RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)

RANTAU (Gadis Desa Masuk Kota)
BAB 190


__ADS_3

Tiga tahun kemudian....


Suara lima anak kecil di taman rumah besar Batara menggema gaduh dalam canda tawa.


""Papa, Mama !"" Satu bocah yang bernama Petir berhambur lari menyambut kedatangan orang tuanya, Langit Senja.


""Jagoan papa !""


""Hahahaha.""


Langit meraup tubuh mungil berumur tiga tahun itu dan memutarnya pelan membuat Petir terbahak senang. Senja menggeleng geli.


Dari arah belakang muncul sepasang suami istri, Dirgan dan Bintang. Datang untuk menjemput anaknya yang setiap hari selalu mengikuti Vane yang selama ini sibuk merawat Triplets.


""Dibi ! ayo kita pulang sayang !"" Ujar Bintang ke anaknya yang sekarang berumur delapan tahun.


""Bentar ya Pa, Ma ! Dibi mau nyiumin Warna dulu.""


Dan Dibi pun menghampiri anak kecil perempuan satu satunya di antara mereka.


""Warna, sini !"" Dengan gemas, anak Bintang itu mengabsen seluruh wajah si bocah.


""Ish, jangan tium tium, tlus...nama ku Pelangi bukan walna, paham Kaka Dibi, Panda.. tolongin !"" Rengeknya meminta pertolongan ke kembarannya dengan sebutan singkatnya. Topan dan Badai. Vane, Rose dan orang tua lainnya tersenyum akan tingkah bocah bocah menggemaskan di hadapannya. Walaupun Triplets terlahir prematur namun setelah keluar dari inkubator, ketiganya tumbuh sehat.


""Lepasin Pelangi, nanti tantiknya ilang, nanti kalau tidak tantik lagi, bagaimana ?" Si bungsu Badai mencoba melindungi Kaka keduanya, Ia mengguncang lengan Dibi yang tumbuh tinggi seperti Dirgan-papanya.


""Maka gantinya kamu bocah tampan !"" Dibi masih saja menggoda, ia beralih ke pipi Badai dengan gemasnya menciumi pipi tembem itu.


""Yaak, Topan.. Tolongin Badai."" Rengeknya ke kaka pertamanya.


""Panggil aku Kaka dulu !"" Suara itu tidak ada cadel cadelnya tidak seperti kedua adik adiknya, melainkan sangat datar dan dingin...Mimik wajah anak pertama Biru pun selalu datar, seperti bukan anak kecil biasa pada umumnya. Bicara pun seadanya saja. Tidak cerewet dan tidak bawel.


""Kaka Topan !"" Badai mulai memelas. Dibi terus saja menciuminya.

__ADS_1


""Ayo bocah, bantuin adik mu !"" Ledek Dibi ke Topan yang mempunyai Perangai dingin.


Topan dan Petir saling melirik, Sejurus kemudian kedua bocah itu menghantam kedua sisi pundak Dibi masing-masing yang tubuh Dibi berlutut di hadapan Badai. Dibi meringis sakit terkena gigitan dari Topan Sehingga Badai terlepas dari genggamannya.


""Hust, sudah sudah ! Astaga...Dibi, kamu sudah besar sayang... jangan selalu menggangu mereka, lihatlah... mereka bersatu mengeroyok mu."" Lerai Vane menghentikan Topan,


Petir langsung di raup oleh Langit. ""Anak pintar."" pujinya yang mau membantu melindungi Sepupunya.


"Hahaha, Tapi Dibi suka menggoda mereka Oma Vane. ya sudah bocah bocah, Kaka Dibi pergi ya...Bye bye !"" Pamitnya. Pelangi malah berhambur memegangi kaki Dibi. mendongak tinggi tinggi ke wajah Dibi.


""Sini !"" Lambainya menyuruh Dibi menunduk.


Dibi menurut, Ia pun mensejajarkan tinggi bocah manis ini. ""Apa ? mau di cium lagi, eum ?""


Pelangi menggeleng lucu. menyilak kaos di bagian lengan Dibi. ""Pasti takit ya ? aafin Topan ya ?"" Lembutnya tak tegaan, sifat itu dari Mentari.


""Eum, tak masalah... Kekuatan Kaka mu seperti semut bocah cantik ! Tapi sebagai obatnya, Warna cium Kaka Dibi dong."" Pintanya menggoda. Topan menarik adik perempuannya untuk menjauhi Dibi.


""Hahaha, Lucu !"" Gelak Dibi menggoda Topan dengan cara mengacak kasar rambut hitam pekat itu sampai berantakan. Topan memberi delikan galaknya kembali.


Setelah pamit, Petir dan Dibi pun masing-masing pergi meninggalkan rumah besar Batara dengan orang tuanya masing masing. mereka memang sering menghampiri si kembar, kata para orang tuanya agar si kembar tidak kesepian yang selalu mempertanyakan Bundanya yang masih saja dalam keadaan tidur panjang.


""Ayah, Ayaaaah !""


Kedatangan mobil mewah Biru yang di sopirin Dito, di sambut bahagia oleh Pelangi juga Badai, Topan pun melirik ke arah mobil yang baru berhenti dengan wajah datarnya.


""Hai, anak anak ayah !"" Dekap Biru ke Pelangi juga Badai. "Boy"" Lirik Biru ke anak pertamanya, mengkode Topan untuk mendekat juga.


""Aku sudah besar, ayah !"" Tolaknya di peluk.


Biru tersenyum tulus. "Bagus, Ayah akan tenang jadinya kalau suatu saat ayah pergi jauh...Kan sudah ada Topan yang jaga adik adik."" Biru mengecup sayang kedua anaknya. Sementara Topan memang susah di gapai oleh siapa pun termasuk Biru juga yang notabenenya adalah ayahnya, Entah kenapa anak pertamanya begitu dewasa padahal dia baru berumur tiga tahun, IQ nya pun di atas rata rata.


Rose dan Vane saling lirik, ia tahu maksud perkataan Biru... 'Jika suatu saat ayah akan pergi' Selama tiga tahun ini, Biru menderita luar biasa memikirkan keadaan istrinya yang masih koma dalam waktu panjang tiga tahun dan kadang kala si kembar mempertanyakan keberadaan Bundanya. Itu juga membuat Biru semakin tersiksa yang tidak bisa memberikan kasih sayang lengkap ke anak anaknya.

__ADS_1


""Jika tidak ada si kembar yang menghangatkan kedinginan Biru maka entah apa yang akan terjadi."" Batin Vane memperhatikan Biru dan cucunya yang masih bercengkrama.


""Cucu cucu nenek ! Kita makan di dalam yuk, habis makan kalian baru boleh balik.""


Rose menggiring ke tiga cucunya masuk kedalam rumah, Biru datang memang hanya untuk menjemput ke-tiga buah hatinya. Biru memilih untuk tinggal berempat di apartemen, baru satu bulan kemarin sebelumnya si kembar pindah pindah, kadang di rumah Sunjaya dan kadang tinggal di Batara. Ia berperang sebagai Ayah juga Bunda sekaligus, dan itu sedikit mengurangi rasa sesaknya yang tertuju ke Mentari.


""Kenapa kamu tidak mencari Bunda baru untuk anak anak mu, Bi ?!"


Rasanya, Vane seketika ingin menggigit lidahnya sendiri yang nyemplak tak ada remnya. Tapi maksud Vane Sebenarnya baik yang ingin membuat anak dan juga cucu cucunya bahagia. Menunggu Mentari sangat lah susah di tebak, tidak ada kemajuan selama ini dalam pengobatannya.


Biru menggelutukkan giginya tertahan kesal akan ucapan mamanya sendiri. Delikkannya pun sangat tajam, kalau penuturan itu bukan mamanya yang berucap, maka di pastikan...Biru sudah khilaf untuk mencabik cabik mulut itu.


""Kalau mama sudah bosan mengurus anak anak ku, ngomong saja ! Aku tidak akan menitipkan mereka lagi ke kalian, Aku bisa mengurus anak anak ku sendiri, Istriku akan bangun, ingat itu ma ! Dan mulai besok, Si kembar akan ku bawa ke kantor, aku tidak mau merepotkan orang lain lagi."" Dingin Biru, ini adalah penuturan terpanjang selama tiga tahun yang di dengar Vane dari mulut Anaknya. Tapi kenapa sangat dingin.


Vane tertohok sedih, berhambur paksa masuk kedalam pelukan anaknya yang semakin hari semakin susah di gapai.


""Maafkan mama sayang ! bukan begitu maksud mama, Mama hanya sedih saat mendengar pelangi mengadu rindu ke bundanya di hadapan Topan dan Badai, mama tidak sengaja mendengar Pelangi yang berucap iri terhadap Dibi juga Petir yang berkata mereka sangat beruntung punya mama, Panda... kenapa Bunda kita tidur terus, apa bunda tidak sayang kepada kita ? Mama sedih mendengar pertanyaan Pelangi.""


Maaf Ma, sebagai anak...aku malah menyakiti mu dengan sikap dingin ku, tapi inilah kenyataannya, hatiku dingin karena penghangat nya begitu tega menghukum ku selama tiga tahun ini...aku masih sangat mencintai istri ku, sampai kapan pun itu, tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisi Mentari.


""Ayah, Oma ! peluk juga !"" Pelangi yang pertama keluar rumah melihat adegan pelukan itu, berhambur ke jenjang kaki Biru untuk minta di gendong.


""Eum, dengan senang hati, princess Ayah... Hari ini kita tengok Bunda yuk, mau ?"" Ajak Biru, bermood hangat.


Topan yang memiliki sikap cuek dalam hal tidak terlalu penting seketika bersemangat kalau di ajak menemui Mentari, Biru dan juga yang lainnya pun tidak ada yang menyembunyikan segala hal kecil apapun dalam keadaan Mentari. Jadi si Triplets tahu jika bundanya Sedang tidak baik baik saja.


""Aku lindu Bunda ayah, Hole.. Ketemu Bunda."" Pekik Pelangi di antusiasi Badai di gendongan Biru sebelah kiri, Pelangi di sebelah kanan, Sementara Topan sudah masuk ke kabin mobil dekat Dito yang menyetir.


""Tuan Muda !"" Dito gemas untuk menggoda Topan di dalam kabin sebelahnya.


""Yaaaak, Jangan sentuh rambut ku !""


Eh Buset...calon calon singa.

__ADS_1


__ADS_2