
Di perjalanan, Merasa sudah baikan, tak mual lagi. Biru bersikukuh menolak keinginan Mentari untuk menuju arah rumah sakit.
Dan di sini si Dito yang jadi sopir menjadi bingung harus menuruti titah Boss tampan tapi kagak sombong atau Boss Cantiknya yang kelewatan imutnya.
"" Boss !"" Dito masih kebingungan, Melirik kedua insan yang lagi beragumen berbeda pendapat.
""Rumah sakit / Kantor.""
Nah, kan... Begini lah nasib menjadi anak buah...Para Boss yang beragumen alot, yang dapat plototan titah serba salah anak buah.
""Kita kerumah sakit, Abang Dito !"" Titah Mentari sopan.
""Dit, Ke kantor Istri ku ! kita antar dia dulu, tidak ada rumah sakit sakitan segala...aku sudah tak apa apa.!"" Ketus Biru galak ke Dito.
Alamak... Pusing lah kau Abang Dito, macam mana pula ini ? Siapakah yang harus di benarkan...Onde mande bantulah anak kau ini Onde, pusing Kepala ku ini. Batin Dito.
""Aduh, pak Bos dan Ibu Bos ! maaf kan saya sebelumnya ini Bos ! Yang mana nih yang harus saya benarkan... soalnya jalan pertigaan arah sudah makin dekat saja di depan, serba salah ni bos mau belok kemana ?!"" Dito pun akhirnya mengeluarkan suaranya yang sedari tadi di tahannya.
""Ambil jalan ke RD Dit !"" Final Biru, Mentari mengerucut kan bibirnya. dan Biru melihat wajah kecewaan istrinya yang tidak di turuti.
""Aku tidak apa apa sayang, Lagian kan kamu ada meeting pagi, lihat lah diri ku... sudah tak apa kan...ini cuma masuk angin biasa saja, kan semalam tidur di sofa bersama dengan bantal guling....ya jadinya begini...masuk angin dadakan !"" Sindir Biru.
Buahhahahah, Bos Biru semalam bergulat Manja bersama guling ? kasihan...! Batin Dito.
""Bukan hanya kamu doang lho yang ada meeting pagi ini, aku pun sama...mana ini meeting nya bersama perusahaan luar negeri."" imbuhnya membujuk.
Bohong ibu Boss, tidak ada meeting penting hari ini. Dito ingin bersuara, namun apa lah daya... menyela bisa kena peringatan keras.
""Baiklah, tapi sampai Kantor sarapan ya...tadi kan Hulk ku ini tidak sempat makan apa apa takut takut cacingnya pada berdemo di dalam sana, ngomong ngomong makanan ? kok aku jadi lapar lagi ya... aduh Hulk, rasa rasanya kok ada ikan asin, nasi panas plus lalap petai nan sambal bikinan Amma terbayang kepingin di makan deh.""
Perut Biru kembali rasanya aneh mendengar nama makanan yang di sebut sebut Mentari. Apa katanya ? ikan asin plus petai nan sambal. Hoeeek ! Mual itu mati matian di tahannya di dalam tenggorokan, menunggu Mentari keluar mobil yang sudah sampai di depan lobby, terparkir. ia tidak mau kerumah sakit hanya karena masuk angin biasa saja, Bisa bisa dapat ledekan oleh teman lama bin Farel si dokter muda yang siap memberikan suntikan ala ala untuk mengerjainya.
""Ingat ! Sarapan.. minum obat, kalau kecapean jangan di paksakan kerja.. Trus kalau masih mual segera telpon Dokter Farel... Mengerti Hulk.""
__ADS_1
wajah Biru kian memerah menahan mual, si Petite malah berkicau sebelum turun, Ia hanya manggut-manggut bodoh, Haaais, Petite...buruan turun...ini kotoran hampir tertelan masuk ke perut lagi.
"" Ya sudah, aku turun ya !""
Biru manggut-manggut cepat tanpa suara. Namun Mentari masih duduk santai meminta haknya. ""Kecupan sayangnya mana, Hulk ?""
Mampus ! bernafas sedikit saja... kotoran akan kembali tertelan yang sekarang nyangkut nyangkut kagak enak di tenggorokan.
""Ah, Lama...!"" Dengus Mentari mengecup pipi kiri kanan suaminya yang terlihat aneh sekarang ini. wajah suaminya memerah entah kenapa.
""Bye !"" Tepuk Mentari di pundak Biru. Terkesiap kaget, akhirnya tertelan lagi tuh kotoran.
"" Hoeeek !""
...******...
Matahari merangkak tak terasa sudah di pertengahan hari. Kehamilan Senja berkoar sudah di telinga Kusuma dan Batara saat ini. Dua klan itu berbondong bondong menghampiri kantor Senja yang memaksa masuk kerja hari ini, Langit tak bisa melarang kerasnya batu Kepala Senja. Baiklah, Yang penting kan... dirinya ada di setiap detik di samping Senja. Ia akan menjaga istrinya ini, bila perlu akan selalu menggendong si itik walau itu tiga langkah pun Sekalian.
""Diam... jangan bahas itu.. jangan sampai terbongkar, nanti anak mantu Om akan marah.. sekarang waktunya menikmati hasil..Cucu ku sebentar lagi akan ku gendong.""
""Masih lama Om, Sembilan bulan !""
Bisik bisik itu, di beri tatapan aneh oleh Senja yang sekarang kekurangan oksigen... ruangannya sesak dengan banyak orang. apalagi Ammanya sekarang ini memaksanya makan ini itu, namun perut dan mulut nya kompak menolak.
""Ayo makan, jangan sampai kosong tuh perut, kata Langit dari pagi kamu hanya makan satu sendok itu pun katanya langsung keluar."" Paksa Rose.
""Amma !"" Keluh Senja. ""Aku tidak lapar, dan papa chris, apa pekerjaan mu sangat renggang hari ini ?"" Heran Senja, biasanya mertuanya itu paling sibuk dalam bekerja.
""Kerjaan Papa sudah beres !" Bohongnya. ""Katakan ke Papa...kamu ingin makan apa ? Biar kami turuti."" Imbuhnya di kedip antusias oleh Langit... Papa gue keren, begitu perduli akan mantunya.
Senja meringis...makanan lagi, boro nafs*... melihatnya saja sangat menyiksa di hidung dan di perut. """Aku tak ingin apa apa Pa, aku hanya ingin ka----!""
""Daeeeeng.... Congratulations !""
__ADS_1
Mentari baru datang berteriak memberi selamat setelah membuka pintu, di belakangnya ada Biru yang berjalan lemas...ia tersiksa akan tubuhnya yang kurang fit saat ini, kadang mual... berhenti, mual lagi tak menentu.
""Hai semuanya !"" Sapa Mentari ke seisi ruangan. Tak lupa mengecup sayang ke Rose.
""Hais, Mentari ! berisik tau nggak, Terus jangan dekat dekat, parfum mu sangat menusuk !"" Senja memberi cap telapak Lima agar Mentari tak jadi memeluknya.
""Hah ? Parfum ku menyengat ? perasaan Parfum kita sama deh daeng... Berarti kamu pun bau."" Cerewet Mentari tidak peka bagaimana orang yang sedang mabuk ngidam.
""Jangan kan kamu Mentari....kami kami saja tak boleh dekat dekat, pak Langit saja sampai ganti baju yang tadinya sudah terlanjur memakai parfum."" Jelas Bang Sam di angguki Langit yang berdiri di belakang kursi kebesaran Senja. Tangan Langit pun sesekali memijit pelipis istrinya yang duduk di hadapannya.
""Senja, Langit ! Selamat ya.. kalian topcer !"" Biru berucap lemas duduk di sofa sebelah Rose. berdiri pun rasanya kagak kuat kali ini.
""Thanks ! Gue duluan Bro !"" Langit menjawab bangga.
""Oh, begitu ? orang hamil muda..repot ternyata...jadi ngeri, ahhh..Amma, ini masakan mu ?"" Mata Mentari mupeng berbinar setelah mata itu menangkap makanan banyak bertengger rapi di atas meja.
""Eum, buat daeng mu... tapi tak ada satu pun yang di sentuhnya... begitu lah jika hamil muda...apa apa mual !"" Sahut Rose.
""Kalau di anggurin sayang sekali !"" Mentari Berangsur mendekat, duduk di antara Rose dan Biru. ""Mari makan !"" Menyomot antusias dan lahap masuk kedalam mulut.
"" Hoeeek !""
Melihat Mentari makan dengan lahap, Senja dan Biru kompak bersuara menahan mual, Biru berlari cepat ke kamar mandi yang ada di ruangan Senja. Si empu ruangan kalah cepat sehingga mengalah menuntaskan mualnya di tong sampah di bantu Langit di Tengku itu.
""Hu, munta lagi !"" keluh Mentari menaruh makanannya dan menyusul Biru.
""Biru munta munta ? Apakah hamil juga, Amma ?"" Polos Satria bertanya.
""Hahahaha, Ogeb Lo ! Mana ada Batangan di buahi...kalau ada mah, Perut gue udah Blendung ni !"" Geli Bang Sam terbahak, mengedipkan mata genitnya untuk menggoda Satria. Pria normal itu menatap horor Bang Sam.
""Tapi bisa jadi !"" Ujar Rose menyahut. dan mata penasaran tertuju kepadanya, Chris sampai mengerutkan dahinya. ""Separuh dari pasangan suami istri, Ada ciri ciri seperti Biru sekarang ini, Istrinya yang rakus dalam makanan, yang menderita Hoek hoek sang suami sendiri."" Jelas Rose.
"" Hahahaha !"" Penjelasan itu bukannya memberi prihatin terhadap Biru, mereka malah terbahak kecuali Senja. Langit dan Satria sampai menahan tawanya ketika Biru dan Mentari muncul dari arah kamar kecil.
__ADS_1