RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 128


__ADS_3

Bugh...


prang....


duang...


"" Pergi dari sini ! mulai sekarang kita akan pisah rumah, kamu itu laki laki tidak berguna ! kita tidak cocok untuk saling bersama !"" Akting Mentari. Mendorong dorong dada Biru untuk keluar. Bahkan Mentari tidak tanggung tanggung melempari arsip arsip tebal ke arah Biru yang sudah berdiri di ambang pintu.


""Ok, Fine ! mulai sekarang kita pisaaaaah rumah."" Seru Biru pun berakting. "" Amit amit cabang kepala, Mana bisa gue pisah benaran dengan mu, Petite."" Lanjutnya dalam hati. Ekor matanya menangkap sosok Sena bersembunyi di sebelah meja sekretaris. sudut bibir itu menyeringai tipis.


""Terus ! tunggu apa lagi, Kenapa masih berdiri di situ ?."" Decak pinggang galak Mentari berdiri di tengah tengah pintu.


""SABAR ! Saya ini dulu !"" Ujar Biru merapihkan penampilannya yang berantakan, kancing kemeja terbuka bagian tengah, Dasi yang bertengger miring miring bahkan jasnya pun hanya tergantung di pundak seolah olah berantakan karena berantem padahal si tengil Sagara habis berantem yang en* en*.


""Tidak ada acara merapihkan penampilan di hadapan ruangan ku, pokoknya sana pergi !"" Dorong kembali Mentari di tubuh Biru.


""Lo !"" Tunjuk kasar Biru tepat di hadapan mata Mentari. Sedetiknya ia memonyongkan bibirnya layaknya orang ingin di cium. Sena di belakang tidak melihat itu, Sena hanya melihat ekspresi Mentari yang sedang spontan melotot membuatnya yakin kalau pasangan di depannya ini benar adanya berperang dingin.


""Iya ! Kenapa !"" Mentari menepis tunjuk Biru, lalu dengan terpaksa ia menampar pipi suaminya. ""PEEEEERGI !"" Usirnya membentak dengan tangan menunjuk lift. ""Saya BENCI melihat wajah mu lagi."" Mentari berbalik badan setelah berucap terakhir, ia masuk ke dalam ruangannya kembali.


""Gue pun sama, membencimu !"" Teriak Biru seraya mengelus pipinya. Sakit benar deh ah. "Menyebalkan !"" geli Biru seraya berjalan ke arah Lift.


Sena yang melihat pertengkaran hebat suami istri ini, mendengus bahagia. ia keluar dari persembunyiannya dan berjalan ke arah Biru, berniat merayu pujaan hatinya yang dari dulu susah di taklukkan oleh Sena lama. Kita lihat, apakah wajah Sella berhasil merayu suami yang sedang marahan dengan istri ini. Bangganya berkhayal indah. Kan kebanyakan laki laki jikalau sedang cekcok oleh istrinya, pasti dengan mudah di rayu. pikirnya.


""Pa-pak !"" Ragu Sena menyapa.


Biru yang masih sibuk membetulkan dasi menengok dengan alis terangkat satu, layaknya orang bertanya menyelidik."" Kamu ? masih di sini ? bukannya tadi kamu sudah di pecat ? berarti tadi kamu melihat semuanya dong ?"" Cerca Biru naik oktaf layaknya sedang terkejut dan agak marah karena ada mata yang melihat pertengkaran hebat dirinya dan Mentari.


""Iya dan maaf ! Saya melihat semuanya ! sabar ya pak !"" Ujarnya menenangkan.


"Eum !"" Singkat Biru seraya berjalan masuk kedalam Lift. Sena mengekor.


""Ini kan Lift khusus, Kenapa kamu naik ke sini ?"" Basa basi Biru.


""Pak, Maaf ya dasinya sedikit miring !""


Sena tak menghiraukan pertanyaan Biru, ia malah mendekat dan langsung membetulkan dasi Biru yang sebenarnya sudah rapih, ia hanya berniat merayu. tak lupa tangannya mengelus dada Biru sebelum menyentuh dasi itu.


Huff, Rayulah sesuka Lo sekarang, Sebelum gue beri.

__ADS_1


""Sudah rapih !""


Saat Sena ingin menjauh, ia berpura pura tidak seimbang agar jatuh menubruk tubuh Biru.


""Hey, kenapa ?"" Sebenarnya Biru sangat risih kulitnya bersentuhan oleh Sella atau Sena ini, tapi demi akting ia menahan tubuh itu.


""Kepala ku tiba tiba sakit, pak. Tolong saya !""


""Eum, sabar ya..Lift sebentar lagi akan sampai ke lantai bawah.""


Sena tersenyum jumawa dalam posisi sedekat ini bersama Biru. Demi apa, Biru memapanya ? Ah, rasanya ada beribu ribu bunga yang terjatuh dari atas....Gue suka situasi ini... Mentari, suami Lo akan gue rebut dengan sangat mudah.


""Yaak, Nakal kamu Sagara !""


Ternyata semua aksi Biru yang di dalam Lift terekam semua oleh Mentari lewat CCTV yang berada di dalam Lift. "" Puasa benaran ya Sagara, selama satu minggu tidak ada adegan romantis apa pun, cih....Modus sekali kau ini, enak benar hidup mu sayang ?!""


Walaupun Mentari tahu kalau Suaminya lagi berakting, tapi mata dan hatinya meradang terbakar melihat itu.


Pintu Lift terbuka, Belum sempat Biru melangkah keluar dengan Sena dalam papahannya yang katanya lagi pusing, Sang Security berumur berbau bau sebentar lagi mendapat surat pensiunan, Lewat !


" Pak Security !"" Panggil Biru.


"" Iya pak !"" Takzimnya dengan sedikit membungkuk sekilas.


Sang Security yang sudah berumur, Menerima perintah dari Biru. Ia menerima papahan tubuh harum dan seksi Sena dari Biru.


Biru pun pergi duluan meninggalkan Sena dan Security yang masih di dalam Lift CEO.


"Hahahaha, pak Darso dapat cipratan wangi dan kelembutan kulit Sella."' Mentari yang melihat dari balik layar tergelak. Apalagi saat Biru sudah tidak terlihat di Lift, Sena memerengut mendorong cepat pak Security menjauh dari tubuhnya, tak lupa Sena menghentakkan kakinya kesal dengan tangan mengibas ibaskan untuk membersihkan kulitnya dari keringat Security tua.


...*****...


"Maaf tuan tuan dan Nyonya, Kalian tidak boleh masuk !""


Tiga Bodyguard yang menjaga pintu rawat ruangan Rose menghadang Radja, Bima, Tegar dan juga Risma, tidak boleh masuk ke dalam atas perintah dari Mentari.


""Hey ! apa maksud kalian hah ?"" Radja langsung naik pitam, mencekal kerah baju salah satu dari Bodyguard utusan Biru.


""Maaf Tuan Radja, kami hanya menjalankan perintah dari Nona muda Batara."" Jelasnya kekeuh.

__ADS_1


""Mentari ?" Tanya Tegar memastikan.


""Iya Tuan. !""Salah satu dari mereka menjawab takzim.


Radja melepaskan tangan kurang ajarnya dari kerah baju bodyguard itu. Memalingkan wajahnya ke Risma yang beraut sedih atas sikap Mentari yang kembali ingin menjauhi keluarga Besarnya.


""Ada apa ini, kenapa pada kumpul di sini."" Tanya Senja yang baru datang dengan Bang Sam tak lupa ada Langit yang terpaksa ikut atas tuntutan papanya.


""Kenapa tidak masuk ?"" Timpal Senja lagi.


""Mereka tidak ada yang boleh masuk, kecuali saya dan Daeng sebagai anaknya Amma saja, yang lain tidak boleh !""


Mata semua berbalik menatap orang yang baru saja datang dengan sikap dinginnya, Mentari .


Mentari sengaja melakukan ini semua agar bisa mengelabui Sena yang selalu diam diam mengikutinya dari belakang, seperti sekarang ini, Sena lagi bersembunyi di antara orang orang sibuk lalu-lalang di lorong rumah sakit.


""Mentari ? apa maksud mu, Sayang !"" Heran Senja merasa aneh, ini bukanlah adiknya yang dingin.


""Saya tidak mau Amma saya di racuni lagi dari salah satu kepala Batara yang entah Siapa itu."" Tuduhnya melirik satu persatu keluarganya.


Plak...


Reflek Risma tak sadar menampar pipi cucu bungsunya, Ia tidak terima akan tuduhan Mentari.


Mentari tersenyum miring. ""Pukulan nenek tidak ada rasanya di pipi Tari. Tapi di sini !"" Mentari menunjuk dadanya, yang berarti sedang sakit. Ia pun melirik ejek ke Senja yang diam saja karena kakanya itupun pernah menamparnya.


""Daeng tidak curiga kepada mereka, eum ? Apa Daeng hanya curiga kepada ku, adik mu yang dari kecil tumbuh bersama, yang dari kecil Daeng tahu kalau adikmu ini tidak pernah tega melukai seekor semut pun, apa lagi harus melukai surga ku, pikir lah dengan otak !."" Sindirnya keras ke Senja.


Senja hanya menunduk malu. mau meminta maaf pun, Mentari tidak pernah memberinya kesempatan untuk berbicara.


""Ingat ya kalian ! jangan ada yang boleh masuk kecuali saya dan anak Amma yang lainnya, Mengerti !"" Tekannya ke tiga penjaga pintu ruangan. ia masih berbaik hati membolehkan Senja izin masuk. karena ia dan Kakanya itu punya hak yang sama, pikirnya.


""MENGERTI !"" Kompaknya bersuara.


""Bagus !"" Mentari tanpa melihat kebelakang lagi, masuk ke ruangan Rose. Jujur ia begitu berat melukai hati semua keluarganya yang tidak salah dan tidak tahu apa pun. Tapi demi rencananya bersama Biru, ia harus tega memperlakukan mereka secara dingin.


Tari, kamu berubah sayang ! Dan ini bermula karena tuduhan daeng. Senja pergi dengan hati kecewa dan menyesal, ia tidak menjadi menjenguk Rose tapi berbelok ke ruangan dokter Farel untuk sekedar menanyakan perkembangan Ammanya.


Kepala para Batara pun pergi meninggalkan tempat itu, dengan rasa kecewa ke Mentari yang kembali menjauhi mereka. Bahkan Risma sekarang berjalan di rangkul Bima dengan air mata sudah menetes.

__ADS_1


Langit memilih duduk santai di kursi ruang tunggu di depan ruangan Rose, melirik Ke sana kemari dengan tatapan bosan.


Setelah sepi di mata yang tadinya pemandangan bagus untuknya saat melihat Mentari mendapat tamparan lagi, Sena pun pergi dengan hati senang. Cuma ia tidak tahu, ada salah satu anak buah Biru yang setia mengikuti langkah-langkahnya.


__ADS_2