
Risma yang membaca surat dari Dewa seraya manangis pilu, Terisak dengan bibir bergetar, Memeluk Bima dengan rasa salah yang dalam, Begitu pun Bima selaku orang tua Dewa, Begitu lemah dan penuh air mata di hadapan anak dan cucu cucunya. Mereka menyesal dalam, sedalam-dalamnya.... ""Maafkan Amang Dewa ! Kamu tidak salah nak, Tapi...Amang bodohmu lah yang salah, yang egois dan keras kepala."" lirih Bima.
Rose menangis dalam dekapan anak sulungnya dengan rasa sakit akan begitu cepat kehilangan suami tercintanya, Imamnya yang baik !
Tidak ada yang tidak menangis, Biru pun yang ibaratkan tak punya darah yang dari mereka begitu terenyuh mendengar Risma membacakan surat peninggalan Orang tua Mentari. Ia bersumpah dalam hati, Setelah ini...akan hanya ada kebahagiaan yang akan di berikannya ke Mentari, begitupun ke Amma dan Kaka Mentari, ia akan menjaga mereka dalam perlindungannya.
Biru menepis lembut air mata Mentari yang ada di pipi manis nan cantik itu. Namun ia tidak berucap untuk menyuruh Petite-nya berhenti menangis, Biarkan luka itu keluar semua, agar nantinya hanya akan ada air mata haru.
"" Mentari, Senja dan kamu Rose ! Kabulkan lah permintaan Dewa yang terakhir kalinya, Kedatangan kami kesini memang menginginkan kalian untuk ikut bersama kami ! Menjaga kalian !"" Radja sudah melancarkan niat baiknya Setelah di rasa sudah cukup untuk menangis kepiluan isi hati dari surat Dewa. Ia akan menjaga bidadari bidadari adiknya ini.
""Dan ini...!""Radja mengeluarkan surat surat harta kepemilikan Dewa pribadi yang bukan dari warisan Batara maupun surat warisan pembagian Saham di RD BATARA, Dulunya harta itu dibekukan oleh Bima semuanya.
""Om, Saya kan sudah perna menolaknya.!""
Radja mendengus pelan atas keras kepala Mentari yang egonya lumayan tinggi, yang tidak mau menjilat ludahnya kembali.
""Mentari Sayang ! anak kecil diam dulu, Ok ! mau tidak mau, kalian harus mengambil semua ini, kalian yang paling berhak untuk ini semua terutama kamu Senja ! Sebagai Kaka tertua kamu wajib menerima dan mengelola bisnis Dewa yang tadinya di tinggalkannya. "" Harap penuh Radja akan Senja tidak ikut ikutan dengan keputusan kekeuh Mentari.
""Om, Tapi saya tidak bisa dengan kata lain...Saya tidak ada pengalaman dalam mengelola bisnis apa pun itu, Saya hanya Gadis kampung yang tak tahu apa apa ! Tari saja gih, dia kan pintar, pernah kuliah lagi, nah saya...Saya hanya lulusan SMA."" Senja tidak berani akan resiko jika ia turun tangan sebagai ahli waris Dewa dalam memegang Saham. Takut takut mengacaukannya.
__ADS_1
""Dih, kok Saya ! Tidak ya Daeng !"" Tolak Mentari, siap beradu argument. ""Daeng, Satu di tambah satu lagi di sampingnya, berapa ?"" Tanya Mentari bodoh namun penuh maksud. Bima dan Risma juga Rose berhenti terisak mendengar pertanyaan konyol Mentari ke kakanya. Biru pun sampai garuk kepala, apa yang akan di lakukan si pintar lempeng ini.
""Dua lah Mentari !"" Jamaah Mereka kecuali Senja dengan jawabannya sendiri.
""Sebelas ! Adek Bodoh ! jangan tipu tipu Daeng mu dengan pertanyaan bodoh mu, Daeng mu ini tidak bodoh, Daeng mu ini pintar, asal kamu tahu itu Tari dodol !"" Sewot Senja.... Satu di tulis di samping angka satu kan, jadinya sebelas ! Senja sudah tidak heran dan tidak akan tertipu pernyataan konyol Mentari yang jawaban akan berbeda dengan pertanyaan konyol adiknya.
Kena tipu lho.... Mentari tersenyum licik dengan jentikan jarinya.
""Tuh, ngaku pintar ! Hahaha...! Om Radja dengar kan ? Daeng bertutur apa ? Dia pintar katanya, berarti kalau orang pintar itu bisa belajar apa pun kan Om ?""
Radja tersenyum menang, bertos ria dengan Mentari, ponakannya ternyata licik juga... keturunan Dewa persis. Senja pasrah akan menurut.
""Licik kamu Petite. !"" Biru tersenyum geli, Gemas sampai mengacak acak rambut kekasihnya.
""Ah, Amma ! Tari tuh nyebelin...Huuuu !!!"" Rengek Senja, di akhir kata menyerui Mentari kesal. Sejurus kemudian ia tersenyum manis, namun aslinya senyuman itu ancaman persis untuk Mentari. pembalasan !
""Daeng, jangan coba coba tersenyum begitu ya ? itu tuh senyuman devil, bukan senyuman manis !"" Mentari menyadari kebiasaan Senja yang jika ingin membalas maka akan tersenyum manis terlebih dahulu. Ia pun bersembunyi di belakang Biru, karena biasanya Senja akan memukul atau apa pun itu yang menyentuh kulitnya sehingga kata ampun pun tidak akan di lepaskan oleh Senja kalau belum puas membalas.
Namun kali ini, Mentari salah duga...Senja tidak ingin menyentuh kulitnya.
__ADS_1
""Amma, Pria itu cowoknya Tari lho dari kota ! Tari minta di nikahi katanya."" Tunjuk dagu Senja ke Biru. Biru tersenyum manis penuh maksud, Ternyata calon Kaka iparnya malah membuka topik untuknya... Pucuk di cinta... Sagara pun tiba untuk Mentari.
""Yaak, Daeng ! jangan ngarang ya ?"" Mentari tak enak hati ke Biru dengan kata kakanya yang asal asalan. ""Bos, maafkan mulut ember Kaka ku, ya !""
""Tapi Saya ke sini memang berniat melamarmu , Mentari !"" Lantang Biru bersungguh sungguh.
Glek.... Mentari menelan ludahnya cepat, Speechless mendadak. Gila ! Bosnya to the Poin di hadapan Amma dan keluarganya. Bagaimana ini ? apalagi tatapan tegas Ammanya begitu mengintimidasinya.
""Tari ? apa benar pria ini adalah kekasih kamu.?"" Tanya Rose penuh tekanan, Ia mengira kalau pemuda ini adalah bagian keluarga Batara sedari tadi.
"" Iya, Nyonya ! Saya adalah kekasih Mentari dari kota, Kenalkan nama Saya Sagara Biru Sunjaya.""Biru yang menyahut sopan pertanyaan Rose.
""Jangan panggil saya dengan sebutan nyonya nak, Saya tidak pantas ! Panggil Amma saja seperti Tari !"" Ucap Rose.
Mentari dan kepala lainnya hanya diam mendengarkan. Radja penasaran akan pengakuan Biru yang akan melamar ponakannya. Bersungguh sungguh kah ? Radja pun melirik Mentari yang gugup namun matanya membola saat mendapati leher Mentari yang ada tanda bekas kissmark yang di kecup oleh Biru tadi di padang rumput.
Anak Sunjayaaaa, Lo Uda apain ponakan gue ? Hu, awas kau ya! Radja hanya bisa mencaci di dalam hati, ia tidak mau membuat pertanyaan besar kalau ia berkoar menanyakan Leher ponakannya.
"" Amma dan keluarga Mentari semuanya, Dengan penuh maksud baik, saya jauh jauh dari kota ke kampung, benar adanya perkataan saya, Yakni ingin benar benar meminang Mentari Putri Batara untuk menjadi istri saya ! Saya mencintai anak Amma sepenuh hati dan jiwa raga saya, Sebulan penuh ini atas kepulangan Mentari seakan-akan membuat hari saya mati tanpa adanya anak Amma di sisi saya. dan dengan membuktikan itu, saya ingin menghalalkannya biar kami pun terhindar dari dosa besar. Saya juga sudah mendengar secara tidak langsung kalau sudah ada beberapa orang yang datang melamarnya, Dan saya tidak bisa terima akan hal itu, karena kami saling mencintai. Tolong terimah pinangan saya dengan penuh kata Ridho dari mu sebagai orang tua Mentari, apa pun Syarat dan adat istiadat di sini maka saya akan sanggupi, asalkan Amma memberi restu bagi ku. Bagaimana Amma ? Saya juga pun sudah mendengar tak sengaja mahar yang di minta Mentari yang berjumlah enam ratus juta dengan mas kawin pun meminta yang mewah. Saya akan mengabulkan semuanya. bahkan lebih dari itu pun saya akan menyanggupinya karena saya begitu mencintai anak Amma, Seperti Mentari pernah mengatakan kalau saya adalah udaranya, maka itu pun.. Mentari adalah udara saya, percayakanlah Anak Amma ke Saya, Saya akan membuatnya bahagia selama nafas saya masih berderu. "" Tuturan Biru penuh sopan dan kelembutan dengan mata berbinar sungguh sungguh, tidak ada kata gugup dan tegang, hanya ada keyakinan di sana.
__ADS_1
Mentari melongo lebar, Senja pun begitu yang tadinya hanya bercanda menyulut topik untuk mengerjai adiknya malah Mendengar kabar luar biasa ini. Hebat kau dek, Daeng mu akan kau langkahi... hahaha, kesempatan dapat pengajuan telak untuk pembayaran adat karena sudah melangkahi Kaka mu yang menikah duluan. Senja bukannya sedih yang akan di langkahi adiknya malah bersorak ria di dalam hati, jiwa kematreannya meronta yang akan mendapat kesempatan untuk mengerjai adik tersayangnya.
Rose masih terdiam, berpikir seraya menatap selidik Biru.