RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 145


__ADS_3

Holiday di mulai.... Rencana romantisan berduaan Biru bersama Petitenya, gagal sudah... Kerena Petitenya selalu pengen berdekatan dengan Senja kemana pun di holiday ini...Benar benar bukan honeymoon tapi holiday berjamaah. Mana ada honeymoon jalan berempat...Yang ada gagal Fokus. Dengus Biru manyun teruuuus.


""Cup, Bibir mu seksi sayang."" kecup Mentari akan kecemberutan Biru. mereka sedang berjalan menuju pintu masuk Hitachi Siaside park.


""Tidak mempan... Tetap saja masih dalam mode tak bersemangat."" Cibik Biru memerengut.


""Hmm, Lanjut kan acara cemberut tak bersemangatnya, sampai nanti malam ya... Awas saja nanti malam minta jatah...!"" Mentari yang polos lama lama sudah pintar mengancam.


""Yaak, Jangan...bahaya kalau sudah ngebahas itu, ceritanya beda lagi."" Biru memasang wajah memelasnya dengan konyol. Tersenyum manis pun seketika terlukis... Sangat bahaya bagi si Otong kecil di bawa sana jika soulmatenya memerengut apalagi mengancam tak memberi jatah. Ia kan sudah bermusuhan dengan Tante Lux, Si Otong juga sudah tak mau bertemu dengan Tante Tante itu.


""Begitu dong, I Love you."" Goda Mentari merayu terus agar Hulk ini bersemangat meladeni keinginannya. Kalau berpisah dengan rombongan Senja, kan gagal rencananya yang akan mendamaikan Langit dan Biru, Niatnya baik.


"I Love you to."" Balas Biru penuh sayang dengan tangan langsung merangkul pundak istrinya di sela langkah mereka.


""Ehem, Gue juga I Love you Lho ke Kamu Mendung."" Senja terbuai panas melihat kemesraan adiknya di hadapan hidungnya.


Langit yang memakai earphone dengan musik menyala tak mendengar, Wajahnya hanya datar minta di tabok.


""Cih."" Cibik Senja menarik earphone Langit dengan sangat kesal... Bagaimana akan berhasil mendapatkan hati si mendung ini jika sikapnya saja makin nyebelin dan cuek habis ke dirinya...awas saja, minta di beri rencana ni si mendung... pikirnya masih bingung bagaimana caranya.


""Apa sih ?"" ketus Langit bertoa menyentak Senja.


Mentari dan Biru menoleh dan berhenti melangkah. "" Daeng, ada apa ?"" Selidik Mentari tak suka mendengar ke sarkasan Langit ke kakanya. Biru pun mendelik tajam.


""Tidak Sayang, Aku----""


""Maaf, Aku tadi hanya kaget dan reflek menyentak mu, ayo kita lanjutkan."" Tetiba Langit mengecup dahi Senja saat wanita yang sebenarnya ia cintai itu sudah memancarkan mata perihnya.

__ADS_1


Senja yang di perlakukan seperti itu menjadi jantungan sendiri, di dalam sana sedang jedag jedug berdisko ria. Semoga Mendung tadi ikhlas dalam kelembutannya, bukan sekedar Akting.


...****...


410 Yen di kali empat orang yang harus di bayar Biru untuk masuk di area Hitachi Siaside park yang luaaaaasnya bukan kaleng kaleng tanaman bunga-bunga dengan jenis bermacam-macam bunga siap di bidik oleh mata dan juga Cekret....bidikan rolling on Camera. Ada pula banyak wahana raksasa yang siap untuk menguji ke ekstriman para jiwa pemberani.


"" Sumimasen ! Kono jitensha mi tsuite, o Kiki shitai nodesuga, i kira kakarimasu ka ?"" Sopan Biru bertanya ke salah satu petugas di sana dengan begitu lancar menggunakan bahasa lokal sana.


"" Yasukute, 1.300 Yen de o sukina dake otsukai itadakemasu."" Sahut sang petugas.


Senja garuk tengkuk, bodoh. Mentari pun berekspresi bodoh dengan mulut menganga sedikit saat Biru Sedang bercengkrama dengan petugas pria yang sudah berumur. Mereka tidak tahu apa yang sedang di perbincangkan. Namun seketika mengerti saat Biru memberikan uang bermata Yen dan setelahnya Biru di perbolehkan membawa sepeda. Jangan tanya si Mendung...Biru yang sedari tadi bernegosiasi... Malah si Langit ini yang sudah menuntun sepeda lucu yang bisa mengoes dua orang sekaligus, duluan menaiki sepeda lucu tersebut.


"" Eh, Langit...mau kemana Lo ?""


Biru berteriak kecil menegur Langit saat sepeda yang di sewanya akan di goes oleh Langit begitu saja tanpa mengajak Senja. Ia kan menyewa cuma dua sepeda, Satu buat Langit Senja. Dan Satu untuknya dan Mentari, biar bisa bermesraan boncengan bersama si Petitenya. ini malah si mendung mau meninggalkan Senja.


""Ck, Senja mau di kemanain ? Gue cuma nyewa dua sepeda...kalian boncengan ! Gue sama Mentari."" Ujar Biru menjelaskan dengan nada ketus, mereka saling tegur jikalau sedang beradu mulut saja. Beradu suara lembut jangan di harapkan.


Mentari yang melihat suami dan Kaka iparnya beradu keketusan melulu jadi dongkol sendiri. Tetiba otak lempengnya menyala dengan sedikit ke jahilan. Ia menarik sepeda yang sudah di sewa Biru. ""Daeng, ayo naik... biarkan mereka beradu mulut, tinggal kan saja !"" Bisik Mentari sudah stay di goesan depan.


Senja tersenyum geli, benar juga adiknya ini. Dengan Santai Senja naik ke goesan di belakang. Senja sudah tak sabar dengan bunga bunga di dalam sana, 200 hektar bunga semua...Jiwa tetumbuhan akan bunga bunga Senja mengubun semangat.


""Hey...kalian berdua boncengan dengan akur ya...Kami duluan."" Teriak Senja geli yang sudah mulai menggoes kompak bersama Mentari yang di depan.


""Ingat, jangan berantem !"" Tengil Mentari menimpali berteriak.


""Sana bermesraan...Pedang sama pedang."" Geli Senja meledek.... namun tak sampai berteriak, hanya Mentari yang mendengar.

__ADS_1


""Hahaha."" Mentari tergelak dengan ucapan kakanya.


""Hey, Petite... tunggu !"" Dengus Biru berpekik hebat. Langit reflek menutup kupingnya sejenak, tersenyum geli akan tingkah Kaka adik itu yang sudah jauh bersama sepedanya.


""Kita tak mungkin boncengan kan, sana sewa satu lagi."" songong Langit mentitah.


""Ogah, Lo aja sana yang nyewa....ini tadi gue yang bayar...jadi ini milik gue."" Biru naik di goesan kedua di belakang Langit. "" Ayo jalan."" ketus Biru tidak mau mengambil resiko jika berlama-lama menyewa lagi... Petite-nya bisa bisa di suit suit-in sama turis lain...ogah posesifnya.


""Astaga demi apa ? apakah ada orang bermusuhan dengan cara berbagi sepeda."" Gerutu Langit mulai menggoes. Biru tak merespon, matanya hanya sibuk membidik keberadaan Mentari di sela sela banyaknya turis lain.


""Ulat, buruan kejar mereka."" Titah Biru ketus.


""Ck, bagaimana mau cepat...Lo di belakang kagak bekerja, gue keberatan beban ini ah...goes juga dong !"" Protes Langit tak kalah ketus.


""Oh, iya ya !"" Bodoh Biru yang tadinya hanya duduk santai dalam boncengan. Ia pun menggoes penuh tenaga di belakang Langit.


""eh Bi, Kampret Lo.... dayuannya jangan melebihi tenaga gue, bisa bisa gue kagak seimbang berakhir menabrak turis lain bagaimana, hah ? Ogeb Lo."" Cibir Langit merem tetiba karena benar adanya ia tidak seimbang mendapat tenaga kuat dari Biru.


""Yak, malah ngerem Lagi ! Turun... Turun...Turun ! Biar gue yang di depan. Bisa bisa istri gue di gait turis lain, kalau meladeni keleletan Lo.""Kesal Biru. Pikirannya posesif melulu sampai ia tak memperdulikan jika sekarang dirinya dan Langit begitu lucu dalam perdebatan di mata turis lain.


Langit turun dari jog depan, menurut diam. dan duduk di jog ke dua. Biru sendiri sudah di stay gagah di jog depan menggantikan Langit. Dengan kekuatan seribu kaki, Biru mengayun kuat dan kencang.


""Eeeeeh, gue mau jatuh Ogeb !"" Histeris Langit reflek memeluk pinggang Biru dari belakang agar tidak jatuh.


""Aih...najis ! Jangan peluk gue...Jijik gue ! singkirkan tangan Lo !"" Ketus Biru memukul tangan Langit dengan satu tangan memegang satu setir sepeda.


""Aih, Gue pun sama...Jijik."" Sadar Langit akan kelakuan tangan bodohnya. melepaskan.

__ADS_1


Mereka terus beragumen saling melempar keketusan dalam goesan sepedanya. Seraya mata elang itu melirik di antara pengunjung lain mencari keberadaan para wanitanya yang sudah benar benar tertelan ramainya pengunjung.


__ADS_2