RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 256


__ADS_3

Tepat waktu berkumpul nya Biru dan Kelompok nya Senja di ruangan Nata. Dirumah... Vane dan Titan yang bersantai di ruang keluarga di buat kaget dan sport jantung melihat Mentari menuruni anak tangga dengan satu koper di tangannya.


""Siang Ma, Pa !"" Walaupun lagi tak bersamangat, Mentari tetap menyapa sopan nan ceria ke orang tua keduanya.


""Mentari, kamu mau kemana dengan koper itu ?"" Vane lemas seketika, ia sudah paham betul walau pun Mentari belum menjawab nya.


""Mau pamit Ma, Pa ! Mentari titip anak anak ya, mereka sedang tidur siang."" Dengan sopan, Mentari berlutut di hadapan duduk ke-dua Mertuanya, Ia menyalami tangan Titan dan Vane bergantian seraya mencium punggung tangan itu. Ia masuk ke dalam rumah ini dengan cara baik baik, maka pergi pun harus dalam keadaan sopan. dan ah...ia harus segera Pergi mumpung anak anaknya sedang tidur, kalau ada di depan mata, Rasanya tidak tega meninggalkan anak kembarnya.


""Sayang, kami tahu permasalahan kalian, Tapi Papa mohon jangan pergi, biar papa yang akan menghajar suami mu Nanti kalau sudah pulang, atau Biru saja yang pergi dari sini karena anak Papa itu lagi bodoh dan buta."" Cegah Titan membujuk.


Mentari tersenyum paksa, air matanya sebentar lagi akan jatuh, meski pun dulu Titan Sempat meragukan nya untuk bersama Biru, Tapi Setelah menikah dengan Biru, Sosok Titan sudah menggantikan peran Amang-nya sendiri, Mertua laki laki nya ini adalah Tipe penyayang akut dalam keluarga, Sayang nya tidak setengah setengah, Dengar saja tadi, Mertuanya rela menawarkan untuk memukul anaknya demi dirinya. ""Suami Tari Jangan di hajar dong Pa, dia masih suami ku, kalau Tari Janda kan, nanti Mertua Tari bukan Papa Lagi."" Mentari mencoba bercanda, agar air matanya sedikit tertahan yang sebenarnya sudah ingin lolos dari pelupuk.


""Hiks, hiks, Tari...Mama Siapa yang nemenin masak ! nyalon bareng serta memijit punggung mama Kalau lagi capek, memperhatikan pola makan mama, siapa ? Jangan pergi ya sayang !"" Bujuk Vane memeluk Mentari. Namun tangannya di belakang punggung Mentari mendail kontak Biru. Anaknya pasti tidak tahu, dan anak bodohnya itu harus tahu biar menghentikan niat Mentari, yang di ulahkan sendiri.


Masih dalam rangka terkesiap memincingkan mata masing-masing demi melihat CCTV untuk mencari tahu siapa sebenarnya dalang kekacauan di rumah tangga mereka akan adanya fitnah terkutuk. Biru, terganggu dengan bunyi ponselnya... Mama is calling.


""Halo Ma !""


Tidak ada jawaban jelas dari Vane di seberang sana, Sejurus kemudian Biru menajamkan telinganya, Shiiiitt... Mentari ? Samar samar ia mendengar suara suara dalam rangka pamit meninggalkan rumah, Petitenya akan Pergi tanpa sepengetahuan nya, ia tidak akan membiarkan itu.


Secepat kilat, Biru meninggalkan ruangan Nata dengan pergerakan gelagapan rusuh, Pertanyaan ada apa ? dari Senja dan Nata Serta Langit, tak di hiraukan nya, ia terus berlari di mana parkiran berada, tong Sampah di tabraknya pun di maki oleh nya padahal benda mati itu sedari tadi di tempat nya dengan benar.


Jangan pergi Mentari ! maafkan aku. Gumamnya menyesal dalam kemudi liarnya, Biru dapat sumpah serapah dari pengguna jalan lainnya, Bagaimana ia tidak mendapatkan sumpah itu, ia mengendarai mobilnya di kecepatan 160 km/per jam di jalanan perkotaan, Tentu membahayakan pengguna jalan lainnya pun.


Damn it, Rutuknya menyalahkan klakson menggebu-gebu di saat mobilnya terhalang banyak mobil yang mengantri masuk ke gerbang perumahan elite rumahnya berada. Biru turun dari mobil karena mobil iring iringan yang sepertinya acara lamaran seketika membuat macet dengan memenuhi jalan tak memberinya jalan. Ok... hanya beberapa meter sampai kerumah, ia turun dan berlari sekencang kencangnya agar lebih cepat sampai kerumah, ia berharap Mentari masih ada di rumah. Harus !


Hos...Hos...Hos. Nafas Biru memburu, menerjang pintu utama rumahnya dengan keringat sudah membasahi punggung kemejanya, ia tidak perduli akan tubuhnya yang sudah lengket, ia hanya ingin cepat bertemu dengan Mentari dan meminta maaf atas sikap dinginnya dalam beberapa hari ini. Ada rasa lega di saat melihat mobil Mentari serta sopir istri nya itu masih ada di depan rumah. Ah.... Aku belum terlambat. Batinnya.


""Ma, Pa ! Mentari di mana ? Petite...! Mentariiiiii !""


Diam, Vane dan Titan tak merespon pertanyaan Biru yang terlihat berantakan, mereka juga menulikan telinganya di saat Biru berteriak teriak memanggil nama Mentari yang sebenarnya sudah pergi sedari tadi.


""Mentariiii !" Teriaknya lagi mencari.


""BERISIK ! Nama yang kamu panggil itu sudah pergi ! Puaskan kamu, Papa kan sudah pernah memberi mu peringatan agar tidak mengecewakan nya. Tapi---ah sudahlah, entah bagaimana nanti kedepan nya."" Kesal Titan, memarahi Biru. Vane hanya diam memegangi tangan Titan, menyadarkan suaminya agar menjaga emosinya.


""Tidak Pa, Mentari masih ada, mobilnya pun ada di depan. Pasti di kamar bersembunyi, iya kan ? Mentari tidak akan pernah tega meninggalkan ku. Pa, Ma !""


Biru mengabaikan ocehan kesal Titan, berlari kecil menelusuri anak tangga, Istrinya pasti ada di kamar pribadi mereka atau berada di kamar si kembar yang sekarang adalah jadwal tidur siang mereka.


""Mentari !"" Teriaknya di kamarnya. persendiannya Seperti tergantikan jelly, di saat masuk ke walk in closet, mendapati adanya gantungan baju Mentari yang terlihat beberapa kosong. Benar... istrinya sudah Pergi. Dan itu karena dirinya...ia paham itu adalah kesalahannya yang sudah bersikap dingin dan tidak mempercayai istrinya sendiri.


Perlahan berjalan lunglai tak bersemangat, Biru beranjak duduk di pinggir kasur, matanya tak sengaja melihat Jam tangan khusus Mentari yang bisa di deteksi keberadaan Mentari melalui itu, tidak di pakai istrinya. Rupanya... istri nya benar benar marah kepadanya sampai tak ada niat untuk di samperin keberadaannya melalui Jam terdeteksi tersebut.

__ADS_1


Surat ? Biru pun melihat secarik kertas yang di depannya tertulis To, Hulk ku. membuka nya perlahan dan mulai membaca tulisan tangan istrinya.


Ini untaian puisi rasa hati ku, untuk mu... Hulk.


~ Hari kemarin cerah Mentari.


Hari ini hujan badai membasahi luka


Seperti hati ku, dalam titik terendah


Hati ku kecewa.


Entah, berapa musim berlalu


Bahkan, entah berapa purnama dan gerhana


Aku berjalan mendampingi mu


Tapi....Kamu masih meragukan ku


Aku kecewa.... Sangat !


Hmm....


Mengenang punggungmu telah begitu jauh


Ah.....


Air mata ini jatuh lagi


Memang, kamu ada di depan mata ku


Tapi...ada tembok besar menjadi penghalang


Tangan kecil ku tak sampai menggapai mu,lagi


Karena satu...kecewa !


Saat aku pergi meninggalkan mu


Bukan karena aku tidak mencintai mu


Tapi.... karena aku hanya ingin berpesan

__ADS_1


Neraka terlalu panas dan surga begitu indah.


Kupeluk hati ku


Ku rentangkan hati mu


Biarkan hujan hari ini


membawa tempias ke dinding hati ku


memberikan kesejukan jiwa ku


Juga jiwa mu.


Aku pergi bukan untuk menjauh


Melainkan untuk mengajari


Mengajarimu kekecewaan sesungguhnya itu apa ?


Maafkan daku, wahai Biru ku


Mentari ini dalam redup sinarnya


Aku pergi membawa hati kecewa ku


Padamu....


Tapi... Percayalah !


Kita, Tidak ! Aku dan kamu


Akan tersenyum walau berbeda lagi


Berbahagialah...!!!


Aku Pergi...Rawat ke-tiga-nya untuk ku


dan aku...akan rawat DIA untuk mu.


Tes...Tes....Tes...Biru tak kuasa menahan air mata penyesalan nya, ia sesunggukan dalam tangisnya, Istrinya begitu Terluka di buat nya, kata demi kata puisi kekecewaan Istrinya terasa menghantam Hatinya yang nampak tersirat untaian demi untaian begitu dalam.


Bagaimana ini ? Berbahagialah ? Pesan isterinya itu tak mungkin terwujud dalam hidup nya jikalau Mentari nya pergi. Tidak ! Mentari pasti tidak Pergi jauh, Istrinya ada di kediaman Batara atau ada di apartemen nya. Ia akan menjemput istrinya yang sedang kecewa mendalam Kepada nya. Menjemputnya... Titik.

__ADS_1


Ketiganya ? ia mengerti akan kata itu ? Si Triplets nya. Tapi kata Dia ? Siapa Dia itu ?


__ADS_2