RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 35


__ADS_3

Mobil Biru sudah sampai di depan rumah petak demi petak, Kontrakan milik keluarga Mile. Mile langsung turun dari dalam mobil tanpa ingin membangunkan Mentari yang masih tertidur pulas, Pikirnya ada Biru yang akan membangunkannya sebagai Bos, teman atau pacar, entah...Mile tidak tahu status mereka apa? Melihat dari sisi Biru yang Over bisa di bilang pacar, tapi di lihat dari sikap acuh tak acuh dari Gadis rantau naif bisa di bilang hanya sekedar teman biasa.


Biru tidak tega membangunkan petite-nya yang terlihat pulas keletihan, di pandangi wajah polos itu dengan dalam. Sungguh, hatinya damai tak terbebani bila wajah dan tubuh itu berada di depan matanya. ia harus mencari cara secepatnya agar Mentari mau menikah dengannya tanpa harus menunggu sampai lulus kuliah, Toh... istri sambil kuliah kan bisa, Sah sah saja.


Namun caranya bagaimana ? posisinya sekarang lagi tidak mendukung dari pihak papanya yang terlanjur salah paham dengan Mentari di tambah Mentari sendiri tidak bisa di ajak kompromi, Gadis itu terlalu santai, Dirinya juga tidak tahu perasaan Mentari kepadanya, apa kah Mentari juga mencintainya atau malah sebaliknya. ah, kapan kapan perlu di uji coba tentang kepekaan hati si gadis lempeng polos yang terlanjur naif berkaratan itu.


Biru turun dari mobil tanpa membangunkan Mentari, ia berniat akan mengurus kunci pintu kontrakan untuk Mentari tinggali. Biarkan saja Petite-nya tidur di mobil, jika kunci sudah di tangan maka baru ia akan membangunkan atau langsung menggendongnya mungkin.


""Loh pak ! Mentarinya mana ? kok cuma anda yang turun.?"" Mile sudah berganti pakaian dan mempersilahkan duduk untuk Biru di kursi teras.


""Masih tidur, biarkan dia ! panggilin orang tua mu."" Datar Biru.


Mile senyum gaje. ""Bapak mau ngelamar aye ya pak ? pakai nyari nyak babe segala, aye nerima pak !"" Mile salah tangkap, saat Biru mempertanyakan orang tua.


""Waduh, Gadis ini ? entah dari Mentari atau temannya tidak ada yang beres, dasar otak pada labil."" Gumam Biru memutar matanya malas.


""Siapa yang akan ngelamar Lo, Mil.?"" Dari dalam rumah keluar sepasang orang tua Mile.


""Waduh, Cakep bener ni laki, dari mana datangnya, bang ? malaikat kah ? anak gue kok milih pacar pintar banget deh ah."" Cerocos Nyak Mile yang sering di panggil nyak Titin. Nyak Titin memperhatikan penampilan Biru dari atas kebawah, terus menerus.


""eh, bocah ! punya apa Lo sampai datang datang ingin ngelamar anak gue yang cantik ini.? sekarang tampan berjas tuh kebanyakan penipu, bawa mobil keren tapi tau taunya cuma rental doang, cuma modusin calon mertua."" Ujar babe Rojali, Babenya Mile.


""Brabe ni ! aduh, demi Lo ni Mentari gue nyasar di tengah tengah orang gaje Semua.!"" pusing Biru dalam hati.

__ADS_1


""Pak ! ibu ! saya ke sini bukan---!""


""Oow, jadi Bos sekarang ngegombali teman Mentari juga ternyata ! Hem, sudah mau acara lamaran lagi.!"" Mentari menatap tajam ke Biru, ia terdengar kesal, merasa di PHP-in, Baru juga di perjalanan pulang ngegombal akan menjadi teman hidupnya, di suruh nunggu sampai lulus kuliah saja si Mantan Bosnya itu sudah mundur, berbelok haluan. Mentari akan mencari pangeran kodok saja, Pikirnya.


""Tuh kan, Berabe urusannya.!"" Lirih Biru bertambah pusing.


""Ni bocah ayu, siapa lagi ? datang datang main tabrak omongan saja."" Selidik nyak Titin terdengar judes dengan cara khas Betawinya. Membuat Mentari takut takut yang di sangkanya di omelin. Takut takut di cap pelakor lagi.


""Die teman aye nyak, Namanya Mentari, calon penghuni kontrakan kite, tapi katanya bayarnya di akhir bulan, boleh ya nyak babe, kasihan tahu anak rantau tanpa sanak saudara."" Mohon Mile, ia jadi tidak enak ke Mentari perihal lamar melamar.


Biru mengeluarkan dompet, membuka dan mengeluarkan beberapa lembar untuk membayar biaya kontrakan Mentari sebelum nyak babe Mile bersuara, bukannya sombong, ia cuma tidak mau mendengar penolakan terlebih dahulu untuk tempat tinggal Mentari.


""Ini uang mukanya, saya yang akan bertanggung jawab, karena dia adalah calon istri ku, dan masalah lamar melamar yang kalian dengar tadi tuh tidak benar. salah dengar, salah paham.!"" Jelas Biru memberikan tatapan intimidasinya ke arah Mile.


Nyak Titin dan Babe Rojali manggut manggut lemah, gagal sudah punya mantu yang tajirnya bukan tajir modusan sudah terlihat dari isi dompetnya saja yang begitu banyak kartu berduit, Pasti orang kaya, Pikirnya.


Biru mengedipkan matanya genit ke Mentari, ternyata si petite terlihat cemburu juga tadi saat salah paham, Biru senang akan hal itu. Mentari juga mulai ada rasa untuknya, Asyik ! jingkrak-jingkrak tuh hati di dalam sana.


Lain dengan Mentari, Gadis rantau itu malah melotot ke arah Biru perihal masalah uang muka kontrakan. mau protes sudah terlanjur di pegang tuh duit oleh nyaknye Mile. Bertambah sudah hutangnya lagi ?


""Boleh kok ngontrak di mari, tapi di kontrakan khusus putri tuh banyak peraturannya."" Ujar Nyak Titin.


Mentari tak keberatan walaupun belum di sebutin apa apa saja larangan keras itu.

__ADS_1


""Apa tuh, ibu ?"" Selidik Biru bertanya.


""Yang pertama, Di larang membawa tamu malam malam masuk ke kontrakan terutama laki laki, Terima tamu tuh paling telat jam sembilan malam. jika pria bertamu walaupun hari masih cerah di harapkan mengobrolnya di teras saja. Mengerti ?""


Mentari hanya manggut-manggut setuju, No problem.


Biru menggaruk kepalanya pusing dengan peraturan yang akan menyusahkan dirinya untuk bertemu Mentari di area kontrakannya.""Kecuali saya dong ! saya kan calon suaminya jadi sah sah saja kan bertamu malam malam juga, masuk ke luar kontrakan Mentari."" Biru mencoba bernegosiasi.


""Lo juga KAGAK boleh ! baru calon kan ? belum resmi ! Ntar giliran dapat enaknya aja Lo main tinggal sendiri."" Ujar Nyak Titin penuh maksud.


""Yaak------"" Protes suara berat Biru terhenti saat dapat tendangan kecil di bagian kakinya dan tersangkanya adalah Mentari sendiri yang menggeleng kepala. Gadis itu sudah paham betul akan sikap mantan bosnya yang tidak bisa mendapat sindiran keras jika menyangkut keseriusan hati, Mentari yakini jika Biru itu benar benar menginginkan dirinya, tapi ia belum siap, dirinya masih kecil dan ingin dulu membanggakan orang tua, bukan membanggakan orang tua dengan cara mendapat bantuan dari Biru, melainkan ingin membanggakan lewat pundak kecil, ia kepengin tahu kelemahan dan kekuatannya sampai di mana berjuang di kota metropolitan yang keras ini. mungkin ada saatnya ia pun akan menyerah tapi tidak untuk saat ini.


""Yang kedua, Jadi cewek tuh jangan Jorok, selesai menggunakan alat dapur langsung di cuci karena perabot rumah tangga di dalamnya sudah lengkap dari pihak kami, terus menggunakan kamar mandi sesekali di sikat sendiri, apalagi sampai bekas tamu bulanan jangan sampai mendem di kamar mandi, Jijik."


No problem bagi Mentari lagi, beres beres hal kecil baginya.


Otak Biru malah Omes mendengar kamar mandi, ia tidak sabar menunggu hari resmi suami istri bersama Mentari, Mandi barang enak kali ya, pikirnya.


""Yang ketiga, Bayar bulanan kudu rutin, tidak boleh telat ! telat sedikit masih bisa di tolerir tapi jika nunggak sampai satu bulan saja, Go out !"" Peraturan ketiga di bacakan oleh babe Rojali, Laki laki mata duitan.


Mentari mengangguk lemah di peraturan ketiga, ia harus bekerja keras untuk mencakupi syarat yang ketiga. Hem... kerja apa ?.


...Like, komen, vote dan bunga bunga 🌹🌹🌹😘...

__ADS_1


__ADS_2