
Mentari yang kesal kepada Biru dengan cepat keluar dari mobil Biru, dan dengan cepat pula lari dari area di mana tempat Biru berada. kabur.
Tak pikir panjang, Mentari yang melihat ada mobil di depan mini market sedang terparkir dengan pintu kabin belakang terbuka sedikit, main masuk saja untuk segera bersembunyi dari pandangan Biru yang masih terlihat di mata.
""Huh, Sudah aman !"" Mentari sudah seperti maling di atas mobil orang yang menunduk di kabin belakang. Saat ia berniat turun, Sang pemilik mobil naik, menginjak pedal gas. Byuuus..Mobil berjalan dengan Mentari masih setia bersembunyi di kabin belakang.
Jantung Mentari getar getir dengan bibir berkomat Kamit memanjatkan doa keselamatan dari orang jahat, padahal disini penjahat manisnya adalah dirinya yang seenaknya naik ke mobil orang tanpa permisi.
""Ya Allah, semoga yang punya mobil orang baik tidak makan orang alias kanibal, Semoga tidak ketahuan, Amma... doakan anak bodohmu ini, lari dari orang baik mudah mudahan masuk ke dalam orang baik pula."" Batinnya berdoa.
Jengkluk....
"Aduh."" Mentari membekap kuat mulutnya yang tanpa sadar mengadu kesakitan, kini dahinya terbentur lagi di dashboard mobil bagian kabin belakang saat mobil mungkin melalui jalan berliku.
Seketika mobil berhenti, Sang empu mobil melirik kebelakang yang sudah melihat si suara yang tadinya beraduh ria.
""Maling ya ? Siapa kamu ?"" Bentaknya.
Mentari menangadakan tubuhnya perlahan.
""Mentari. ?"" Pekik Langit terkejut.
Mentari tersenyum kikuk. ""Pak !"" Sahutnya seraya mengelus dahinya yang masih berdenyut, dua kali terbentur, tadi di mobil mewah Biru dan sekarang di mobil mewah pak dosen tampan.
""Maaf ya pak, Mentari naik tanpa ijin dulu, tapi sueeeer demi Allah, Mentari tidak bermaksud maling kok, jadi tolong jangan bawa Mentari ke kantor polisi ya, Mentari janji tidak akan mengulanginya lagi, pak ! please !"" Mohon Mentari. Langit menahan senyum geli, tapi wajahnya sengaja di datarkan.
__ADS_1
""Kenapa kamu bisa naik ke mobil saya ? aku tidak percaya dengan mu, bisa saja kamu benar-benar ingin maling kan.?"" Selidik Langit, ada keheranan dari pikirannya. Biru kemana ? kok gebetannya di buat berkeliaran sendiri atau jangan-jangan....?
""Sumpah pak, saya tidak bermaksud, Niat saya hanya bersembunyi sebentar, setelah itu saya berniat langsung turun tanpa ada embel-embel akan mencuri atau apapun itu, tapi saat saya mau turun, mobilnya seketika bergerak, kata Amma dosa lho pak mengambil hak orang.!"" Mentari memasang wajah was was, bagaimana pun ia tidak tahu sifat asli dari sang dosen ini, Bosnya mengatakan kalau dirinya tidak boleh dekat dekat berarti bahwa ada keganjalan akan peringatan bosnya itu.
""Kamu bersembunyi dari siapa ? ayo katakan !""
Mentari menggeleng, ia tidak mau mengatakan jika ia lagi bersembunyi dari Biru.
Langit semakin penasaran, Tubuhnya sekarang seratus persen menghadap ke kabin belakang dengan tatapan mengintimidasi sang pelaku.
""Mau di bawa ke kantor polisi.?"" Ancamnya menggoda.
""Jangan !"" Sahut Mentari cepat dengan tangan reflek mengibaskan. ""Jangan pak, hiks...hiks..aku tidak mau di penjara, hiks...masa pak Langit tega sih, aku kan tidak mengambil atau mencuri di mobil bapak, aku hanya bersembunyi."" Mentari menangis kejer, mimpi apa dirinya semalam dapat sial berturut turut. bodoh, rutuknya ke diri sendiri.
""Masuk ke mobil tanpa izin pun tindak pidana lho, Mentari ! tahu kan pasalnya ? aku dengar dari mahasiswa kamu tuh ahlinya pasal pasal berikut penjamahannya."" Langit semakin menggoda, kesempatan pikirnya tak datang dua kali, Gadis rantau ini ada di dalam jangkauan tanpa ada gangguan dari si Biru tua.
Langit salah sasaran untuk menggoda orang lempeng polos seperti Mentari."" Cup...cup...cup..""di tepuk lembut pucuk kepala Mentari layaknya merayu anak kecil untuk segera berhenti dari tangisnya. ""Sudah dong diam, Cup ya !"" Langit bingung sendiri dibuatnya.
""Pak Langit tidak akan melaporkan saya kepolisikan ?"" Mentari memancarkan mata penuh harap dengan mata masih merah habis menangis. Jika Langit masih kekeuh untuk membawanya ke kantor polisi, maka mata itu pasti akan berlinang lagi, Selain setan Mentari tuh takut dengan orang yang berseragam polisi. di telinganya, polisi itu suara bentakannya seperti petir menggelegar. tidak ada lembut lembutnya dalam bertutur, nilainya seram.
""Tidak, tapi pulang kuliah aku yang antar pulang, ya !"" Langit mulai modus modus mengambil kesempatan.
Drrrrt... Drrrrt...
Belum sempat Mentari menjawab, Handphone Mentari berbunyi ria, jika bukan dari Jum, bang Sam, atau Amma di kampung, pasti Biru yang menelponnya, Hanya orang orang itu yang di kontak Mentari.
__ADS_1
""Ayo di angkat !""
Mentari menggelang dan ragu untuk mengangkat, bahkan ia pun tidak mau melihat si nama penelpon, ia yakin jika Biru lah yang menelponnya.
""Aku yang akan menjawabnya."" Langit menyerubut smartphone Mentari dari tangan gadis desa itu, menyeringai saat melihat kontak di layar. Di tekan ikon hijau dan menyalakan speakernya.
""Jangan.!"" cegah Mentari tapi pak dosennya sudah keburu menekan ikon On
"" Petite, halo..! kamu di mana,? aku cari di kampus tapi tidak terlihat-----""
""Mentari bersama ku !"" Potong Langit dengan senyum devil tersirat, ia yakin jika di seberang sana, Biru sudah mengeram kesal.
""Kok bisa ? sial... jangan sentuh punyaku, Langit, aku tidak akan memaafkan mu jika Mentari kenapa kenapa.!"" Ancam Biru di seberang telpon dengan penuh penekanan. Mentari saja sampai bergidik ngeri mendengarnya.
""Bo-Bos, Saya tidak apa apa, Pak Bos kerja saja."" Mentari memberanikan menjawab, takut jika Biru bertambah murka jika Langit terus yang menyahuti panggilannya.
"" Katakan secepatnya, posisi mu ada di mana ? aku tidak percaya dengan si Ulat gatal.! Bentak Biru. Mentari sampai sedikit menjauh dari layarnya.
Langit tersenyum penuh kemenangan sudah membuat Biru kebakaran jenggot di seberang sana.
""Dengar tuh, pak Bos ! Mentari baik baik saja bersama dengan ku, aku tuh penolongnya dari kejaran orang jahat, ia tadi bersembunyi di mobil ku, harusnya kamu berterima kasih dengan ku dong, kamu mah Zu'son melulu jadi orang. Mentari akan aman bersama ku, pak Sagara. Bye !"" Langit menekan tombol merah. Mengembalikan smartphone Mentari ke sang empu. Berbalik kekemudi dengan senyum geli di bibir.
""Pak, Aku turun ! terimakasih !"" Mentari siap menekan handle pintu mobil. Namun Langit langsung menginjak pedal gas.
""Enak saja mau turun begitu saja ! kamu sudah main menyelonong masuk ke mobil ku, jadi kamu harus berangkat bersama ku ke kampus, lagian aku masih waras jika kamu di kejar lagi dengan orang jahat, maka aku yang akan di hajar oleh Biru. karena ia tahunya kamu ada bersama ku."" Langit ingin melihat wajah panas Biru setelah melihat dirinya satu mobil bersama Mentari. ia yakin si Biru tua berwajah brownies itu menantinya di pintu masuk kampus.
__ADS_1
"" Justru itu yang aku takutkan, aduuuuh... masalah menanti ku di kampus....Amma aku ingin pulang kampung saja, jika terus dapat masalah...!"" Pusing Mentari dalam hati. ia mengusap wajahnya prustasi.
Vote dan Bunga bunga š¹š