
Raisa niat sekali menyingkirkan Mentari di kota ini, sekarang juga ! sampai segala kebutuhan tiket transportasi udara sudah di siapkan sebelum ia melambrak Mentari.
""Nyonya ! Nyonya Raisa, Tolong beri saya waktu satu jam saja, saya ingin menemui Bos Biru untuk pamitan sebentar.""
Raisa menyeringai licik dengan kemudi di tangannya, Untuk mengantar Mentari ke bandara sampai lepas landas pun ia akan mengawasi anaknya Dewa itu.
Merasa percuma memohon, Mentari mengeluarkan layar pipihnya. Ia akan berpamitan ke Biru lewat pesan saja.
""Mau ngapain ? mau ngadu kalau saya mengusir mu secara paksa ke anak Sunjaya. Begitu kah ?"" Sembur Raisa seraya merebut smartphone Mentari yang belum sempat di gunakan untuk menghubungi Biru. Mentari menggeleng, Ia hanya berniat pamit, itu saja !
""Yaak, Jangan !"" Sedih Mentari. Handphonenya di lempar keluar lewat kaca mobil, dan di pastikan benda mahal itu remuk di lindes oleh mobil pengguna lain. Mau melawan, takut takut kakanya yang bernama Senja di kampung jadi sasaran empuk dari kekesalan wanita gila harta ini.
...***...
""Kalian tuh lama amat sih ?"" Marah Biru turun dari mobilnya yang terjebak macet, Ia akan bertukar kendaraan bermotor oleh bodyguard yang tadinya mengawasi Mentari dari kejauhan.
""Maaf bos, Macet parah !"" Belanya.
Biru hanya menatap dingin ke orang bayarannya ini, Namun Tatapan seketika berubah ingin menghajar saat menyadari kebodohan anak buahnya.
""Kalian mengantar motor ini sampai berjamaah, Terus yang jagain Mentari di resto siapa ?"" marah Biru. Dua kepala yang di marahin hanya menggeleng, merutuki kebodohannya.
""Bodoh."" Biru pun dengan cepat pergi meninggalkan mobilnya di bawa kendali dua orang, yang entah kenapa hari ini mereka terlihat menyebalkan di mata Biru. Hatinya pun seakan tidak tenang saat ini, makanya emosinya naik turun tidak terkontrol.
""Ada apa ini ?"" Lirihnya dalam berkendara motor.
__ADS_1
...****...
Di atas pesawat terbang yang sudah lepas landas dalam sepuluh menit berlalu, Mentari meneteskan air matanya yang entah kenapa hatinya berasa sakit, Merasa bersalah ke Biru dan orang orang yang sudah baik kepadanya selama di rantau ini, ia pergi tanpa pamit bagaikan maling saja.
"" Bos Biru, Bang Sam dan semuanya yang sudah baik ke Saya ! maafkan saya yang pergi tanpa pamit ! Kalian adalah orang baik, berbahagialah Terutama kamu Bos Biru, Maafkan saya ! Saya janji dan pasti, Saya akan membayar hutang saya ke Anda, Bos ! Masalah jodoh, Saya hanya menyerahkan ke sang pencipta. Namun saya meminta ke Tuhan agar jodoh kita di persatukan. Amin ! dan bukan niat saya meninggalkan mu begitu saja, Demi tuhan saya terpaksa meninggalkan tempat ini demi keselamatan keluarga saya di kampung, Saya rela mengorbankan rasa kebahagiaan saya di sini, kamu lah kebahagiaan ku, Bos Biru !""
......****......
""Petite !"" Cari Biru langsung masuk ke Pantry. Staff yang bertugas di pantry terperanjat kaget termasuk Bu Bina.
""Maaf tuan Sunjaya, tamu harap tunggu di meja saja, anda perlu sesuatu yang di pesan, saya akan melayani anda."" Ucap Bu Bina.
""Saya tidak butuh makan, Saya di sini mencari Mentari. Mana dia ?"" Biru tak sabaran, Bertanya pun seraya berdecak pinggang dengan mata elangnya mencari si tersangka.
""Mentari ? Tapi, dia belum terlihat di pantry sedari awal kerja, Coba Tuan Sunjaya ke office saja, menanyakan keberadaan Mentari ke Pak Arkan, siapa tahu Mentari mengambil cuti atau sedang di ajak rapat oleh pak Arkan."" Jelas Bu Bina.
Braaak...
Arkan dan Zila terperanjat kaget yang sedang berbicara serius dengan akhir keputusan bersama tentang hubungannya kedepan. Biru seenak kaki main tendang saja pintu ruangannya sampai berbunyi keras.
""Yaak, apa apaan kamu ini, mau jadi preman kah ?"" Ketus Arkan, beranjak menghampiri Biru yang sudah siap menyemprot Biru.
"" Saya mau membakar tempat ini !"" Ucap Biru dingin. Zila sampai merinding, Arkan- Pacarnya ketus sehari hari, Tapi ada yang melebihi kapasitas kegalakan Arkan kalau lagi marah.
""Ka--""
__ADS_1
""Mana, Mentari ?"" Potong Biru menjeda dan sengaja mendahului Arkan, ia tidak punya waktu untuk meladeni Arkan.
""Mentari ?"" Arkan dan Zila merasa bingung di sini, Bukannya Gadis Rantau itu pamit akan ke Pantry.
""Mentari di Pantry lah, Kerja ! Aneh kamu tahu nggak, saya tahu... Mentari itu kekasih mu, tapi tidak baik terlalu protektif begitu, Mentari tidak betah...nyaho Lo ! Dan ini waktunya kerja, bukan pacaran !"" Arkan seakan menyindir diri sendiri, tak sadar.
""Cih, tak tahu malu !"" Sindir balik Biru. ""Di pantry dia tidak ada, dan kata salah satu Staff di sana, dia belum terlihat dari awal kerja, dan saya dengar.. kekasih saya itu sedang terluka karena kebaikan hatinya, Mentari sampai berkorban terluka hanya karena orang itu."" Biru melirik tajam Zila yang sedang tertunduk bersalah. "" Coba periksa CCTV... Perasaan ku lagi tidak baik !"" Biru tanpa sopan, melewati sang Empu ruangan dengan santai duduk di kebesaran Arkan dan langsung mengotak Atik leptop Arkan.
Tadinya, Seraya berjalan ke ruangan Arkan, Biru sudah melacak smartphone Mentari tapi tidak terhubung alat canggih yang sudah di pasangkan di layar pipi Mentari.
Tiga pasang mata memicing tajam ke arah hasil CCTV yang tersambung ke laptop Arkan. memperhatikan Mentari yang baru keluar dari ruangan sang Bos.
""Tante Raisa ?"" Pekik ketiga mulut kompak bersuara geram. Apalagi Biru sudah mengelutukkan giginya, marah ! melihat rekaman saat Petite-nya di jambak.
Arkan pun seakan tak percaya, setahunya... Istri dari Om-nya itu terkenal penyayang, kok bisa ? Mentari di perlakukan kasar begitu ? Apakah selama bergabung di keluarga Batara, Raisa aslinya begini, kasar ? Entahlah...Arkan pun heran, Tapi yang jelas, Ia harus melaporkan kejadian ini ke orang yang lebih mengerti sifat Raisa sebenarnya, Radja Batara-Suaminya.
""Sial ! Tak bisa di beri ampun orang berkedok ular semacam Raisa ini."" Biru semakin marah, Saat melihat semua rekaman CCTV, Petite-nya di siksa fisik yang awalnya sudah mempunyai luka di kepala malah di beri tekanan kuat plus di ancam keras dengan menyangkut pautkan keluarga kekasihnya yang ada di kampung.
Arkan mendadak menciut melihat kilatan kemarahan Biru. dengan cepat, Arkan mengambil alih kendali di layarnya, mengirim rekaman itu ke Radja, Biarkan Om-nya itu sendiri yang memberi hukuman ke istrinya sendiri, Jangan sampai di dahului oleh Biru, Bahaya....! Bisa koid Raisa kalau sudah masuk ke dalam penjara Si Sagara Biru Sunjaya, Yang notabenenya Biru sebenarnya mempunyai Kelompok Gangster tapi bersembunyi di bawa nama Dito sebagai tangan kepercayaannya. Arkan baru tahu saat tanpa sengaja mendengar Dito memberi laporan ke Biru kalau Sena sudah berhasil di buatnya menderita gangguan Jiwa.
""Awas kau wanita tua !""
""Bi, Kamu ke bandara saja, siapa tahu Mentari belum lepas landas, masalah Tante Raisa, Tolong lah.. Jangan sampai masuk kedalam penjara khusus mu !"" Tahan Arkan, Arkan bukan membela Raisa, melainkan mengkhawatirkan kesehatan Kakeknya yang mempunyai serangan jantung, Dari awal.... Sebelum Raisa menjadi mantu pun, Bima-kakeknya itu sudah menganggap Raisa putrinya, bukan sebagai mantu.
""Tidak janji."" Kesal Biru menghempaskan tangan Arkan dari pundaknya. Ia juga serba salah dengan janjinya ke Mentari, Mentari pernah melarangnya untuk tidak menyentuh keluarga Batara. Tapi kejahatan harus di beri hadiah bukan ? Lihat saja Raisa itu, pasti akan di hukum entah dengan penjaranya sendiri atau penjara milik hukum negara.
__ADS_1
Dukungan ikhlas šš