
Seperti biasa, Biru selalu di sambut baik oleh Mentari dari kepulangannya mencari nafkah. biasanya, Biru dan Mentari selalu pulang bersama... Tapi kali ini, Biru ada proyek penting yang harus deadlines bulan ini juga, Lembur. dan Mentari pun sebenarnya baru pulang selisih sepuluh menitan. Habis kuliah, Mentari malam malam kembali ke kantor untuk mengumpulkan data keuangan beberapa tahun terakhir... yang semakin mencurigakan di otak akutansinya, setiap bulan terakhir ini ia mendapat angka ganjil lagi dari pembukuan, tapi ia masih bisu seraya mengumpulkan bukti dan mencari pelakunya.
""Sini saya bawakan sayang !"" Tawar Mentari akan tas kerja Suaminya.
""No, biarkan...!"" Biru menaruh asal asalan tas kerjanya. ""saya hanya ingin Vitamin anti P2 (pegal pegal)."" Nakal Biru langsung mengabsen wajah istrinya hingga berhenti terakhir di Curug leher Mentari. Biru menghentikan dan sedikit menjauh karena ada aroma parfum lain yang menempel di tubuh istrinya, itu bukan aroma wangi wangiannya.
Mentari pun menjauh selangkah atas penciumannya, Di kemeja Biru, tepat di bagian dada, ia menghirup aroma parfum wanita lain. Belakangan ini, ia memang suka memakai parfum, Tapi parfumnya ini khusus di buatkan oleh Senja yang tidak ada di pasaran kecuali Senja dan dirinya yang memakai. kata kakanya, aroma wangi menenangkan khusus satu ini, tidak di perjual belikan... hanya mereka berdua saja yang boleh wajib punya.
Mentari kembali mendekat ke tubuh Biru, ia memastikan untuk kedua kalinya. tuh kan, bukan aroma saya. kok rasanya sakit ya...dan apa di Cafe tadi memang...?
""Saya mau bersih bersih dulu."" Kompak Mereka berkelit dari pikiran kecurigaannya masing masing.
""Duluan saja."" Ucap Mentari dingin, berlalu menuju dapur meningkalkan Biru.
Hais, kok si Petite yang terlihat ngambek.
Malam sudah larut, malam ini terasa canggung bagi Mentari dan Biru selama masa perkawinannya. Mereka tidur dengan saling memunggungi. dengan pikiran kalut masing-masing. Hanya mata yang saling terpejam tapi otak dan hatinya masih terjaga.
Biru membalikkan tubuhnya menghadap Mentari, ia tidak bisa lama lama diam dan tidak bisa tidur tanpa memeluk istrinya.
""Sayang, kamu sudah tidur kah ?"" Lirih Biru, seraya memeluk Mentari dari belakang dan langsung menghirup aroma istrinya rakus rakus yang selalu enak di pengendusannya.
Mentari membuka matanya, namun tidak menjawab.
""Petite.?!" Lirih Biru, ia merasa aneh dengan tingkah Mentari malam ini.
""Eum !"" Mentari pun sama, rasanya ia tidak bisa bersikap cuek ke hulk-nya lama lama. Ia langsung berbalik dan memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat. ""Jangan pergi meninggalkan saya ya Tuan muda Sunjaya."" Mentari meneteskan air matanya di dada Biru tanpa Biru sadari di bawah remang cahaya kamar padam. Ia tidak bisa terima dan tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika Biru menghianatinya.
""Bicara apa kamu wanita manis ku, eum ? mati dan hidup ku sudah di atas nama mu, jadi mana mungkin saya pergi meninggalkan mu dan mana mungkin saya bisa bernafas tanpamu, kamu adalah udaraku dan aku adalah udara mu, itukan arti cinta kita ?"" Biru membelai rambut Mentari yang masih saja menyembunyikan wajahnya di dalam dada kekarnya. ""Petite, apakah kamu tidak mau bercerita tentang harimu hari ini, apa saja yang kamu lewat kan, bersama siapa dan sedang apa ?"" Tanyanya selidik dengan segala posesifnya.
Mentari dengan polos lempeng menceritakan semuanya, dari mulai meeting bersama Gema, di tubruk orang yang hampir jatuh, Dan juga tentang kekonyolan Langit. Cuma satu... Mentari tidak menceritakan kalau matanya melihat Biru di Cafe yang terlihat mesra dengan perempuan lain, biarkan Biru sendiri yang menceritakan hal itu jika memang tidak ada apa apa, pasti Suaminya itu bercerita jujur seperti dirinya.
""Langit ga*?"" Biru menggeleng geli akan cerita istrinya.
__ADS_1
Maafkan saya, Suamimu ini sudah salah paham dengan aroma sialan itu. Biru mengambil kesimpulan bahwa parfum itu hanya sekedar nyasar yang menempel saat Petite-nya di tubruk plus di selamat kan langsung, ia hanya mengumpati orang itu saat membayangkan posisi istrinya yang sudah di sentuh kulitnya oleh pria lain.
""Sekarang giliran mu, ayo bercerita !"" Pinta Mentari, menengadah menatap wajah Biru.
Biru menunduk kan pandangannya, seketika ia melihat sudut mata Mentari yang masih terlihat berair.
"Hey, kamu menangis ? menangis kenapa sayang ? apa saya menyakiti mu ?"" Dengan sayang, Biru membersihkan sudah mata Mentari dan langsung mencium kedua mata itu bergantian.
""Tidak, ayo segera bercerita.?"" Pinta Mentari lagi.
Biru tersenyum lembut. ""Hari ku membosankan, tanpa adanya kamu di samping ku, di luar tidak ada yang menarik kecuali di rumah bersama mu, sudah lah....ayo kita tidur setelah menarih di atas gugusan bintang bintang."" Nakal Biru memulai aksinya.
Mentari belum puas, Biru tidak menceritakan tentang di Cafe tadi, tapi mungkin memang itu tidak penting dan ia memilih untuk melupakannya, Biru tidak mungkin berkhianat, Biru sangat lah mencintainya. Finalnya tak mau memperpanjang masalah tidak jelas dan tidak berdasar.... siapa tahu itu cuma sama persis di kala dirinya di tubruk orang, mungkin Suaminya juga menubruk orang di cafe tadi, pikirnya polos.
Tapi....di sudut hati Mentari, ia masih penasaran dengan penglihatannya...ia melirik Suaminya yang sudah tertidur setelah kelelahan bercinta...mata dan hati Mentari tidur dengan sedikit rasa ketidak puasan. Sedangkan Biru terpulas nyenyak dengan rasa nyaman tak ada kecurigaan lagi.
...***...
Malam yang sama. Senja si wanita pintar pintar licik, dengan keras kepalanya melebihi kerasnya Dewa saat menginginkan sesuatu maka harus di gapainya dengan cara apapun itu, kecuali tidak melakukan aksi luar nalar.
Langit yang pas di dekat pintu, membuka pintu.
""Malam, suami ku !"" Terobos Senja masuk melewati Langit yang terkejut melihatnya.
""Itik, Lo mau apa di rumah Satria ?"" Heran Langit.
""Mau tinggal di sini, bersama mu...di mana suami berada....maka sang istri pun harus ada kan di sampingnya, biar pria mendung ini tidak nakal."" Santai Senja.
""hais, No...! Lo tidak boleh seenaknya tinggal di rumah kekasih saya, Ini tuh rumah kekasih saya, jadi pergi....balik kerumah papa, sana, jangan seenak udel ya."" Langit menarik koper Senja dan membuangnya keluar pintu.
""Ish, nyebelin... Satria saja mengijinkan saya tinggal di sini, Lo kok ribet...bleek."" Ledek Senja menjulurkan lidahnya, Sebelum keluar mengambil koper, ia sekilas menginjak kaki Suaminya. Sehingga Langit terpekik hebat.
""Sat... Satria !"" Teriak Langit meminta penjelasan, Kenapa Senja boleh tinggal di rumah ini.
__ADS_1
Satria muncul dari arah kamarnya, ia memang tinggal sendiri karena Keluarganya berada di luar negeri semua.... Satria adalah blasteran indo-thai.
""Berisik Lo, ah...gue kan lagi nonton video dewa-----?""
Langit membungkam mulut Satria kuat...saat Senja datang, hampir Mendengar jikalau Satria sedang menonton film hot Dewasa....bisa kebongkar nantinya kalau mereka berdua hanya berpura pura ga*.
""Hay, Sat ! Kamar Gue dan Langit di mana ?"" Tanya Senja. Satria menunjuk ke atas tertuju ke pintu berwarna putih.
Langit yang melihat kamarnya di tunjuk seketika lari menuju kamar....apa si itik ini kata ? Kamar gue dan Langit.? Satu kamar dong...! Ogah...ia mengunci kamarnya agar Senja tidak bisa masuk.
Senja hanya tersenyum akan tingkah Langit... Lawan ku tidak sepadan....cih, katanya pria hebat....masa satu kamar dengan ku saja takut. pria bodoh.
""Sat, ada kunci cadangan kan ?""
Satria mengangguk. "" Di laci di luar kamar langit...cari saja di situ dan selamat menikmati malam keributan."" Ujar Satria berlalu dengan senyum geli tersemat... Langit mendapat lawan tangguh.... KO kau sahabat bodoh, hahaha.
******
Di komen...pernah ada yang minta Visual lagi...ni Author sematkan dengan ala ala Mak Author sendiri....para readers bebas menghalu jika tidak pas visualnya....
Mentari ala kota... dengan warna rambut berbeda.. Caremel brown...
Sagara Biru...
Senja
Langit mendung
__ADS_1