
Senja mengerjapkan matanya guna menelaraskan cahaya yang menyerang netranya, di pagi hari ini badannya serasa sangat tidak nyaman, mual kembali menyerangnya.
Saat ia ingin menarik tubuhnya, ia baru sadar kalau ada tangan kekar yang bertengger santai di perutnya.
""La---Hoek !"" Tak tahan, kotoran itu mengenai sedikit kulit tangan Langit, sisanya jatuh ke ketubuhnya sendiri.
Langit pun terbangun dengan kesadaran Linglung. "" Itikkkk.!!!"" tak sadar sudah membentak Senja Karena kotoran menyentuh kulit tangannya.
""Maaf."" Entah kenapa, sentakan itu begitu merulung ke jiwanya, air mata pun mengenang begitu saja. Senja menangis cengeng, tak biasanya.
Aih, dasar Langit bodoh. Sesal Langit dengan nyawa sudah terkumpul sepenuhnya dari alam mimpi.
Cup Cup Cup...
Setelah membersihkan kulitnya asal asalan dengan selimut, ia mengecup mata Senja yang masih menunduk terisak. ""Aku yang harus minta maaf, Senja ! Ayo ke kamar mandi, aku akan membantu mu membersihkan tubuh mu !""
Tentu saja Senja menolak... Aku akan membantu membersihkan tubuh mu ! Apa coba maksudnya ? Dasar mesu* ! Ia tidak mau di lihat tubuhnya oleh si mendung ini, tadi saja sudah menyentaknya..dan sekarang mulai modus modus busuk.
""Aku bisa sendiri !"" Senja beranjak dari kasur, namun tetiba tubuhnya malah melayang.
""Aaarg, Langit !!! turunkan !""
Langit tentu saja berkepala batu, ia tidak mau Senja limbung lagi seperti di dini hari, tadi. Berjalan terus mengabaikan kaki Senja yang bergerak gerak keras mengenai tubuhnya, minta di turunkan. Langit malah menggoda Senja dengan kedipan matanya.
""Diamlah Itik, jangan terlalu banyak bergerak... kasihan anak kita di dalam sana."" Deliknya ke arah perut Senja.
""Anak ?"" Terkejutnya terdiam mencerna, Ia pun menghentikan guncangan kakinya di atas gendongan Langit, Ala bridal style.
__ADS_1
""Ya,anak ! Kamu hamil anak ku, dini hari tadi kamu pingsan dan dokter Farel ke sini memeriksa mu, dia bilang kita di suruh menemui dokter Anita, untuk memastikan kondisi mu."' Terang Langit antusias.
Senja sesaat tersenyum bahagia, namun itu tak lama, mengingat pernikahannya dengan Langit yang tak ada kepastian, Senyuman itu runtuh kembali tergulung. Ini si mendung menerima dengan hati bahagia atau hati terpaksa ? Bukan apa apa..Si Mendung pernah menghinanya habis habisan.
Sampai di kamar mandi, mata Senja tak lepas dari air muka Langit yang sedang mengisi bathub, terlihat santai santai saja di mata Senja wajah tampan itu.
""Apa kah kamu menyesal Langit, maksudku...pasti kamu menyesal sudah membuahi wanita yang kamu anggap hina ini.""
Hati Langit tercubit, Menyesal sudah pernah menghina Senja 'ini itu' sebelumnya. mendekat membuang jarak dari Senja.
"" Maaf untuk itu, Bisa kah kita mengulang hari baru, mulai saat ini ? Aku minta maaf atas sikap buruk ku terhadap mu di masa yang lalu lalu. Sungguh aku mencintaimu, Senja... sangat ! Mari kita lupakan perseturuan kita dan menciptakan hari bahagia untuk mu, untuk ku dan untuk anak kita !""
Mata itu saling bersibobrok seakan akan saling menghipnotis satu sama lain, di tempat sunyi senyap kamar mandi, Senja terhipnotis akan mata Langit yang terlihat bersungguh sungguh dalam ucapannya, sehingga lidahnya kelu tak mampu berkata satu katapun. Tangan Langit pun ia tidak menyadarinya sudah mengerlya kemana mana sampai kancing bajunya sudah terbuka lebar lebar. Bukan hanya tangan saja yang nakal. Bahkan wajah Langit sudah sangat mengikis jarak di wajah Senja.
"" Hmmmpp !!!"" Terkesiap dari keterhipnotisan mata dan kesungguhan Langit. Senja malu luar biasa menyadari jika tubuhnya kini hampir setengah polos. Permainan lembut bibir Langit kali ini berhasil membuat hasrat keinginan Senja mengubun... Ketakutan melakukan itu entah hilang kemana ? apa karena Langit kali ini bermain lembut sehingga tubuhnya merespon setuju.
Bukan jawaban suara yang di terima Langit, melainkan serangan bibir lembut dari Senja. Membuat Langit tersenyum jumawa dalam pangutan itu.
Serasa kekurangan oksigen, Senja mendorong dada Langit agar mau melepas pangutannya. "" Jangan kecewakan aku untuk kedua kalinya."" Warning Senja tetiba.
""Tidak akan, di sisa hidup ku ini, aku akan setia hanya untuk mu !"" Sahutnya, sejurus menerkam curug leher Senja, ia tahu...Senja sudah terbuai dalam kelembutan permainannya yang menyetrum ke Awang Awang
Dan Senja sendiri sudah menggigit bibirnya, menahan suara Laknat yang ingin lolos, Langit si juara bermain begitu tega memberinya tutul tutul seperti macan tutul di jenjang lehernya. saat ini... urat malunya terputus sudah, dengan keadaan tubuhnya yang hampir Polos di hadapan mata mesu* suaminya.
Aaaahap... Terkesiap kaget pun lolos di mulut Senja saat si pemain handal ini memangut mangut ujung dadanya yang entah kapan, bagian perut ke atas, sudah polos sempurna.
Jadi benar ya kata orang, Anak perempuan menyus* hanya sampai berumur 2 tahun saja, Beda dengan laki laki, menyus* sampai tua kaplak pun tak ada bosannya. Batin Senja.
__ADS_1
Mangap mangap kagak kuat, Langit yang Sudah buas tatapan matanya dari tadi, memandang Senja dengan tatapan layaknya meminta izin untuk memulai permainan intinya.
Senja mengangguk, dan tanpa ragu... Langit melepas semua bahan di tubuhnya... memperlihatkan batangan yang sudah mengacung tegak sempurna di mata Senja.
eeeetdah, Pantas saja waktu di Jepang... sakitnya luar binasa... Gede begitu batangan... Kali ini sakit luar biasa lagi kagak ya ? Seram amat deh ah tuh senjata, mana berkedut kedut semakin dekat lagi tuh senjata hidup. Batinnya yang baru kali ini memperhatikan tanpa berkedip, ia memang pernah menyatu, tapi di waktu itu....ia memejamkan matanya dengan derai air mata tak henti hentinya yang dapat paksaan dari si mendung ini.
Hoeeek...
Belum sempat juga batangan itu menyentuh sarungnya, Senja kembali berulah... Munta di saat kepalang tanggung.
""Mingg----Hoek..Hoek..!"" Berlari kecil kearah wastafel, Senja tak henti hentinya mengeluarkan air kekuningan dari mulutnya.
Astaga Langit...dosa mu di masa lalu sangat lah banyak...dulu wanita lah yang mengantri sabar.... sekarang diri mu terkena karmanya..Lo yang harus sabar untuk menyatu en* en* bersama wanita tercinta mu.
Dan si Otong di bawah perut pun seketika lemas tak berdaya, ngambek akan tuannya yang terkena karma... Sabaaaar, Naseeb...Naseeeeb.
""Huuuuu !"" Lenguhnya panjang dengan perut sangat terasa kagak enak. ""Aih, itu mu sudah tidur kah ?"" Ledek Senja tersenyum geli dengan wajah merah malu.
""Ck, Ternyata calon bayi kita sangat nakal di dalam sana, Belum apa apa sudah meniru calon mom-nya ini, yang kadang kala menyebalkan."" Langit meraih bathrobe, mengenakan ke tubuh Senja yang tidak mungkin untuk melanjutkan aksinya yang sudah terjun bebas ke dasar dasarnya.
""Hahahaha."" Senja malah terbahak santai, meninggalkan Langit menuju bathub. "" Berarti calon anak kita sangat tidak menyukaimu mendung, sudah terbukti ia melindungi ku dari ganasnya singa di hadapan ku ini."" Ledeknya. Namun anehnya, Langit mengulas senyum hangatnya mendapati Senja dulu sudah kembali...Senja penuh kecerdikan dan kecerewetan tidak dingin lagi terhadapnya.... Haaasyik, Sapi sudah bersayap kah ?
...*****...
***Hai hai hai, para readers tercinta.... bagaimana dengan cerita ini ? sudah bosan kah ? Rupanya sih iya ? Author merasa...cerita ini terlalu monoton ya ! bagaimana kalau alurnya di percepat saja, biar cepat End.... Setuju kah ?
..... Jangan lupa dukungannya cuy, Goyangkan badan mu eh Jempol mu😉***
__ADS_1