
Mata Radja menatap genggaman Rose di tangannya. Hatinya sudah mantap untuk menerima penolakan. Ini saatnya...!!!
""Dja ! Apa yang kamu lihat dari ku, sehingga kamu bisa menaruh hati padaku ?"" Tanya Rose penasaran, ia hanya wanita biasa biasa yang jauh dari kata sempurna, jauh dari kata menarik dan jauh dari segala galanya. ia hanya punya hati yang rendah hati. itu saja yang ia tahu, tidak ada yang bisa di banggakan darinya.
Tapi... Rose tidak tahu, kalau kerendahan hati itu sudah membuat Dewa di waktu dulu jatuh hati sejatuh jatuhnya, dan sekarang Radja-Kembaran Dewa pun sama sekarang ini. Jatuh sejatuh jatuhnya.
""Entahlah ! Tapi yang pasti hati ku sendiri yang menginginkan, hatiku tidak punya mata telanjan* untuk melihat kesempurnaan fisik seseorang, tapi kereflekan kepekaan rasa...Jika hati yang sudah meminta... maka si pemilik hati tak bisa berkata-kata lagi. Dan hati ku menginginkan hati mu.""
""Dja, Apa kamu sadar ? Aku itu adik ipar kamu ! aku janda dari adik kembar mu ! apa kamu sadar ?"
""Tentu saja ! Aku sadar seratus persen ! apa salah ? tidak ada salahnya kan ? Dewa saja kan sudah pergi bertahun tahun, jadi apa yang salah ?"" Jawab Radja tegas tanpa ada keraguan.
""Benar ! Tidak ada yang salah... Namun kesalahannya di diriku Dja, Aku tak bisa membuang Dewa di hatiku... walaupun raganya tak bersamaku...Tapi Cintanya masih merajai hati ku. Dewa adalah segalanya, pemilik hati ku.... walaupun wajah kalian sama... tapi tetap saja, Dewa adalah Dewa...Kamu tetap kamu, Dja. Kalian berbeda, Kamu tidak akan bisa menggeser Dewa dari hati ku sampai kapan pun, Karena aku yang sudah telak mencintainya, mungkin kamu berpikir aku ini bodoh karena masih setia kepada orang yang sudah almarhum, tapi ini lah kenyataannya, cintaku abadi hanya untuk Dewa.... Dan kalau aku memaksakan menerima mu, apa yang akan terjadi nanti ? Pasti kamu akan terluka oleh ku, Dan aku adalah penjahat paling rendah karena telah membohongi mu, membohongi hati ku juga...Jadi ku mohon, Maafkan aku...Maaf sudah menolak mu."" Cinta Rose begitu suci dan besar hanya untuk Almarhum suaminya.
Rose berangsur melepas genggamannya. Radja hanya tersenyum getir atas penolakan Rose. Tapi jujur, ia legah sudah menyampaikan gunda hatinya selama berbulan-bulan ini, Walaupun mendapat Rejection. But, No problem ! Ia menghargai keputusan Rose, Rose memang benar.... Membohongi hati sama saja penjahat ulung yang bisa mencabik cabik manusia secara perlahan tapi pasti berujung penderitaan bahkan mungkin berujung maut yang tidak bisa menyikapinya dengan tepat. Ia sudah pernah mendapat kebohongan hati dari Raisa di waktu itu, dan sekarang ia mengerti akan hal itu... Rose memang benar !
Lebih baik terluka sekarang mendapat penolakan dari pada mengetahui kenyataan pahit di saat sudah berada di dalam lembah cinta palsu. Dan itu yang sudah aku dapatkan dari Raisa sebelumnya. Batinnya mengerti.
""Hey, santai saja Rose, aku tak apa kok, justru aku legah mendapat jawaban dari kegundahan ku, Jadi anggap saja ini tidak pernah ada... persaudaraan kita jangan pernah ada kerenggangan seperti awal dari pembicaraan ini. Kamu pergi lah mengganti baju mu, takut masuk angin !""
Radja tersenyum hangat, Pertanda ia tidak apa-apa, Namun kalau jujur hati sih, ada sedikit nyeri di dalam sana... tapi ia bukan anak ABG kok yang jika di tolak maka kata orang dukun bertindak !!! Ia pria dewasa yang Gentleman.
""Maaf !"" Ujar Rose berlalu pergi dengan hati yang tidak enak, ia bingung jadinya nanti harus bersikap apa ke Radja setelah kejadian ini. Pasti ada rasa canggung dari dirinya.
__ADS_1
Hati manusia bisa di bolak balik kan oleh sang pencipta dengan mudah, Kalau jodoh ku bersama dia maka dekatkanlah kami, jika orang lain...maka beri jalan terbaik mu, Allah. Doa Radja, Pasrah.
...*****...
Sore pun tiba, Setelah kejadian di kolam, tadi. Radja tidak melihat keberadaan Rose, sepulang dirinya dari nguli, Hanya anak anak yang berkeliaran di matanya. Ia pun menghampiri Mentari di ruang keluarga yang sedang di pijit kakinya oleh Biru, Ponakan satunya ini sangat di manja oleh suaminya rupanya.
Dan lihatlah..di bar mini...ada Senja duduk manis dan Langit yang baru keluar dari arah dapur dengan segelas susu hamil di tangan plus cemilan sehat untuk istrinya, Beruntung sekali ponakan-ponakannya ini yang begitu di puja puja oleh para calon Pamud. Jadi iri deh...mau manja manjaan eh..mau sama siapa coba ? Rose tidak mau di ajak manja manjaan.
""Tar, Amma mu kemana ?"" Tanya Radja penasaran, apa kah Rose marah gara gara tadi, tapi kenapa ? harusnya kan yang marah dirinya yang dapat penolakan telak.. ini yang ia takutkan untuk mengungkapkan perasaannya dari bulan ke bulan maju mundur cantik, Bentrok jadinya. Ah...ia kangen dengan kopi buatan Rose, Rasanya beda dengan buatan ART.
""Amma di kamar, Om ! Lagi istirahat katanya tidak enak badan, masuk angin...tapi sudah Tari kasih Obat kok !"" Jelasnya. ""Ada apa Om nyari Amma ? apa butuh sesuatu ?"" Lanjut Mentari.
""Tidak, Om tadinya mau minta di bikinin kopi, tapi ya sudahlah ! Om akan melihat keadaan Amma mu sebentar ini pasti gara gara tadi teng---!"" Radja tetiba diam, hampir ia mengatakan kalau Rose tadi tenggelam, bisa panik dou mblendung kalau tahu Ammanya hampir mati.
Mentari dan Biru kompak menunggu ucapan Radja yang terhenti. Langit dan Senja yang mendengar pun mendekat meninggalkan mini bar.
""Tidak ada, gara gara kesiram air di taman sewaktu menyiram. Ya itu !"" Setelah berkelit lidah, Radja beranjak menuju ke lantai dua untuk menemui Rose yang katanya lagi sakit.
"Aneh !"" Gerutu Mentari.
""Memang aneh Om kamu itu ! baru tahu...dari dulu memang begitu kok Om Radja...iya kan Langit !""
Langit mengangguk mantap akan ucapan Biru yang menghibahi si mantan dosennya. Belakangan ini, Biru dan Langit memang semakin dekat juga kompak dan itu gara gara si dou mblendung yang selalu kompak untuk jalan bersama, Automatis Mereka juga berada di dekat para sang istri.
__ADS_1
""Aduh...aduh...!"" Mentari tetiba terpekik dengan tangan memegangi perutnya. Membuat tiga kepala di hadapannya cemas seketika.
""Kenapa sayang, mau melahirkan kah ? Tapi ini masih di bulan kedelapan ! ayo ayo..kita kerumah sakit."" Panik Biru gelagapan.
Senja dan Langit meringis kompak mendengar kepekikan Mentari.
Reflek Mentari menahan Biru yang siap meraup tubuhnya seraya berkata. "" Aku bukan mau melahirkan tapi aku lapar melihat makanan daeng yang di buat oleh Kaka ipar, aku mau makan itu... lihatlah dan rasakan perut ku."" Mentari menaruh telapak tangan Biru di perut besarnya. Biru tersenyum haru... Anak anaknya di dalam sana sangat aktif bergerak gerak sendiri, mungkin efek Lapar seperti kata Mentari tadi. ""Mereka menendang nendang kompak sampai berdenyut denyut ke bibir rahim... Nyeri nyeri gimana gitu !"" Mentari meringis kecil dengan pergerakan aktif calon bayi bayinya. Di angguki Senja yang kerap kali juga merasakan itu.
""Ini ambilah, tidak apa apa kan mendung, makanannya untuk Mentari !"" Ijin Senja menghargai hasil perjuangan suaminya yang sudah berjibaku di dapur sejak tadi.
""Tentu saja, silahkan kalian makan sepuasnya."" Sahut Langit setuju setuju saja.
""Sepering mah, kagak cukup untuk kami berdua, kurang !"" Mentari dengan santai memborong piring yang berisi cemilan sehat buatan Langit. Senja dan Langit juga Biru tersenyum geli.
""Aku akan membuatnya buat Kalian !"" Biru meraba lembut perut Mentari sebelum beranjak.
""Aku bantu Bi !"" Tawar Langit pun beranjak, menyusul Biru setelah Senja menghabiskan susu buatannya, Si Itik ini kalau tidak di awasi dalam meminum susu, maka dengan nakal...Si itik tidak akan mau meminum susu yang katanya sangat tidak enak di minum.
""Cih, Mentari...Kamu rakus sekali ! Lihat lah tubuh mu, sangat melar dan bengkak seperti gajah."" Cibir Senja
""Biarin bleee..Yang penting anak anak ku sehat dan tidak kelaparan, masalah berat badan... setelah melahirkan juga akan seksi lagi.""
""Hahaha, mana ada...yang ada gemboy semua. Awas Lo, Biru lirik sana sini wanita yang jauh lebih hot dari mu !"" Goda Senja jahil. Membuat Mentari menghentikan makannya.
__ADS_1
""Ini, aku balikin deh makanannya, aku tidak mau Biru ilfeel melihat ku sangat gemboy sana sini."" Sedih Mentari mulai ilfeel juga melihat kondisi tubuhnya yang lima puluh persen meningkat besar. julukan Petite sepertinya harus di ralat deh... Benar kata Daengnya... Gajah.
hahahaha, Kena Lo adik Lempeng... Hadeeeeh polos amat si kamu sayang. Biru mana bisa berpaling ke kamu sayang...cinta mati dia terhadap mu !