pengajian sekarang malah mantu sama mantu adu jotos. dengan Geram tembakan yang di arahkan ke mini bar yang seketika menimbulkan pecahan botol botol cantik, hancur. Dan kehancuran itu membuat Biru dan Langit berhenti sesaat.
""Satu lagi ada adu jotos di hadapan ku sekarang, maka masing-masing kepala kalian akan berlubang."" Ancam Radja ke Biru dan Langit yang ingin memulai aksi mereka lagi. Namun terhenti saat.....
__ADS_1
Plaaaak....
Pipi Mentari panas seketika saat Senja tetiba menampar adiknya tepat di depan mata Rose dan yang lainnya.
""SENJA !!!"" marah Rose melindungi Mentari. Senja tak bergeming. Radja mendekat menahan Senja yang akan kembali ingin menampar adiknya.
""Daeng ! Kenapa me--!""
""Itu tak seberapa, pantas saja suami mu menghajar suami ku, karena ini."" Lempar Senja ke wajah Mentari akan foto foto tersebut. ""Dan kamu Langit, MENJIJIKKAN !"" Geramnya marah menunjuk wajah Langit dari tempatnya berdiri.
Biru berbalik memunggungi semua orang, Seketika air matanya menetes begitu saja saking tak kuasa menahan sakit hati akan kelakuan Mentari yang mengkhianatinya. Biarkan seluruh dunia menghianatinya, tapi... Jangan Mentari, Dunianya seakan runtuh hancur berantakan kalau Petitenya yang menghianatinya, ada belatih rasa rasanya yang masih tertusuk di dalam sana yang tak bisa di cabut. Sakit dalam yang ia rasakan saat ini. Apa kah ini hanya mimpi ? semoga saja hanya mimpi ?
""Hulk, Biru ! hiks..Hiks...! ini..ini tidak benar ! percaya sama aku, ku mohon i-ini hiks hiks ti-tidak benar." Mentari mengguncang guncangan kedua bahu Biru agar menatapnya dan mengatakan bahwa dia mempercayainya.
Namun Biru barang sedikitpun tak mau memandangnya. Itu membuat Mentari kecewa, Biru tak mempercayainya dan hanya mempercayai foto saja.
Langit pun sama, Mencoba meyakinkan Senja agar istrinya tidak mempercayai foto foto tersebut. ia merasa tidak pernah tidur bersama Mentari barang sedikit pun, bahkan membayangkannya saja tak berani, itu sama saja menggali kuburan sendiri baginya jika macam macam.
""Percaya lah Senja, ini itu fitnah--!""
""Fitnah ? baik...mari kita buktikan, ini foto editan atau asli."" Senja kembali memungut foto foto tersebut. para orang tua hanya bisa diam, ini adalah urusan rumah tangga, jadi Radja dan Rose akan bertindak jika akan ada kekerasan lagi di sini. mereka hanya mengawasi dalam diam.
""Yaaak, sana buktikan ! ini pasti editan, aku tak pernah berpaling dari mu Biru. Sumpah demi kehidupan ku. Aku tidak menghianati mu hiks...ini tidak benar, sangat tidak benar hiks hiks hiks.""
Mentari histeris, memukul mukul dada Biru sekilas, dan menangkup wajah suaminya agar Biru mau melihat kejujuran matanya, tapi apa yang ia dapatkan, Biru menepis tangannya dan mendorongnya hingga terhempas ke lantai. ini adalah pertama kalinya Biru memperlakukannya secara kasar. biasanya semarah apa pun Biru dan sekesal apa pun Biru akan tingkahnya yang kadang nyebelin, suaminya ini tak pernah menyentuhnya dengan kasar. Aaw, perut ku kenapa terasa sakit. Batinnya meringis pelan dari jatuhnya di lantai.
"" BIRUUUU !!!"" Marah Radja. ingin menghajar mantunya itu, tapi melihat tangan Mentari yang memberi nya kode agar tak ikut campur. ia pun berhenti dan memilih membutakan matanya.
Rose pun menangis dalam diamnya, Anak anak nya bertengkar di depan kedua matanya tapi tidak bisa berbuat apa apa karena ini sangat sulit untuk berpihak ke siapa, berpihak ke Senja...maka anak bungsunya akan merasa tak di bela, berpihak ke Mentari..maka anak sulungnya akan marah yang bisa saja berpikir ia telah membela kesalahan. Jadi diam di tengah tengah lebih baik untuk saat ini.
""AKU MEMBENCI PENGHIANATAN, MENTARI !!!"' Marah Biru terdengar dingin saat Senja sudah mengecek keaslian foto tersebut melalui kepiawaiannya dalam teknologi yang di ajarkan Nata.
"' Biru...Biru, Hulk... Jangan pergi dalam keadaan marah begini, ku mohon tetap tinggal, aku akan membuktikannya dengan cara ku sendiri, Biru ayolah...ku mohon aku masih istrimu yang dulu, mana ada Mentari lugu bisa senekat itu. Bi---!""
Mentari mengejar langkah penjang Biru yang akan pergi, sekali lagi mencoba menjelaskan tentang masalah yang tak pernah ia lakukan bersama Langit maupun pria lain, Tapi lagi lagi, dorongan keras yang Mentari dapatkan, Tapi untungnya ada Bang Sam menahannya yang sedari tadi mengkiruti langkah dua orang di hadapannya atas perintah Rose.
""Jangan coba coba mendekati ku Sebelum kamu bisa mengelak dari foto sialan itu, Suami mana yang tidak panas saat melihat foto isterinya ber----aaaargggh !"" Amuk Biru meninju pilar utama di kediaman Batara.
""Hiks hiks hiks."" Mentari hanya bisa menangis di dalam dekapan Bang Sam. ia tidak menyangka kejutan besar dalam rumah tangganya yang selama ini bahagia dengan duri selalu mereka singkirkan dalam berdua, Tapi kali ini, apakah ia bisa melewatinya tanpa Biru di sampingnya. Suaminya itu sekarang sangat marah kepadanya, tapi tidak...ia harus membuktikan kepada semuanya kalau ia bukanlah penghianat.
Benar Hulk, Pasangan mana yang tidak marah kalau di khianati dan di beri pemandangan tak senonoh, Tapi percaya lah, aku masih setia untuk mu. Batin Mentari sangat sakit yang tak di beri layaknya kesempatan untuk berbicara baik baik, Ia tahu ego Biru itu selalu meledak ledak dalam hal serius tapi kenapa Biru terlalu mudah di perdaya oleh foto foto yang ia tak pernah melakukan adegan tersebut bersama Langit yang notabenenya adalah kaka iparnya sendiri.
__ADS_1